Resensi Buku (1 halaman)
Islam tanpa Fatwa Ulama Buku yang menerangkan bahwa corak Islam padang pasir banyak diterapkan di luar Timur Tengah. Penulisnya melonggarkan syarat-syarat melakukan ijtihad. ------- Tidak di Barat, tidak di Timur, Islam muncul sebagai kekuatan yang keras dan menakutkan. Demikianlah kesimpulan seorang feminis muslim Kanada, Irshad Manji, setelah memantau perkembangan Islam di dunia dewasa ini. Dalam Beriman tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini, bukunya yang telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 30 bahasa, ia mengulas aneka gejala dalam tubuh Islam dengan sudut pandang kritis. Bisa diduga, pikiran Manji, Ketua Proyek Moral Courage di Universitas New York, berangkat dari kekhawatiran akan perkembangan kelompok-kelompok yang ingin menjalankan "Islam padang pasir"--sebutan Manji untuk praktek Islam yang keras--di luar wilayah Arab. Perkembangan Islam dewasa ini, di mata Manji, bukan seperti pesawat yang terbang menuju zona aman toleransi dan hak asasi manusia. Pesawat Islam telah dibajak dan terbang ke arah sebaliknya. Ya, ada kekuatan yang menggerakkan sang pesawat ke arah itu. Di Toronto, Kanada, Manji melihat gejala-gejala "Islam padang pasir" di antara masjid-masjid yang memperoleh dana petrodolar. Dan "proyek" yang sama dia jumpai di negara muslim seperti Afganistan, Sudan, dan Pakistan. Manji khawatir perkembangan ini merambah ke negara-negara Asia Tenggara--Indonesia dan Malaysia, misalnya--dengan budaya lokal yang kaya yang saat ini terpaksa dikesampingkan karena dianggap tak cukup islami. Mungkin istilah "tak cukup Arab" lebih mengena. Manji menggunakan dikotomi Islam Arab dan Islam non-Arab setelah melihat ironi betapa kaum minoritas mencoba mendominasi yang mayoritas. Umat Islam non-Arab merupakan mayoritas (87 persen) di dunia, dan Islam Arab minoritas (13 persen). Manji piawai melontarkan pertanyaan kritis dan radikal tentang Islam. Ia tentu mengecewakan orang-orang yang ingin mendapatkan jawaban instan dan pedoman yang pasti tentang Islam. Tapi ia mengajak orang mengerahkan kekuatan kurnia Ilahi yang paling banyak diabaikan umat Islam: akal. Ilmuwan Al-Quran seperti Jamal Badawi termasuk yang jadi sasaran kritiknya ketika mengajukan tafsiran atas ayat Al-Quran yang menganggap "istri-istri adalah ladang bagi suaminya" dan, karena itu, "datangilah ladang-ladang itu kapan saja dengan cara yang kau sukai." Badawi menafsirkan ayat ini sebagai anjuran foreplay bagi suami-istri sebelum bercinta. Itu sesuatu yang kedengarannya seperti terobosan, tapi memancing sensitivitas Manji selaku seorang feminis. Ia terus memburu keterangan soal "kapan saja dengan cara yang kau sukai" sebagai kekuasaan tak terbatas pada laki-laki. Ia pun melancarkan pertanyaan berikutnya: paradigma mana yang diadvokasi Allah melalui Al-Quran--Adam dan Hawa setara atau perempuan harus dibajak kapan saja oleh suaminya? Banyak pertanyaan kritis dalam Beriman tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini. Dari buku ini memang terkesan Manji lebih fasih melontarkan pertanyaan ketimbang menyodorkan penjelasan. Manji banyak bersandar pada ijtihad, tapi pembaca mungkin tak menemukan teori ijtihad yang mendalam pada buku ini. Dan ia membuka pintu ijtihad lebar-lebar kepada siapa saja yang berpikiran kritis, tanpa harus menjadi ulama. Ia mengesampingkan syarat-syarat berat untuk pelaku ijtihad. Yang penting, menurut Manji, si pelaku cukup peka akan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan. Novriantoni Kahar, Jaringan Islam Liberal BOKS Judul: Beriman tanpa Rasa Takut: Tantangan Umat Islam Saat Ini (The Trouble with Islam Today) Penulis: Irshad Manji Penerbit: Nun Publisher, Jakarta, April 2008 Tebal: 342 halaman Buku (1 halaman) Irshad Manji: Tak Harus Seperti Arab Meski pemikirannya dianggap bidah, Irshad Manji, 40 tahun, tak takut singgah di Jakarta. Dia datang untuk peluncuran bukunya, The Trouble with Islam Today, di dua kota, Jakarta dan Yogyakarta, dua pekan lalu. Manji kelahiran Uganda dan kini menjadi warga Kanada. Dia perempuan muslim dengan pandangan tak biasa. Bukunya menyulut kontroversi. Mereka yang tak suka bahkan mengancam membunuhnya. Islam, kata Manji, tak boleh alergi kritik dan harus menghidupkan kembali tradisi ijtihad. Umat Islam, kata Manji, harus kritis atas dogma budaya, yang mungkin tak berasal dari doktrin agama. "Ada yang kita kira Islam sebetulnya hanya tradisi Arab," ujarnya. Sehari sebelum meluncurkan bukunya di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa dua pekan lalu, Manji menerima Nezar Patria, Nugroho Dewanto, dan Grace S. Gandhi dari Tempo untuk wawancara. Mengapa dia takjub kepada Pancasila? Berikut ini petikan wawancara itu. Konsep ijtihad seperti apa yang Anda tawarkan? Ijtihad sebagai tradisi Islam berpikir kritis dan independen, berdebat dan berbeda pendapat. Ijtihad bukan cuma hak, tapi juga kewajiban setiap muslim. Bukan cuma ulama yang berhak memutuskan sesuatu. Semua muslim berperan memajukan Islam. Kenyataannya sekarang, tradisi Arab sangat mempengaruhi kita menjalankan Islam. Kolonialisme terbesar yang dihadapi muslim tidak datang dari Amerika atau Israel, tapi dari Arab. Ini saya sebut imperialisme budaya Arab. Dalam peta pembaruan pemikiran Islam, bagaimana Anda menyebut diri Anda sendiri? Saya seorang reform-minded muslim dan berbeda dengan muslim moderat. Mereka mengutuk kekerasan yang dilakukan atas nama Islam, tapi menyangkal peran agama dalam kekerasan. Secara otomatis, mereka menyerahkan penafsiran kepada kaum fundamentalis. Reform-minded muslim bukan cuma mengutuk kekerasan, tapi juga mengakui bahwa agama memang dimanipulasi untuk membenarkan kekerasan. Daripada menyangkal, lebih baik kita mengakui ada teks agama yang mengandung kekerasan, seperti orang Kristen dan Yahudi liberal telah menginterpretasi ulang kitab sucinya untuk abad dan konteks baru. Kita harus melakukan hal yang sama terhadap ayat-ayat kekerasan kita. Tapi, berbeda dengan pembangkang Islam, Ayaan Hirsi Ali, Anda tidak meninggalkan Islam? Saya berpikir, mungkin masalahnya madrasah saya bukan pendidik yang bagus, lalu kenapa harus menghukum keyakinan saya? Saya justru ingin mempelajari Islam dan membuat penilaian apakah yang saya terima di madrasah adalah Islam sejati. Saya menghabiskan waktu di perpustakaan, melahap bacaan tentang Islam. Anda belajar Islam sendiri, adakah hal baru? Setelah 20 tahun mempelajari Islam, saya merasa mendapatkan pengetahuan, yang ironisnya tidak akan bisa saya dapatkan di madrasah. Misalnya tentang Khadijah, perempuan pebisnis hebat, bos sekaligus istri Nabi Muhammad. Khadijah pula pihak yang melamar. Bahkan Khadijah itu 15 tahun lebih tua daripada Nabi. Sangat revolusioner, sangat feminis. Saya juga tahu tentang filsuf Ibnu Rusydi. Seribu tahun lalu, dia mengatakan, alasan kehancuran peradaban adalah perempuan ditempatkan di bawah lelaki. Tapi apakah kami belajar tentang itu di madrasah? Di madrasah, guru-guru saya justru mengajarkan sangat mustahil melihat perempuan itu setara. Eh, menurut Anda, bagaimana posisi homoseks dalam Islam? Hanya Tuhan yang tahu kebenaran di balik semuanya. Saya tidak bisa bilang bahwa Islam memperbolehkan homoseksualitas. Lebih mulia terus berdebat dan berbeda pendapat. Mungkin saja homoseksualitas itu berkah, bukan kesalahan. Bukan saya atau Anda yang bisa menentukan apakah lesbian dan gay itu sah. Saya ingin masyarakat bisa menjadi diri sendiri, tidak ada yang memaksa kita menaati satu aturan tertentu. Di atas itu semua, saya percaya Tuhan itu satu, Tuhan yang agung, yang berhak menentukan benar dan salah. Bagaimana Anda memandang Indonesia, negeri berpenduduk muslim terbesar? Saya bukan ahli Indonesia, tapi negeri ini adalah sumber harapan nyata. Saya tertarik kepada Pancasila, prinsip yang tidak ada di Arab. Soal kesatuan nasional yang datang dari keberagaman kepercayaan itu sangat tidak Arab, tidak tribal, dan sangat cocok untuk dunia postmodern ini. Saya percaya Indonesia bisa menunjukkan diri kepada dunia bahwa ada jenis Islam lain (dari Islam gaya Arab--Red.) yang bisa dipraktekkan. Mungkin, untuk soal ini, Anda menuduh saya naif. (Majalah Tempo, 5 Mei 2008) At 11:50 PM 5/5/2008 -0700, you wrote: >Mengenai perempuan dalam Islam saya ingat apa yang dikatakan Irshad Manji >yang saya rasa masih kurang kritis. >Ia mengambil Khadijah sebagai perempuan Islam yang patut ditiru, karena >mandiri dan bahkan mampu mempekerjakan laki-laki yang salah satunya yang >bernama Muhammad yang kemudian diambil menjadi suaminya. >Irshad lupa bahwa Khadijah dibesarkan dan menjadi saudagar kaya sebelum >ada Islam memang betul sewaktu Muhammad mengaku mendapat wahyu kemudian >membacakan ayat-ayat Alquran terjadi sewaktu Kahdijah masih hidup tetapi >waktu itu Muhammad belum punya pengikut. >Islam yang sesungguhnya tumbuh dan berkembang setelah Muhammad Hijrah ke >Madinah di mana perampokan, pembunuhan, dan pelecehan seksual mulai terjadi. >Jadi jika Irshad menganjurkan mengikuti jejak Khadijah, jarum sejarah >harus diputar ke masa sebelum ada Islam, artinyta Irshad menganjurkan >untuk meninggalkan Islam. >Bahwa Khadijah besar dan menjadi pengusaha kaya tanpaknya tidak disadari >oleh umat Islam sendiri karena itu sudah seharusnya media dan para tokoh >menyuarakan bahwa Khadijah besar dan menjadi kaya pada jaman Arab kuno >yang berkebudayaan bukan pada jaman jahiliah setelah adanya Islam. >Lebih jauh tentang sejarah Islam perlu diungkap dengan benar, bagi media >sebenarnya tidak perlu mengemukakan hal yang baru. Buku Muhammad Biografi >Sang Nabi, sudah tersebar luas dan ada di tangan banyak umat Islam yang >perlu dilakukan adalah menggarisbawahi apa yang ditulis di buku tersebut >agar diketahui masyarakat luas. >Di buku tersebut antara lain ditulis : > >Kejadian ini setelah Muhammad pindah ke Madinah, ditulis di hal. 291, >"Madinah berada di tempat ideal untuk menyerang kafilah Mekah yang sering >kali hanya terdiri dari segelintir saudagar dalam perjalanan menuju dan >dari Syria sehingga pada tahun 623, Muhammad menyuruh dua kelompok >penjarah dari kaum Mujahirin untuk menyergap kafilah tersebut." Di bagian >berikutnya, "Pada September 623, Muhammad memutuskan memimpin sendiri gazw >(penjarahan) pada kafilah besar yang dipimpin oleh Umayyah dari klan >Jumah." Diawali dengan penjarahan kemudian penguasa di Mekah memutuskan >menertibkan penjarah tersebut dan terjadilah Perang Islam yang pertama. > >Bahwa Muhammad mempimpin perampokan, terlibat pembunuhan dan melakukan >pelecehan seksual jelas digambarkan di dalam buku tersebut. >Salam > > >Ahmad Badrudduja <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>Kalau kebijakan ini diilhami oleh suatu ajaran yang dianggap berasal dari >>Islam, tentu sangat disayangkan. >> >>Yang jelas, di Saudi Arabia, perempuan benar-benar ditelikung oleh >>pembatasan berlapis-lapis yang didasarkan pada pemahaman tertentu atas >>Islam. Perempuan tak boleh menyetir mobil, tak bisa bepergian tanpa >>didampingi oleh seorang "male escort", dsb. Karena Saudi merupakan tempat >>tanah suci Islam, tentu oleh banyak umat Islam praktek di Saudi ini >>dianggap mencerminkan Islam yang murni. Meskipun anggapan semacam itu >>tentu salah sekali. >> >>AB >> >> >> >> >> >> >> >>holyuncle <[EMAIL PROTECTED]> wrote: >>>Malaysia limits women's travel >>> >>>By Mark Bendeich >>>Monday, 5 May 2008 >>> >>>Malaysian women's groups reacted with outrage yesterday to a >>>government proposal to impose restrictions on woman planning to >>>travel overseas on their own. >>> >>>The mainly Muslim country is considering requiring women to obtain >>>the written consent of their families or employers before being >>>allowed to travel alone outside the country, state news agency >>>Bernama said on Saturday, quoting the foreign minister. >>> >>>"It is totally ridiculous and it's a totally regressive proposal with >>>regards to women's right to movement," said Norhayati Kaprawi, >>>spokeswoman for Sisters in Islam. >>> >>>The National Council for Women's Organisations called it >>>unfair. "This is an infringement of our rights," council deputy >>>president Faridah Khalid told the New Sunday Times. >>> >>>The foreign and home ministries came up with the idea in response to >>>a string of cases where women travelling alone were used by >>>international drug syndicates to smuggle drugs across borders, >>>Bernama said, quoting Foreign Minister Rais Yatim. >>> >>>Bernama portrayed the proposal as an anti-crime measure rather than a >>>religiously inspired idea and said it aimed to ensure that a woman's >>>family would "monitor her departure and serve as a preventive measure >>>against being duped". >>> >>>Rais was quoted as saying that the idea came out of a review of >>>criminal cases involving Malaysians abroad. In 119 cases of Malaysian >>>women being brought before foreign courts, about 90 percent were >>>linked to drugs, he told reporters. >>> >>>Asked if it suspected a hidden religious motive, Sisters in Islam >>>declined to speculate and said the proposal assumed women were less >>>capable than men of making decisions for themselves. >>> >>>"Only Dr Rais Yatim knows whether it is based on his understanding of >>>Islam or because of his lack of understanding of gender issues," >>>Norhayati said. >>> >>>"It will definitely not solve the problem," she added, noting that >>>many Malaysian men were also duped into smuggling drugs. >>> >>><http://www.independent.co.uk/news/world/asia/malaysia-limits-womens->http://www.independent.co.uk/news/world/asia/malaysia-limits-womens- >>>travel-821205.html >> >> >>Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. >><http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>Try >> >>it now. > > >Be a better friend, newshound, and know-it-all with Yahoo! Mobile. ><http://us.rd.yahoo.com/evt=51733/*http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ>Try > >it now. > [Non-text portions of this message have been removed]

