Berikut ini saya kutipkan jawaban mbak Nong:
URL http://groups.yahoo.com/group/jurnalperempuan/message/3406

------------------------------------

--- In [EMAIL PROTECTED], Nong Mahmada <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:

Mas Muhkito,
Saya tidak pernah menulis email seperti ini. email ini jelas-jelas
bohong dan fitnah karena banyak yang tidak sesuai dengan fakta dan
kenyataan. Menurut saya email ini bertujuan memecah belah perjuangan
dan gerakan yang sudah kita bangun bersama2. saya pun sudah tidak
memakai alamat email isai sudah lama sekali. ini membuktikan bahwa
yang menulis&nbsp;email ini tidak up date tentang saya lagi dan benar-
benar ngawur.

pasca peristiwa tragedi monas, saya tidak sempat menulis dan membaca
email bahkan membuka internet karena kesibukan mengurus korban dan
rapat yang terus menerus, baik rapat AKKBB maupun rapat di kantor.
saya baru mau merencanakan menulis tentang tragedi itu versi saya
setelah waktunya agak longgar&nbsp;dan sampai sekarang saya belum
menemukannya.
&nbsp;
malam ini saya disms senior saya di metro tv, mas muzakkir, kalau ada
email atas nama saya yang tersebar dimilis2 tentang aksi minggu
kemarin. meski saya cape karena udah jam 1 dini hari, saya paksakan
untuk membuka email dan ternyata betul adanya. ada-ada aja orang
bikin seperti ini. banyak yang ngawur datanya, misalnya data
elementer ini: ngga mungkinlah rizal mallarangeng bisa satu pertemuan
dengan denny JA, ngawur itu hehehe..
&nbsp;
salam,
nong


----------------------------------


--- In [email protected], IrwanK <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Maaf dapet dari millis lain...
> Ada yang bisa konfirmasi kabar di bawah?
> 
> Kalau benar, 1 Juni 2008 merupakan hari pembungkaman atas penolakan
> kenaikan harga BBM.. sesuatu yang disebutkan oleh Metro Realitas 
juga
> semalam (4 Juni 2008)..
> 
> Kalau benar, harus ada respon yang tepat terhadap rekayasa negatif 
terhadap
> pembungkaman atas aksi penolakan kenaikan harga BBM.
> 
> Jangan pilih/percaya lagi para pe-rekayasa negatif sebagai pemimpin
> bangsa!!!!
> :-(
> 
> Wassalam,
> 
> Irwan.K
> 
> --- On Wed, 6/4/08, nda_cak_ep
> [EMAIL PROTECTED]<nda_cak_ep%40yahoo.com>&gt;
> wrote:
> From: nda_cak_ep [EMAIL PROTECTED] <nda_cak_ep%40yahoo.com>&gt;
> Subject: [permikomnas-crew] Mengungkap dibalik Kejadian Kekerasan 
Di MONAS
> To: [EMAIL PROTECTED] <permikomnas-
crew%40yahoogroups.com>
> Date: Wednesday, June 4, 2008, 10:23 AM
> 
> Untuk menyakinkan tulisan ini, saya perlu memperkenalkan diri dulu,
> nama Saya adalah Nong Darol Mahmada, saya salah seorang aktivis
> Jaringan Islam Liberal dan saya aktif di JIL sejak berdirinya JIL.
> 
> Dalam kesempatan sekarang izinkan saya memberikan kesaksian kepada
> kawan-kawan sebangsa dan setanah air melalui milis ini kejadian
> sebenarnya dibalik kejadian yang terjadi di Monas pada tanggal 1 
Juni
> yang lalu.
> 
> Perlu kawan-kawan ketahui bersama bahwa aksi ini merupakan aksi yang
> telah di skenariokan oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan isu BBM
> yang sedang marak ditengah masyarakat. Aliansi Kebangsaan untuk
> Kebebasan Beragama dan Beryakinan (AKK BB) hanya dijadikan kedok 
saja
> untuk mencegah agar ajaran Ahmadiyah tidak dibubarkan.
> 
> Setelah presiden SBY menaikan harga BBM, kalangan kontributor JIL
> Goenawan Mohammad, Hamid Basyaib, Rizal Mallarangeng, Denny JA,
> Nasaruddin Umar melakukan pertemuan secara diam-diam di kediaman SBY
> di Cikeas, Bogor. Hal ini mereka bisa akses langsung kedalam berkat
> orang dalam yaitu Andi Malarangeng yang notabene kakak kandung dari
> Rizal Mallarangeng.
> 
> Dalam pertemuan ini membahas isu yang berkembang di tengah 
masyarakat
> mengenai aksi demo-demo yang dilakukan adek-adek mahasiswa. Lalu SBY
> selaku presiden dan kepala pemerintah meminta kalangan JIL 
mengalihkan
> isu yang sedang berkembang di masyarakat dengan isu lain. Rizal M,
> yang merupakan pemuda JIL yang cerdas memberikan usul bagaimana isu
> kenaikan BBM yang sekarang ini diupayakan diganti dengan isu
> membubarkan Front Pembela Islam (FPI) dengan mengangkat isu 
pembubaran
> ajaran Ahmadiyah. Karena selama ini JIL selalu mendapatkan perlakuan
> keras dari FPI.
> 
> Lalu setelah mendapatkan 'restu' dari presiden Goenawan Mohammad,
> Hamid Basyaib dan Rizal Mallarangeng datang ke markas JIL di Jl. 
Utan
> Kayu No. 68 H Utan Kayu. Di Kedai Tempo mereka membahas bagaimana
> membuat skenario agar anggota FPI bisa melakukan tindakan anarkis 
dan
> perusakan yang membuat masyarakat tidak simpati lagi dengan FPI. 
Lalu
> setelah melakukan diskusi selama 3 jam, ketiga kontributor JIL itu
> 
> akhirnya berhasil membuat skenario yang bagus, dengan memanfaatkan
> momentum kelahiran Pancasila pada tanggal 1 Juni, mereka akan 
membuat
> semacam aksi simpatik (damai) dalam kebebasan beragama dan
> berkeyakinan. Aksi ini dilakukan di Monas, yang mana para peserta 
yang
> hadir sudah disetting sedemikian rupa agar anggota FPI turut datang
> dan membubarkan asyik tersebut. Mereka sangat paham betul, bahwa 
massa
> FPI sangat mudah sekali untuk dipancing agar melakukan kekerasan dan
> pengerusakan.
> 
> Setelah membuat skenario tersebut lalu Goenawan Mohammad, 
menghubungi
> SBY melalui ponselnya, setelah mendengar penjelasan dari Goenawan
> Mohammad secara terperinci, akhirnya presiden menyetujui aksi 
tersebut
> dan akan mentrasferkan dananya sebesar 10 miliard rupiah untuk
> melancarkan aksi tersebut.
> 
> Malam sebelum kejadian, beberapa pentolan JIL berkumpul di markas 
JIL,
> termasuk saya sendiri. Waktu itu yang hadir sangat ramai sekali dan
> sedang membahas persiapan untuk aksi besok pagi. Dari beberapa
> kawan-kawan yang diberikan tugas juga sudah selesai menjalankan
> tugasnya seperti mengundang kalangan pers media cetak dan media
> elektronik untuk hadir di acara tersebut. Orang-orang Ahmadiyah pun
> bersedia mengerahkan beberapa massanya untuk menghadiri aksi damai
> besok. Begitu juga dengan FPI, sudah dikontak melalui SMS membuat 
isu
> kalau besok jamaah Ahmadiyah, akan menggelar aksi damai di silang 
damai.
> 
> Saya tidak tahu bagaimana persiapan dari FPI untuk merespon isue
> tersebut, tetapi nyatanya besok pagi ketika aksi damai itu sedang
> berlangsung dengan membawa nama AKKBB FPI datang dengan belasan truk
> dan ratusan anggotanya melakukan pemukulan kepada anggota aksi
> tersebut. Yang akhirnya terjadi aksi kekerasan tersebut. Hal ini 
yang
> diketahui dikalangan anggota FPI adalah aksi tersebut adalah aksi 
yang
> dilakukan umat Ahmadiyah sehingga secara kasar dan memaksa 
membubarkan
> aksi tersebut.
> 
> Dari pemaparan dalam tulisan saya disini harus kawan-kawan milis 
ketahui
> bahwa,
> 
> 1. Bahwa aksi kekerasan yang terjadi di Monas itu merupakan suatu
> skenario yang dilakukan pemerintah dan pihak JIL untuk mengalihkan 
isu BBM.
> 
> 2. Aksi yang terjadi di Monas itu, JIL ingin FPI dibubarkan karena 
selama
> ini FPI
> merupakan yang menjadi sandungan kalau JIL melakukan aksi.
> 
> 3. Dari jamaah Ahmadiyah dengan aksi ini, diharapkan mendapatkan
> simpati dari masyarakat Indonesia agar organisasi ini tidak jadi 
dibubarkan.
> 
> 4. Kalangan petinggi JIL telah sekian kalinya, mendapatkan 
keuntungan
> untuk memanfaatkan situasi dan kondisi yang ada.
> 
> Demikian tulisan ini saya buat dengan sebenarnya, karena hal ini 
yang
> membuat saya selalu merasa bersalah dan berdosa telah bersama-sama
> dengan kawan-kawan JIL melakukan pemutaran balikan fakta. Saya harap
> kawan-kawan setanah air dan sebangsa mau menyebarkan email
> kekawan-kawan sekalian. Terima kasih.
> 
> --------------
> 
> 2008/6/4 Ridwan Nyak Baik <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> >    Menurut anak BEM UI dalam acara diskusi di Metro TV (Selasa, 3/
6,
> > malam)  di mana Andi M juga hadir, Sang Jubir SBY itu sudah sering
> > membohongi mereka. Katanya bersedia dialog, eh ketika dihubungi 
tidak
> > bisa......Di depan forum tampak si Bung Kumis tergagap menerima 
tembakan
> > langsung mahasiswa. Hanya, dengan silat lidahnya ia bebas dari 
kehilangan
> > muka. Sayang, Mutia Hafidz si pembawa acara tidak mengejarnya....
> >
> > Salam,
> >
> > RNB
> >
> >
> >
> > -----Original Message-----
> > *From:* [EMAIL PROTECTED] 
[mailto:[EMAIL PROTECTED] *On
> > Behalf Of *Holy Uncle
> > *Sent:* Tuesday, June 03, 2008 10:15 PM
> > *To:* National; media care
> > *Subject:* [mediacare] Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas 
Bukan
> > Pengalihan Isu
> >
> >
> >
> > ***"Ini negara hukum. Dalam negara hukum tidak bisa warga negara 
melakukan
> > kekerasan pada warga negara lainnya, karena itu kita sesali
> > kejadian-kejadian semacam itu. Tapi dalam hal tanggung jawab, 
pemerintah
> > bertanggungjawab untuk menegakkan hukum kepada siapapun," 
tegasnya.
> >
> >
> > ****Nah, pemerintah sudah suarakan tanggungjawabnya untuk 
menegakkan hukum
> > kepada siapapun. Kita tunggu aksi polisi atau Ansor. *
> >
> >
> > 03/06/08 19:02
> >
> > Malarangeng: Penanganan Bentrokan di Monas Bukan Pengalihan Isu
> >
> >
> > Jakarta (ANTARA News) - Juru bicara Kepresidenan Andi 
Mallarangeng menolak
> > adanya anggapan respon pemerintah atas insiden bentrokan antar 
organisasi
> > masyarakat di kawasan Monumen Nasional akhir pekan lalu sebagai 
upaya untuk
> > mengalihkan perhatian masyarakat atas masalah kenaikan harga 
bahan bakar
> > minyak belum lama ini.
> >
> > "Yang melakukan kekerasan kan bukan pemerintah. Pemerintah justru 
memberi
> > respons karena menjadi tanggung jawab pemerintah untuk melindungi 
semua
> > warga negara," kata Andi Mallarangen di kompeks Istana 
Kepresidenan Jakarta,
> > Selasa.
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke