http://www.jalsasalana.org/ghana/2008/PR-Meeting%20with%20President%20Kufuor.pdf

Suatu HIPOTESA yang DANGKAL.

Memang tidak diragukan Masalah Ahmadiyah menjadi egenda POLITIK Kaum Muslim
Perusuh untuk mencapai tujuan Politik mereka.

Sangat Lucu kiranya menganggap suara kaum ahmadiyah akan memberikan
perolehan suara yang signifikan dan besar dalam pemilu. Sebaliknya yang
paling logis adalah Kaum politikus muslim perusuh ini yang memang boleh
dianggap cukup cerdas namun licik dan kejam telah memainkan ahmadiyah
sebagai kartu trufnya untuk mempermainkan emosi mayoritas kaum muslim awam
di Indonesia sehingga menaruh simpati kepada Kaum perusuh itu.

Dengan berpura-pura menjadi pahlawan kesiangan, mengumandangkan kalimat
JIHAD kepada kaum kecil dan lemah Ahmadiyah yang sedikitpun tidak tertarik
untuk berkelahi, mereka berharap mendapatkan dukungan dari massa awam muslim
indonesia dan memenangkan PEMILU. Ini yang sangat logis.

Memang sulit bagi pimpinan indonesia di dalam kehidupan yang semakin ruwet
ini dimana tuntutan perut semakin menjadi-jadi, sulit untuk mengatakan
keadilan dengan lantang.

Fitnah akan terus disebarkan di tengah masyarakat, tuduhan akan selalu
dilemparkan dengan mengatas namakan agama.

Sentimen agama memang isue yang paling tepat untuk memprovokasi massa. Dan
para perusuh tahu betul akan hal itu.

Tetapi sekali lagi saya himbau kepada masyarakat Indonesia yang masih mau
menggunakan akal, hati nurani dan pikirannya janganlah anda semua mau
diprovokasi oleh kaum perusuh itu. Paling tidak dalam hati anda janganlah
menyetujui tindakan para perusuh yang ingin membubarkan salah satu komponen
masyarakat indonesia walaupun mereka mempunyai beberapa perbedaan dalam
penafsiran agama.

MEMBELA AHMADIYAH BUKANLAH MEMBENARKAN AHMADIYAH

MEMBELA AHMADIYAH adalah MEMBELA Kemanusiaan yang berarti sebenarnya kita
membela kelangsungan hidup kehidupan masyarakat Indonesia yang aman, damai
dan beradab.

Mereka akan mengatakan siapa yang membela ahmadiyah itu berarti membela
kekafiran, Siapa yang membela ahmadiyah berarti setuju dengan ajaran
ahmadiyah. Siapa yang membela Ahmadiyah berarti telah KAFIR. What a nice
statement.

Namun saya katakan bahwa membela ahmadiyah bukanlah berarti kita setuju
terhadap ajarannya, membela ahmadiyah bukanlah berarti kita ikut-ikutan
ahmadiyah.

MEMBELA ahmadiyah berarti kita menghargai hak dan kebebasan manusia yang
kita juga menginginkannya. Membela ahmadiyah berarti menjaga harkat dan
martabat manusia dari segala kekejaman, pemaksaan kehendak dan kesewenang
wenangan.

Tentu kita semua tidak ingin diri kita, anak dan keluarga mengalami
penderitaan sebagai mana kaum ahmadiyah yang telah menerima berbagai
penganiayaan di tanah airnya sendiri.

Perbedaan Penafsiran bukanlah PENODAAN AGAMA. Perbedaan PENAFSIRAN adalah
suatu yang lumrah terjadi. JIka Mayoritas sudah mulai memaksakan Penafsiran
agama kepada Minoritas maka Negara harus segera menghentikannya atas nama
keadilan dan penegakan hukum.

Masa Pak SBY kalah dengan Presiden Ghana yang orang Afrika. ayo Pak SBY
bertindak tegaslah.
<http://www.jalsasalana.org/ghana/2008/PR-Meeting%20with%20President%20Kufuor.pdf>



On 4/20/08, Maria Magdalena <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   AHMADIYAH ANTARA PERSOALAN AKIDAH DAN POLITIK
>
> Persoalan
> aliran sesat Ahmadiyah di negeri ini tak hanya menyangkut masalah
> akidah tapi juga politik. Karena itu wajar bila masalah ini tak kunjung
> selesai
>
> Suara-islam.com--Demikian
> yang terungkap dari diskusi Forum Kajian Stragis Kota Bogor (FKSK) yang
> diselenggarakan oleh DPD Hizbut Tahrir Indonesia Kota Bogor, Ahad
> (17/2) lalu bertema, Ahmadiyah antara Persoalan Akidah dan Siyasah.
>
> Pada
> diskusi ini hadir sebagai pembicara KH Shiddiq Al Jawi (Aktivis Hizbut
> Tahrir Indonesia), Ahmad Michdan SH (ketua Tim Pengacara Muslim) dan HM
> Amin Djamaluddin (ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam). Acara
> yang diselenggarakan di Hotel Pangrango ini dipadati oleh ratusan
> jamaah dari berbagai ormas, di antaranya sejumlah tokoh Bogor seperti
> KH Abbas Aula Lc (MUI Bogor), Drs Fachrudin Soekarno (Koordinator
> Komunitas Muslim Bogor), Fawzi Sutopo (Anggota DPRD kota Bogor) dan
> lainnya..
>
> KH Shiddiq Al Jawi menjelaskan bahwa
> kasus Ahmadiyah ini terkait dengan masalah politik baik di dalam negeri
> maupun internasioanal. Dilihat dari sisi politik dalam negeri, katanya,
> kasus Ahmadiyah ini berhubungan dengan tahun 2009, yakni pemilu.
> Mengapa demikian? Karena yang berkepentingan
> sebenarnya adalah wapres Jusuf Kalla. Ia memerintahkan Menteri Agama,
> dan Menteri Agama memerintahkan Kabalitbang, Prof Atho Mudzhar untuk
> memberikan solusi yang sebaik-baiknya pada Ahmadiyah tapi dengan
> prinsip win win solution. "Ini artinya Ahmadiyah ini akan
> diizinkan untuk terus berdiri, dengan syarat Ahmadiyah ini memberikan
> suara kepada partainya Wapres," ujarnya.
>
> Analisis
> ini, lanjut Al Jawi, didukung oleh pengalaman politik di Indonesia, di
> mana kelompok-kelompok sesat atau pun yang dianggap sesat oleh
> mainstream umat Islam, ternyata dipelihara oleh partai politik tertentu
> dalam rangka untuk mendapatkan suara dari kelompok sesat itu. Ia
> memberi contoh dipeliharanya Islam Jamaah atau nama lainnya Lemkari
> atau LDII. Kelompok tersebut tidak dilarang dengan syarat suaranya
> diberikan ke Golkar.
>
> "Jadi atas pengalaman itu dan memang
> realitasnya Jusuf Kalla memiliki peran besar dalam kasus Ahmadiyah ini,
> maka saya katakan realitasnya Ahmadiyah ini kasusnya terkait dengan
> 2009," terangnya.
>
> Dari
> sisi politik luar negeri, Al Jawi mengatakan, kasus Ahmadiyah ini
> adalah permainan negara-negara besar, yakni negara Barat dalam rangka
> untuk mendesakkan HAM, kebebasan beragama dan faham-faham liberal. Ini
> bisa dilihat dari adanya pihak-pihak yang memprotes MUI atau menentang
> fatwa. Siapa mereka itu? "Itu bisa dari luar negeri atau
> kelompok-kelompok liberal yang dananya dari luar negeri," terangnya.
>
> Di
> samping itu, bisa dilihat dari birokrat-birokrat yang menyelesaikan
> Ahmadiyah ini ternyata adalah orang-orang liberal. Ia memberi contoh
> Kabalitbang Depag RI, Prof Dr Atho' Mudzhar, itu adalah orang liberal.
> Dulu Atho' pernah menjadi Rektor IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta.
> Kemudian Dirjen Bimas Islam, Prof Dr Nasarudin Umar, dia juga orang
> liberal karena sering melontarkan isu-isu feminisme dan gender. Dan
> yang lainnya adalah Prof Dr Azyumardi Azra, Deputi Seswapres bagian
> Kesra. Diketahui dia juga liberal. Birokrat-birokrat liberal inilah
> yang menjadi operator untuk melanggengkan Ahmadiyah di Indonesia. "Jadi
> kasus Ahmadiyah ini bukan semata-mata aliran sesat tapi fenomena
> politik, baik dalam negeri maupun luar negeri" tegasnya.
>
> Amin
> Djamaluddin sependapat bila masalah Ahmadiyah ada hubungannya dengan
> politik. Ini bisa dibuktikan, ketika mencuat kasus Ahmadiyah di
> Kuningan, teman Amin yang tinggal di kuningan bercerita bahwa Wapres
> Jusuf Kalla langsung mengontak Polres kuningan untuk menyelesaikan
> kasus ini. "Dengar-dengar katanya ketua Ahmadiyah di sana adalah ketua
> Golkar," ujar Amin.
>
> Tentang track record orang-orang di Depag yang ingin melegalkan Ahmadiyah,
> Amin menjelaskan
> bahwa mereka itu sebenarnya tidak faham betul tentang Ahmadiyah,
> meskipun mereka itu bergelar professor. Yang lucu lagi katanya, ada
> seorang peneliti utama yang sudah tua dan bergelar bergelar profesor di
> Balitbang Depag itu tapi ia sangat mendukung Ahmadiyah. Peneliti yang
> bernama Rosihan Anwar ini membela Ahmadiyah dengan alasan bahwa
> Ahmadiyah itu sudah lama di Indonesia, masyarakatnya baik, sosialnya
> baik, kenapa harus dilarang. "Saya jawab yang bilang seperti itu bukan
> Bapak saja. Ada utusan berdarah Yahudi dari Amerika yang datang ke MUI
> dan minta penjelasan kenapa Ahmadiyah itu dilarang, juga membela
> Ahmadiyah," ujar Amin.
>
> Menurut
> Amin kesesatan Ahmadiyah sudah nyata dan sangat jelas. Buktinya pun
> sangat banyak, tersebar dalam dalam buku-buku asli terbitan mereka,
> seperti kitab Tazkirah. Sambil membuka kitab Tadzkirah, ia kemudian
> menjelaskan beberapa ayat yang Alquran yang dibajak Mirza Ghulam Ahmad.
> "Jadi kalau bicara Ahmadiyah datanya lengkap," ujar Amin lagi. Kalau
> Ahmadiyah itu benar-benar tobat, mestinya pemerintah melarang buku-buku
> Ahmadiyah yang saat ini masih beredar bebas.
>
> Demikian
> juga dengan syahadatnya jemaat Ahmadiyah yang mengecoh umat Islam.
> "Bunyi syahadatnya memang sama, tapi wujud nabi yang dimaksud berbeda,"
> ujarnya. Muhammad yang dimaksud dalam syahadat orang Ahmadiyah itu,
> bukan Muhammad yang dilahirkan di Mekkah tapi Mirza Ghulam Ahmad yang
> dilahirkan di India, jelas Amin lagi sambil mengutip beberapa tulisan
> dari buku Ahmadiyah yang menjelaskan hal itu.
>
> Ahmadiyah
> jelas telah menyimpang dari akidah Islam. Menurut Ahmad Michdan,
> Ahmadiyah itu telah melanggar undang-undang yang berkaitan dengan
> penodaan agama. Penodaan agama oleh Ahmadiyah, di antaranya menyatakan
> tadzkirah sebagai kitab sucinya. Juga menyatakan Mirza Ghulam Ahmad
> sebagai nabi. "Padahal UU kita menjamin kemurnian agama seseorang,"
> ujarnya. UU kita menjelaskan bahwa agama yang dianut oleh seseorang
> tidak boleh dinodai. Jadi penodaan yang dilakukan Ahmadiyah sangat
> jelas, karena itu harus dilarang. Di pasal 156a KUHP disebutkan
> hukumannya 7 tahun bagi orang yang melakukan penistaan agama.
>
> Memiliki Kesadaran Politik
> Terkait
> masalah Ahmadiyah ini umat Islam harus memiliki satu kesadaran politik,
> bahwa faktanya kasus Ahmadiyah itu tidak sesederhana yang kita lihat.
> Artinya bukan sekadar fenomena aliran sesat dan kemudian harus kita
> larang. Itu benar, tapi di balik itu ada aktor-aktor politik yang
> bermain baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
>
> "Jadi kita harus memahami kesadaran politik. Kita memahami fakta yang ada
> dengan kaca mata Islam," terang Shiddiq Al Jawi.
>
> Umat
> Islam ini secara keseluruhan harus mengambil suatu langkah yang tegas
> terhadap Ahmadiyah. Ahmadiyah itu harus dibubarkan dari bumi Indonesia.
> Karena itu diperlukan kerjasama umat Islam dari berbagai pihak, baik
> umat Islam secara umum, MUI, atau pihak-pihak lain yang konsern
> terhadap masalah ini.
>
> "Yang
> kita perlukan sekarang adalah keutuhan kita, persatuan kita. Selain itu
> kita semua harus berpegang kepada Alquran dan As Sunnah. Bila demikian
> insya Allah kita semua nanti akan bertemu, " ujar Amin Djamaluddin
>
> "Pantau
> terus kegiatan Ahmadiyah di lingkungan kita," Ahchmad Michdan
> menambahkan. Sehingga tidak ada lagi kegiatan Ahmadiyah di sekeliling
> kita. Di samping itu tambahnya, dalam menangani aliran sesat yang akan
> terus bermunculan, harus dimulai dari diri kita. Yakni dengan membina
> keluarga kita agar tidak terjerat dengan aliran sesat yang akan terus
> bermunculan.[pd/www.suara-islam.com]
>
> ________________________________________________________
> Bergabunglah dengan orang-orang yang berwawasan, di di bidang Anda!
> Kunjungi Yahoo! Answers saat ini juga di http://id.answers.yahoo.com/
>
> [Non-text portions of this message have been removed]
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke