Jurnal Sairara:
   
   
  Kepada Saudara Taufiq Ismail 
   
   
  5.
   
   
  MENCOCOKKAN DATA
   
   
   
    Sekarang aku memasuki alinea ketiga dan keempat "respons" bagian pertama  
Saudara Taufiq Ismail, yang berbunyi sebagai berikut:
   
   
  "Saya menyiapkan diri dengan literatur baru untuk diskusi itu. Percuma. Tak 
ada gunanya. Pram berbicara dengan istilah-istilah kuno tahun 1960-an ”tujuh 
setan desa, tiga setan kota, tuan tanah, sama rata sama rasa, kapitalis 
birokrat” dan seterusnya. Diskusi ideologi timpang dan tak bermakna. Saya 
tercengang. Pengarang besar ini tak punya pengetahuan tentang 
Marxisme-Leninisme yang berarti dan dapat diukur dengan jengkal tangan kanan. 
Saya tak merasakan getaran, sengatan setrum ideologi 
Marxisme-Leninisme-Stalinisme-Maoisme dari diskusi itu, seperti yang saya 
rasakan bila berdiskusi dengan orang-orang Palu Arit tulen yang pernah saya 
alami. Pram bukan komunis."
   
   
  "Saya makin mual pada partai yang berhasil memperalatnya, yang dirangkul, 
difasilitasi ini-itu, diangkut ke seberang garis menyertai apel barisan PKI, 
terpaksa ikut menderita dalam pembuangan, dan ternyata tetap saja tidak in 
dalam ideologi ini sama sekali. Ternyata Lekra tak berhasil menjadikannya 
komunis. Dia Pramis, seperti pengakuannya sendiri, dan dia betul. Pram 
terlampau individualistik, egosentrik dan keras hati untuk jadi pion partai 
mana pun. Palu Arit cuma memerlukan nama besar Pram untuk baliho Lekra/PKI, 
mengeksploitirnya sebagai tokoh pengisi billboard iklan produk ideologi kiri di 
tepi jalan raya tol kesusasteraan Indonesia. Untuk itu PKI berhasil, juga KGB 
(Komunis Gaya Baru) Indonesia abad 21 ini."
   
   
  Dalam dua alinea di atas ini terdapat beberapa soal menarik --paling tidak 
menarik perhatianku. Terhadap soal-soal menarik ini aku yang kroco sastra ini, 
memberanikan  diri untuk menyumbangkan  pendapat atau komentar terhadap 
masalah-masalah yang diajukan oleh Saudara Taufiq Ismail dalam dua alinea di 
atas. 
   
   
  Aku mulai dari masalah Lekra.  Mengenai masalah Lekra ini, lebih lanjut, aku 
sarankan untuk membaca tulisan-tulisanku "Aku Dikutuk Jadi Laut", Penerbit 
Syarikat Indonesia, Yogyakarta, April 2007,  dan  "Di Tengah Pergolakan. 
Pengalaman Turba Lekra", Penerbit Ombak, Yogyakarta, 2005. Lihat juga: JJ. 
Kusni "Menoleh Ke Belakang Melirik Esok", in: Jurnal Demokrasi & HAM: Mencari 
Kebenaran", The Habibie Center, Jakarta, Vol. V. No.2, 2005.
   
   
  Saudara Taufiq Ismail dalam alinea di atas menulis: "Ternyata Lekra tak 
berhasil menjadikannya komunis". Kemudian jika menulis tentang Lekra , beliau 
selalu merangkaikan Lekra dengan PKI. Kongkretnya "Lekra/PKI". Cara penulisan 
yang mengesankan bahwa Lekra itu identik dengan PKI. Apakah benar demikian yang 
dimaksudkan atau yang mau dikesankan  oleh Saudara Taufiq Ismail kepada pembaca 
atau pendengarnya? Jika benar demikian, agaknya mengenai hubungan Lekra dan PKI 
ini, Saudara Taufiq Ismail nampak lebih menguasai masalah Lekra daripada 
Joebaar Ajoeb alm, Sekjen Lekra pengganti A.S. Dharta. Lebih tahu dari Oei 
Hay-Djoen , anggota Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra yang baru-baru ini 
meninggal dunia. Bahkan lebih tahu dari Njoto, yang selain anggota Sekretariat 
Pimpinan Pusat Lekra, juga termasuk salah seorang pendiri Lekra pada 17 Agustus 
1950, serta Wakil Ketua PKI yang kemudian dibunuh pada Tragedi Nasional 
September 1965. 
   
   
  Mengapa kukatakan demikian? 
   
   
  Alasanku, karena ketiga orang penting dalam Lekra itu mengatakan bahwa Lekra 
bukan PKI dan tidak bisa disamakan dengan PKI. [Lihat: Joebaar Ajoeb, in: 
"Sebuah Mocopat Kebudayaan Indonesia", Penerbit Teplok Press, Jakarta, Desember 
2004, 162 hlm.]. Benar di dalam Lekra terdapat anggota-anggota PKI, tetapi 
tidak semua anggota dan yang giat di Lekra adalah anggota-anggota PKI. Hal ini 
juga dinyatakan oleh Oey Hai Djoen dalam sebuah  diskusi dengan pakar sastra 
dari Australia bertemakan turba, yang diselenggarakan oleh Media Kerja Budaya 
Jakarta beberapa tahun lalu [bisa diperiksa di website MKB]. Hal serupa pun 
dinyatakan oleh Njoto dalam Harian Bintang Timur, pimpinan Tahsin alm, Jakarta. 
"Cukup kami saja yang PKI", ujar Njoto.  Sedangkan Keith Foulcher, pakar sastra 
Australia menilai bahwa Lekra pada galibnya adalah sebuah organisasi kebudayaan 
nasionalis, bukan komunis.
   
   
  Dalam pertemuan di Yayasan Umar Khayam Yogyakarta tahun November 2007, 
sastrawan Aguk Irawan menanyaiku: "Mengapa di organ Lekra seperti Zaman Baru 
yang muncul banyak tulisan-tulisan orang PKI yang jadi anggota Lekra?".  
Jawabku: Apa salahnya mereka aktif menulis jika mereka memang suka menulis? 
Apakah ini bisa dipandang sebagai indikasi dan bukti bahwa Lekra sama dengan 
PKI? Apakah kalau aku menulis di harian PNI atau NU lalu pemuatan tulisanku 
mengindentikkan harian-harian tersebut menjadi harian PKI? Apakah tidak terlalu 
sederhana dasar logika begini? Lalu jika demikian mengindentikkan Lekra dan PKI 
sejajar dengan dasar logika simplistis begini juga?  Sebagai orang yang yakin 
dengan pendapatnya tentang Lekra dan PKI bahkan terkesan lebih tahu dari orang 
Lekra dan PKI sendiri, aku mengharapkan penjelasan dari Saudara Taufiq Ismail 
tentang Lekra dan PKI.  Aku benar-benar ingin mengetahui Lekra dan PKI , saling 
hubungan Lekra dan PKI, dari Saudara Taufiq Ismail yang
 merasa lebih tahu dari Joebaar, dari Hay Djoen atau Njoto. Aku tunggu ya 
Saudara Taufiq Ismail. Tentu saja keterangan Saudara Taufiq itu nanti 
kutempatkan sebagai bandingan untuk mendapatkan kebenaran dari kenyataan. 
Melalui keterangan Saudara Taufiq itu nanti, pembaca akan mengetahui keterangan 
siapa gerangan yang memadai bisa dipercayai jika berbicara tentang Lekra. 
   
   
  Karena sadar bahwa anggota-anggota Lekra mayoritas bukan anggota PKI maka 
Sekretariat Pimpinan Pusat Lekra menolak desakan pimpinan PKI untuk mem PKI-kan 
Lekra. Barangkali dengan latar penolakan inilah maka diselenggarakan Konferensi 
Sastra-Seni Revolusioner [KSSR], Agustus 1964 di Gedung SBKA, Manggarai, 
Jakarta. Sebagai orang yang agaknya lebih tahu tentang Lekra dan PKI hingga 
senantiasa menulis "Lekra/PKI", aku juga mengharapkan penjelasan bandingan dari 
Saudara Taufiq Ismail mengenai hal ini. Barangkali sorotan dari luar Lekra bisa 
membantu memahami Lekra, apalagi dari orang berpengetahuan lebih dari orang 
Lekra sendiri tentang Lekra.
   
   
  Ketika aku menjabat Sekretaris pertama Lekra Kota Yogyakarta dan orang 
pertama Lestra Jateng, di benakku tak pernah  terselip sepintas pun niat untuk 
mem-PKI- kan mereka yang turut berkesenian di dalam lembaga-lembaga kejuruan 
Lekra. Yang terpikir padaku, hanya bagaimana hasrat berkesenian mereka bisa 
disalurkan dan taraf berkesenian mereka bisa ditingkatkan. Bagaimana mereka 
juga bisa mengerti untuk apa berkesenian di alur jalan yang oleh Lekra disebut 
"sastra-seni untuk rakyat". 
   
   
  Apakah  orientasi "sastra-seni untuk rakyat" ini identik dengan ide PKI 
sehingga dengan alasan ini Lekra pun jadi otomatis identik dengan PKI? Ataukah 
ini suatu paralelisme?
   
   
  Tentang hal ini aku tangguhkan pada Jurnal-ku selanjutnya. Terimakasih kepada 
Saudara Taufiq Ismail yang mengetengahkan banyak soal dalam dua alinea di atas 
sehingga membuat alinea-alineanya menjadi alinea-alinea bernas, mengelitik 
renungan. Memancing renungan dan pemikiran, kukira merupakan suatu kemampuan 
tersendiri dari seorang penulis atau pembicara. ****
   
   
  Paris, Mei 2008

  ----------------------
  JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
   
   
  [Bersambung .....]

       
---------------------------------

Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke