Maaf dapet dari millis lain... Ada yang bisa konfirmasi kabar di bawah? Kalau benar, 1 Juni 2008 merupakan hari pembungkaman atas penolakan kenaikan harga BBM.. sesuatu yang disebutkan oleh Metro Realitas juga semalam (4 Juni 2008)..
Kalau benar, harus ada respon yang tepat terhadap rekayasa negatif terhadap pembungkaman atas aksi penolakan kenaikan harga BBM. Jangan pilih/percaya lagi para pe-rekayasa negatif sebagai pemimpin bangsa!!!! :-( Wassalam, Irwan.K --- On Wed, 6/4/08, nda_cak_ep <[EMAIL PROTECTED]<nda_cak_ep%40yahoo.com>> wrote: From: nda_cak_ep <[EMAIL PROTECTED] <nda_cak_ep%40yahoo.com>> Subject: [permikomnas-crew] Mengungkap dibalik Kejadian Kekerasan Di MONAS To: [EMAIL PROTECTED] <permikomnas-crew%40yahoogroups.com> Date: Wednesday, June 4, 2008, 10:23 AM Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu, nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL. Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 Juni yang lalu. Perlu kawan-kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan kedok saja untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan. Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA, Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari Rizal Mallarangeng. Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah masyarakat mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL mengalihkan isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain. Rizal M, yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu pembubaran ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan keras dari FPI. Lalu setelah mendapatkan 'restu' dari presiden Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. Utan Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis dan perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. Lalu setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan membuat semacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta yang hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa massa FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan pengerusakan. Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, menghubungi SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi tersebut dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk melancarkan aksi tersebut. Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas JIL, termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat isu kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang damai. Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk dan ratusan anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini yang diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi yang dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa membubarkan aksi tersebut. Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis ketahui bahwa, 1. Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan isu BBM. 2. Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena selama ini FPI merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi. 3. Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi dibubarkan. 4. Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan keuntungan untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada. Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini yang membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email kekawan-kawan sekalian. Terima kasih. -------------- 2008/6/4 Ridwan Nyak Baik <[EMAIL PROTECTED]>: > Menurut anak BEM UI dalam acara diskusi di Metro TV (Selasa, 3/6, > malam) di mana Andi M juga hadir, Sang Jubir SBY itu sudah sering > membohongi mereka. Katanya bersedia dialog, eh ketika dihubungi tidak > bisa......Di depan forum tampak si Bung Kumis tergagap menerima tembakan > langsung mahasiswa. Hanya, dengan silat lidahnya ia bebas dari kehilangan > muka. Sayang, Mutia Hafidz si pembawa acara tidak mengejarnya.... > > Salam, > > RNB > > > > -----Original Message----- > *From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:[EMAIL PROTECTED] *On > Behalf Of *Holy Uncle > *Sent:* Tuesday, June 03, 2008 10:15 PM > *To:* National; media care > *Subject:* [mediacare] Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas Bukan > Pengalihan Isu > > > > ***"Ini negara hukum. Dalam negara hukum tidak bisa warga negara melakukan > kekerasan pada warga negara lainnya, karena itu kita sesali > kejadian-kejadian semacam itu. Tapi dalam hal tanggung jawab, pemerintah > bertanggungjawab untuk menegakkan hukum kepada siapapun," tegasnya. > > > ****Nah, pemerintah sudah suarakan tanggungjawabnya untuk menegakkan hukum > kepada siapapun. Kita tunggu aksi polisi atau Ansor. * > > > 03/06/08 19:02 > > Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas Bukan Pengalihan Isu > > > Jakarta (ANTARA News) - Juru bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng menolak > adanya anggapan respon pemerintah atas insiden bentrokan antar organisasi > masyarakat di kawasan Monumen Nasional akhir pekan lalu sebagai upaya untuk > mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah kenaikan harga bahan bakar > minyak belum lama ini. > > "Yang melakukan kekerasan kan bukan pemerintah. Pemerintah justru memberi > respons karena menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi semua > warga negara," kata Andi Mallarangen di kompeks Istana Kepresidenan Jakarta, > Selasa. > [Non-text portions of this message have been removed]

