http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/04/1739273/obama.menang.anak.menteng..senang
Obama Menang, Anak Menteng Senang
JAKARTA, RABU - Kemenangan Barack Obama dalam perebutan tiket calon presiden
Partai Demokrat disambut baik orang-orang yang pernah menjadi teman masa
kecilnya.
"Saya tidak pernah membayangkan ia akan menjadi orang hebat," kata Widianto
Hendro Cahyono (48).
Pria ini pernah menjadi teman sebangku Obama saat belajar di SDN Menteng 01
Jakarta, Rabu (4/6).
Di sekolah itulah Obama pernah menghabiskan sebagian masa kecilnya di
Indonesia. yaitu antara usia 6-10 tahun. Ketika nama Obama mulai dikenal,
mantan teman dan gurunya pun mencoba menggali kembali ingatan mereka ke masa
lampau.
"Ia tergolong siswa yang biasa-biasa saja, tetapi sangat aktif. Ia selalu main
bola tiap istirahat sampai mandi keringat," kata Cahyono yang sama-sama duduk
di kelas tiga di sekolah itu.
Yang tak kalah bangga adalah sang kepala sekolah, Kuwadiyanto. Ia berharap
suatu saat Obama mau berkunjung ke Indonesia.
Orang Indonesia lain yang berharap pada Obama adalah Djoko Susilo, bahwa Obama
bisa meningkatkan hubungan bilateral dengan AS di bawah Obama. "Yang penting
adalah menghentikan perang di Irak, Afghanistan dan lain-lain," kata politisi
Partai Amanat Nasional itu.
Tidak hanya di Indonesia, warga negara lain juga berharap pada perubahan yang
kelak dibawa Obama. Khususnya tentang janji mengubah wajah Amerika yang
militeristik menjadi lebih ramah. Penghentian perang merupakan salah satu isu
penting yang digarap Obama untuk mengobati kekecewaan warga Amerika yang sudah
lelah berperang.
Wajah damai yang diinginkan Obama terhadap Amerika antara lain ditampilkannya
janji-janji untuk membuka dialog dengan negara-negara yang selama ini menjadi
musuh Amerika. Sebut saja Iran, Korea Utara, dan Kuba yang sejak lama diisolasi
Amerika.
Di Vietnam, pengusaha real estat Ngo Van Hung (33) mengaku mengalihkan
dukungannya dari Hillary Clinton ke Obama setelah menyaksikan Obama
berkampanye. Di Vietnam, keluarga Clinton dipuja-puja karena berinisiatif
memulihkan hubungan diplomatik yang puluhan tahun terputus.
Seperti kebanyakan warga Vietnam lain yang menderita dalam perang yang
melibatkan militer AS, Hung menentang perang Irak. Ia sangat senang ketika
mendengar Obama menentang perang itu.
"Obama menolak perang Irak sejak awal. Ia terlihat sebagai pecinta damai. Ia
punya pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana memperlakukan orang yang
berbeda kewarganegaraan dan berbeda negara," kata Hung.
Seorang pengamat dari China memperkirakan tidak akan ada perubahan signifikan
dalam kebijakan luar negeri AS. Namun pasti warna kebijakan akan berubah secara
keseluruhan, begitu Obama menguasai Gedung Putih.
"Dia akan membawa energi baru ke politik domestik dan kebijakan luar negeri AS.
Itu pilihan baik bagi Demokrat," kata Zhe Feng, wakil direktur Center of
International and Strategic Studies di Universitas Peking di Beijing.
Seoal kemungkinan Obama menjadi presiden kulit hitam pertama di Amerika, Zhu
mengatakan latar belakang etnis Obama tidak begitu berarti bagi rakyat China.
"Dia menunjukkan belas kasih, inspirasi, kebijaksanaan dan intelijensia. Ia
pembicara yang fantastis," kata Zhu.
Namun begitu, Obama menjadi tidak populer di Pakistan, setelah ia berpendapat
bahwa AS harus bertindak sendiri atas informasi tentang sasaran teroris di
dalam batas wilayah nasional. Itu memicu munculnya pendapat bahwa Obama tidak
berbeda dengan George W Bush.
Chaiwat Khamchoo, seorang profesor Thailand, mengatakan ketegangan dan
konfrontasi akan berkurang, terutama di Timur Tengah, ketika AS dipimpin Obama.
Meski begitu, ia memperkirakan tidak akan ada perubahan dramatis dalam hubungan
AS dengan negara-negara Asia.
"Gaya Obama yang lebih lembut, yang menawarkan pembicaraan dan negosiasi akan
mengubah citra Amerika Serikat," kata Chaiwat, profesor hubungan internasional
di Universitas Chulalongkorn.
"Obama telah mengancam menyerang kami, bahkan sebelum menjadi presiden. Ia
lebih berbahaya ketimbang Bush," kata Ibrar Ahmad (34), pengajar di perguruan
tinggi pemerintah di Multan Pakistan.
SAS
Sumber : AP
[Non-text portions of this message have been removed]