www.inilah.com

CELAH 

16/04/2008 18:54 WIB

Menyambut Mittal

HAMID BASYAIB

Lakshmi Mittal sepintas seperti reinkarnasi Andrew Carnegie, raja 
baja Amerika di awal abad ke-20. Mereka sama-sama akuntan. Dan sama-
sama punya mimpi yang melampaui keterampilan akuntansi. 

Kekayaan dan pengaruh Carnegie berasal dari suksesnya 
mengkonsolidasi industri baja Amerika. Mittal meraihnya dengan 
mensinergikan industri baja global – kini buruhnya 330.000 orang di 
60 negara, jaringan perusahaannya hadir di 28 negara.

Carnegie dan Mittal sama-sama gigih mengatasi oposisi keras atas 
sepak-terjang bisnis mereka, dan kemudian melompat jauh melampaui 
imajinasi rekan-rekan sezaman.

Keduanya sering dikagumi, sekaligus dicibir, karena gemar menggelar 
pesta-pesta mewah. Kini kediaman Mittal di London merupakan rumah 
termahal di dunia, Rp1,2 triliun, dijuluki Taj Mittal karena banyak 
unsur dekoratif yang identik Taj Mahal. 

Perkawinan puterinya tiga tahun lalu pasti merupakan pesta termahal,
menghabiskan Rp600 miliar, termasuk jamuan di Istana Versailles, 
Prancis. 

Kemashuran Carnegie ditopang kegiatan amalnya; ia filantropis yang 
menyumbang dalam skala jutaan dolar dalam usia 30-an. Mittal kurang 
mempublikasikan sedekahnya, meski sumbangannya – termasuk untuk 
tsunami Aceh –mungkin jauh melampaui prestasi Carnegie. 

Sumbangan Mittal untuk Partai Buruh Inggris mencapai Rp 200 miliar, 
mencuatkan Garbagegate, tapi tak merintangi Financial Times 
menobatinya Person of the Year 2006.

Tapi Carnegie dan Mittal banyak berbeda dalam beberapa hal penting. 
Carnegie lalu lebih berperan sebagai penyandang dana (financier), 
sedang Mittal tetap industrialis sejati. 

Carnegie dipuji sebagai pebisnis baja yang meraih pasar US$1 miliar. 
Mittal, terutama setelah berjuang enam bulan dan berhasil membeli 
raksasa Prancis Arcelor, merawat pasar US$100 miliar, menguasai 10% 
pasokan baja dunia.

Carnegie diyakini membebankan banyak utang ke sejumlah perusahaannya,
MittalArcelor relatif bersih dari utang, meski rajin membeli tunai 
sejumlah perusahaan baja di banyak negara. 

Dan, dalam usia 57 sekarang, Lakshmi Mittal jauh dari garis finis. 
Ia masih dalam tahap awal menembus Cina, pasar terbesar dunia. 
Perusahaannya, tiga kali lipat besarnya dari pesaing terdekatnya, 
bahkan belum masuk ke pasar tanah airnya sendiri, India, yang juga 
sedang haus baja untuk menggencarkan ledakan industrinya. 

Tak lama lagi MittalArcelor juga masuk ke pasar Jepang, Rusia dan 
sejumlah konsumen besar baja yang belum disentuhnya. 

Pendeknya, dengan semua perbedaan dan peluang Mittal 
itu, "seandainya Andrew Carnegie masih hidup pastilah ia akan iri," 
tulis Wilbur L. Ross, Jr, yang tiga tahun lalu menjual perusahaan 
baja terbesar di Amerika miliknya pada Mittal (Time).

Pekan lalu Lakshmi Mittal menemui Presiden SBY di Jakarta, 
mengungkapkan minatnya membeli saham Krakatau Steel dan Aneka 
Tambang. Minat ini membesarkan hati. 

Mittal bersedia menyuntik dana berapapun, sedikitnya US$3 miliar, 
tapi terbuka sampai pada angka US$10 miliar. Masuknya Mittal tentu 
akan mendongkrak kinerja kedua BUMN itu, khususnya KS, yang berjaya 
pada 1970-an (sekaligus dilanda korupsi di masa jayanya itu), dan 
pernah menjadi ikon yang memakmurkan kota Cilegon. 

Kini KS terpaku di angka produksi 2,5 juta ton/tahun, sementara 
kebutuhan kita 6 juta ton/tahun, mengharuskan kita mengimpor 1,5 
juta ton (industri lain menyumbang 1,5 juta ton tambahan). Produksi 
MittalArcelor: 120 juta ton/tahun. 

Kalau raksasa Mittal masuk ke Indonesia, tempat dia memulai bisnis 
pada 1976 (di Sidoarjo) dan hingga kini memiliki PT Ispat Indo, 
tentu seluruh dunia akan menoleh. Biasanya akan ada efek tular 
(bandwagon effect), yang mendorong berbagai industri lain dari India 
dan sejumlah negara lain mengikuti langkahnya. 

Jika ambisi Mittal di Indonesia lancar, itu merupakan pesan lantang 
kepada industri internasional bahwa Indonesia adalah negeri yang 
layak ditanami modal langsung, bukan hanya portofolio di pasar 
modal, yang nyaris tak memberi nilai-tambah bagi kesejahteraan 
rakyat.

Tak ada yang perlu dirisaukan dari masuknya pebisnis global seperti 
Mittal ke BUMN kita. KS (dan Antam) akan terangkat dan terekspos 
kepada dinamika bisnis global dengan intensitas tinggi dan strategi 
mutakhir. 

Ini akan memacu daya saing kita, yang bisa menulari industri 
Indonesia keseluruhan di zaman yang makin intoleran terhadap 
kelambanan dan kerendahan kualitas. 

Hampir 100% pekerjaan di kedua BUMN itu pun tetap ditangani orang 
Indonesia, dan kesejahteraan mereka tentu meningkat seiring 
peningkatan kinerja perusahaan. Pajak yang bisa ditarik pasti lebih 
besar, dan masuk ke laci Ditjen Pajak Indonesia, bukan India atau 
Inggris. Seluruh aset tak bergerak pun akan tetap di Indonesia. 

Mudah-mudahan langkah Mittal diikuti para 'mittal' lainnya. Mereka 
pasti mengejar laba – sebagaimana kita.

Penulis adalah Direktur Program Freedom Institute

 


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke