Catatan Bantimurung:
MENEGASKAN KEPULAUAN DAN DAERAH SEBAGAI GAGASAN BUDAYA
Dengan istilah kepulauan, saya ingin menunjukkan bahwa negeri ini adalah
sebuah negeri kepulauan. Sebelum RI diproklamirkan penduduk pulau
menyelenggarakan kehidupan mereka sendiri dengan tatanan nilai dan sisem mereka
sendiri. Mereka pun mempunyai sastra-seni sendiri, baik lisan mau pun tulisan.
Sedangkan dengan istilah daerah, adalah wilayah-wilayah geografis dengan budaya
mereka yang khas tapi terdapat di satu pulau. Republik Indonesia mencakup
pulau-pulau dan daerah-daerah ini. Kebudayaan Indonesia adalah semua budaya
yang terdapat di negeri ini. Mencakup budaya semua etnik, baik besar mau pun
kecil. Baik mayoritas mau pun yang minoritas. Sastra Indonesia, bukan hanya
sastra yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai sarana ungkap. Tapi semua
sastra-seni yang ada di wilayah geografis RI , baik lisan atau pun tulisan.
Apalagi sampai sekarang sastra lisan dalam bahasa lokal itu masih terdapat dan
masih hidup. Memandang bahwa sastra Indonesia sebatas dan hanya sastra
yang berbahasa Indonesia, saya kira tidak lain dari penyempitan pengertian,
apalagi jika dengan penyempitan begini, terselip anggapan dan sikap melecehkan
sastra-seni lokal dan pulau. Lebih-lebih pada kenyataannya juga tidak semua
karya sastra seni yang berbahasa Indonesia, tidak sekaligus menjamin ketinggian
mutu artistiknya. Barangkali pandangan dan sikap sektaris begini, mendekati
sikap keterasingan diri dari budaya Indonesia yang sesungguhnya, sikap sebagai
ujud dari sentralisme, dominasi, monopoli serta standarisasi nilai yang pada
galibnya tidak lain dari suatu pandangan dan sikap represif serta pongah.
Kepongahan dari orang yang terasing dan asing dari bangsa dan tanahairnya
sendiri.
Saya belum bisa melihat alasan nalar, mengapa kita mesti melecehkan dan
memandang rendah sastra-seni atau budaya suatu etnik serta menganggap adanya
"pusat-pusat legitimasi" berkesenian. Antara lokalitas dan unversalitas, saya
kira, tidak ada konflik mendasar dilihat dari segi nilai. Perbedaan cara
pengungkapan dan sarana pengungkapan tidak serta-merta mengandung pertentangan
nilai.
Bahwa antara daerah satu itu dengan deaerah yang lain, antara pulau yang satu
dengan pulau lain terdapat pebedaan seperti tentang sopan tidak sopan, baik dan
buruk, terpuji dan tidak terpuji, sungguh tidak bisa disangkal. Suatu realita.
Perbedaan yang dibentuk dalam proses perkembangan suatu masyarakat atau
komunitas.
Adanya perbedaan nilai dan standar nilai ini memperlihatkan bahwa kemajemukan
itu adalah suatu kenyataan pula. Perbedaan inilah yang oleh para pendiri RI
diakui melalui motto "bhinneka tunggal ika". Di sinilah pula kukira terletak
dasar bagi sastra-seni kepulauan bagi pembangunan dan pengembangan sastra-seni
Indonesia.
Sastra-seni pulau dan daerah dengan yang disebut sastra-seni atau budaya
Indonesia, bukannya bersifat kontradiktif, tetap cenderung untuk saling
mendekati, saling melengkapi dan memperkaya. Sehingga sastra-seni dan budaya
kepulauan, dalam prosesnya akan memperkuat dan membangun fondamen kokoh bagi
bangunan Republik dan berkeindonesiaan.
Apakah yang membuat kebhinnekaan ini menjadi ika? Yang menyatukan
kebhinnekaan ini saya kira tidak lain dari rangkaian nilai republik dan
Indonesia. Apa kongkretnya rangkaian nilai republiken itu? Republik sebagai
bentuk negara, hanyalah pengejawantahan dibidang politik dari rangkaian nilai
republiken yang bersarikan : kesetaraan [l'égalité], kemerdekaan [liberté] dan
persaudaraan [fraternité]. Indonesia sebagai kenyataan yang majemuk dirangkum
oleh nilai-nilai repubilken ini. Rangkaian nilai republiken dan
berkeindonesiaan dalam bidang sastra-seni atau kebudyaan diujudkan secara nyata
oleh sastra-seni atau budaya kepulauan dan daerah. Oleh adanya sentra-sentra
pendidikan tinggi diseluruh propinsi sastra-seni atau budaya kepulauan dan
daerah ini makin memperoleh syarat-syarat pelaksanaannya. Lebih-lebih sekarang,
ia ditunjang oleh perekembangan tekhnologi yang semakin canggih. Sastra-seni
kepulauan dan daerah akan dipercepatkan terujudnya jika penyelenggara negara
pusat
atau lokal melaksanakan politik budaya yang republiken dan berkeindonesiaan
pula.
Inilah beberapa baris sederhana yang kutulis untuk menyambut TSK III di Barru
sekarang. Berharap TSK III bisa berhasil memantapkan kepulauan dan daerah
sebagai suatu gagasan budaya.***
Paris, Mei 2008.
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris, Perancis.
[Selesai].
---------------------------------
Tired of visiting multiple sites for showtimes?
Yahoo! Movies is all you need
[Non-text portions of this message have been removed]