Subhanallah...beginilah manusia jika telah menerima hidayahNya, apapun
bisa membuat manusia mendekatkan diri dan kembali kepadaNya, azan,
sholat, puasa bahkan di dlm penjara sekalipun. 

Sholat, ibadah yg dicontohkan nabi2 Allah, Musa as pun sholat bahkan
Isa AlMasih pun sholat, inilah ibadah nan agung bukti ketundukan &
kepatuhan hamba kpd PenciptaNya. Jika kamu berdiri untuk
berdo'a,…...(Markus 11:25); ,……. lalu ia berlutut dan berdo'a (Lukas
22: 41); ia maju sedikit,lalu sujud ke tanah dan berdo'a.... (Markus
14:35).

Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan hidayah , maka sesungguhnya dia
berbuat itu untuk  dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka
sesungguhnya dia tersesat bagi  dirinya sendiri. Dan seorang yang
berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan
meng'azab sebelum Kami mengutus seorang rasul. QS17:15



Hidayatullah.com--Sarah Joseph (36) adalah muallaf asli Inggris yang
masuk Islam di usia 16 tahun. Jurnalis produktif ini selepas memeluk
Islam rajin memberikan kuliah tentang Islam di Inggris dan
mancanegara. Kini, di tengah imej negatif Islam di dunia Barat, dia
berjuang membangun citra positif Islam melalui media. Salah satunya
dengan menerbitkan majalah Emel, sebuah majalah khas yang mengupas
seputar gaya hidup Islam. Emel bisa disebut satu-satunya majalah
berwarna Islam yang terbit di dataran Britania Raya. Dalam sebuah
wawancara dengan harian The Guardian yang terbit di London, Sarah yang
dulunya menganut paham Katolik, memprediksi Islam akan punya peran
besar ke depan dalam memecahkan berbagai permasalahan dunia. Dia juga
banyak bertutur bagaimana seharusnya seorang Muslim yang bermukim di
negara Barat berperilaku. Berikut penuturan ibu tiga anak yang pernah
mendapat OBE Awards tahun 2004 (untuk aktifitasnya dalam membangun
dialog antar umat beragama) disadur dari beberapa wawancaranya dengan
media Inggris.

***

"Saya hidup selama 16 tahun tanpa Islam. Jadi manusia biasa, menjadi
seorang wanita, seorang ibu, dan editor di London. Semua hal itu telah
membentuk saya menjadi seorang pribadi yang luwes. Akan tetapi peran
saya sebagai seorang ibu terbentuk saat menjadi Muslim," kata Sarah
Joseph. Dikatakannya, seorang Muslim punya hak-hak individu sendiri,
ada persyaratan-persyaratan tertentu. Sebagaimana individu lain juga
punya hal yang sama tanpa memperhatikan apakah dia Islam atau bukan.
Namun dengan menjadi seorang Muslim, seseorang itu akan terbentuk
menjadi pribadi yang menghargai hak individu orang lain.

"Saya orang Inggris dan berpikir seperti kebanyakan orang Barat
lainnya. Saat saya berkunjung ke negara Islam saya jadi paham
aspek-aspek orang Islam, namun saya tidak mau turut campur dengan adat
kebiasaan setempat," imbuhnya. Sarah mengatakan menjadi anggota di dua
komunitas berbeda (Inggris dan Islam) memang sulit. Namun dia punya
kewajiban untuk menjelaskan tentang Islam sebenarnya. "Saya punya
perasaan yang maha dahsyat kala berbicara dengan mereka. Berbicara
dari hati ke hati satu sama lain. Saya berikan hidup ini hanya untuk
menjadi jembatan diantara dua komunitas ini," katanya.

Menerbitkan majalah Islam

"Jadi, saya kira, Muslim Inggris dan di Barat umumnya, harus menemukan
jawaban atas apa yang terjadi saat ini. Harus jadi jembatan antara dua
dunia itu. Kita-kita yang lahir disini dan besar dalam masyarakat
Inggris, memiliki tanggungjawab untuk menjelaskan Islam pada kalangan
Barat. Saya melihat Islam punya kapasitas memberikan yang terbaik.
Syaratnya mereka (Barat-red) harus memulainya dengan melihat Islam
sebagai bagian dari solusi dan bukan bagian dari masalah yang harus
dijauhi," kata dia.

Wanita London itu menempuh pintu lain dalam menerjemahkan Islam untuk
dunia Barat. Dia meluncurkan sebuah majalah gaya hidup Islam dan salah
satu targetnya adalah pembaca non Muslim. Majalah itu, awalnya,
dibiayai dari tabungannya sendiri. Kini mulai dikenal khalayak dan
bersanding dengan majalah-majalah terkenal lainnya di toko-toko buku.

Emel, nama majalah itu. Berasal dari dua huruf M dan L sebagai
singkatan dari Muslim Life. Rubrik-rubriknya menampilkan gaya hidup
Islam menyangkut fashion, desain interior, finance, entrepreneur,
kesehatan, makanan, hingga kisah perjalanan. Lalu ada juga rubrik
berkebun dan feature tentang penemuan-penemuan ilmuwan Muslim di masa
lampau. Semuanya dikemas secara populer dengan menampilkan sisi Islam
yang selama ini terlupakan ditengah arus islamofobia dan isu terorisme.

Emel pertama kali diterbitkan tahun 2003 dan hanya ada di toko-toko
buku yang khusus menjual buku-buku Islam saja. Namun dalam
perkembangannya ternyata non Muslim pun menyukai majalah itu. Sehingga
sejak September 2005 distribusinya mulai diperluas untuk umum. Catatan
Wikipedia, kini Emel memiliki sirkulasi di 30 negara. Majalah ini juga
bisa diakses di internet (www.emelmagazine.com)

"Hari ini berita-berita tentang Islam identik dengan pembunuhan,
penganiayaan, dan sejenisnya. Kami ingin tampilkan sesuatu yang lain.
Hal-hal normal yang berlaku dalam Islam, yang tak banyak diangkat.
Kami tujukan majalah ini utamanya bagi kalangan muda," kata Sarah
bersemangat. Sarah berupaya mempresentasikan Islam yang sebenarnya,
dengan menonjolkan kontribusi yang telah mereka buat, terutama untuk
membangun opini masyarakat Inggris. Dengan sentuhan layout yang
menarik, pesan-pesan Islam dapat dipahami secara luas tanpa
dogma-dogma agama atau bumbu politik.

"Dalam majalah ini seorang Muslim digambarkan, misalnya, mengenakan
pakaian seperti ini, lalu makan makanan yang seperti itu. Kami
menawarkan jendela masuk ke komunitas Islam, jauh dari sekadar
ungkapan-ungkapan berbau klise," tambahnya.

Mulai dengan modal kecil

"Seorang wartawan BBC mengira kami punya modal hingga 5 juta
Poundsterling. Saya tertawa. Kami mulai dengan modal awal 20 ribu
Poundsterling," jelas Sarah.

"Ada yang tanya, dengan meningkatnya perasaan takut akan Islam, inikah
saatnya untuk pembaca non Muslim? Kami musti bilang, "mari turunkan
kepala kita." Jika masing-masing kita masih tetap membuat kubu
sendiri, maka permusuhan itu tak akan pernah hilang," katanya.

Sarah yang pernah mendapat undangan Toni Blair (mantan PM Inggris) itu
ingin menunjukkan sesuatu yang lain. Bahwa Islam bukan hanya ibadah
shalat atau politik. Tapi Islam juga mengatur gaya hidup.

Dulu banyak yang tidak tahu bagaimana konsep hidup seorang Muslim.
Namun kini perlahan mulai jelas setelah majalah ini diluncurkan. Emel
berhasil merebut pasar yang belum banyak dimanfaatkan media lain dan
meruntuhkan imej buruk sebagian kalangan yang benci Islam. Oplahnya
kini lebih dari 20.000 eksemplar dan memiliki 3000 pelanggan tetap.
Sarah giat membantu pengembangan ide dengan meramu Islam masa kini dan
masa lalu serta mengajak pembaca Muslim memberikan kontribusi mereka.
Majalah yang bermarkas di Whitechapel, timur London itu memiliki enam
orang staf dan beberapa relawan.

Imej Islam di Barat

Sarah sedikit risau melihat beberapa media yang dalam melaporkan hal
ektrimis terlalu banyak menambah-nambahkan isi berita. "Jika kehidupan
Islam diisolasi, ditakut-takuti, dikatakan tidak seorangpun mau
berteman dengan mereka, maka ini tidak sehat bagi masyarakat kami.,"
kata dia.

"Anda tidak boleh memberi label "Islam Fundamentalis." Cukup
disebutkan saja mereka itu telah melenceng dari ajaran agamanya. Saya
sangat tidak setuju sebagian kalangan yang menyebut Al-Quran secara
aktif telah mendorong terjadinya serangan teror. Jika mereka katakan
seperti itu, maka mereka itu sama saja dengan Al-Qaidah. Mereka
menyanyikan lagu yang sama," tandas Sarah lagi. Dalam pandangannya,
Al-Qaidah dan yang sejenisnya menggunakan Islam dan Al-Quran untuk
melegitimasi kekerasan secara cerdik.

Perilaku orang Islam

"Jujur saja, perilaku sebagian Muslim kadang-kadang sangat tidak
membantu merubah imej Islam di Barat. Kita perlu lebih sadar akan hal
ini. Orang-orang memantau perilaku kita dan memberi penilaian
tertentu. Ada sebuah survei tahun 2002 silam. Disebutkan 70 persen
masyarakat Inggris tidak tahu apa-apa atau bahkan tidak peduli sama
sekali apa itu Islam. Islam mereka pahami hanya berdasarkan informasi
dari media saja. Celakanya media tidak menunjukkan Islam secara
proporsional. Jadi, ini benar-benar tugas kita dan sekali lagi
tergantung pada kita untuk mengubah opini tersebut. Tentunya dengan
sikap dan perilaku Islami. Orang Islam musti proaktif menunjukkan
hal-hal positif dalam Islam. Sangat banyak jalan untuk menunjukkan hal
itu," pintanya.

Dalam sebuah percakapan live di situs Islamonline, Sarah sempat
ditanya apakah Barat tempat yang cocok bagi seorang Muslim untuk
mempraktekkan keyakinannya di tengah kampanye sekuler. Dalam
pandangannya, Allah SWT telah menciptakan dunia ini. Jadi, bagi
Muslim, hidup dimana saja bisa dan mungkin.

"Barat punya isu sekularime, memang benar. Hal itu bisa menyerang
agama dan moralitas kita. Benar. Tapi haruskah kita membiarkan kapal
pergi menuju pulau yang damai sentosa (tanpa kita di dalamnya)? Para
Nabi tidak pernah menyerah meskipun dicerca dan dihina. Kita tidak
boleh menyerah. Patut kita tunjukkan bahwa Islam relevan dengan dunia
ini. Karena itu kita perlu terus meningkatkan kualitas dakwah sehingga
Islam mudah dipahami," tegasnya.

Masuk Islam di usia muda

Sebelum kenal Islam Sarah adalah penganut paham Katolik Roma. Dia
termasuk remaja yang aktif dalam berbagai kegiatan agama, sosial, dan
politik. Agama waktu itu benar-benar muncul dari dalam hatinya hingga
berpengaruh dalam aktifitas sosial kemasyarakatan. Keluarganya
menganut paham liberal. Mereka justru tak peduli agama. Ibu Sarah
sering berujar anaknya itu sangat agamis, meski masih sangat kecil. 

Pada usia 13 tahun, abang kandung Sarah masuk Islam. Waktu itu karena
alasan perkawinan. "Terang saja saya sangat benci dengan keputusannya.
Waktu itu dia saya tuduh menjual keyakinan hanya karena wanita. Saya
masih takut kala itu. Sebab Islam sangat asing, dan saya banyak
membaca sisi negatif tentang Islam," kisah Sarah.

"Prasangka buruk tentang Islam sulit hilang. Tapi saya tahu, perasaan
takut itu karena saya belum tahu Islam yang sesungguhnya. Akhirnya
saya putuskan untuk mencari informasi lebih jauh tentang Islam.
Sungguh, saya benar-benar ingin tahu. Tak berapa lama setelah itu saya
meninggalkan ajaran Katolik. Bukan karena saya tertarik dengan Islam.
Namun lebih karena kecewa aturan Paus. Saya tidak dapat menerima
aturan sentralistik yang berpusat di Roma," lanjutnya.

"Akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari Kristen. Namun belum
memilih Islam. Waktu itu saya "kosong". Saya masih berusaha mencari
Tuhan. Dalam pencarian itu, Islamlah yang kemudian lebih dulu mengalir
dalam hati saya. Islam menjawab semua pertanyaan saya. Terutama
tentang Trinitas. Satu hal lagi, Al-Quran tidak mengalami perubahan
sama sekali, lain dengan Bibel. Perlahan, saya menemukan jawaban
tentang Islam yang telah mengendap sekian lama," aku Sarah. Sarah
masuk Islam di usia sangat belia yakni pada usia16 tahun.

Terkesan shalat

"Jujur saja, satu hal lagi yang membuat saya menerima Islam adalah
saat melihat orang shalat. Kala mereka bersimpuh dalam sujud dengan
penuh kerendahan diri. Saya kira inilah yang disebut "kepatuhan" atau
ketundukan sebagai seorang hamba," kenang Sarah.

Awalnya memang berat bagi Sarah. Perlu beberapa waktu untuk
merealisasikan Islam dalam diri dan kehidupannya. Terutama membawanya
ke dalam keluarga dan lingkungan sosial.
"Tapi lama-kelamaan, keluarga melihat saya tetap dapat berkontribusi
untuk masyarakat kendati sebagai seorang Muslim. Hal itu bikin mereka
gembira dan dapat menerima saya kembali," sebutnya.

Pada kali pertama orangtuanya memang menolak rencana anaknya masuk
Islam. Bahkan mereka mengucapkan kata "belangsungkawa" kala Sarah
mulai mengenakan jilbab. Tapi dalam pandangan Sarah mengenakan jilbab
merupakan sebuah pilihan.

"Keluarga saya menganut paham liberal. Begitupun mendengar saya masuk
Islam mereka sangat menentang. Mereka menyangka saya akan jadi
seseorang yang lain.

Konon lagi saya mengenakan jilbab persis di awal-awal masuk Islam,
mereka makin menentang. Jika saja saya tidak mengenakannya maka
semuanya akan mudah. Tapi saya memang sangat ingin pakai jilbab. Saya
benar-benar ingin jadi seorang Muslim. Perlu waktu beberapa tahun bagi
keluarga saya untuk bisa paham hal ini. Tapi kini mereka sangat
bahagia. Mereka senang dengan jalan hidup yang saya pilih dan ternyata
itu bagus. Begitupun, sayangnya mereka belum menunjukkan sinyal untuk
memeluk Islam," ujar Sarah.

Menikah dengan pria Bangladesh

Tahun 1992 Sarah menikah dengan Mahmud, seorang pria Inggris keturunan
Bangladesh Mahmud bekerja sebagai pengacara. Orangtua Mahmud datang ke
Inggris sekitar tahun 1960. Keluarga Sarah mulai menerimanya, karena
penampilan Mahmud yang moderat. Kini pasangan itu telah dianugerahi
tiga orang anak, Hasan (11), Sumayah (8), dan Amirah (5).

"Identitas saya sebagai seorang Muslim sangat jelas. Memiliki
identitas seperti ini tidak berlawanan dengan kaedah umum dan saya
dapat hidup secara plural dalam masyarakat yang toleran," katanya tegas. 

"Jika kita bilang Islam hanya tentang shalat dan politik, maka kita
telah membuatnya jadi kering, cuma berisi aturan-aturan teologis. Tapi
jika kita bisa tunjukkan, misalnya pada kawula muda (Islam) bahwa
kebudayaan Islam juga telah ikut membangun Eropa, maka kita telah
beritahukan bahwa mereka itu adalah pemegang amanah masa depan.
Anak-anak muda Islam perlu tahu tentang itu. 

"Hidup ini adalah ujian, arena untuk mensucikan jiwa dan sarana untuk
menerima kasih sayang Allah. Islam bagi saya merupakan jalan termudah
untuk berhubungan dengan Tuhan. Saya berpikir kita musti fokus kepada
tujuan hidup daripada hanya sekedar menjalankan perintah atau ajaran
agama saja," katanya.
"Lihatlah Islam sebagai bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah
yang harus dijauhi," tambah Sarah.  [Zulkarnain Jalil, berbagai
sumber/www.hidayatullah.com]

Kirim email ke