Serambi Indonesia - Senin, 21 Apr 2008 | 04:29:03 WIB 

ARSIP :  20/04/2008 09:56 WIB

BANDA ACEH - 
Pascatsunami, kegiatan memulihkan perekonomian bagi kaum perempuan 
lebih banyak diperhatikan para pemberi bantuan. Sementara kegiatan 
budaya yang sifatnya menggerakkan, jarang diperuntukkan bagi mereka. 
Padahal, budaya adalah identitas suatu suku bangsa. 

Naimah Hasan, Ketua Badan Koordinasi 
Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Aceh, mengatakan itu kepada 
wartawan, kemarin, pascalomba berbalas pantun yang diselenggarakan 
BKOW. 

Naimah juga prihatin dengan langkanya 
pelantun pantun dalam acara-acara preh dara baro. Bila dibandingkan 
preh linto baro, kaum ibu yang berpantun di preh dara baro sangat 
jarang. Bahkan, sekarang hampir dilewatkan begitu saja oleh mereka, 
ujarnya. Ini disebabkan sudah semakin sedikit kaum perempuan bisa 
berpantun. 

Dalam meningkatkan kepedulian kaum 
perempuan kepada seni budaya Aceh, lembaga ini menyelenggarakan 
aneka lomba pada Sabtu-Minggu (19-20/4), di aula BKOW. Menurutnya, 
kegiatan itu disemangati dua hal, yaitu menggali dan memotivasi 
kembali seni budaya Aceh oleh kaum perempuan. 

Lomba yang diselenggarakan BKOW 
diikuti 50 peserta. Mereka berkompetisi dalam lomba merangkai bunga, 
merangkai sirih, peragaan busana muslim, dan berbalas pantun preh 
dara baro. Peserta datang dari organisasi berada di bawah BKOW dan 
berbagai desa di Banda Aceh. 

Akan tetapi, ia cukup bersyukur dalam 
piasan Diwana Cakradonya yang baru saja berlalu, mulai digiatkan 
kembali kompetisi kebudayaan bagi perempuan, seperti ayoen aneuk dan 
sebagainya.(dwi) 





mediacare
http://www.mediacare.biz


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke