Mencari Jejak Ibu

Ann Dunham ikut membentuk karakter politik Barack Obama. Sosok perempuan 
pencinta Indonesia, yang gagal dua kali.

-------

Di Pennsylvania, pertarungan menentukan itu digelar Selasa pekan ini. Bukan 
duel terakhir, memang. Dua calon Partai Demokrat, Barack Obama dan Hillary 
Clinton, akan bertanding menentukan siapa berhak maju ke pemilu Presiden 
Amerika Serikat, November nanti.

Sampai bulan lalu, suara delegasi bagi Obama masih unggul dengan angka 
1.645. Hillary mendapat 1.504, seperti dikutip Associated Press, Jumat 
pekan lalu. Dibutuhkan 2.025 suara untuk mengamankan nominasi calon 
presiden pada konvensi nasional Partai Demokrat nanti. Di Pennsylvania, 
mereka memperebutkan 188 suara. Bagi Obama, inilah momen dia harus 
mengalahkan Hillary Rodham Clinton, yang usianya lebih muda lima tahun 
dibanding ibunya.

Mungkin jika Ann Dunham masih hidup, sang ibu akan menjadi sumur ilham bagi 
Obama, senator Illinois. "Saya berutang kepadanya, untuk semua hal yang 
terbaik dalam diri saya," ujar Obama tentang ibunya, seperti ditulisnya 
dalam buku Dreams from My Father. Ann, dengan berbagai keterbatasannya, 
telah membentuk Barack Obama seperti hari ini.

*

Sejarah hidup Ann Dunham penuh tikungan tajam. Dia pernah kawin dua kali, 
dan keduanya gagal. Dia seorang antropolog dan pencinta Indonesia. "Dia 
menganggap Indonesia tanah airnya yang kedua," ujar Monica Tanuhandaru, 
bekas rekan kerjanya dalam proyek kredit mikro bagi perempuan di pedesaan 
Jawa 15 tahun silam.

Orang tuanya memberikan nama Stanley Ann Dunham kepada perempuan yang lahir 
pada 1942 itu. Nama ini agak aneh karena berbau jantan. Konon, orang tuanya 
waktu itu menginginkan anak laki-laki. Sampai remaja, Ann hidup 
berpindah-pindah mengikuti keluarganya. Bersama orang tuanya, dia pernah 
tinggal di California, Kansas, Texas, dan Washington, sampai akhirnya 
berdiam di Honolulu pada 1960.

Di Honolulu, Ann bertemu dengan Barack Obama Senior, lelaki asal Kenya. 
Obama Senior adalah mahasiswa Afrika pertama yang belajar bahasa Rusia, 
sekelas dengan Ann, di Universitas Hawaii. Pria yang suka bicara dan 
berdebat itu cepat menarik perhatian di kampus. Juga bagi Ann. Kala itu, 
perkawinan antar-ras masih langka, tapi mereka nekat menikah.

Pada Agustus 1961, Barack Obama Junior lahir. Sayang, perkawinan itu tak 
bertahan lama. Obama tua melanjutkan studi doktor ke Harvard dan, setelah 
itu, dia berniat pulang ke Kenya membangun negeri asalnya. Awalnya, dia 
ingin mengajak keluarga barunya ke Kenya. Tapi Tuan Obama rupanya, entah 
resmi entah tidak, sudah punya istri dari perkawinan sebelumnya di Kenya. 
Ann keberatan ikut. Jiwanya terpukul. Mereka bercerai pada 1964.

Saat Obama Junior menjelang dua tahun, Ann kembali ke kampus. Dia kesulitan 
uang. Obama kecil dititipkan kepada orang tuanya. Empat tahun kemudian, Ann 
lulus sebagai sarjana. Di kampus Universitas Hawaii, dia bertemu dengan 
lelaki Indonesia, Lolo Soetoro. Mereka menikah pada 1967. Sejarah hidup Ann 
pun berubah.

Setelah bersiap-siap beberapa bulan, Ann dan Obama Junior mengikuti Lolo ke 
sebuah negeri jauh: Indonesia. Rumah Lolo di pelosok Jakarta itu berbeda 
jauh dengan kehidupan di Honolulu. "Mereka tinggal di kamar kos kecil di 
Rawamangun," ujar Sonny Trisusilo, keponakan Lolo Soetoro, mengisahkan 
kehidupan keluarga pamannya waktu itu kepada Tempo.

Jakarta waktu itu dalam keadaan kacau. Listrik sulit. Jalan tak beraspal. 
Indonesia baru berganti rezim dari Soekarno ke Jenderal Soeharto. Inflasi 
melangit. Lolo, kata Sonny, bergabung dengan TNI Angkatan Darat di bagian 
topografi. Setelah itu, dia pindah ke Union Oil, perusahaan minyak, yang 
kelak berganti nama menjadi Unocal dan terakhir Chevron.

Setelah keuangan Lolo membaik, mereka pindah rumah ke Jalan Dempo, Matraman 
Dalam, dan seterusnya ke Menteng Dalam. Darsono, 67 tahun, warga Jalan Haji 
Ramli Tengah, Menteng Dalam, adalah salah satu tetangga Lolo. "Ann adalah 
bule pertama yang tinggal di sini," ujar Darsono, yang sudah menetap di 
sana lebih dari 40 tahun. Dari perkawinannya dengan Lolo, Ann mendapatkan 
satu putri, Maya Soetoro.

Hubungan Ann-Lolo mulai renggang. Tak jelas apa sebabnya. Seorang sahabat 
Ann di Belanda kepada Tempo mengatakan tak tahu persis apa penyebab 
kerenggangan itu, tapi cara dan minat hidup keduanya memang tampak 
berlawanan. "Lolo bergaul di tengah elite bisnis, suka main golf dan 
resepsi," ujar bekas kolega Ann itu, yang tak mau disebut namanya. Adapun 
Ann lebih banyak bergaul dengan seniman dan lebih punya perhatian kepada 
masalah rakyat kecil.

Pada 1971, saat Obama berumur 10 tahun, Ann mengirimkan sang putra ke 
Hawaii dan memasukkannya ke sekolah elite di sana. "Dia sadar Obama anak 
superpintar," ujar rekannya itu. Setahun kemudian, Ann menyusul bersama 
putrinya, meninggalkan suaminya di Jakarta. Dia mengikuti program master di 
Universitas Hawaii. Pada 1976, dia keluar-masuk Jawa Tengah karena 
menggarap tesis Women's Work in Village Industries on Java, yang kelar pada 
1981. Setahun sebelumnya, dia resmi bercerai dengan Lolo.

Wajah Indonesia pada awal 1980-an mulai berubah. Pembangunan jadi jargon 
baru. Konsultan asing laris. Pada 1981, Ann diangkat sebagai anggota staf 
di Ford Foundation Jakarta, untuk program sosial budaya, sampai 1985. 
Setelah itu, dia banyak terlibat dalam pembangunan pedesaan. Kecintaan Ann 
kepada Indonesia bertambah kuat. "Dia dekat dengan rakyat bawah," ujar 
Julia Suryakusuma, tokoh aktivis perempuan yang pernah menjadi sahabat Ann 
di Jakarta.

Julia mengaku bertemu dengan Ann sewaktu dia menjadi editor tamu untuk 
majalah Prisma pada 1981. Selama Ann bekerja di Ford Foundation, kata 
Julia, temannya cukup banyak. Ann adalah orang yang amat supel bergaul. Dia 
kerap mengundang rekannya makan malam di rumahnya dengan sajian opor ayam. 
Tamunya beragam. Misalnya tokoh pejuang hak asasi manusia Indonesia, 
organisasi perempuan, dan perwakilan organisasi masyarakat jelata.

Ann, kata Julia, punya otak cemerlang. Dia suka membaca buku filsafat sejak 
remaja dan doyan berdiskusi apa saja. "Dia pintar, pintar banget," ujar 
Julia. Dia mengenal banyak kalangan. Temannya juga kian luas. Ann, 
misalnya, tak canggung menembus pedesaan Jawa dengan sepeda motor. Dia 
pernah tinggal di Yogyakarta selama beberapa tahun. Bahkan, menurut cerita 
Made Mustika dari Tempo, Ann juga pernah ke Bali bersama dua anaknya. 
"Mereka saya bonceng naik Vespa. Ann duduk di belakang, dua anaknya di 
depan," ujar Made, yang sempat membantu Ann ketika dia berkunjung ke Bali.

Pada 1992, di sela pekerjaannya, Ann meneruskan studinya tentang usaha 
kecil dan menyelesaikan disertasi doktornya, Peasant Blacksmithing in 
Indonesia: Surviving Against All Odds. Penelitian itu hampir setebal seribu 
halaman, dengan glosari sekitar 24 halaman. Itu pun, oleh Ann, disebut 
"jauh dari lengkap". Setelah menyabet gelar doktor, dia kembali bekerja 
sebagai konsultan Bank Rakyat Indonesia untuk urusan mikrokredit.

Karena penelitiannya tentang usaha kecil di pedesaan, dia mencintai produk 
batik dan suka kerajinan perak. "Dia senang membeli batik di Pasar Klewer, 
Solo," ujar Monica. Selain itu, kata Monica, Ann mondar-mandir ke Kota 
Gede, Yogyakarta, mencari kerajinan perak. Dia memang gemar memakai gelang 
dan hiasan perak.

Jejak Ann, rupanya, ada di Jawa Timur juga. "Dia berjasa membantu merintis 
koperasi wanita di Jawa Timur," ujar Monica, yang waktu itu membantu Ann di 
salah satu program Women's World Banking. Organisasi itu mengurusi kredit 
untuk perempuan. Sewaktu dia membantu Bank Rakyat Indonesia, jaringannya 
dengan pejabat Indonesia terbuka. Julia juga membenarkan bahwa Ann seperti 
menjadi jembatan antara pemerintah dan rakyat kecil dalam program kredit 
buat pedesaan itu.

Berkulit putih bersih, Ann, menurut Julia, sering mengaku masih keturunan 
Indian Cherokee. Satu kebiasaan perempuan asal Kansas itu adalah membawa 
tas besar. Biasanya terbuat dari kain. Dia sering membawa termos kecil. 
"Isinya kadang kopi atau teh," ujar Julia.

*

Saat Obama beranjak besar, Ann memang tak punya cukup waktu untuk putranya. 
Suatu kali, pada 1994, dia membaca draf buku memoar yang ditulis Obama. 
Isinya melulu hanya tentang ayahnya. Ann tak berkecil hati. "Itu sudah 
seharusnya dilakukan Obama," ujarnya kepada rekannya, Nancy Peluso, seperti 
dikutip Time, pekan lalu.

Pada 1994, dalam suatu acara makan malam di rumah koleganya, Ann mengeluh 
perutnya sakit. Diagnosis dokter menyebutkan dia menderita usus buntu. Ann 
memeriksakan sakitnya ke dokter di Hawaii. Betapa terkejutnya dia ketika 
tahu kanker stadium 4 telah menggerogoti rahimnya. Dia meninggal beberapa 
bulan kemudian. "Menjelang ajalnya, dia mengirimkan surat selamat tinggal 
kepada saya," ujar Julia.

Obama tak ada di samping Ann saat maut menjemputnya pada 7 November 1995. 
Tapi sejumlah rekannya mengatakan mereka melihat sosok Ann setiap kali 
Obama tersenyum di panggung kampanye.

Nezar Patria, Yandi M. Rofiyandi, Bayu Galih (AP, Time)


Bebek Sawah di Menteng Dalam

Barack Obama sudah bercita-cita jadi presiden sejak usia delapan tahun. 
Tempo menelusuri jejak masa kecil Obama di Jakarta yang penuh warna.
------

Setiap menyaksikan Barack Obama di televisi, ingatan Djoemiati melenting ke 
masa yang jauh. Nenek 66 tahun yang tinggal di Menteng Dalam, Jakarta 
Pusat, itu ingat betul senator Illinois dari Partai Demokrat tersebut. 
Djoemiati tahu sang senator kini tengah berlaga merebut kursi kandidat 
Presiden Amerika Serikat. Dialah Barry Soetoro kecil yang tengil. "Ya, itu 
dia, Barry. Kalau lari, dia mirip bebek sawah," ucap Djoemiati terkekeh.

Barry nama panggilan Obama semasa bocah di Jakarta. Usianya baru enam tahun 
pada 40 tahun lalu saat dia bersama ibunya, Ann Dunham, dan ayah tirinya, 
Lolo Soetoro, tinggal bertetangga dengan Djoemiati. Coenraad 
Satjakoesoemah, kini 77 tahun, suami Djoemiati, menjual sebagian tanahnya 
di Jalan Kiai Haji Ramli 16 di kawasan Menteng Dalam kepada Lolo. Saat itu 
keluarga Lolo baru pindah dari Papua.

Segera saja Djoemiati terkesan saat berkenalan dengan Barry. Bocah berkulit 
hitam, berbadan gemuk, dan berambut ikal itu cepat bergaul dengan anak-anak 
sebayanya di kampung. Kendati belum bisa berbahasa Indonesia, dia mau 
diajak main apa saja. Petak umpet, gulat, tembak-tembakan, kasti, hingga 
sepak bola, Barry hayo saja. Barry paling senang berlari. Gaya larinya 
kerap menjadi bahan tertawaan warga Menteng Dalam. Mereka menyebut dia "si 
Bebek Sawah". "Dia itu gemuk, jadi kalau lari lucu banget," ujar Djoemiati 
kepada Tempo.

Keluarga Soetoro pindah ke Menteng Dalam dengan membawa pelbagai ornamen 
tradisional rumah Papua. "Saya pertama kali tahu tombak Irian, ya, waktu 
main ke rumah Barry," tutur Eddy Purwantoro, 51 tahun, tetangga sebelah Barry.

Lolo Soetoro juga membawa serta hewan peliharaan, seperti ular, biawak, 
kura-kura, kera, hingga beberapa jenis burung dari Papua. Hewan-hewan 
itulah yang kerap dipamerkan Barry kepada teman-temannya. Yunaldi Askiar, 
45 tahun, tetangganya yang lain, bercerita, ia pernah marah ketika Barry 
membuatnya kaget saat menyodorkan kepala kura-kura ke wajahnya. Tapi amarah 
Yunaldi tak berlangsung lama. Tak sampai sebulan kemudian hewan itu lenyap 
lantaran rumah Lolo diterjang banjir.

Tak bisa memamerkan hewan peliharaan, Barry tak kehabisan akal. Teman 
sekelas Yunaldi di kelas I Sekolah Dasar Katolik Fransiskus Strada Asisi 
(sekarang Fransiskus Asisi), Menteng, itu menunjukkan beberapa koleksi 
pistol mainan. Johny Askiar, 50 tahun, kakak Yunaldi, pernah diberi sebuah 
pistol mainan oleh Barry.

Bagi Johny, tetangganya di ujung Jalan Ramli itu terhitung teman baik hati. 
Selain punya banyak pistol mainan yang mirip pistol asli, bocah kelahiran 
Hawaii, 4 Agustus 1961, itu punya spidol. "Waktu itu hanya anak orang kaya 
yang memiliki spidol," ujar Johny mengenang. Johny kini membuka usaha 
bengkel sepeda motor di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Sepulang sekolah, Johny dan Yunaldi biasa mengundang Barry ke rumah mereka. 
Di rumah nomor 18 itu mereka bermain gulat atau petak umpet. "Kalau 
dijaili, Barry suka berseru, cuang! Cuang!" Johny menirukan aksen cadel 
Barry saat menyebut kata curang.

Johny mengaku ia memang kerap menggoda Obama. Misalnya, menjitak kepala 
atau memain-mainkan rambut keriting Barry. "Habis, gemas dengan rambutnya 
itu," ujarnya. "Lucunya lagi, kalau kehujanan, air tetap ngembeng di 
kepalanya."

Keakraban Barry dan Johny-Yunaldi menular kepada orang tua mereka. Ann 
Dunham, yang masih menggendong Maya Cassandra Soetoro, adik Obama, selalu 
menjahitkan baju-bajunya kepada Eti Hayati, kakak Johny. Keluarga Askiar, 
yang berasal dari Padang, kerap mengundang makan keluarga Lolo. Sepulang 
sekolah, Barry bahkan biasa makan di rumah Johny. Makanan favorit Obama: 
rendang.

Dalam soal makan, terutama jika ada rendang atau roti cokelat, Barry amat 
lahap. Djoemiati mengisahkan, suatu hari, ketika Obama main ke tetangga, 
dia hampir menghabiskan kue tar yang hendak disuguhkan kepada tamu keluarga 
itu. Lantaran berang, pembantu rumah itu mengejar-ngejar Barry. "Si Bebek 
Sawah" lari terbirit-birit sebelum bersembunyi di kolong tempat tidur.

Kata-kata curang, jangan ganggu, dan jangan begitu merupakan ungkapan 
bahasa Indonesia yang paling sering diucapkan Obama kecil. Israella Pareira 
Darmawan, 64 tahun, guru Barry sewaktu kelas I di sekolah Asisi, 
menyebutkan kosakata Indonesia Barry amat terbatas di bulan-bulan awal 
masuk sekolah. Baru pada bulan keempat dan kelima, Obama mulai bisa 
berbahasa Indonesia meski terbata-bata.

Nilai bahasa Indonesia Barry cuma 5. Tapi ia amat pandai matematika. Secara 
keseluruhan Obama masuk sepuluh besar. "Dia anak cerdas, sabar, mudah 
bergaul," kata Israella.

Ibu guru itu masih ingat, Obama suka membela teman-temannya yang bertubuh 
kecil. Ia kerap memeluk atau memegang tangan teman mainnya yang jatuh dan 
menangis. Bertubuh paling jangkung, Barry senang memimpin barisan. "Kalau 
guru masih belum masuk kelas, dia akan melarang siapa pun masuk kelas lebih 
dulu," ucap Israella.

Di Asisi, Obama bersekolah dari 1968 hingga 1970 awal. Selanjutnya ia 
pindah ke Sekolah Dasar 01 Besuki, Menteng (sekarang Sekolah Dasar Negeri 
Menteng 01, Jalan Besuki) saat kelas III. Barry bersekolah di Besuki cuma 
sampai akhir kelas IV. Dia kemudian melanjutkan pendidikan dasarnya di 
Hawaii, Amerika Serikat.

Kawan-kawan di sekolah dasar Besuki ini pada awal Maret lalu membentuk 
Obama Fans Club. Alumni sekolah tahun 1973 itu berkumpul di Sekolah Dasar 
Negeri Menteng 01 dan memberikan dukungan kepada sang kawan untuk terus 
melaju dalam pemilihan Presiden Amerika. Belakangan nama Obama Fans Club 
itu berganti menjadi Yayasan Besuki 73. "Nama Fans Club kurang tepat. Barry 
kan teman kami," kata Sonni Gondokusumo, pengusaha 47 tahun.

Sandra Sambuaga-Mongie, 47 tahun, mengenang Barry sebagai kawan yang mudah 
berteman dan tak gampang marah. Sementara itu, Widiyanto, karyawan Prima 
Cable Indo, tak pernah lupa pada tangan kidal Barry. Obama sering 
menunjukkan gambar-gambar tokoh superhero, seperti Batman dan Spiderman, 
hasil coretan tangan kidalnya. "Ia juga ikut pramuka dan karate," ujar 
Widiyanto.

Fotografer Rully Dasaad, 48 tahun, mengenang Obama sebagai kawan yang 
sama-sama hiperaktif. Barry dan Rully dikenal tak bisa diam dan kerap 
menebarkan bau apak keringat kepada kawan-kawan mereka setelah bermain 
kasti. "Saya ingat waktu ikut pramuka, Barry pernah diikat oleh kakak kelas 
karena tak bisa diam," ujarnya.

Rully juga merekam cerita tiga bulan pertama Obama bersekolah di sekolah 
dasar Besuki. Barry tak pernah mau menyanyi. Tapi, setelah itu dia senang 
menyanyikan lagu-lagu perjuangan Indonesia. Salah satu lagu kesukaannya: 
Maju Tak Gentar.

Apa cita-cita Obama kecil? Kawan-kawan Barry di sekolah Asisi ataupun 
sekolah Besuki berusaha memeras memori mereka, tapi tak berhasil mengail 
cerita ini. Hanya Bu Guru Israella yang segera teringat pelajaran mengarang 
di kelas III. Dengan tema "Cita-citaku", Barack Obama pernah menulis: 
"Cita-citaku: presiden".

Obama kecil adalah Obama yang punya kehidupan berwarna. Ia cerdas, mudah 
bergaul, melindungi teman-temannya, berusaha keras belajar bahasa 
Indonesia, senang menyanyi lagu perjuangan, menimba sendiri air sumur di 
rumahnya, dan suka mengenakan kain sarung pemberian ayah tirinya.

Media-media Amerika berusaha keras membongkar sisi spiritual Obama ini 
untuk menyerang sang calon presiden. Coenraad, misalnya, pernah berang 
ketika ucapannya tentang sekolah Obama dipelesetkan: dari Asisi menjadi 
Asisyiah. "Padahal jauh berbeda. Asisi adalah sekolah Katolik," ujarnya.

Eddy Purwantoro sering bermain bersama Barry di masjid. Juga, di saat bulan 
puasa keduanya biasa main-main di masjid. "Barry sering pakai sarung untuk 
menutup mukanya. Kami bermain ninja-ninjaan," Eddy menjelaskan. Tapi Eddy 
tak pernah melihat Barry menjalankan salat. Yang ia tahu, Barry penganut 
Nasrani. Yang memeluk Islam adalah ayah tirinya, Pak Lolo.

Kini Coenraad, para tetangga, teman-teman, dan guru Obama sangat berharap 
"sang Bebek Sawah" yang mereka banggakan bisa menembus Gedung Putih. Jika 
itu terjadi, kata Coenraad, "Dia adalah warga Menteng Dalam pertama yang 
jadi Presiden Amerika."

Yos Rizal Suriaji, Bayu Galih, Rafly Wibowo
(majalah Tempo, 21 April 2008)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke