cerita yg seruuuuuuuuuuuuuuu!

----- Original Message ----
From: mediacare <[EMAIL PROTECTED]>
To: zamanku <[EMAIL PROTECTED]>; [email protected]; mediacare <[EMAIL 
PROTECTED]>; media bali <[EMAIL PROTECTED]>; media intim <[EMAIL PROTECTED]>; 
[EMAIL PROTECTED]; mudawijaya <[EMAIL PROTECTED]>; [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, April 26, 2008 15:22:35
Subject: [ppiindia] Tambora meletus di bulan April


From: Ma'rufin Sudibyo 
E-mail: [EMAIL PROTECTED] com

April adalah bulan horor yang berawal dari Indonesia. Tragedi itu  takkan 
pernah dilupakan Thomas
Stanford Raffles, Napoleon Bonaparte, Jenderal Blutcher serta penduduk dunia di 
paruh kedua abad
ke-19. 

Ya, April 1815 adalah saat Gunung Tambora di Pulau Sumbawa menunjukkan 
kedahsyatannya dalam episode letusan paling kolosal sepanjang sejarah modern. 
Debu vulkaniknya sampai beredar mengelilingi Bumi, menghambat cahaya Matahari 
dan mendinginkan suhu Bumi, hingga timbul penyimpangan iklim dramatik yang 
berakibat munculnya tahun tanpa musim panas (1816).
Diperkirakan ada 292.000 jiwa di Indonesia, Eropa dan Amerika yang terenggut 
dalam letusan kolosal ini. 

Bagi yang menggemari astronomi, letusan Tambora 1815 menjadi salah satu bahan 
kajian yang menarik tentang pengaruh gaya pasang surut Bulan - Matahari 
terhadap dinamika Bumi, khususnya letusan gunung berapi. Tambora meletus 
dahsyat hanya beberapa jam pasca
konjungsi Bulan - Matahari (ijtima'). Pengaruh konjungsi dengan peningkatan 
frekuensi kejadian gempa sudah banyak dikaji dan dilaporkan, meski mekanismenya 
masih diperdebatkan. 

Sementara pengaruh guncangan gempa terhadap peningkatan aktivitas gunung berapi
juga sudah banyak diketahui dan bisa diramalkan probabilitasnya berdasarkan 
persamaan Manga & Brodsky. Nah, pengaruh konjungsi terhadap letusan gunung, 
barangkali masih menjadi virgin territory yang menantang. Letusan dahsyat 
Tambora terjadi pada 5 - 15 April 1815 dengan puncak letusan pada 10 April 1815 
19:00 WITA. Sementara konjungsi Bulan - Matahari terjadi pada 10 April 1815 
02:21 WITA, atau hanya berselisih 17 jam. Sebagai pembanding, letusan dahsyat
Gunung Pinatubo (Filipina) terjadi pada 12 - 15 Juni
1991 dengan puncak letusan pada 15 Juni 1991 13:30
WITA. Sementara konjungsi Bulan - Matahari terjadi
pada 12 Juni 1991 13:30 WITA, atau berselisih 65 jam.
Entah kebetulan atau tidak, ini menarik...

Gunung Tambora berlokasi di Semenanjung Sanggar,
Sumbawa, dan telah tumbuh sejak 200 ribu tahun silam.
Pertumbuhan gunung ini demikian pesatnya sehingga
menutupi sisa gunung Kawindana Toi di utaranya yang
lebih tua (muncul 410 ribu tahun silam). Pada puncak
perkembangannya, sebelum April 1815, Tambora memiliki
ketinggian 4.300 m sehingga bisa terlihat dengan jelas
dari daratan Pulau Bali yang jaraknya 300-an km.
Gunung ini dikelilingi oleh 20 kerucut parasiter yang
rata-rata berketinggian 1.000 meter. 

Di kaki Tambora berkembang tiga kerajaan masing2
Sanggar (sebelah utara), Tambora (sebelah barat) dan
Pekat (sebelah selatan). Penduduknya hidup makmur dari
pertanian dengan produksi utamanya beras, kacang ijo,
kopi, lada dan kapas. Jalinan perdagangan dengan
mancanegara juga sudah terjalin. Kerajaan2 ini
mengekspor beras, madu, kapas dan kayu merah,
sementara impornya diantaranya keramik Cina. 

Namun semua kemakmuran ini berubah total hanya dalam
sepuluh hari di pertengahan April 1815...

Gunung Tambora sebenarnya sudah mulai berulah sejak
1812 ketika asap tebal menyembur dari puncaknya
diiringi getaran2 kecil. Ini adalah ciri khas letusan
freatik, yang terjadi ketika magma yang sedang
bergerak naik ke atas mulai bersentuhan dengan air
tanah sehingga terbentuk uap panas bertekanan tinggi
yang akhirnya menjebol lapisan tanah diatasnya.
Biasanya letusan freatik menjadi letusan pembuka dari
episode meletusnya sebuah gunung berapi (kecuali
Gunung Merapi). Namun letusan freatik Tambora
berlangsung terus menerus hingga tiga tahun kemudian.
Di masa kini kita menyadari lamanya periode letusan
freatik Tambora disebabkan oleh kombinasi dapur
magmanya yang sangat dalam disertai magma sangat
kental dan sangat kaya asam, sehingga kecepatan
naiknya ke tubuh gunung sangat lambat. Letusan2
freatik ini mengendapkan debu setebal 20 cm di kaki
gunung.

Perubahan mulai terjadi pada 5 April 1815 ketika magma
sudah mencapai puncak gunung dan memulai letusan
magmatik nan dahsyat. Hari itu Tambora menyemburkan
debu dan batu apung hingga setinggi 35 km dalam
letusan tipe plinian yang murni didominasi gas. Di
kaki Tambora, endapan batu apung dan abu itu sampe
setebal 50 cm. Namun itu belum seberapa..

Pasca 5 April Tambora terus bergolak dengan getaran2
keras dan letusan2 freatomagmatik, letusan freatik
yang sudah dicampuri magma. Letusan2 ini adalah tanda
bahwa suplai magma segar yang baru terus berjalan
menuju ke puncak gunung dari reservoirnya. Jika pada
saat itu telah ada seismograf, tentu akan terekam
ribuan gempa vulkanik dalam dan dangkal per hari
hingga peralatan itu tersaturasi. Dan jika saat itu
sudah ada barometer, tentu akan terekam penurunan
tekanan udara yang anomalik di sekitar Tambora, tanda
akan terjadinya letusan mahadahsyat (paroksismal) . 

Puncak keganasan Tambora terjadi pada Senin 10 April
1815 pukul 19:00 WITA sebagaimana dicatat Raja
Sanggar. Didahului gempa vulkanik kuat dengan
magnitude minimum 7,5 skala Richter yang getarannya
dirasakan sampe oleh penduduk Surabaya, gunung ini
memuntahkan 150 km kubik material vulkanik lewat tiga
kolom asap yang menyembur hingga setinggi 43 km.
Energi letusan ini setara dengan 34.000 megaton TNT.
Sebagai pembanding, andaikata seluruh hululedak nuklir
dalam puncak Perang Dingin dikumpulkan dan diledakkan
bersama-sama, energi ledakannya 'hanya' 20.000 megaton
TNT. 

Dahsyatnya letusan membuat puncak gunung terpenggal
dan runtuh (ambles) hingga membentuk kaldera
berdiameter 7 km dengan kedalaman 1,1 km, sementara
tinggi gunung tinggal 2.800 meter. Proses ini
menciptakan awan panas yang sangat luar biasa,
volumenya sekitar 5,6 km kubik, yang segera bergerak
turun ke bawah menyapu lereng yang tersisa menerjang
apa saja sebagai lautan api dengan kecepatan 60
km/jam. Kerajaan Sanggar, Tambora dan Pekat musnah
membara akibat terjangan awan panas bersuhu 800
derajat Celcius itu. Demikian banyaknya volume awan
panas sehingga sebagian diantaranya masuk ke Laut
Flores, menciptakan tsunami dengan tinggi awal > 10
meter dan kecepatan penjalaran 250 km/jam. Tsunami ini
menghajar pantai Besuki (Jawa Timur), Madura dan
Maluku berselang 3 jam pasca letusan utama, sebagai
gelombang setinggi 1 - 2 meter dan menelan banyak
korban. Berselang 19 jam kemudian tsunami lain yang
lebih kecil kembali melanda. 

Gemuruh suara letusan 5 April terdengar sampe ke
Yogyakarta sebagaimana dicatat Raffles, demikian pula
hujan abunya. Namun dentuman suara letusan
mahadahsyatnya terdengar hingga ke Bengkulu, sementara
abunya jatuh lebih jauh lagi, hingga berjarak 1.300 km
dari Tambora. Demikian pekat abunya hingga pada radius
600 km dari gunung mengalami kegelapan total selama 72
jam.

Awan panas dan tsunami produk letusan Tambora
diperkirakan menelan korban 10.000 jiwa. Namun daratan
Pulau Sumbawa dan Lombok yang dibuat tandus tanpa bisa
ditanami mengakibatkan sekitar 38.000 penduduk Sumbawa
dan 44.000 penduduk Lombok meregang nyawa akibat
bencana kelaparan. Maka total korban yang jatuh akibat
letusan Tambora mencapai 92.000 jiwa, hanya di
Indonesia saja. 

Sebagai gunung berapi yang terletak di kawasan di
antara dua samudera yang menjadi jantung iklim global,
letusan Tambora sangat berdampak pada penyimpangan
iklim dramatik di seluruh dunia. Sekitar 50 km kubik
debu letusan Tambora diinjeksikan ke lapisan
stratosfer dan terbawa oleh rotasi Bumi hingga
menyebar kemana-mana. Reaksi Belerang dalam debu
dengan butir2 air membentuk 200 juta ton butir-butir
asam sulfat yang selanjutnya berperan sebagai tirai
penahan cahaya Matahari yang sangat efektif. Akibatnya
intensitas cahaya Matahari yang sampe ke Bumi tinggal
75 % dari nilai normalnya, sehingga terjadi
pendinginan Bumi, dimana suhu global menurun 0,4 - 0,7
derajat Celcius dari nilai normalnya. Akibatnya
timbullah penyimpangan iklim global.

Di Asia, bencana kelaparan merebak dimana-mana
disertai musim yang tak menentu. Kelaparan dahsyat
berkecamuk di Bangladesh, menelan korban puluhan ribu
jiwa. Mayat2 mereka tak bisa dikuburkan dengan baik,
sehingga pada 1817 muncul epidemi kolera asiatik yang
sangat ganas, yang menghinggapi pula pasukan Inggris
hingga terbawa menyebak ke Afghanistan dan nepal. Dari
pasukan Inggris ini pula epidemi menyebar ke Russia
dan Amerika utara.

Eropa dan Amerika utara mencatat tahun 1816 (atau
setahun pasca letusan Tambora) sebagai "tahun tanpa
musim panas" atau "tahun membeku". Hujan salju
berwarna kecoklatan dan kemerahan turun tak henti2nya
di Italia dan Hongaria sepanjang 1816 diselingi
beberapa kali badai salju yang membunuh banyak orang
dan merusak ladang pertanian. Di Amerika utara badai
salju mengganas hingga kawasan hangat di selatan yang
biasanya tak tersentuh. Kabut muncul setiap saat dan
hujan badai mengamuk berkali-kali di Eropa utara dan
Amerika, yang membuat sungai-sungai utama banjir.
Semua ini membuat ladang pertanian rusak tak bisa
ditanami dan akibatnya harga pangan pun melonjak
hingga tujuh kali lipat dari sebelumnya. Bencana
kelaparan pun menghinggapi semua penjuru dan Swiss
terpaksa menyatakan keadaan darurat nasional karena
kekurangan pangan telah memicu kerusuhan. Dari angka2
di Swiss inilah diperkirakan sekitar 200.000 penduduk
Eropa dan Amerika utara terenggut jiwanya dalam tahun
yang membeku itu. 

"Hujan salah musim" mengguyur Eropa sejak awal Juni
1815 dan terus bertahan selama berminggu-minggu
kemudian. Sungai-sungai utama Eropa kebanjiran,
sementara jalanan penghubung antarkota dan antarnegara
berubah jadi lautan lumpur. Ini sangat menyulitkan
Napoleon, yang sedang berusaha menggapai impian
menyatukan Eropa dibawah kekuasaan kekaisaran Perancis
setelah berhasil meloloskan diri dari Elba, 1812.
Rencana menyerbu Brussel berantakan akibat peralatan
berat pasukannya tidak sanggup melewati jalan2 yang
berlumpur. Dan akibat lanjutannya cukup tragis, Le
Petit Generale ini terpaksa harus takluk di tangan
Jenderal Blutcher dan pasukan Koalisinya dalam
pertempuran besar di Waterloo, 15 Juni 1815. 

------------ --------- --------- --------- --------- --------- -

Bacaan : 

Pratomo, 2006, Klasifikasi Gunung Api Aktif Indonesia
: Studi Kasus dari Beberapa Letusan Gunung Api dalam
Sejarah, JGI No. 4 Vol. 1 (2006), p.209 - 227.

Sutawidjaja dkk, 2006, Characterization of Volcanic
Deposits and Geoarchaeological Studies from The 1815
Eruption of Tambora Volcano, JGI No. 1 Vol. 1 (2006),
p.49 - 57.

mediacare
http://www.mediacar e.biz

[Non-text portions of this message have been removed]

    

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke