Polisi memperlakukan guru-guru dan sekolah seperti teroris dan
sarang teroris. Densus 88, detasemen khusus yang dibentuk untuk
menangani teroris dengan senjata terhunus dan tembakan peringatan
mendobrak masuk sebuah UKS sekolah, untuk mencari kecurangan UN.

Bandingkan dengan KPK yang "takut" untuk menggeledah kantor anggota
DPR yang terhormat. Hanya karena Ketua DPR tidak mengijinkan. Para
penyidik KPK harus meminta ijin untuk mencari bukti-bukti korupsi.
Ketua DPR yang juga ketua DPP Partai Golkar melarang penyidik KPK
untuk masuk, mencari bukti-bukti.

Sebuah ironi, perlakuan yang berbeda yang diterima warga negara
Indonesia. Ini akan terjadi terus selama yang memimpin negeri ini
orang-orang tua yang kolot. Mereka punya beban yang terlalu berat
untuk menjadi bersih.

Agung W

ps: pemilu 2009 jangan pilih yang tua dan kolot, apalagi jenderal
dan bekas jenderal, bekas menteri, bekas wapres, bekas ini dan bekas
itu. jangan pilih barang bekas!

terus terang ini kampanye!



Kirim email ke