--- In [email protected], Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Coba tunjukkan di bagian mana dari berita itu yang > secara faktual salah. > > Sejauh saya lihat, Hidayatullah juga hanya mengutip > dari sumber-sumber Amerika sendiri, karena mereka tak > punya koresponden di Amerika. Mungkin ada sedikit > permainan bahasa, tapi masih dalam batas yang wajar. > > Itu kan gaya bahasa dalam menulis feature yang biasa > saja. Hal itu juga sering dipraktikkan di media Barat. > MIsalnya, ketika seorang tokoh "Islamis" terpilih jadi > PM Turki, media Barat (misalnya, The Economist) > menulis, masyarakat sekuler Turki "cemas" dengan > terpilihnya si A dalam pemilu demokratis menjadi PM > Turki.... > > Bagi saya, biasa-biasa saja.... >
Sebagai orang yang puluhan tahun bermukim dinegara yang merupakan partner dagang terpenting Turki di Eropa, yakni Austria (yang mempunai hubungan politis yang trational sejak zaman kesultanan Utsmaniah), saya ingin urun rembug disini, dan mengkonfirm, bahwa kalangan sekular (ini golongan elit di Turki lho), cemas terhadap perkembangan Turki dibawah pemerintahan yang memang dijuluki Islamist (cenderung hardliner) ini. Mayoritas warga Turki memang penghuni wilayah yang agak backward yakni Anatolia, tetapi decision makers dan intellegentias berasal dari Turki barat, yang emoh pe-wahabi-an Turki. Politik agamis pemerintah ini juga merupakan batu sandung terbesar Turki untuk menggabung dengan Uni Eropa, dan berpartisipasi dalam ke Eropa-an politis dan ekonomis. Ini diakui oleh Erdogan yang kini sedang melawat ke Vienna untuk memobilisasi dukungan politis pemerintah Austria. Mengenai apa yang tak faktual dari artikel yang anda forward itu, kalau anda benar benar memahami masyarakat AS, silakan analisa sendiri.

