Ginseng Berpotensi Obati Schizophrenia
Getty Images/Cyril Ruoso
Jumat, 9 Mei 2008 | 18:22 WIB
GINSENG bukan hanya bermanfaat sebagai penambah tenaga, bahan ramuan herbal
ini menurut penelitian juga berpotensi mengatasi gejala schizophrenia sejenis
penyakit otak yang sanggup merusak dan menghancurkan emosi.
Dalam sebuah penelitian kecil, para ahli dari University of Western Ontario,
Kanada, berhasil membuktikan bahwa ginseng Asia atau Panax ginseng mampu
meringankan gejala penderita schizophrenia yang disebut Flat Affect. Gejala
ini termasuk gejala negatif yang ditandai kurangnya motivasi dan menurun
drastisnya ekspresi emosional.
Dalam schizophrenia, dikenal istilah gejala negatif dan gejala positif. Gejala
negatif berupa tindakan yang tak memberi dampak merugikan bagi lingkungannya,
seperti mengurung diri di kamar, melamun, menarik diri dari pergaulan, dan
sebagainya. Sementara gejala positif adalah tindakan yang mulai membawa dampak
bagi lingkungannya, seperti mengamuk dan berteriak-teriak.
Selama ini para ahli di dunia belum dapat menemukan obat penyembuh penyakit
kejiwaan ini. Namun terapi yang disebut antipsikotik diakui para dokter
efektif dalam menurunkan atau mengurangi gejala positif schizophrenia seperti
-- halusinasi, berkhayal, dan gangguan berpikir.
Di Amerika Serikat, penyakit schizophrenia selama ini telah menyerang 3,2 juta
orang. Menurut direktur National Institute of Mental Health, Thomas Insel MD,
kini yang justru sering menjadi penyebabnya adalah gejala negatif serta
gangguan berpikir. Ini juga termasuk "flat afflect" yaitu kurang kesenangan dan
motivasi dalam hidup sehari-hari, ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara
berarti meskipun telah dipaksa berinteraksi.
Menurut para ahli Kanada ini, riset pada binatang telah mengindikasikan bahwa
Panax Ginseng mampu menunjukkan khasiat pada otak seperti halnya obat-obat
kimia yang dirancang mengatasi gejala-gejala negatif dan positif Schizophrenia.
Peneliti lalu mengujicobakan Panax pada 42 pasien schizophrenia yang mengalami
gejala negatif meski telah mendapatkan pengobatan atau terapi antipsikotik.
Pasien dibagi menjadi dua kelompok dan selama delapan pekan pertama, ada
kelompok yang mendapat dosis Panax Ginseng dan plasebo. Kelompok ginseng lalu
digilir mendapat plasebo, dan kelompok plasebo mendapat ginseng selama delapan
pekan. Selama riset, seluruh pasien tetap mendapatkan obat-obat antisikotik
standar.
Hasilnya menunjukkan, pasien mengalami penurunan 50 persen flat affect ketika
mengonsumsi ginseng dengan kadar lebih tinggi yakni 200mg ketimbang saat
mendapat plasebo.
"Dosis yang lebih tinggi juga secara signifikan menurunkan gejala negatif
lainnya," ungkap, Simon S. Chiu, MD, PhD dari bagian psikiatri University of
Western Ontario yang mempublikasikan temuannya dalam American Psychiatric
Association.
Ia menekankan, terlalu dini untuk menganjurkan orang menggunakan ginseng
sebagai obat schizophrenia. Namun begitu, ini menunjukkan harapan bahwa herbal
ini dapat membantu pengobatan antipsikotik.
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ
[Non-text portions of this message have been removed]