welkom pak tahir,

terima kasih atas perhatiannya.

ditunggu juga tulisan2 lainnya mengenai pengalaman suka duka pak tahir sebagai 
aktifis ppi jaman tahun 60an (di jaman perang dingin).

salam, heri latief
amsterdam

"M. Pakuwibowo" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Salam kenal dik Saurlin,
  
 Nama saya Tahir Pakuwibowo. Dalam email anda kepada sdr Heri Latief anda 
menulis "aku minta penjelasan dari mereka yg dulu aktif di ppi awal". Saya 
tidak merasa pasti apakah saya termasuk grup yang anda maksudkan sebagai orang 
yang "aktif di ppi awal". Tapi saya dulu aktif di PPI-Tjekoslowakia dan PPI 
se-Eropa pada dekade yang crucial, tahun 60:an. 
  
 Betapapun, saya akan mencoba membantu memberikan beberapa informasi yang saya 
ketahui tentang hal-hal yang merupakan pertanyaan bagi anda dan mungkin juga 
bagi banyak kawan-kawan dari generasi muda lainnya. Dalam email yang sama anda 
menulis: ” ada sesuatu yg salah dengan generasi pendiri dan penerus ppi ... 
tulisan ini sendiri mencari benang yang putus itu...kapan dimana dan oleh siapa 
...”. 
  
 Saya rasa sulit sekali menjawab pertanyaan anda ”kapan dimana dan oleh siapa…” 
benang itu diputuskan? Walaupun pertanyaan ini menarik, tapi saya rasa tidak 
ada orang yang dengan sengaja secara aktif menetapkan, nah sekarang benang PPI 
ini akan saya putuskan? Tapi baiklah saya ceritakan sedikit pengalaman saya, 
mudah-mudahan sedikit membantu menjelaskan sebagian sejarah gerakan mahasiswa 
Indonesia diluar-negeri.
  
 Pada tahun-tahun 50:an dan 60:an pemerintah Indonesia mengirimkan banyak 
sekali mahasiswa-mahasiswa keluar-negeri untuk menuntut ilmu, kebanyakan dalam 
rangka apa yang dinamakan ”pertukaran budaya” (cultural exchange). 
Kekecualiannya adalah Jepang. Yang dikirim kesana pada waktu itu kebanyakan 
didasarkan pada pampasan perang. Mahasiswa Indonesia kita temui di hampir semua 
negeri, baik dinegeri-negeri blok sosialis maupun kapitalis. Tujuannya saya 
rasa jelas, yaitu untuk mempercepat proses modernisasi Indonesia dengan 
kader-kader intelektuil didikan dalam maupun luar negeri, kira-kira seperti 
zaman Meiji di Jepang.
  
 Saya sendiri kebetulan dikirim ke Tjekoslowakia (nama negerinya waktu itu) 
untuk belajar ekonomi bersama satu grup terdiri dari 30 mahasiswa dari 
macam-macam jurusan. Ketika kami sampai di Tjekoslowakia pada akhir 1960, sudah 
terdapat satu struktur organisasi yang bernama PPI dan juga apa yang dinamakan 
Badan Koordinasi PPI se-Eropa. Ternyata PPI ini terdapat ditiap negeri baik di 
Eropa Timur maupun Eropa Barat. PPI adalah mesin organisasi yang mepunyai 
tradisi dan berjalan baik. Yang menjadi pertanda khas dari PPI zaman saya 
adalah semangat dan dedikasi anggauta-anggautanya untuk menuntut ilmu 
diluar-negeri dan kemudian pulang kembali ketanah air untuk mengabdikan diri 
kepada tanah-airnya yang masih muda dan baru saja bebas dari kolonialisme. 
Paling tidak begitulah kesan yang saya dapatkan.
  
 Tapi perlu dicamkan bahwa perkembangan PPI yang sehat dan kuat waktu itu tidak 
terjadi dalam vacuum, melainkan merupakan bagian dan pencerminan dari apa yang 
terjadi ditanah air. Indonesia waktu itu berada dalam era pimpinan Presiden 
Sukarno, proklamator Kemerdekaan, yang mempunyai visi besar tentang masa depan 
negeri ini. Dirasakan ditulang-sumsum bahwa Indonesia sedang bergerak menuju 
kearah sesuatu yang besar. Jangan dilupakan bahwa Indonesia mendapat respek 
didunia ketiga, dan ini tentu saja menambah kebanggaan dan kepercayaan diri 
mahasiswa-mahasiswa Indonesia di Eropa. Fenomena yang sama sebetulnya lebih 
banyak lagi dapat dikatakan mengenai PPI di Belanda pada masa-masa perjuangan 
kemerdekaan. Roda sejarah yang bergerak menjelang kemerdekaan Indonesia tak 
bisa tidak akan menggugah setiap hati nurani putera-puteri Indonesia dan pada  
gilirannya mempengaruhi perkembangan dan kehidupan PPI pada masa itu.
  
 Pada masa saya masih mahasiswa, diselenggarakan seminar dan konferensi PPI 
se-Eropah tiap dua tahun sekali dan yang terakhir dilansir pada bulan Agustus 
1965 di Bukarest, Rumania. Seminar dan konferensi ini selalu merupakan 
peristiwa besar buat semua PPI dan diikuti oleh puluhan mahasiswa Indonesia 
baik dari Eropa Timur maupun Eropa Barat. Bahwasanya PPI dianggap penting juga 
oleh pemerintah Indonesia waktu itu, diperlihatkan oleh kenyataan bahwa 
pemerintah mengirimkan Ruslan Abdul Gani ke Konferensi Bukarest sebagai 
peninjau. Sebuah foto dari peristiwa itu bisa dilihat disini: 
http://pakuwibowo.multiply.com/photos/album/39/Student_Years#15
  
 Kira-kira sebulan sesudah Konferensi Bukarest, meletuslah peristiwa G30S yang 
sangat tragis ditanah air dan merupakan suatu shock luar biasa buat siapapun. 
Akibatnya, PPI-PPI di Eropah terpecah menjadi dua, kelompok penyokong Sukarno 
yang anti Suharto dan anti pembantaian serta kelompok kedua yang menyokong 
kediktaturan militer. Sekitar tahun 1967, anggauta-anggauta PPI-kiri yang tidak 
mau dipaksa sumpah setia kepada jenderal Suharto dicabut paspor dan 
kewarganegaraannya oleh KBRI sehingga mereka menjadi stateless. PPI-kiri tetap 
exist sampai permulaan tahun 70:an dan terus melakukan perlawanan terhadap 
kejahatan rezim Suharto. Tapi akhirnya tidak terdapat lagi "mahasiswa kiri" 
sebagai kelompok, karena sebagian besar sudah menyelesaikan studinya. Jadi 
PPI-kiri kehilangan ”raison d´ etré”nya dan karena itu bubar. Bagaimana dengan 
kelanjutan  PPI kanan saya kurang mengetahui.
  
 Apakah rezim Suharto mempunyai visi? Menurut Aditjondro dalam bukunya ”Korupsi 
Kepresidenan”, ”visi” mereka adalah ”Oligarki berkaki tiga”, yaitu Istana, 
Tangsi dan Partai (Golkar). Sebagaimana kita semua ketahui, inspirasi yang 
mereka bisa berikan adalah KKN, memperkaya diri dan penyalah gunaan kekuasaan. 
Apakah pemerintah sekarang mempunyai visi? Saya tidak melihatnya. Indonesia 
kelihatannya sedang mengalami krisis kepemimpinan. Mahasiswa-mahasiswa 
Indonesia masa kini kelihatannya tidak punya sama banyak semangat dan dedikasi 
berbakti seperti rekan-rekannya dimasa-masa dulu. Yang dominasi sekarang 
sayangnya adalah semangat individualisme. Kenbanyakan mahasiswa Indonesia 
diluar-negeri ongkos-ongkos belajarnya tidak dibayar pemerintah, tapi hasil 
usaha sendiri atau diongkosi orang tuanya. Mudah-mudahan saya keliru dalam hal 
ini, tapi  kelihatannya kurang ada prasyarat obyektif untuk PPI yang hidup. 
Kepada rekan-rekan mahasiswa generasi baru dan PPI baru saya hanya bisa
 anjurkan agar tidak putus asa, teruskan perjuangan untuk demokrasi serta 
masyarakat adil-makmur, bangkitkan semangat berbakti kepada tanah air dan 
Rakyat kecil. Good Luck!
  
 //Tahir
  
  
  
  


        
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and  know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.


      
[EMAIL PROTECTED]
milisgrup opini alternatif

  
http://geocities.com/lembaga_sastrapembebasan/
penerbit buku sejarah alternatif

  
http://progind.net/
kolektif info coup d'etat 65: kebenaran untuk keadilan

  http://herilatief.wordpress.com/




       
---------------------------------
Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke