(Tulisan ini juga disajikan dalam website http://kontak.club.fr/index.htm)


Siapa-siapa  yang “menunggangi “



       kegiatan menentang kenaikan BBM ?





Siaran televisi dan pers di Indonesia akhir-akhir ini dibanjiri oleh
berita-berita tentang aksi-aksi protes terhadap rencana pemerintah untuk
menaikkan harga BBM, dan terhadap sudah naiknya harga-harga sembako, dan
makin sulitnya hidup rakyat sehari-hari. Yang menarik perhatian dalam
aksi-aksi ini adalah tampilnya secara besar-besaran gerakan mahasiswa yang
mengadakan berbagai demo di banyak kota besar di Indonesia, seperti Jakarta,
Bandung, Jogya, Semarang, Cirebon, Surabaya, Makasar, Bali, Lampung, Sum.
Selatan dan Utara.



Aksi-aksi yang paling banyak dan besar terjadi di Jakarta, dimana para
mahasiswa dari berbagai universitas dan berbagai macam organisasi
melampiaskan kemarahan mereka dan menyuarakan slogan-slogan yang keras
mengkritik pemerintah. Penting untuk dicatat bahwa dalam aksi-aksi para
mahasiswa ini telah ikut 150 Badan Eksekutif Mahasiswa dari seluruh
Indonesia. Aksi-aksi ini dilakukan di berbagai tempat, dan terutama terpusat
di depan Istana, di lapangan Monas, dan di bunderan HI.



Dari banyaknya organisasi yang ikut menggalakkan aksi-aksi kali ini nyatalah
bahwa gerakan berbagai golongan dan organisasi mahasiswa ini menyuarakan
hati nurani banyak kalangan dalam masyarakat mengenai situasi politik,
ekonomi dan sosial yang sedang dihadapi bangsa kita dewasa ini. Dalam
slogan-slogan dan orasi yang dilakukan selama aksi-aksi itu terdengar adanya
“TUGU RAKYAT”, tujuh gugatan rakyat.



“Tugu Rakyat” ini  menuntut agar pemerintah menasionalisasikan aset-aset
strategis bangsa, perwujudan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang
terjangkau rakyat, serta penuntasan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta
kroni-kroninya. Selain itu, mereka juga menuntut pengembalian kedaulatan
bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi; penjaminan ketersediaan dan
keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat; penuntasan reformasi
birokrasi dan berantas mafia peradilan; serta penyelamatan lingkungan.



Bangkitnya aksi-aksi mahasiswa di berbagai kota besar di Indonesia merupakan
peristiwa penting yang patut disambut gembira dan didukung oleh seluruh
kekuatan demokratik di Indonesia. Sebab, seperti halnya aspirasi kaum buruh
yang disuarakan secara lantang dalam peringatan Hari Buruh 1 Mei yang baru
lalu suara mahasiswa kali ini adalah juga manifestasi yang gamblang dan
tulus dari aspirasi rakyat banyak. Dan bahwa kaum muda yang tergabung dalam
berbagai macam organisasi ikut dalam memperjuangkan nasib rakyat adalah
suatu hal yang positif sekali bagi hari kemudian bangsa. Kaum muda yang
dewasa ini mau dengan susah-payah membela kepentingan rakyat, yang sebagian
terbesar dihimpit oleh kemiskinan, adalah investasi yang besar dan berharga
sekali untuk bangsa di masa-masa yang akan datang.



Kaum muda, yang sebagian terdiri dari para mahasiswa, sekarang ini menjadi
tumpuan harapan banyak orang, karena “kaum tua” atau “setengah tua” yang
sedang  menduduki tempat-tempat penting dalam eksekutif, legislatif dan
judikatif, dan menguasai partai-partai politik di DPR, DPRD, dan DPD,
ternyata sudah banyak yang mengkhianati kepentingan rakyat, terutama rakyat
miskin yang jumlahnya besar sekali. Generasi muda dewasa ini adalah
investasi yang penting dan berharga sekali untuk masa-masa yang akan datang
bangsa kita.



Tetapi, adalah hal yang menyedihkan dan sekaligus juga bisa membikin
marahnya banyak orang, ketika Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Syamsir
Siregar menyatakan “ada pihak yang menunggangi aksi-aksi penolakan rencana
kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang merebak di sejumlah daerah.

Namun, Syamsir yang ditemui sebelum rapat kabinet paripurna membahas
persiapan rencana kenaikan BBM di Kantor Presiden, tampak enggan menyebutkan
pihak yang disinyalir menunggangi aksi-aksi tersebut. "Itu sudah jelas.
Kalian sudah tahu itu, tidak usah tanyalah," ujarnya kepada wartawan. Massa
yang tergerak berunjukrasa, menurut dia, dapat terpancing karena tidak
mengetahui penyebab yang memaksa pemerintah harus menaikkan harga BBM. "Ini
banyak demo-demo, karena banyak yang tidak ngerti. Apalagi, saya lihat, di
DPR ada yang dukung, ada juga yang tidak," ujarnya.(Antara, 14 Mei 2006).



Ucapan Kepala Badan Intelijen Negara yang demikian ini merupakan penghinaan
terhadap begitu banyak orang dari berbagai golongan dan kalangan, di banyak
tempat di seluruh negeri yang sudah menyatakan protes mereka untuk menolak
kenaikan harga BBM. Begitu banyaknya  orang, dan begitu luasnya kalangan dan
golongan yang menolak kenaikan harga BBM, sehingga sulitlah bagi banyak
orang untuk menerima tuduhan bahwa “aksi-aksi ini disinyalir ditunggangi”.
Dan juga merupakan  celotehan yang sembarangan ketika ia mengatakan bahwa
“massa tergerak berunjuk rasa” karena terpancing dan “tidak mengetahui
penyebab yang memaksa pemerintah harus menaikkan harga BBM”, atau bahwa
“banyak demo-demo karena banyak yang tidak ngerti”.



Ucapan Kepala BIN yang demikian ini menunjukkan bahwa pada pokoknya  - atau
pada dasarnya - BIN masih memakai fikiran-fikiran atau pola lama, yang
selama puluhan tahun digunakan oleh rejim militer Ode Baru untuk
menakut-nakuti opini umum dengan menyebarkan tuduhan klasik (dan usang atau
busuk) bahwa ada “fihak-fihak yang menunggangi aksi-aksi” berbagai golongan
masyarakat untuk menentang tindakan atau kebijakan tertentu dari penguasa.
Tetapi, kalau tuduhan semacam  ini dalam masa-masa zaman Suharto masih laku
dan bisa dipercaya oleh sebagian orang, maka akan salah besar kalau mau
ditrapkan juga dalam aksi-aksi tentang kenaikan harga BBM dan TUGU RAKYAT.



Sebab, dalam aksi-aksi untuk menentang kenaikan harga BBM kali ini ikut
serta banyak sekali berbagai golongan dari masyarakat, umpamanya buruh,
tani, pegawai negeri, perempuan, pemuda, mahasiswa. Mereka ini tergolong
dalam beraneka-ragam puluhan partai politik, dan juga agama. Di antara yang
ikut mengadakan aksi-aksi dan  kegiatan lainnya ini tentu saja ada yang
mempunyai simpati kepada berbagai aliran nasionalis, agama, komunis atau
sosialis. Jadi, kalau kepala BIN mengatakan bahwa aksi-aksi menentang
kenaikan harga BBM “ada yang menunggangi” maka dapat dijawab bahwa
sesungguhnya yang menunggangi adalah rakyat Indonesia.



A.      Umar Said





Gerakan yang amat luas



Untuk memberi gambaran tentang luasnya gerakan atau aksi-aksi menentang
naiknya harga BBM  berikut ini disajikan sejumlah kecil kutipan
berita-berita dari berbagai sumber, antara lain :

“Menurut VHR 13 Mei 2008,  Front Pembebasan Nasional  yang terdiri dari
organisasi-organisasi ABM, PRP, SMI, PPRM, WALHI, FBTN, Perempuan Mahardika,
KPA Serikat Pengamen Indonesia, IGJ, LBH JAKARTA, LBH FAS, JGM, KORBAN, ARM,
PRAXIS, IKOHI, SPEED, SIEKAP, BUTRI, PERGERAKAN, PAWANG telah mengeluarkan
pernyataan  menentang kenaikan BBM. Pernyataan itu berbunyi : « Genderang
perlawanan rakyat Indonesia, melawan rencana kenaikan harga BBM telah
dibunyikan; mahasiswa, kaum miskin kota, kaum buruh, kaum tani dan perempuan
di seluruh penjuru Indonesia, setiap hari melakukan aksi-aksi, dan terus
membesar dan menyatu dari hari ke hari. Ini menunjukkan, bahwa tingkat
kesejahteraan rakyat sudah dalam batas yang paling rendah, sehingga kenaikan
harga BBM sebesar 30 %, tidak akan lagi sanggup di tanggung oleh rakyat
Indonesia”.

* * *

Mahasiswa yang berdemonstrasi di depan Istana Merdeka sejak Senin (12/5)
tidak patah arang. Mereka berusaha mendapat dukungan dari dewan perwakilan
rakyat di 11 daerah di seluruh Indonesia.  DPRD Semarang, Jogja, dan Riau
telah menyatakan sikapnya dengan mendukung Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu
Rakyat).  Pada Rabu (21/5) nanti, sekitar 40.000 mahasiswa dari seluruh
Indonesia akan kembali ke depan Istana Merdeka Jakarta untuk mengajak rakyat
agar mencabut amanah konstitusi yang telah diberikan kepada Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono.

Pencabutan amanah ini menyusul kekecewaan mahasiswa karena SBY tidak
memberikan respon positif terhadap Tugu Rakyat. Tugu Rakyat menuntut agar
pemerintah menasionalisasikan aset-aset strategis bangsa, perwujudan
pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau rakyat, serta penuntasan
kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya. Selain itu, mereka
juga menuntut pengembalian kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi,
dan energi; penjaminan ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok
bagi rakyat; penuntasan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan;
serta penyelamatan lingkungan (Tempo Interaktif, 13 Mei 2008)

Akan mengepung Istana 21 Mei

Ribuan mahasiswa di berbagai daerah, kembali menggelar aksi demonstrasi
turun ke jalan menolak rencana kenaikan harga BBM bersubsidi. Aksi demo
mahasiswa di berbagai daerah ini kembali diwarnai bentrokan dengan polisi.
Dalam aksinya itu, mahasiswa tetap menuntut Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) membatalkan rencana pemerintah menaikkan harga BBM. Jika
tuntutan itu tidak dipenuhi, para mahasiswa mengancam akan menggelar aksi
demo yang lebih besar lagi.



Aksi menginap di depan Istana Negara sudah berakhir. Namun, itu bukan
berarti demo akan mengendur, karena mahasiswa telah menyiapkan aksi demo
besar-besaran pada 21 Mei mendatang untuk memprotes kebijakan SBY yang
dinilai menyusahkan masyarakat, khususnya masyarakat miskin.  Badan
Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Indonesia memberikan tenggat waktu satu pekan
kepada pemerintah untuk merealisasikan tuntutan para mahasiswa. Penegasan
ini disampaikan dalam orasi sebelum ribuan mahasiswa dari BEM se-Indonesia
yang menginap di depan Istana Negara membubarkan diri.  Massa mahasiswa
langsung berjalan menuju Bundaran Hotel Indonesia (HI). Beberapa aktivis
menegaskan, mereka akan kembali mengepung Istana Merdeka pada 21 Mei
mendatang dengan aksi demo besar-besaran, apabila pemerintah tidak merespons
tuntutan mereka.



Sementara itu, di Bojonegoro, Jatim, aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa yang
tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bojonegoro, di
gedung DPRD setempat, diwarnai perkelahian antara mahasiswa dan polisi.
Sedangkan di Toli-toli, Sulteng, aksi unjuk rasa yang dilakukan aliansi
mahasiswa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan BEM Universitas
Madako (Umada) nyaris bentrok dengan polisi.  Insiden itu bermula ketika
puluhan demonstran memaksakan diri masuk ke dalam gedung DPRD Tolitoli,
namun dihalau puluhan aparat yang sudah berjaga-jaga dari awalnya.



Massa mahasiswa ini semakin kecewa karena ketika mereka berorasi di depan
gedung dewan tidak ada satu pun wakil rakyat itu menemui mereka karena
situasinya masih dalam masa reses. Meskipun begitu, para demonstran tetap
mamaksakan diri untuk menduduki Gedung DPRD Tolitoli yang berada di depan
bundaran "Kota Cengkih" ini.



Sedangkan di Madiun, sedikitnya 20 mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan
Mahasiswa Islam (HMI) Madiun menduduki kantor Radio Republik Indonesia (RRI)
setempat.

Mahasiswa yang datang dengan menggunakan kendaraan bermotor tersebut,
sebelum melakukan pendudukan ruang rekaman RRI Madiun, melakukan orasi di
depan pintu masuk RRI. Dalam orasinya mereka menuntut pemerintah membatalkan
rencana menaikkan harga BBM.  Setelah melakukan orasi di depan kantor RRI di
Jalan Mayjen Panjaitan Kota Madiun, selanjutya massa dari HMI yang diwaliki
oleh beberapa perwakilan mendesak pihak RRI untuk menyiarkan secara langsung
tuntutan mereka.  "Radio merupakan salah satu media yang bisa dijangkau oleh
semua masyarakat. Dengan disiarkan melalui radio, maka penolakan terhadap
kenaikan harga BBM bisa didengar oleh siapa saja, termasuk pemerintah,"
katanya menambahkan.



Di Bandung, puluhan mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) melakukan aksi
bakar ban bekas dan menggelar teatrikal di tengah Jalan Lengkong Besar,
Bandung. Aksi yang berlangsung selama sekitar satu jam itu sempat memacetkan
arus lalu lintas kendaraan bermotor di kawasan tersebut.

Hal itu mengundang aparat kepolisian setempat untuk melakukan pengamanan
aksi unjuk rasa yang dimotori mahasiswa Fakultas Hukum dan Fakultas Sosial
dan Pemerintahan itu.



Koordinator aksi, Adnan Yusuf, menyampaikan pernyataan sikap terkait dengan
rencana pemerintah menaikkan harga BBM tersebut. "Kami mahasiswa Bandung
menolak kenaikan BBM, karena akan berdampak pada kesengsaraan rakyat miskin.
Jangan sampai bangsa yang kaya sumber daya alam ini mati di lumbung
sendiri," katanya.



Sedangkan di Blitar, aktivis GMNI dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia
(PMII) turun ke jalan untuk menolak rencana kenaikan tarif BBM. (Suara
Karya, 14 Mei 2008)



* * *











No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG.
Version: 7.5.524 / Virus Database: 269.23.16/1431 - Release Date: 13/05/2008
19:55


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke