Quote:
"..
Informasi yang sempat beredar, kenaikan itu mencapai 30%. Tapi sebagian
kalangan
menganggap angka setinggi itu adalah bagian dari trik "permainan
ekspektasi".
Maksudnya,"Kalau nanti naiknya cuma 10%, publik akan merasa suprise.
Ekspektasi terhadap dirinya akan naik. Jika sebaliknya, kan bakal makin
hancur,"
ujar seorang pengamat politik.
.."

Membaca kutipan dari situs berpolitik.com, mengingatkan saya akan oret"an di
masa
100 hari pertama pemerintahan (gak enak banget nyebutnya)  Presiden Susilo
B.Y.
Gak jauh" dari main pencitraan melulu sih aktor/artis nomor '9' di RI ini?
:-)
Masalahnya sekarang media massa mau 'bongkar' pencitraan ini gak? :-p

Mohon maklum kalau setting oret"an di bawah dalam kondisi harga barang
relatif
stabil - tidak seperti sekarang yang sudah melonjak/naik..

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

----------
[ppiindia] Rencana Kenaikan harga BBM di masa 100 hari Pemerintahan KIB

   - *From*: "irwank2k2" <[EMAIL PROTECTED]>
   - *To*: [EMAIL PROTECTED]
   - *Date*: Sun, 12 Dec 2004 14:28:46 -0000

** Mailing List|Milis Nasional Indonesia PPI-India **

Rencana Kenaikan harga BBM di masa 100 hari Pemerintahan KIB
Oleh: Irwan.K (*)

Pola lama - penyebaran isu
--------------------------

Kelihatannya hingga saat ini pemerintah masih menggunakan pola yang
masih sama dalam
mengeluarkan kebijakan. Mereka mengeluarkan isu jauh" hari sebelum
dikeluarkannya
kebijakan yang asli - dalam hal ini rencana Kenaikan harga BBM.
Teoritisnya, ini
(seolah-olah) untuk mempersiapkan masyarakat lebih lama. Jadi supaya masyarakat
tidak kaget, katanya.

Namun kenyataannya, keluarnya isu tadi justru menambah beban
masyarakat karena malah
harus menanggung dampak kenaikan harga barang" dalam 2 tahap. Tahap
ke-1 persis setelah
isu mulai berkembang dan tahap ke-2 terjadi setelah kenaikan harga
yang sebenarnya.

Dalam masa 100 hari pertama pemerintahan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono kita dapatkan
kabar akan diberlakukannya kenaikan tarif BBM hingga 40%. Mendadak
sontak hal ini
mengundang reaksi cukup keras dari berbagai kalangan masyarakat. Demo
digelar di berbagai
tempat dengan tujuan yang relatif sama; meminta pemerintah membatalkan
kenaikan harga BBM.

Bahkan ada pandangan agar pemerintah hendaknya lebih meng-efisien-kan
pengeluaran" yang
ada terlebih dahulu baru memikirkan kenaikan harga BBM sebagai opsi
terakhir untuk
menghemat keuangan negara.

Tentunya berbagai argumen telah dipersiapkan untuk menjelaskan alasan
kepada rakyat, yang
konon katanya merupakan pemilik kedaulatan sejati dan sebagian darinya
telah mempercayakan
SBY memimpin negara ini karena janji perubahan yang dilontarkannnya.
Bahkan MenegKomInfo,
Sofyan Djalil bertanggung-jawab memimpin tim untuk mensosialisasikan
kebijakan baru' ini.

Analisa
-------

Namun ada hal menarik yang bisa kita lihat dari munculnya isu kenaikan
kali ini.
Pertama, saya yakin banyak dari kita yang tidak mengharapkan munculnya
kabar kenaikan
tarif BBM, minimal dalam masa 100 hari pertama masa bakti Kabinet
Indonesia Bersatu.
Kedua, besarnya prosentase kenaikan yang disebutkan bukanlah angka yang kecil.

Lantas kira" apa yang menjadikan pemerintahan KIB (seolah-olah)
mengambil langkah
berani semacam ini? Analisa saya, hal ini mungkin dapat dijelaskan
dalam beberapa
uraian berikut ini:

1. Penyebaran isu jauh" hari sebelum pelaksanaannya sangat mungkin
dilakukan untuk
   melihat reaksi masyarakat.

Kalau tidak ada yang protes, berarti rencananya aman.
Kalau ada protes, pemerintah tentu tidak akan tinggal diam.
Entah itu memberikan penjelasan", bahkan kalau diperlukan tinggal
menjalankan rencana lain yang ada.

Logikanya pemerintah pasti memiliki beberapa rencana (plan a, b, c, dst).

2. Kalau benar kabar bahwa kenaikan harga BBM ini untuk perhitungan APBN 2005,
berarti pelaksanaannya paling cepat 1 Januari 2005.
Sementara tanggal itu masih merupakan masa kritis pantauan masyarakat (100 hari
pertama).

Mengapa pemerintah berani menjalankannya dalam masa kritis ini? Dengan
karakter SBY
yang (katanya) sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan (seperti
yang terlihat
dalam proses pengumuman susunan KIB), rasanya hampir mustahil kalau
keputusan yang
dianggap 'tidak populis' seperti ini akan dijalankan.
Bukankah ini dapat menjadi poin negatif atas kinerja pemerintahan KIB?

3. Besaran prosentase kenaikan harga BBM yang mencapai 40% jelas akan memberi
'kesan pertama' yang begitu mengejutkan. Koq besar sekali?

Lantas kalau begitu besar, kenapa pemerintah berani menyebut angka ini?
Bukankah ini, lagi" dapat menjadi poin negatif?

-------
Tanpa bermaksud mendahului taqdir, atau 'sok tahu' membaca jalan
pikiran pemerintah,
berikut ini jawaban yang mungkin bisa didapat dari pertanyaan yang
terbetik di atas:
Bahwa pemerintah memiliki banyak rencana, itu tidak perlu dibahas lagi. :D
Kita lihat pertanyaan dari uraian ke-2.

Mengapa pemerintah berani menjalankan itu dalam masa pantauan 100 hari?
Menurut saya, pemerintah belum tentu akan menjalankannya persis pada
saat pergantian
tahun ke 2005. Dengan melihat respon dari masyarakat yang menolak
rencana kenaikan
harga BBM tersebut, pemerintah bisa mengambil kesempatan membalikkan
situasi sulit
menjadi situasi yang menguntungkan.

Di detik" terakhir menjelang akhir tahun, pemerintah bisa saja
mengatakan akan MENUNDA
penerapan rencana kenaikan harga BBM. Bagi sebagian masyarakat,
penundaan dianggap
cukup bijaksana. Padahal hakikatnya, keadaan tidaklah menjadi lebih
baik karena bisa
jadi masyarakat telah menanggung kenaikan harga barang" lain tahap
ke-1, seperti yang
saya sebut di awal tulisan ini.

Lalu untuk pertanyaan dari uraian ke-3.
Mengapa pemerintah berani menyebut angka sebesar 40%?
Menurut saya, pemerintah belum tentu akan mengambil angka itu.

Pelemparan isu sekali lagi bisa jadi merupakan sebuah 'test case'.
Kalau tidak ada respon negatif, berarti rencana dapat berjalan mulus.
Namun kalau ada respon negatif, berarti adakan revisi (seperlunya).

Hal serupa pernah terjadi di jaman pemerintahan ORBA.
Persisnya saya tidak begitu ingat, namun kurang lebih waktu itu harga
Premium (bensin)
awalnya adalah Rp 850 per liter. Pemerintah menaikkan harga menjadi Rp
1150 per liter.

Namun karena masyarakat melakukan penolakan (demo) maka pemerintah
berkenan memberikan
'discount' menjadi Rp 1000 per liter.

Kesan sepintas di sebagian masyarakat, pemerintah telah mendengarkan
aspirasi masyarakat
dengan menurunkan harga dari Rp 1150 menjadi Rp 1000 per liter.
Padahal kenyataannya
pemerintah telah mendapat 'keuntungan' dari kenaikan harga Rp 850
menjadi Rp 1000
(per liter) yang terjadi. Dan masyarakat tetap menanggung kenaikan harga BBM
(dan barang" lain).

Untuk kasus kali ini, saya menduga kenaikan harga 'proyeksi'
pemerintah adalah pada
kisaran 20%-30%. Kisaran ini saya prediksikan dengan melihat contoh
kasus pada jaman
ORBA tadi.  Pemerintah rasanya tidak mampu (atau tidak mau) melihat alternatif
lain perbaikan APBN khususnya dalam urusan BBM, kecuali menaikkan harga BBM.

Lagipula penyebutan angka kenaikan harga BBM, menurut saya mirip
dengan pola penjual
di pasar tradisional. Sebut saja harga tinggi" dahulu, sehingga
kalaupun ditawar
pembeli, penjual tadi tinggal memberi harga yang lebih rendah. Agar
dianggap sebagai
penjual yang 'baik'.

Analisa saya di atas bisa saja salah. Namun yang pasti, kalau pemerintah sudah
mengumumkan rencana kenaikan harga BBM (dan barang" lain), kita tidak
mungkin akan
mendapatkan penurunan harga.

Kesimpulan
----------
Saat ini yang diperlukan adalah upaya pencerdasan bangsa sehingga rakyat atau
masyarakat dapat memberikan penilaian yang lebih cerdas. Tidak mudah tertipu
oleh penampilan luar semata.

Masyarakat tetap harus memberikan apresiasi terhadap prestasi yang
dicapai pemerintah.
Namun jangan sampai mudah terbuai dengan 'lips service' semata yang
terlihat baik
namun kenyataannya tidak memberi manfaat, malahan mungkin sudah memberatkan.

Jakarta, 12 Desember 2004

(*) Penulis adalah anggota masyarakat biasa yang kebetulan memiliki
perhatian kepada kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan
kepentingan masyarakat.

--------------
2008/5/2 ismail sodik <[EMAIL PROTECTED]>:

>   (berpolitik.com) - Setelah SBY secara khusus berpidato soal krisis
> energi dan pangan di tingkat global, publik semakin meyakini Juni mendatang
> BBM bakal naik lagi. Hingga kini, belum diketahui berapa persisnya kenaikan
> tersebut.
>
> Informasi yang sempat beredar, kenaikan itu mencapai 30%. Tapi sebagian
> kalangan menganggap angka setinggi itu adalah bagian dari trik "permainan
> ekspektasi".Maksudnya,"Kalau nanti naiknya cuma 10%, publik akan merasa
> suprise. Ekspektasi terhadap dirinya akan naik. Jika sebaliknya, kan bakal
> makin hancur," ujar seorang pengamat politik.
>
> Selengkapnya baca di
>


>
> http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=12189&c_id=3&param=pIQNnWyVGWc2TQAU5j4Q
>


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke