Apakah Front Perjuangan Rakyat atau Front Pembebasan Nasional merupakan embrio 
Blok-blok Politik Demokratik seperti yang direkomendasikan survey nasional 
kedua Demos?

Silah di cermati Ringkasan Eksekutif-Laporan Awal Survei Demos berikut ini.


SATU DEKADE REFORMASI: Maju dan Mundurnya Demokrasi di Indonesia
Ringkasan Eksekutif dan Laporan Awal Survei Nasional Kedua
Masalah dan Pilihan Demokrasi di Indonesia
(2007-2008)
 
salam
andreas iswinarto
 
silah klik 
http://www.demosindonesia.org/downloads/1210648966_Executive_Report_2007_Indonesia.pdf



REKOMENDASI : BLOK-BLOK POLITIK DEMOKRATIK (Bab 7)

 

Setelah satu dasawarsa, proses politik demokratisasi Indonesia ternyata telah 
menciptakan paradoksparadoksnya sendiri!

Muncul dari gerakan reformasi yang berhasil menumbangkan rezim otoritarian 
Soeharto, Indonesia memang telah menjadi negara “demokrasi baru” terbesar 
di dunia. Akan tetapi, tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya, sistem 
politik Indonesia kini hampir sepenuhnya dikuasai oleh segmen – segmen 
oligarkis dari kalangan elite. Mereka juga menyebar ke tingkat lokal, melakukan 
konsolidasi demokrasi elitis, menjadikan sistem representasi tertutup dari 
partisipasi popular, dan mulai menjalankan apa yang bisa disebut sebagai 
“politik keteraturan.”

Benar bahwa standar instrumen-instrumen demokrasi yang berkaitan dengan 
tatakelola pemerintahan telah mengalami perbaikan, kendatipun dari peringkat 
yang rendah. Tetapi instrumen-instrumen hak-hak sipil dan politik yang lima 
tahun lalu mengalami peningkatan, kini mengalami kemerosotan, di sana-sini 
bahkan kemunduran, dan karena itu berada di bawah ancaman.

Benar pula bahwa beberapa instrumen demokrasi yang berkaitan dengan pemajuan 
hak-hak social ekonomi mengalami perbaikan, tetapi hal ini terjadi di 
tengah-tengah situasi ekonomi makro yang terus merosot dan ketika negara makin 
disubordinasikan oleh pasar bebas dan globalisasi ekonomi neoliberal.

Bagaimanakah memecahkan paradoks-paradoks seperti ini? Apakah situasinya sudah 
begitu gelap, tanpa harapan?

Harapan itu sesungguhnya masih ada, peluangnya pun juga masih luas. Selama lima 
tahun terakhir ini masyarakat ternyata memiliki minat yang semakin tinggi 
terhadap politik. Setelah diapungkan sebagai massa-mengambang yang 
dimasabodohkan dan dibodoh-bodohkan selama tiga dasawarsa, munculnya minat 
politik yang tinggi itu menjadi pertanda baik tentang tumbuhnya basis pendukung 
yang luas untuk pembaharuan politik. Mereka juga bisa belajar dengan sangat 
cepat, mencatat dengan cermat peristiwa politik sehar-hari, dan menjadi sangat 
kritis terhadap dunia politik – dengan mengatakan bahwa politik dimonopoli 
kaum elite untuk saling berebut kekuasaan.

Minat yang tinggi terhadap politik, disertai kritisisme yang tajam itu, jelas 
merupakan buah dari meluasnya kesadaran publik mengenai kebebasan sipil dan 
politik. Mereka kini memiliki kebebasan itu, dan ingin menggunakannya. Tapi 
sayangnya, mereka juga sudah semakin kehilangan kepercayaan pada partai-partai 
politik. Partai-partai dianggap bergelimang politik-uang, tidak benar-benar 
mencerminkan aspirasi kerakyatan, tidak terbukti menjadi pembela 
kepentingan-kepentingan vital masyarakat, serta dianggap tidak cukup 
accountable terhadap konstituennya.

Singkatnya, ada massa-politik baru yang sedang menunggu. Peluang ini sebetulnya 
juga sedang dicoba dimanfaatkan oleh aktor-aktor gerakan pro-demokrasi untuk 
membangun basis sosial dan politiknya. Memang ada berbagai upaya ke arah itu. 
Beberapa eksperimen telah dilakukan oleh banyak organisasi sipil dan NGO untuk 
go politics, di mana mereka memberi tekanan pada pekerjaan membuat linkage 
antara aksi-aksi sipil ke arah gerakan politik, khususnya yang berbasis pada 
gerakan sosial.

Kita juga menyaksikan berbagai eksperimen mereka dalam proses politik 
elektoral, misalnya melalui keterlibatan dalam pilkada. Dalam eksperimen yang 
terakhir ini, mereka bersentuhan langsung dengan praktek politik kepartaian di 
tingkat lokal. Yang juga signifikan adalah eksperimen lain


      

Kirim email ke