From: Ma'rufin Sudibyo E-mail: [EMAIL PROTECTED] com April adalah bulan horor yang berawal dari Indonesia. Tragedi itu takkan pernah dilupakan Thomas Stanford Raffles, Napoleon Bonaparte, Jenderal Blutcher serta penduduk dunia di paruh kedua abad ke-19.
Ya, April 1815 adalah saat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa menunjukkan kedahsyatannya dalam episode letusan paling kolosal sepanjang sejarah modern. Debu vulkaniknya sampai beredar mengelilingi Bumi, menghambat cahaya Matahari dan mendinginkan suhu Bumi, hingga timbul penyimpangan iklim dramatik yang berakibat munculnya tahun tanpa musim panas (1816). Diperkirakan ada 292.000 jiwa di Indonesia, Eropa dan Amerika yang terenggut dalam letusan kolosal ini. Bagi yang menggemari astronomi, letusan Tambora 1815 menjadi salah satu bahan kajian yang menarik tentang pengaruh gaya pasang surut Bulan - Matahari terhadap dinamika Bumi, khususnya letusan gunung berapi. Tambora meletus dahsyat hanya beberapa jam pasca konjungsi Bulan - Matahari (ijtima'). Pengaruh konjungsi dengan peningkatan frekuensi kejadian gempa sudah banyak dikaji dan dilaporkan, meski mekanismenya masih diperdebatkan. Sementara pengaruh guncangan gempa terhadap peningkatan aktivitas gunung berapi juga sudah banyak diketahui dan bisa diramalkan probabilitasnya berdasarkan persamaan Manga & Brodsky. Nah, pengaruh konjungsi terhadap letusan gunung, barangkali masih menjadi virgin territory yang menantang. Letusan dahsyat Tambora terjadi pada 5 - 15 April 1815 dengan puncak letusan pada 10 April 1815 19:00 WITA. Sementara konjungsi Bulan - Matahari terjadi pada 10 April 1815 02:21 WITA, atau hanya berselisih 17 jam. Sebagai pembanding, letusan dahsyat Gunung Pinatubo (Filipina) terjadi pada 12 - 15 Juni 1991 dengan puncak letusan pada 15 Juni 1991 13:30 WITA. Sementara konjungsi Bulan - Matahari terjadi pada 12 Juni 1991 13:30 WITA, atau berselisih 65 jam. Entah kebetulan atau tidak, ini menarik... Gunung Tambora berlokasi di Semenanjung Sanggar, Sumbawa, dan telah tumbuh sejak 200 ribu tahun silam. Pertumbuhan gunung ini demikian pesatnya sehingga menutupi sisa gunung Kawindana Toi di utaranya yang lebih tua (muncul 410 ribu tahun silam). Pada puncak perkembangannya, sebelum April 1815, Tambora memiliki ketinggian 4.300 m sehingga bisa terlihat dengan jelas dari daratan Pulau Bali yang jaraknya 300-an km. Gunung ini dikelilingi oleh 20 kerucut parasiter yang rata-rata berketinggian 1.000 meter. Di kaki Tambora berkembang tiga kerajaan masing2 Sanggar (sebelah utara), Tambora (sebelah barat) dan Pekat (sebelah selatan). Penduduknya hidup makmur dari pertanian dengan produksi utamanya beras, kacang ijo, kopi, lada dan kapas. Jalinan perdagangan dengan mancanegara juga sudah terjalin. Kerajaan2 ini mengekspor beras, madu, kapas dan kayu merah, sementara impornya diantaranya keramik Cina. Namun semua kemakmuran ini berubah total hanya dalam sepuluh hari di pertengahan April 1815... Gunung Tambora sebenarnya sudah mulai berulah sejak 1812 ketika asap tebal menyembur dari puncaknya diiringi getaran2 kecil. Ini adalah ciri khas letusan freatik, yang terjadi ketika magma yang sedang bergerak naik ke atas mulai bersentuhan dengan air tanah sehingga terbentuk uap panas bertekanan tinggi yang akhirnya menjebol lapisan tanah diatasnya. Biasanya letusan freatik menjadi letusan pembuka dari episode meletusnya sebuah gunung berapi (kecuali Gunung Merapi). Namun letusan freatik Tambora berlangsung terus menerus hingga tiga tahun kemudian. Di masa kini kita menyadari lamanya periode letusan freatik Tambora disebabkan oleh kombinasi dapur magmanya yang sangat dalam disertai magma sangat kental dan sangat kaya asam, sehingga kecepatan naiknya ke tubuh gunung sangat lambat. Letusan2 freatik ini mengendapkan debu setebal 20 cm di kaki gunung. Perubahan mulai terjadi pada 5 April 1815 ketika magma sudah mencapai puncak gunung dan memulai letusan magmatik nan dahsyat. Hari itu Tambora menyemburkan debu dan batu apung hingga setinggi 35 km dalam letusan tipe plinian yang murni didominasi gas. Di kaki Tambora, endapan batu apung dan abu itu sampe setebal 50 cm. Namun itu belum seberapa.. Pasca 5 April Tambora terus bergolak dengan getaran2 keras dan letusan2 freatomagmatik, letusan freatik yang sudah dicampuri magma. Letusan2 ini adalah tanda bahwa suplai magma segar yang baru terus berjalan menuju ke puncak gunung dari reservoirnya. Jika pada saat itu telah ada seismograf, tentu akan terekam ribuan gempa vulkanik dalam dan dangkal per hari hingga peralatan itu tersaturasi. Dan jika saat itu sudah ada barometer, tentu akan terekam penurunan tekanan udara yang anomalik di sekitar Tambora, tanda akan terjadinya letusan mahadahsyat (paroksismal) . Puncak keganasan Tambora terjadi pada Senin 10 April 1815 pukul 19:00 WITA sebagaimana dicatat Raja Sanggar. Didahului gempa vulkanik kuat dengan magnitude minimum 7,5 skala Richter yang getarannya dirasakan sampe oleh penduduk Surabaya, gunung ini memuntahkan 150 km kubik material vulkanik lewat tiga kolom asap yang menyembur hingga setinggi 43 km. Energi letusan ini setara dengan 34.000 megaton TNT. Sebagai pembanding, andaikata seluruh hululedak nuklir dalam puncak Perang Dingin dikumpulkan dan diledakkan bersama-sama, energi ledakannya 'hanya' 20.000 megaton TNT. Dahsyatnya letusan membuat puncak gunung terpenggal dan runtuh (ambles) hingga membentuk kaldera berdiameter 7 km dengan kedalaman 1,1 km, sementara tinggi gunung tinggal 2.800 meter. Proses ini menciptakan awan panas yang sangat luar biasa, volumenya sekitar 5,6 km kubik, yang segera bergerak turun ke bawah menyapu lereng yang tersisa menerjang apa saja sebagai lautan api dengan kecepatan 60 km/jam. Kerajaan Sanggar, Tambora dan Pekat musnah membara akibat terjangan awan panas bersuhu 800 derajat Celcius itu. Demikian banyaknya volume awan panas sehingga sebagian diantaranya masuk ke Laut Flores, menciptakan tsunami dengan tinggi awal > 10 meter dan kecepatan penjalaran 250 km/jam. Tsunami ini menghajar pantai Besuki (Jawa Timur), Madura dan Maluku berselang 3 jam pasca letusan utama, sebagai gelombang setinggi 1 - 2 meter dan menelan banyak korban. Berselang 19 jam kemudian tsunami lain yang lebih kecil kembali melanda. Gemuruh suara letusan 5 April terdengar sampe ke Yogyakarta sebagaimana dicatat Raffles, demikian pula hujan abunya. Namun dentuman suara letusan mahadahsyatnya terdengar hingga ke Bengkulu, sementara abunya jatuh lebih jauh lagi, hingga berjarak 1.300 km dari Tambora. Demikian pekat abunya hingga pada radius 600 km dari gunung mengalami kegelapan total selama 72 jam. Awan panas dan tsunami produk letusan Tambora diperkirakan menelan korban 10.000 jiwa. Namun daratan Pulau Sumbawa dan Lombok yang dibuat tandus tanpa bisa ditanami mengakibatkan sekitar 38.000 penduduk Sumbawa dan 44.000 penduduk Lombok meregang nyawa akibat bencana kelaparan. Maka total korban yang jatuh akibat letusan Tambora mencapai 92.000 jiwa, hanya di Indonesia saja. Sebagai gunung berapi yang terletak di kawasan di antara dua samudera yang menjadi jantung iklim global, letusan Tambora sangat berdampak pada penyimpangan iklim dramatik di seluruh dunia. Sekitar 50 km kubik debu letusan Tambora diinjeksikan ke lapisan stratosfer dan terbawa oleh rotasi Bumi hingga menyebar kemana-mana. Reaksi Belerang dalam debu dengan butir2 air membentuk 200 juta ton butir-butir asam sulfat yang selanjutnya berperan sebagai tirai penahan cahaya Matahari yang sangat efektif. Akibatnya intensitas cahaya Matahari yang sampe ke Bumi tinggal 75 % dari nilai normalnya, sehingga terjadi pendinginan Bumi, dimana suhu global menurun 0,4 - 0,7 derajat Celcius dari nilai normalnya. Akibatnya timbullah penyimpangan iklim global. Di Asia, bencana kelaparan merebak dimana-mana disertai musim yang tak menentu. Kelaparan dahsyat berkecamuk di Bangladesh, menelan korban puluhan ribu jiwa. Mayat2 mereka tak bisa dikuburkan dengan baik, sehingga pada 1817 muncul epidemi kolera asiatik yang sangat ganas, yang menghinggapi pula pasukan Inggris hingga terbawa menyebak ke Afghanistan dan nepal. Dari pasukan Inggris ini pula epidemi menyebar ke Russia dan Amerika utara. Eropa dan Amerika utara mencatat tahun 1816 (atau setahun pasca letusan Tambora) sebagai "tahun tanpa musim panas" atau "tahun membeku". Hujan salju berwarna kecoklatan dan kemerahan turun tak henti2nya di Italia dan Hongaria sepanjang 1816 diselingi beberapa kali badai salju yang membunuh banyak orang dan merusak ladang pertanian. Di Amerika utara badai salju mengganas hingga kawasan hangat di selatan yang biasanya tak tersentuh. Kabut muncul setiap saat dan hujan badai mengamuk berkali-kali di Eropa utara dan Amerika, yang membuat sungai-sungai utama banjir. Semua ini membuat ladang pertanian rusak tak bisa ditanami dan akibatnya harga pangan pun melonjak hingga tujuh kali lipat dari sebelumnya. Bencana kelaparan pun menghinggapi semua penjuru dan Swiss terpaksa menyatakan keadaan darurat nasional karena kekurangan pangan telah memicu kerusuhan. Dari angka2 di Swiss inilah diperkirakan sekitar 200.000 penduduk Eropa dan Amerika utara terenggut jiwanya dalam tahun yang membeku itu. "Hujan salah musim" mengguyur Eropa sejak awal Juni 1815 dan terus bertahan selama berminggu-minggu kemudian. Sungai-sungai utama Eropa kebanjiran, sementara jalanan penghubung antarkota dan antarnegara berubah jadi lautan lumpur. Ini sangat menyulitkan Napoleon, yang sedang berusaha menggapai impian menyatukan Eropa dibawah kekuasaan kekaisaran Perancis setelah berhasil meloloskan diri dari Elba, 1812. Rencana menyerbu Brussel berantakan akibat peralatan berat pasukannya tidak sanggup melewati jalan2 yang berlumpur. Dan akibat lanjutannya cukup tragis, Le Petit Generale ini terpaksa harus takluk di tangan Jenderal Blutcher dan pasukan Koalisinya dalam pertempuran besar di Waterloo, 15 Juni 1815. ----------------------------------------------------------------------------- Bacaan : Pratomo, 2006, Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia : Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam Sejarah, JGI No. 4 Vol. 1 (2006), p.209 - 227. Sutawidjaja dkk, 2006, Characterization of Volcanic Deposits and Geoarchaeological Studies from The 1815 Eruption of Tambora Volcano, JGI No. 1 Vol. 1 (2006), p.49 - 57. mediacare http://www.mediacare.biz [Non-text portions of this message have been removed]

