Jurnal Sairara:
   
   
  KEMBALI BERTEMU SITOR SITUMORANG DI PARIS
   
   
  2.
   
   
  Hal yang mengesankan dalam bergaul dengan Sitor, aku sama sekali tidak merasa 
dia memperlakukan diriku  sebagai anak pupuk bawang. Ia tidak mendudukkan 
dirinya pada tempat tinggi , dan ia tidak  merasa diri jempolan. Sikap ini 
membuatku sungguh-sungguh merasa bebas dalam berbicara. Bahkan lebih dari itu. 
Ia kurasakan memperlakukan diriku  dengan rasa sayang. Sering ketika berbicara 
ia memegang akrab tanganku  seakan sedang berbicara kepada adik kandungnya. 
Padanya sama sekali tak kulihat adanya keangkuhan. Sebaliknya yang menonjol 
adalah kerendahan hati.
   
   
  Kutanyakan bagaimana  pendapatnya tentang perkembangan sastra Indonesia 
sekarang, Sitor menjawab: "Saya tidak mengenal lapangan, Bung. Sehingga saya 
tidak berhak berbicara. Saya banyak di luar, walau pun pernah beberapa saat 
tinggal di tanahair ".  Mendengar ucapan rendah hati ini, Barbara, isterinya 
berkomentar: "Kukira tidak sepenuhnya benar. Betapa pun kau mengikuti 
perkembangan dunia yang kau kecimpungi sejak lama dan terus kau kecimpungi". 
Mendengar pendapat Barbara, Sitor tidak berkomentar. Barangkali Barbara benar 
tapi Sitor dengan pengalaman jatuh bangunnya menjadi lebih rendah hati dan 
berhati-hati.
   
   
  Ketika tinggal di Paris Sitor pernah masuk rumahsakit  karena serangan 
jantung. Dan sekarang ia mengidap diabet. Menghadapi penyakit ini ia nampak 
sangat disiplin tanda dari elan hidupnya. Saat menjumpainya malam 21 April 
2008, aku sangat memperhatikan keadaan fisiknya. Dibandingkan dengan pertemuan 
kami beberapa tahun silam, sekarang ia nampak lebih lelah tapi tetap 
bersemangat. Aku sadar untuk tidak menanyakan keadaan kesehatannya. Karena 
kalau kesehatannya tidak memungkinkan, ia tidak akan khusus minta datang 
bertemu teman-teman di Koperasi Restoran Indonesia. Dan dugaanku benar. Seorang 
teman benar-benar menanyakan bagaimana kesehatan Sitor. Sitor menjawab: "Saya 
masih bisa datang  kemari". Mendengar jawaban ini, aku tertawa dan Sitor pun 
tertawa menyertaiku.
   
   
  Kemudian Sitor menuturkan suatu keadaan. Beberapa tahun silam, saban ke 
Indonesia, Sitor dan teman-teman sekolahnya mengadakan reuni dibeayai oleh 
teman mereka yang mempunyai perusahaan ausransi besar di tanahair. Suatu kali, 
Sitor bertanya kepada temannya yang mempunyai perusahaan asuransi di Jakarta: 
"Kapan kita reuni lagi?". "Reuni apa?", jawab teman Sitor itu."Yang tersisa kan 
hanya kita berdua", lanjut teman Sitor.  Sitor tertawa ketika mengisahkan 
keadaan ini. Kisah yang selain melukiskan tentang kesehatan dirinya , sekaligus 
menunjukkan sikap Sitor menghadapi ajal yang oleh Subagio Sastrowardojo sebagai 
"semakin akbrab".  Sikap terhadap ajal, dalam pikiranku merupakan suatu hal 
yang hakiki bagi seorang sastrawan, sama hakikinya dengan sikap menarungi 
kehidupan. Agaknya Sitor dalam hal ini termasuk penyair sadar tentang untuk apa 
hidup dan bagaimana mati, sehingga ia sanggup melalui saat-saat paling gelap di 
penjara Orde Baru selama bertahun-tahun. Sastra adalah
 darah daging Sitor, adalah konsep utuh hidupnya sebagaimana Chairil Anwar 
bersikap: "Sekali berarti sudah itu mati". 
   
   
  Chairil yang meninggal di bawah usia 30 tahun, tapi ia sudah sampai pada 
pemikiran hakiki dalam bersastra.
   
   
  Dalam perbandingan hakiki inilah maka Sitor kutanyakan pandangannya tentang 
perkembangan sastra Indonesia dewasa ini, seperti yang sudah kututurkan di 
atas. Tapi  dengan rendah hati Sitor menolak menjawabku. Padahal dengan 
pertanyaan ini,  aku ingin mendapatkan panorama sastra kekinian negeri ini dari 
seorang senior. 
   
   
  Paris, Mei 2008
  ---------------------
  JJ.Kusni, pekerja biasa pada  Restoran Indonesia Koperasi Fraternité di Paris.
   
   
  [Bersambung....]
   
   
  Keterangan foto:
   
  Foto: Sitor Situmorang waktu muda di Praha [Dok .M. Pakuwibowo]. Yang lain 
adalah foto Sitor Situmorang dan JJK [Dari:Dok. JJK].
   
    


    
---------------------------------
  Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
Donate Now.

    
---------------------------------
  Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
Donate Now.

       
---------------------------------
Support Victims of the Cyclone in Myanmar (Burma). 
   Donate Now.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke