http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pkb_krisis080424 <http://www.ranesi.nl/arsipaktua/indonesia060905/pkb_krisis080424>
PKB Krisis, Mau Ke mana Gus? Aboeprijadi Santoso 24-04-2008 Dengarkan Abdulrachman Wahid tentang PKB <http://download.omroep.nl/rnw/smac/cms/abdulrachman_wahid_tentang_pkb_2\ 0080424_44_1kHz.mp3> Gus Dur alias Abdurrachman Wahid mempertaruhkan segalanya. Kalau PKB gagal ikut pemilu 2009, dia akan menyerukan Golput. Kalau dia gagal ikut Pilpres, dia menuding Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla sebagai biangnya. Gus Dur bahkan mengancam akan membubarkan partainya, PKB. Menghadapi krisis PKB, mantan presiden RI ke4 ini bersemangat seperti Raja Prancis Louis XIV: "L'État, c'est moi" (negara itu ya saya,red.) demikian nada tuturnya kepada Radio Nederland Wereldomroep di Jakarta. Retorika optimistis Gus Dur (GD): "PKB itu kan terserah apa kata saya. Dewan Syuro. Ya? Itu! Bahwa Muhaimin mencoba untuk macem-macem ya urusan dialah. (Anda masih kendalikan?) O, masih. Saya ambil sekarang ini maksimal dan minimal. Maksimal itu yang ikut saya 95%, peserta muktamar luar biasa, yang menentang, itu pro Muhamin 5%. Itu saya buat maksimal. Minimal itu 35-65 yang ikut saya 65% yang ikut dia 35%. Jadi di-apa-apain menang kita" Gus Dur tentu saja sedang beretorika optimistis, tapi dia menyadari apa konsekuensi krisis yang membelah partainya sejak dia memecat Ketua PKB Muhaimin Iskandar. Tak ada yang lebih menakutkan partai partai politik di Indonesia dewasa ini seperti Golput, yaitu jika elektorat memboikot atau membatalkan suaranya dalam pemilu nanti. Pilkada di Jawa Barat dan Sumatra Utara menyebabkan Golkar menyiapkan munas luar biasa. PDIP bertekad akan memarkir tokoh-tokoh tuanya dan menyediakan 60% kursinya bagi tokoh muda. Maklum, Agum Gumelar dari PDIP, jenderal yang mantan menko dan relatif bersih soal HAM saja bisa tersapu dari semua kota Jawa Barat. Rakyat tak percaya lagi pada partai politik, tokoh-tokoh lama dan pejabat-pejabat militer. Orang ingin "mobil baru", tak mau lagi "mobil tua", apalagi "tank-tank yang mogok," ujar pengamat Rizal Ramli. Golput menghebat Tapi, maraknya Golput, sampai 41% di Sumatra Utara misalnya, itulah, yang paling memukul partai-partai kini. Christianto Wibisono mencatat Golput dalam Pilpres 2004 sudah sebanyak 31,2 juta, urutan ketiga setelah SBY dan Megawati, yang juga calon-calon presiden pada pemilu 2009. Maka Golput bisa bakal naik lagi. Tak heran, Gus Dur pun menimpali dengan ancaman, kalau PKB tak ikut pemilu 2009, Golput bakal menghebat, katanya. Tapi bagi bagi Ketua Dewan Syuro, lembaga yang dihormati di akar rumput PKB, Gus Dur, itu juga menjadi ujian krusial. Maklum, inilah peluangnya terakhir, untuk memimpin PKB menjadi partai besar, dan untuk ikut pilpres 2009. Menurut seorang pejabat PKB yang pernah dipecat Gus Dur bersama Syaiffulah Jusuf, Muhaimin Iskandar tengah melobi SBY dan Jusuf Kalla melalui dua menteri yang asal PKB. "Mereka mencari kendaraan, untuk konsolidasi menuju 2009," ujar pejabat tersebut. Itu jelas, kata Gus Dur. Dan menurutnya, itulah penyebab krisis PKB dewasa ini. Gus Dur sudah menolak kedua menteri tsb sebagai wakil PKB dalam kabinet dan kini menuntut Muhaimin hadir dalam MLB, munas luar biasa PKB pekan depan. Tapi Gus Dur menghadapi dilema, dia belum menguji simbol-simbol legitimasi-nya yang baru. Dulu, semasa Orde Baru, dia memakai Khittah 1926 untuk mengamankan Nahdlatul Ulama, belakangan dia memperdaya Soeharto lewat berbagai cara (antara lain tak pernah melaporkan hasil munas yang penuh kritik pada Soeharto) sampai Salim Said memujinya sebagai politikus paling lihai. Tapi, zaman demokrasi pascaSoeharto menuntut Gus Dur menjaga dukungannya di akar rumput dengan simbol-simbol dan mantera yang harus selalu diperbaharui, seperti persetujuan Kyai Langitan, dan sebagainya. The invention of tradition Meminjam istilah sejarawan Eric Hobsbawm, Gus Dur sibuk dengan the invention of tradition, yaitu menciptakan legitimasi lewat nilai-nilai tradisional dengan merekayasa simbol-simbol baru. Jadi dia tak butuh kendaraan politik seperti Muhaimin dan politisi partai gurem, melainkan mengkonsolidasi dukungan dengan simbol-simbol tradisional baru. Diakuinya, Kyai Langitan telah ditinggalkannya, dan sekarang PKB harus tampil sebagai tarekat, memikat para Kyai kampung dan direstui tiga Kyai yang usianya 90an tahun . GD : Untuk selanjutnya PKB itu identitasnya harus dikenal dengan identitas sebagai tarekat, paham tarekat RNW : Artinya? Gus dur : Sekarang kan enggak, sekarang Islam toh? Ya akhirnya orang tarekat enggak ikut kita. Diambil Golkar. Dulu kita itu hanya berbasis kepentingan Islam kan? Bukan kepentingan tarekat. Akibatnya apa, kita dilecehkan sama Muhammadiyah. Gitu lho. Jadi, kebangkitan kaum tradisional dalam bentuk tarekat. Legitimasi baru nih. Saya ke Sulawesi barat ya begitu. RNW : Tarekat lagi? GD: Iya, ya terus Kyai Langitan dan kyai kampung RNW: Kalau dulu kan Gus merujuknya ke Kyai Langitan? GD : Ah udahlah, apaan sih Kyai Langitan itu? Itu gedhénya karena saya, kecilnya juga karena saya. Kalau dimain-mainkan oleh anak cucu, soal duwit melulu, ya sudah tinggal aja. Begini ya saya kasih tahu ya. Yang menentukan rakyat pemilih itu ke sana ke mari itu, itu kan kyai kampung. Orang lain enggak ada apa-apanya. Itu udah kita pegang semua. RNW : Pilpres mendatang gimana Gus? GD : Saya rasa saya yang menang. RNW : Kalau enggak bagaimana? GD : Ya, terserah. Kalau disuruh ya saya jalankan. Yang tanggung jawab yang nyuruh. RNW : Yang nyuruh siapa? Kyai Langitan? GD : Ah, enggak. Kyai Langitan itu apa sih? Barang kecil. RNW : Lalu siapa? Kyai-kyai yang lain? Kyai kampung? GD : Ada lima orang kyai, paling muda 94, paling tua 97. Satu Sumatra, satu Kalimantan Selatan, tiga di Jawa. Apakah semua ini efektif menyelamatkan PKB dan terutama suksesnya dalam pemilu 2009, masih harus kita saksikan. Kata Kunci: golput <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=golput> , gus dur <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=gus+dur> , pkb <http://www.ranesi.nl/articlesbytag?tag=pkb> [Non-text portions of this message have been removed]

