----- Forwarded Message ----

From: wirajhana eka <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Tuesday, May 6, 2008 4:49:26 PM
Subject: [IndoEnergy] Rizal Ramli: Visi SBY, Visi Mahasiswa Kos-kosan


Agus Hamonangan <agushamonangan@ yahoo.co. id>wrote: http://www.kompas. 
com/index. php/read/ xml/2008/ 05/05/19591223/ rizal.ramli. visi.sby. 
visi.mahasiswa. kos-kosan

JAKARTA, SENIN - Pengamat ekonomi Rizal Ramli menilai visi pemerintahan Susilo 
Bambang Yudhoyono layaknya visi mahasiswa kos-kosan. Hal ini disampaikan Rizal 
menanggapi rencana pemerintah yang akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak 
(BBM).

Seperti apa visi mahasiswa kos-kosan yang dimaksud mantan Menteri Perekonomian 
itu? "Ya mahasiswa kos itukan visinya kalau tidak punya uang, utang. Tidak 
punya uang lagi, jual hp, jual jeans, jual laptop.

Pemerintah SBY seperti itu, tidak punya uang, ngutang. Lihat saja utang luar 
dan dalam negerinya, menjual aset BUMN, solusi terakhirnya naikin harga. Kalap. 
Kebijakan menaikkan harga BBM itu no brainer, tidak cerdas," ujar Rizal saat 
dihubungi Kompas.com, Senin (5/5) malam.

Sebenarnya, ujar Rizal, pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM asalkan bisa 
memaksimalkan segala lini untuk melakukan penghematan. Ia menyatakan, banyak 
sumber penghematan yang bisa dilakukan di APBN.

"Lihat saja sekarang, bagaimana pembangunan kantor-kantor menteri demikian 
hebatnya. Kantor Menteri Perdagangan dibangun demikian megahnya, daerah-daerah 
juga begitu. Anggaran untuk membangun itu sebenarnya bisa dihemat. Karena, 
tidak memberi nilai tambah secara ekonomi. Contoh lain, biaya sosialisasi KB 
atau apalah yang aneh-aneh lainnya. Itu hanya kampanye terselubung, bagi 
Presiden maupun menteri-menterinya. Ngapain itu semua? Buang-buang uang," 
tambah Rizal.

Kebijakan menaikkan harga, lanjut dia, menunjukkan bahwa pemerintah hanya 
berani berhadapan dengan rakyat. Solusi lainnya, menurut Rizal dengan melakukan 
efisiensi di tubuh Pertamina dan PLN, yang selama ini mendapatkan subsidi 
terbesar. Selain itu, merenegosiasi pembayaran utang yang sangat mungkin 
dilakukan.

"Tapi pemerintah tidak pernah berani melakukan negosiasi dengan 
komprador-komprador asing itu. Beraninya cuma sama rakyat. Mana berani menekan 
bank-bank rekap yang selama ini disubsidi ratusan triliun," tandasnya.ING
------------ --------- --------- --------- --------- --
Ada benarnya juga sih....buktinya 
http://kompas. com/kompascetak. php/read/ xml/2008/ 05/05/00592683/ 
apakah.harga. bbm.subsidi. harus.naik)
Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan:
Sebenarnya, keadaan APBN kita tidaklah terlalu buruk. Perlu dikemukakan di sini 
bahwa harga minyak acuan APBN kita adalah harga minyak Indonesian Crude Price 
(ICP), yang cenderung berada di bawah harga minyak WTI (West Texas 
Intermediate) , yaitu rata-rata lebih rendah sekitar 5 dollar AS per barrel.
Pada 21 April 2008, misalnya, ketika harga minyak WTI berada pada level 117,5 
dollar AS per barrel, harga ICP berada pada leve1 107,0 dollar AS per barrel. 
Harga minyak OPEC pun tidak terlalu jauh dari level harga minyak ICP ketika itu.
Selain itu, harga rata-rata minyak ICP pada 2008 sampai 21 April baru 95,7 
dollar AS per barrel, tidak terlalu banyak berbeda dengan asumsi APBN yang 
sebesar 95 dollar AS per barrel.
Harga rata-rata minyak OPEC bahkan baru mencapai 93,8 dollar AS per barrel. 
Jadi, walaupun agak tertekan, sebenarnya keadaan APBN kita jika dilihat dari 
sisi asumsi harga minyak bumi tidaklah terlalu buruk.
Namun, banyak kalangan yang kurang menyadari keadaan di atas. Akibatnya, media, 
ekonom, analis pasar modal, pengusaha, dan investor beramai-ramai menyimpulkan, 
APBN kita tidak akan berkesinambungan karena subsidi membengkak bila tanpa 
kenaikan harga BBM.

*
juga 
http://kompas. com/kompascetak. php/read/ xml/2008/ 05/05/00334986/ janji.bbm. 
tidak.naik
Carunia Mulya Firdausyjuga mengatakan:
Pilihan termudah, mengurangi subsidi BBM dengan menaikkan harga. Namun, pilihan 
ini berdampak inflasi dan pengangguran. ....ada lima usulan yang bisa 
diperhatikan
Pertama,dengan menghemat anggaran pengeluaran APBN 2008. Penghematan itu dapat 
berupa potongan atau penghilangan sementara pos anggaran yang tidak mengikat
Kedua,upaya pemerintah melakukan mobilitas dana investasi melalui intensifikasi 
dan ekstensifikasi selektif terhadap pos penerimaan baik pajak maupun nonpajak. 
Ketiga,peningkatan volume produksi komoditas ekspor yang tak bersentuhan 
langsung dengan penggunaan BBM dalam proses produksi. Kelompok komoditas ekspor 
itu terutama komoditas pertanian pangan ataupun bahan pertambangan. Pilihan ini 
didasarkan pertimbangan harga komoditas itu (khususnya pangan) relatif tinggi 
saat ini akibat tingginya permintaan maupun keterbatasan pasokan di lingkup 
global. Komoditas pertanian dimaksud antara lain beras, jagung, minyak sawit, 
karet, dan cokleat.
Keempat,pemerintah harus mendorong sektor nontradeables, khususnya sektor jasa 
pariwisata. Alasannya, hal ini belum optimal dikembangkan, padahal potensinya 
besar. Untuk itu, pengalaman pengembangan sektor pariwisata di berbagai, negara 
seperti Jepang, Korea Selatan, Singapura, China, dan Malaysia, patut dijadikan 
pelajaran penting guna menjungkit sektor pariwisata nasional kini dan mendatang.
Kelima,melalui kebijakan penghematan penggunaan energi BBM, khususnya BBM pada 
sektor kelistrikan. Dalam hal ini, penggunaan BBM untuk listrik harus 
disubstitusi, khususnya dengan batu bara atau gas alam.

* 
Bahkan, bukankah juga diingatkan oleh "kolega" nya, partai PKS:
http://www.kompas. com/read. php?cnt=. xml.2008. 
05.06.07145556&channel=1&mn=15&idx=16
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR Mahfudz Siddiq mengharapkan agar 
pemerintah tidak terburu-buru menaikkan harga bahan bakar minyak. Jika kenaikan 
BBM terjadi, dikhawatirkan akan timbul gejolak sosial.
Menurut Mahfudz, Selasa (6/5) pagi, alternatif solusi lain harus tetap 
diupayakan, misalnya efisiensi anggaran kementerian atau lembaga hingga 20 
persen untuk belanja rutin atau barang. Alternatif ini bisa menutup defisit 
sekitar Rp 20 triliun-Rp 25 triliun.Juga diupayakan untuk menaikkan produksi 
(lifting) minyak yang hingga kini data produksinya masih simpang siur. Jika 
memungkinkan, pembayaran utang luar negeri juga akan di-rescheduling .
Secara bersamaan, gerakan hemat energi terus digalakkan, juga upaya 
pengembalian dana BLBI ataupun minimalisasi kebocoran anggaran. Mahfudz 
menyatakan, Indonesia berbeda dengan negara-negara lain. Kondisi daya beli 
sebagian besar masyarakat Indonesia masih lemah dan dampak kenaikan harga BBM 
pada tahun 2005 belum teratasi
*
Ah, jadi inget kejadian 1 oktober 2005, Pemerintah yang sama ini menaikan 
premium 87% menjadi 4500....padahal saat itu harga minyak dunia sudah 30%  
lebih tinggi dari acuan APBN (US$ 45 per barel)..ditambah sejuta alasan untuk 
meningkatkan. ..
menurut skenario Imam Semar harga rp 4500 itu bisa tahan sampe harga minyak 
dunia naik jadi USD 100 per bare (rata2 USD$ 95/bbl) :
http://www.klubsaha m.com/index. php?name= 
News&file=article&sid=42&theme=Printer
Dibalik Pencabutan Subsidi Minyak II:
Posted by:Imam Semar on Oct 02, 2005 - 04:06 PM
Harga premium sudah dinaikkan sampai Rp 4500/ltr, kenaikan 87.5%. Solar naik ke 
Rp 4200 dan minyak tanah naik 200%. Seperti yang saya duga bahwa pemerintah 
akan menaikkan harga minyak dikisaran Rp 4000/ltr – Rp 5000/ltr yang 
diperkirakan akan bisa aman walaupun harga minyak melambung sampai US$ 100/bbl 
(atau harga rata-rata per tahunnya US$ 95/bbl).
*
Ini....baru lebih tinggi dikit dari APBN aja, tapi cengengnya udah ampun2an!!!! 
!!
________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.    


      
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and 
know-it-all with Yahoo! Mobile.  Try it now.  
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke