Bangsa Indonesia adalah bangsa yang relijius, bahkan ini sudah  
terpateri dalam  Pancasila maupun UUD 1945. Lihat saja disetiap 
pojok jalan pasti ada rumah ibadah. Kita memiliki berlipat kali 
ganda jauh lebih banyak; rumah ibadah daripada lampu setopan/lalu-
lintas, tetapi kenapa mental pejabatnya bejat, sehingga kita selalu 
terpilih sebagai Top Five Negara tekorup di kolong langit ini. 
Menurut pendapat Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), 
Abdullah Hehamahua: "Paling tidak 3,7 juta Pegawai Negeri Sipil 
(PNS) harus segera ditangkap dengan tuduhan korupsi dan ini berlaku 
mulai dari Presiden, Wakil Presiden, semua Menteri, semua Anggota 
DPR, Gubenur, Walikota s/d Kepala Desa".  Maka tidaklah heran 
apabila DPR mengharapkan agar KPK segera ditutup saja, sama seperti 
juga maling yang mengharapkan agar aparat Kepolisian ditiadakan saja.

Korupsi di Indonesia, bukan hanya sekedar menjadi Budaya Bangsa 
saja, bahkan telah mendarah daging. Kalau Budaya mungkin masih bisa 
dirubah, tetapi kalau sudah mendarah daging satu-satunya cara ialah 
harus dibeset kulitnya. Sedemikan ganasnya sudah korupsi di 
Indonesia ini, sehingga dana bantuan bencana maupun bantuan untuk 
orang miskin, seperti raskin (beras untuk orang miskin), masih tega-
teganya dikorup. Maka dari itulah bangsa ini lebih tepat disebut 
sebagai Bangsa Munafik daripada Bangsa Relijius.

Kata Munafiq atau Munafik diserap dari bahasa Arab "Munafiqun". Ini 
adalah terminologi dalam Islam yang merujuk kepada mereka yang sok 
suci dan berpura-pura mengikuti ajaran agama, tapi hati maupun 
prilakunya tidaklah demikian. Sedangkan dalam bahasa Inggris 
disebut "hypocrisy" yang diserap dari bahasa Yunani Hyprokrisis yang 
berarti "Main Sandiwara" (Play Acting). Maklum para pemainnya 
dituntut harus memiliki kemampuan Acting atau kemampuan berpura-
pura. Entah itu pura-pura menjadi sedih ataupun senang ataupun juga 
pura-pura jujur yang seakan-akan memihak kepada rakyat kecil.

Maka dari itu apabila rakyat nonton TV sidang DPR; maka langsung 
timbul pikiran; sinetron atau permainan dagelan apalagi yang akan di 
pagelarkan oleh mereka. Hal ini jadi mengingatkan kita akan lagu God 
Bless: "DPR ini panggung sandiwara; janjinya mudah berubah." Untuk 
jadi pemimpin di Indonesia tidak mutlak harus memiliki ilmu maupun 
gelar, yang mutlak diperlukan hanya kemampuan ber-acting atau 
kepandaian bermain sandiwara.

Bukan hanya Gedung DPR saja yang telah berubah menjadi Panggung 
Sandiwara, di rumah ibadah pun tidak jauh bedanya. Di atas Panggung 
baca Mimbar; mereka berkhotbah jauhilah segala macam maksiat maupun 
perselingkuhan, tetapi kenyataannya mereka sendiri yang 
mempraktekannya. Mereka lebih membutuhkan dan mementingkan Uang 
daripada Umat, mereka itu adalah "Pemain Sandiwara Rohani". Konon, 
etimologi Sandiwara diserap dari kata Sandi (Tersamar) dan Warah 
(Ajaran), hanya sayangnya bukan ajaran yang baik yang kita dapatkan 
melainkan yang buruk, maka dari itu mereka itu lebih tepat disebut 
sebagai "Pemain Ketoprak Rohani".

Aneh bin nyata Soeharto bisa memerankan perannya sebagai Pahlawan 
Bangsa walaupun kenyataannya seorang Koruptor Berat selama lebih 
dari 30 tahun. Apakah rakyatnya yang memang bodoh ataukah karena 
sedang memerankan peran pura-pura Bodoh demi keselamatannya sendiri.

Maka tidaklah heran apabila Mochtar Lubis dalam bukunya yang 
berjudul "Manusia Indonesia Sebuah Pertanggung Jawaban" menilai 
bahwa Bangsa Indonesia itu adalah Bangsa Ritis alias Munafik:  
Berpura-pura, lain di muka, tetapi lain pula di belakang, merupakan 
sebuah ciri utama manusia Indonesia sudah sejak lama, sejak meraka 
dipaksa oleh kekuatan-kekuatan dari luar untuk menyembunyikan apa 
yang sebenarnya dirasakannya atau dipikirkannya ataupun yang 
sebenarnya dikehendakinya, karena takut akan mendapat ganjaran yang 
membawa bencana bagi dirinya dengan prinsip ABS - Asal Bapak Senang.

Mungkin, karena watak bangsa Indonesia itu lemah sehingga tidak 
dapat mempertahankan atau memperjuangkan keyakinannya. Mereka mudah, 
apalagi jika dipaksa, dan demi untuk 'survive' maupun demi Duit; 
bersedia mengubah keyakinannya. Makanya kita dapat melihat gejala 
pelacuran intelektuil amat mudah terjadi dengan manusia Indonesia.

Manusia Indonesia terkenal tukang menggerutu tetapi sayangnya mereka 
menggerutunya tidak berani secara terbuka, hanya jika dia dalam 
rumahnya, atau antara kawan-kawannya yang sepaham atau sama perasaan 
dengan dia.

"Bukan saya', adalah kalimat yang paling sering diucapkan dan  cukup 
populer di mulut manusia Indonesia. Atasan menggeser tanggung jawab 
tentang suatu kegagalan pada bawahannya, dan bawahannya menggesernya 
ke yang lebih bawah lagi, dan demikian seterusnya. 

Pemerintah ingin memerangi Pornografi, sehingga merencanakan untuk 
mensensor semua situs porno. Apabila tekad mereka benar-benar 
serious tidak perlu yang dari luar dahulu, mulai saja dengan para 
penjual/produsen VCD/DVD Porno yang ada di depan mata misalnya di 
Glodok – Mangga Dua Jakarta.  Mana tuh MUI maupun Front Pembela 
Islam yang biasanya bisa begitu Gua…alak dengan melakukan segala 
macam Sweeping untuk hal-hal yang bersifat pornografi, apakah mereka 
itu Buta sehingga tidak tahu akan adanya Biang Sarang Produsen VCD 
Porno yang terbesar di Asia ? 

Mungkin karena Honor nya cukup tinggi, maka lebih baik memerankan 
peran menjadi si Buta dari Gua Hantu alias pura-pura menjadi bin 
Gu..oblok saja. Sweeping satu-satunya yang bisa mereka lakukan 
adalah "Sweeping Legislation" alias Sabet Saja dahulu Duitnya, 
masalah Agama itu sih urusan belakangan.

Negara Indonesia, Negara Munafik, ngakunya sih sebagai Negara 
Agraris? Faktanya importir beras terbesar. Bangsa Maritim, tetapi 
Nelayannya miskin. Bangsa yang ramah, ternyata berantem terus, sadis 
bahkan langsung main bakar. Negara Relijius, tetapi nyatanya menjadi 
negara terkorup di dunia. Apakah Anda beda pendapat dengan Mang 
Ucup ???

Saya akhiri tulisan ini dengan mengutip lirik lagu "Gosip Jalanan" 
by Slank:
Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar

Mang Ucup alias Wong Munafikus
Email: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: www.mangucup.org




Kirim email ke