--- In [email protected], "agussyafii" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Mbah dono, > > lek sampeyan cuman bisa posting, tiap hari aku ngerasain yang >namanya macet naik angkot, giliran banjir yo kebanjiran mesti jalan >kaki sebab ndak ada yang namanya bus dan angkot mau nyeberang jalan >yang lagi banjir. kalo mau muji ya apa yang mau dipuji. lha sampeyan kan enak, > rumah dah AC, kalo mau posting tinggal klik. mau pergi mobil dah ada, > mau keluar kota tinggal naik pesawat opone ora enak to mbah.. > > yo wis mbah matur nuwun postingannya, saya mesti buru-buru ngejar > metro mini 69 mbah ciledug-blok M, ada titipan paket anak yatim yang > mesti buru-buru diambil. > > salam cinta, > agussyafii > >
Lhooo iye to? saya kekantor memang naik mobil, tetapi kalau ada perjalanan disekitar kantor saya naik tram atau underground, sebab kalau bayar ap[rkir (pakai ticket) muahalnya bukan main. kadang kadang sih pakai mobil dinas. Kalau sedang di Jakarta, waktu cuti atau business trip, ada mobil pribadi di Jakarta. Tetapi biasa pakai mobil kantor. kalau dinas di luar Indonesia, Singapura, Vietnam, Philippina, Malingsia, atau RRT ya dijemput kendaraan perwakilan kami disana. Tetapi, juga kami, kalau Jakarta menjadi danau Batavia, ikut berenang. kadang kadang deg degan kalau harus ke bandara, harus naik kapal perang atau kapal selam? Tapi soale, nak Agus, kita kan pembayar pajak? masak hak hak kita di injak injak begitu saja oleh ketidak mampuan birokrasi? Nak Agus, sungai yang melintasi kota kami, Vienna, namanya sungai Donau (Inggris: Danube), bisa dilewati kapal kapal barang dan penumpang, yang mengalir dari Jerman selatan (Black Forest asal kue black forest itu) sampai ke laut hitam di Bulgaria! Tapi kota ini, satu milimeterpun tak pernah tergenang! Kalo saya mengkritisi Indonensia, nak Agus, karena selain saya putra negeri ini, puluhan tahun saya terlibat dalam pembiayaan proyek proyek negri ini, yang lewat meja saya, menyandang tandatangan saya, dari proyek Cilegon, PLN (pembangkit, tiang tegangan tinggi, trafo,dll), kereta api, RS (al Dr Cipto), TVRI, dan banyak lagi. Juga proyek swasta, dari Indah Kiat, Kiani Kertas, Indocement, entah apa lagi... Ngomong pesawat, saya pernah deg degan naik garuda dari manado pulang ke Jakarta, soale satu mesin terbakar. Nggak jadi take off. Disaat krisis, pembayarannya kedodoran, saya yang pusying... bikin analisa mengapa kedodoran. bangsaku dewe. Anak buahku bule kabeh ikut bingung, negara kaya kok tiba tiba kedodoran! Jadi, mungkin saya lebih banyak deal dengan Indonesia daripada kebanyakan anggauta milis ini lho! By the way, nak Agus, kalau ayah anda usianya tak lebih dari 30 tahun, monggo memanggil aku mbah, kalau nggak, panggil paklik aja! Mungkin sekali ayah nak Agus lebih tua dari saya.. Saya puji semua yang layak dipuji, misale ketegasan KPK, niat pamarentah membrantas korupsi 9walau setengah orang katakan masih tebang pilih). Saya puji mekanisme pemilihan dari pemilu sampe pilkada, tapi nggak yang di Maluku utara itu. Sidoarjo, nak Agus, GAK perlu terjadi, kalau kerjanya si den bagus den bagus itu professional. Ke-tidak professional-an ini yang menghancur lembutkan Indonesia. Panggilan "sampeyan" dalam tatakrama Jawa HANYA boleh dipakai kalau a) yang diajak bicara selevel dalam umur dan b) dalam strata kemasyarakatan. terakhir c0 kenal pribadi. Lha aku nggak tahu ni, nak Agus dimana posisi kemasyarakatan. Aku awal 80an sudah senior executive mbawahake bule bule di bagian International Finance lembaga keuangan terbesar di Austria. Lha nak Agus usianya berapa? kapan mulai karir? Hati hati kalo ngejar metromini lho nak Agus, mereka kadang kadang serempet pejalan kaki, seperti baru baru ini didekat rumah saya di Jakarta. Salam kebangkitan bangsa Danardono

