MAJALAH TEMPO Edisi. 38/IX/28 April - 04 Mei 2008 Opini Riset atau Spionase Banyak hal membuat kegiatan laboratorium Namru-2 di Jakarta kerap mengundang kecurigaan. Yang utama adalah statusnya sebagai bagian dari organisasi Angkatan Laut Amerika Serikat. Setelah itu, aktivitas para anggotanya yang rajin memburu virus penyakit ke seluruh pelosok Indonesia, termasuk daerah rawan dan terpencil. Ditambah lagi, personel militer AS yang bertugas ternyata memiliki paspor diplomat dan kadang mengirim atau menerima paket berisi virus dari dan ke berbagai kawasan dunia melalui jalur pos diplomatik. Laboratorium ini juga terkesan tertutup dan dijaga ketat. Walhasil, tak diperlukan daya imajinasi terlalu aktif bagi warga Indonesia untuk mencurigai lembaga ini sebagai bagian dari jaringan spionase Amerika Serikat di bidang senjata biologis.
Kecurigaan ini terbukti selalu muncul setiap kali terjadi perubahan pemerintahan atau pergantian pejabat tinggi di bidang keamanan atau kesehatan. Uniknya, kehebohan yang biasanya dimulai dengan perintah atau surat seorang pejabat baru untuk mengkaji ulang atau menutup Namru-2 selalu berujung pada kesenyapan. Kegiatan rutin institusi yang bekerja sama dengan badan penelitian dan pengembangan Departemen Kesehatan ini pun terus berlangsung, bahkan hingga kini. Apa yang terjadi? Rupanya, setiap kali pengkajian dilakukan, termasuk yang baru saja dilakukan awak majalah ini, akhirnya disimpulkan bahwa berbagai kecurigaan itu ternyata berlebihan. Kendati berada di bawah Dinas Angkatan Laut Amerika Serikat, kegiatan utama Namru-2 adalah di bidang penelitian ilmu kesehatan. Personelnya pun hampir 90 persen warga Indonesia. Hasil penelitian mereka juga dilaporkan secara terbuka di jurnal ilmiah di bidang kedokteran. Bahwa mereka pernah mengumpulkan sampel darah anggota TNI atau mengirim dan menerima virus, ternyata hal itu atas permintaan pihak berwenang nasional. Bahkan kehadiran Namru-2 pun karena permintaan Menteri Kesehatan Indonesia, yang meminta bantuan pemerintah Amerika Serikat mengatasi mewabahnya penyakit campak dan malaria, empat puluh tahun silam. Hasil kerja lembaga ini pun rupanya dikenal luas di dunia medis internasional. Buktinya, Organisasi Kesehatan Dunia, lembaga di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa, mengakui Namru-2 sebagai referensi dalam memantau perkembangan virus penyakit menular seperti malaria dan flu burung. Kinclongnya citra Namru-2 di kalangan medis internasional ini, sayangnya, tak selalu selaras dengan kepentingan nasional. Itu sebabnya kehadiran laboratorium ini di Indonesia memang perlu dikaji secara berkala. Kehadiran personel kesehatan dari Dinas Angkatan Laut Amerika mungkin bukan masalah pada saat Perang Dingin masih berlangsung dan kemampuan Organisasi Kesehatan Dunia belum memadai, empat dekade silam. Kini, ketika Perang Dingin telah usai dan kerja sama multilateral terus berkembang, fungsi Namru-2 mungkin lebih tepat diambil alih oleh lembaga yang mempunyai kemampuan sedikitnya sama di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pengambilalihan fungsi ini, jika dilakukan, tentu harus secara elegan. Pemerintah Indonesia dan Amerika perlu duduk bersama untuk menemukan cara yang paling optimal dalam mengembangkan kerja sama bilateral ini menjadi multilateral di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di antaranya adalah dalam mencari solusi agar negara berkembang memiliki akses untuk mendapatkan vaksin pencegah wabah penyakit dengan harga yang terjangkau. Ini soal penting karena cukup sering terjadi perusahaan farmasi dari negara maju mengambil manfaat dari hasil riset lembaga internasional seperti Organisasi Kesehatan Dunia atau Namru-2 untuk membuat vaksin yang harganya tak terjangkau negara miskin. Padahal, penelitian yang menjadi sumber vaksin itu dilakukan di negara berkembang. Sungguh ironis, misalnya, jika rakyat Indonesia tak mampu membeli obat penangkal flu burung padahal vaksin itu dikembangkan dari virus yang berasal dari Indonesia. Ironi ini dapat dicegah jika kesepakatan baru di antara lembaga riset dan industri farmasi internasional dapat disusun. Formula yang diterapkan sepatutnya mengacu pada kesepakatan bagi hasil kekayaan laut dalam perjanjian hukum laut internasional. Yaitu kekayaan bumi di wilayah internasional dibagi rata antara perusahaan yang menemukan serta mengelolanya dan lembaga yang mewakili kepentingan penduduk dunia. Alternatif lain adalah meniru apa yang dilakukan Microsoft di Indonesia. Perusahaan teknologi informasi terbesar di dunia ini menjual produk versi bahasa Indonesianya dengan harga jauh lebih murah ketimbang versi asli. Ini membuat jauh lebih banyak rakyat Indonesia yang mampu mengakses program buatan Microsoft tanpa merugikan perusahaan Amerika itu. Soalnya, mayoritas pemakai produk berbahasa Indonesia tak mampu membeli versi asli, dan produk ini tak diperkenankan dijual di luar Indonesia. Semangat mencari solusi cerdas seperti inilah yang kini seharusnya menjadi landasan dalam mengkaji ulang kehadiran Namru-2 di Indonesia. Bila ini dilakukan, berbagai kecurigaan dan teori konspirasi yang meracuni hu-bungan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam kasus Namru-2 akan hilang. Sebagai penggantinya adalah persahabatan yang tulus dan saling menguntungkan. Edisi. 38/IX/28 April - 04 Mei 2008 Laporan Utama Panas-Dingin Virus Namru Namru dituduh melakukan aktivitas di luar penelitian. Sejak sepuluh tahun lalu, sejumlah menteri dan para petinggi lembaga keamanan meminta laboratorium Amerika Serikat di Jakarta itu ditutup. Masalah ini membelah sikap pejabat pemerintah. Kalangan intelijen menuding lingkaran dekat Presiden ikut bermain untuk kepentingan Washington. Obyek: Azithromycin Sampel: 300 orang [225 tentara, 75 penduduk sipil] Lokasi: wilayah timur laut Papua SEJUMLAH tentara peneliti itu membagi sampel dalam tiga kelompok berdasarkan asupan dosis azitromisin. Air minum disediakan, biskuit manis ditawarkan. Guna menguji kekuatan obat antibiotik untuk infeksi bakteri ringan dan sedang itu sebagai penangkal malaria, para sampel diambil darahnya. Begitulah antara lain personel Naval Medical Research Unit No. 2 (Namru-2), yang memiliki laboratorium di Jalan Percetakan Negara, Jakarta Pusat, beroperasi pada 2003. Delapan personel diturunkan ke Papua, ditemani enam peneliti lain, termasuk seorang dari Maryland, pusat lembaga milik Angkatan Laut Amerika Serikat itu. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah pada tahun yang sama. Namru 2 kini menjadi sorotan. Selain perpanjangan perjanjian yang mengatur lembaga itu belum jelas, personel warga negara Amerika yang dibekali kekebalan diplomatik juga jadi bahan keberatan beberapa kalangan. Kenapa laboratorium kesehatan di bawah militer? kata Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. Semua personel mereka masuk kemari menggunakan paspor diplomatik bersampul hitam, kata seorang sumber Tempo di Departemen Luar Negeri. Privilese ini dampaknya luar biasa. Kalangan intelijen menganggap status sebagai diplomat membuat semua personel Namru sulit disentuh kegiatan pengamanan. Status itu juga membuat mereka tak bisa dikontrol. Mereka pun leluasa pergi ke pelbagai tempat di Indonesia. Padahal, kata seorang petinggi Badan Intelijen Negara, para personel Namru tetap saja serdadu, yang dibekali ilmu telik sandi. Mereka bisa saja melakukan kegiatan intelijen yang berkedok riset, kata sang petinggi. Namru 2 punya sejarah panjang di sini. Lembaga ini didirikan pada 1970 berdasarkan perjanjian yang diteken Menteri Kesehatan G.A. Siwabessy dan Francis Galbraith, Duta Besar Amerika Serikat di Jakarta. Ini merupakan jawaban atas permintaan pemerintah Indonesia kepada Washington untuk ikut mengatasi malaria dan campak yang menggila. Sejak tahun-tahun awal berdirinya, Namru selalu memunculkan desas-desus. Misalnya, disebutkan lembaga itu ikut membantu Orde Baru membersihkan orang-orang Partai Komunis Indonesia. Rumor lain yang beredar: Namru membuat senjata biologis, atau mengambil sampel darah tentara Indonesia. Itu cerita dari para penentang, kata Harry Purwanto, Direktur Amerika Utara dan Tengah Departemen Luar Negeri. Gosip sangar ini dibantah. Cameron R. Humes, Duta Besar Amerika di Jakarta, memastikan lembaga itu bekerja secara transparan. Jika ingin melakukan kegiatan gelap, kata dia, Namru tidak akan beroperasi di lokasi milik Departemen Kesehatan. Laboratorium ini berlokasi di kompleks Departemen Kesehatan, di seberang penjara Salemba. Di area yang sama berdiri Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan. Laboratorium ini tak terbuka untuk umum. Pada Jumat pekan lalu, ketika Tempo diberi kesempatan masuk, seorang staf keamanan bersiaga di bagian depan. Ia memeriksa tas dan meminta tanda pengenal untuk ditukar dengan kartu tamu. Di lantai dasar dari gedung tiga lantai itu hanya ada sederet ruang kerja dan laboratorium penelitian nyamuk malaria. Ruang pembiakan nyamuk ada di sini. Seorang staf menunjukkan beberapa lemari dengan sederet wadah plastik. Plastik berisi air yang dipenuhi jentik nyamuk. Di meja ada dua botol berisi jentik Toxorincaitis, jenis nyamuk yang tak mengisap darah dan hidup dari air madu. Jika dibiakkan di bak air, jasad renik ini memakan jentik nyamuk lain, termasuk Aedes aegepty, penyebar demam berdarah. Ini senjata biologisnya, kata seorang staf sambil tertawa-tawa. Riset, lain tidak, kata staf yang menemani Tempo. Menurut seorang staf warga Indonesia, Namru 2 terdiri dari empat program, yaitu riset yang berkaitan dengan penyakit menular akibat virus, bakteri, parasit, dan wabah penyakit yang belum dikenal. Ada tiga laboratorium di sini, plus satu laboratorium untuk menyimpan hewan percobaanumumnya monyet. Program riset Namru, menurut Menteri Kesehatan Siti Fadilah, memang sangat istimewa pada mula lembaga itu berdiri. Tapi tidak untuk saat ini. Sudah kalah dengan Lembaga Eijkman, ujarnya. Eijkman adalah laboratorium biologi molekuler milik Kementerian Riset dan Teknologi yang berada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta. l l l Amerika sangat berkepentingan mempertahankan Namru 2. Presiden George Walker Bush pun memasukkan masalah ini dalam pernyataan bersama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat ia berkunjung ke Indonesia, November 2006. Duta Besar Humes beralasan, tentara negaranya banyak terjun ke daerah tropis sehingga perlu mengetahui penyakit menular di daerah itu. Untuk itu Namru 2 sangat diperlukan. Tapi reaksi Jakarta dalam satu dasawarsa ini berubah. Pejabat Indonesia beberapa kali merekomendasikan penutupan lembaga ini. Pada 9 November 1998, Menteri Pertahanan/Panglima Angkatan Bersenjata Jenderal Wiranto mengirim surat ke Menteri Luar Negeri dan Menteri Kesehatan. Isinya, saran agar pemerintah mengakhiri kerja sama dengan Namru 2. Tak hanya itu reaksi kontra dari pemerintah. Setahun kemudian, Menteri Luar Negeri Ali Alatas menyurati Presiden B.J. Habibie. Ia menilai keuntungan politis, ilmu pengetahuan, dan teknologi bagi Indonesia semakin kecil. Sedangkan dampak negatifnya terhadap masalah keamanan makin menonjol, Ali Alatas menulis dalam surat tertanggal 19 Oktober 1999. Ali juga punya alasan tepat. Ia menghubungkan Namru dengan rencana Protokol Verifikasi Konvensi Senjata Biologis, yang ketika itu sedang dibahas di Jenewa, Swiss. Konvensi ini mewajibkan negara yang memiliki fasilitas biologi mendeklarasikan diri. Lalu ada proses investigasi, yang meliputi 500 kilometer persegi di sekitar laboratorium. Karena Namru di tengah kota, ia menganggap seluruh wilayah Jakarta bisa dimasukkan wilayah investigasi. Toh, Namru jalan terus. Rezim baru juga menolak. Alwi Shihab, Menteri Luar Negeri kabinet Abdurrahman Wahid, mengirim surat ke Duta Besar Robert S. Gelbard pada 28 Januari 2000. Isinya, pemerintah Indonesia menghentikan kegiatan operasional Namru. Tapi ia memberi catatan, Namru bisa dilanjutkan beroperasi melalui perjanjian yang saling menguntungkan. Kesempatan ini langsung disambar Gelbard pada hari yang sama, Kami siap bernegosiasi. Dua bulan kemudian, Alwi mengeluarkan nota diplomatik. Ia meng-anulir suratnya. Ia memutuskan, Indonesia siap merundingkan perjanjian yang baru. Selama perundingan, perjanjian 1970 dinyatakan masih berlaku. Dalam perundingan, pemerintah meminta agar peneliti Indonesia banyak dilibatkan, kata Alwi, ketika dimintai konfirmasi tentang hal ini. Waktu itu Presiden Abdurrahman terus-menerus dilobi pihak Amerika melalui Menteri Alwi, kata sumber Tempo. Sejak itu dilakukanlah serangkaian pertemuan antara delegasi Indonesia dan Amerika: 5 Mei dan 8 Juni 2000, serta 18 Januari tahun berikutnya. Semuanya macet ketika pembicaraan berkaitan dengan status personel. Amerika minta semua warga mereka di Namru diberi imunitas, Indonesia menolak. Alasan mereka, ingin melindungi warganya pada saat krisis, kata Harry Purwanto, yang kini memimpin delegasi Indonesia. Pernyataan keberatan terus menggelinding. Menteri Hassan Wirajuda, yang menggantikan Alwi di kabinet Megawati Soekarnoputri, pun mengambil sikap. Ia mengirim surat ke Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Menteri Pertahanan, serta Menteri Kesehatan. Di situ disebutkan, Namru tak pernah melaporkan hasil penelitian sejak 2000. Pemerintah makin geram lantaran lembaga ini bekerja tak transparan. Hassan menulis pada 25 Agustus 2004, pemerintah dihadapkan pada beberapa penyakit menular seperti demam berdarah dan flu burung. Status bencana nasional untuk demam berdarah pun ditetapkan. Dalam situasi genting ini, Namru ternyata tak melakukan kegiatan penelitian. Pada saat yang sama, pemerintah mencatat peningkatan kesibukan yang luar biasa di Namru. Lembaga itu makin kencang mengimpor barang keperluan riset seperti obat-obatan, komputer, dan peralatan laboratorium. Tercatat ada 134 kali barang keperluan riset itu masuk lewat tas diplomatik. Barang pindahan untuk staf pun tak sedikit: 21 kali. Hassan merekomendasikan penutupan Namru, segera setelah sembilan proyek yang sedang berjalan usai. Pemerintahan kembali berganti, dan Namru tetap saja beroperasi. Dua pekan setelah diangkat menjadi Menteri Kesehatan, menurut sebuah sumber di pemerintahan, Siti Fadilah memerintahkan penutupan Namru. Alih-alih membuahkan hasil, ia justru mendadak dipanggil Presiden Yudhoyono ke Istana. Bos besar minta keputusan itu dicabut, kata sumber itu. Menteri Siti akhirnya tunduk dengan perintah Presiden, yang dalam pertemuan itu didampingi staf khususnya, Dino Patti Djalal. Presiden Yudhoyono meminta hubungan dua negara terus diperkuat, termasuk kerja sama Namru. Ketika menerima Menteri Kesehatan Amerika Michael O. Leavitt pada 17 Oktober 2005, ia berharap Namru bisa meningkatkan kapasitas ahli kesehatan Indonesia dalam menghadapi penyakit menular, termasuk flu burung. Pernyataan yang sama diulang tatkala Presiden Bush datang ke Bogor, November 2006. Dari sini perundingan kembali dibuka. Pemerintah membentuk delegasi, yang dipimpin Direktur Amerika Utara dan Tengah. Anggotanya wakil dari Kementerian Politik, Departemen Pertahanan, Departemen Kesehatan, Markas Besar Tentara, Badan Intelijen Negara, juga Kantor Staf Khusus Presiden. Mereka bertemu delegasi Amerika pimpinan John Heffer, Deputi Kepala Misi Kedutaan, pada 9-10 Januari 2007. Heffer ditemani pejabat Namru dan penasihat hukum dari Komando Angkatan Laut Amerika Wilayah Pasifik, Hawaii. Tetap saja, perundingan mentok di status diplomat untuk personel. Indonesia hanya memberikan status itu untuk kepala atau direktur Namru dan wakilnya, sedangkan Amerika minta semua personel tanpa kecuali. Ada empat masalah besar lainnya yang jadi ganjalan, menurut Harry, antara lain soal permintaan Indonesia memasukkan klausul Konvensi Verifikasi Senjata Biologis (lihat: Perundingan Berbilang Tahun). Sehari setelah perundingan yang mentok ini, tangan Istana datang. Dino Patti Djalal, staf khusus Presiden, mengirim surat ke Menteri Luar Negeri, Menteri Pertahanan, Panglima Tentara Nasional, Kepala Badan Intelijen Negara, dan Menteri Kesehatan. Ia meneruskan penilaian Organisasi Kesehatan Dunia, yang menyatakan puas atas kerja sama dengan Namru. Dino dalam suratnya menyatakan Namru sangat bermanfaat bagi Indonesia. Ia pun menganggap ada beberapa kesenjangan, antara lain pandangan Presiden yang menilai Namru sebagai kesempatan dan pihak lain yang menganggap lembaga itu sebagai ancaman. Pandangan ini menganggap Namru sebagai agen CIA, penyebar penyakit menular, dan pabrik senjata biologis sehingga perlu selalu ditekan dan dikucilkan, Dino menulis. Kalangan intelijen, menurut sumber, tersinggung dengan isi surat itu. Mereka menuduh Dino memainkan kepentingan Amerika, yang ingin mempertahankan Namru dengan pelbagai cara. Dalam sebuah perundingan, Dino pernah datang dan main gebrak meja, dia selalu bicara mengatasnamakan Presiden, yang tetap meminta Namru dilanjutkan, kata sumber Tempo di Departemen Luar Negeri. Ketika dikonfirmasi soal surat itu, Dino tak membantah atau membenarkan. Saya nggak bisa mengomentari dokumen negara yang bocor, kata juru bicara kepresidenan itu dengan nada tinggi. Membocorkan dokumen negara itu kriminal, bisa ditangkap tuh. Soal tuduhan ia bekerja untuk Amerika, Dino menjawab singkat: Nonsense. WMU, Budi Setyarso, Wahyu Dhyatmika, Yugha E., Gabriel Yoga, Bunga M. Sengketa Inilah masalah besar yang belum memperoleh titik temu. Indonesia akan menutup Namru-2 bila klausul ini ditolak. Masalah Indonesia Amerika Masa Perjanjian 5 tahun 10 tahun Mitra Namru Departemen Kesehatan dan Komite Bersama Keberatan Status Personel Hanya kepala dan wakil memiliki kekebalan diplomatik Semua personel warga negara Amerika Senjata Biologis Memasukkan konvensi antisenjata biologis Menolak Sampel Perjanjian perpindahan material dimasukkan Menolak Sejarah Namru 1853 Kongres Amerika menyetujui pembangunan Naval Medical Research Unit di Brooklyn, New York . 1968 Menteri Kesehatan Dr G.A. Siwabessy meminta Amerika membantu Indonesia mengatasi campak dan malaria. 16 Januari 1970 Namru-2 resmi berdiri di Indonesia, ditandai dengan penandatanganan perjanjian oleh Siwabessy dan Francis Galbraith, Duta Besar Amerika di Jakarta. Tidak ada batas waktu, tapi di situ disebutkan sebelum 10 tahun pembatalan harus disepakati dua negara. Adapun pembatalan setelahnya bisa dilakukan sepihak. 9 November 1998 Menteri Pertahanan/Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Jenderal Wiranto mengirim surat ke Menteri Kesehatan dan Menteri Luar Negeri. Isinya, penilaian bahwa Namru tak bermanfaat sehingga kerja sama perlu diakhiri. 19 Oktober 1999 Menteri Luar Negeri Ali Alatas mengirim surat ke Presiden B.J. Habibie, meminta perjanjian Namru ditinjau ulang. 28 Januari 2000 Indonesia menghentikan sepihak program Namru-2 melalui surat yang dikirim Menteri Luar Negeri Alwi Shihab. Tapi pemerintah menyatakan bersedia berunding untuk memperoleh kerja sama saling menguntungkan. Pada hari yang sama, Kedutaan Amerika menjawab siap berunding. 25 Agustus 2004 Menteri Luar Negeri Hassan Wirajuda mengirim surat ke Menteri Koordinator Politik dan Keamanan, Menteri Pertahanan, serta Menteri Kesehatan. Isinya, rekomendasi penutupan Namru segera setelah proyek yang sedang berjalan selesai. November 2004 Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari menutup Namru, tapi langsung dibuka kembali atas perintah Presiden. 7 November 2006 Rapat koordinasi menteri bidang politik dan keamanan membahas rencana kedatangan Presiden Amerika George W. Bush dan Namru. 20 November 2006 Bush bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Bogor. Dalam pernyataan bersama kedua kepala negara, Namru termasuk yang ditekankan. 9-10 Januari 2007 Delegasi Indonesia dipimpin Harry Purwanto, Direktur Amerika Utara dan Tengah, dan delegasi Amerika bertemu di Jakarta. Beberapa klausul menjadi perdebatan, dan hingga kini belum disepakati. November 2007 Indonesia memberikan draf akhir ke Washington, dengan memasukkan klausul-klausul yang tetap tidak disetujui Amerika. 1 April 2008 Menteri Kesehatan Amerika Michael O. Leavitt berkunjung ke Indonesia dan membahas perpanjangan Namru-2. 18 April 2008 Departemen Kesehatan melarang pengiriman sampel ke Namru-2 hingga ditandatangani perjanjian baru. Send instant messages to your online friends http://uk.messenger .yahoo.com ____________________________________________________________________________________ Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now. http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

