NU Kembali 'Dipanggil' untuk Selamatkan Negara
Rabu, 4 Juni 2008 20:01
Jakarta, *NU Online*
Ketua PBNU Masdar F Mas'udi menyatakan saat ini keterlibatan NU diperlukan
dalam menyelesaikan berbagai kerusuhan dan kekerasan yang bisa mengancam
persatuan dan kesatuan bangsa.

"Dalam sejarahnya, ketika bangsa ada huru-hara, NU selalu 'dipanggil'. Ini
menyedihkan sekaligus membanggakan," katanya dalam acara launching Zakat
Online di Gedung PBNU, Rabu (4/6).

Ia menjelaskan, pada masa perjuangan kemerdekaan, para kiai dan santri
berjuang mengusir pejajah. "Sesudah merdeka, mereka bukannya ingin menjadi
tentara, tetapi kembali ke pesantren untuk mengabdi pada ummat," paparnya.

Selanjutnya, ketika penjajah mencoba kembali menduduki Indonesia, NU yang
pertama-tama dari kekuatan masyarakat dan umat yang memberikan sikap tegas
dengan resolusi jihad. Ini merupakan satu-satunya resolusi jihad untuk
mempertahankan kemerdekaan.

Waktu itu, para ulama NU berkumpul di Pesantren Tebuireng Jombang untuk
menyatakan resolusi jihad, bahwa semua warga masyarakat, yang ada di radius
87 km dari musuh harus angkat senjata, terutama yang sehat.

"Waktu itu Bung Tomo juga hadir. Hari 10 November yang heroik ini tak
mungkin terjadi tanpa dukungan NU," tandasnya.

Demikian pula, ketika terjadi pemberontakan DI/TII dengan tujuan memakzulkan
Soekarno dan mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), NU yang pertama kali
mensikapi dengan menyatakan Soekarno sebagai *ulil amri* (pemerintah) yang
sah dan mempertahankan NKRI serta Pancasila sebagai dasar negara, bukan
negara Islam

"Ini luar biasa, tak terbayangkan kiai-kiai yang tahunya kitab kuning bisa
menegakkan sikap seperti ini," ujarnya.

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) ini
menegaskan para ulama dan kiai NU memang sudah menyadari akan kebhinnekaan
dalam bidang agama, keyakinan, etnis, tradisi dan lainnya. "Komitmen ini
difahami para ulama, rujukannya spiritual. Walisongo kan ada yang Arab,
China, Jawa juga ada," tandasnya.

Demikian pula, ketika Indonesia terancam oleh gelombang komunisme, NU juga
yang telah menyelamatkan negeri ini agar Pancasila tetap menjadi dasar bagi
negara yang hampir 90 persen penduduknya beragama Islam.

Sayangnya, ketika keadaan sudah menjadi aman dan damai, NU kembali ditinggal
di luar oleh para pemimpin pemerintahan. "Kemajuan Indonesia sulit kalau
tidak bersama NU yang sebagian besar warganya berkorban menjaga keutuhan
NKRI," tegasnya. (mkf)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke