Sangat disayangkan jika Ketua Bappenas, Paskah Suzetta, dan ekonom INDEF hanya 
bisa menyarankan kenaikan harga BBM. Padahal demo penolakan harga BBM belum 
selesai.

Sementara di harian Poskota diberitakan seorang penyapu jalanan tewas kelaparan 
karena gajinya yang rp 750 ribu/bulan tidak cukup untuk dibagi dengan 3 anaknya 
dan satu istri. Dia hanya makan sekali sehari dan menahan lapar dengan minum 
air putih.

Paskah Suzetta dan ekonom INDEF mungkn tidak tahu kalau UMR Jakarta hanya Rp 
972 ribu/bulan. Jauh di bawah UMR New York yang US$ 7,15/jam atau Rp 11 
juta/bulan sehingga begitu ngotot ingin menyamakan harga minyak di Indonesia 
dengan di New York. Itu pun banyak buruh/pekerja tidak dapat menikmati upah 
setinggi UMR karena kondisi perusahaannya tidak memungkinkan.

Akibat kenaikan harga BBM nelayan tidak bisa melaut. Listrik sering padam 
sehingga pabrik2 terancam gulung tikar. Menurut pengurus Apindo bisa sampai 7 
jam seminggu. Jika mereka gagal memenuhi produksi ekspor rekanan mereka, maka 
tidak akan ada pembayaran dan order lagi. Karyawannya bisa diPHK.

Jika Ketua Bappenas hanya bisa memikirkan kenaikan harga BBM dan tidak mampu 
memberi masukan bagaimana meningkatkan UMR pekerja, rakyat Indonesia akan 
merana.
http://infoindonesia.wordpress.com

2009, Bappenas Sarankan BBM Naik Bertahap
HARRY SUSILO

Kamis, 5 Juni 2008 | 13:44 WIB
JAKARTA,KAMIS - Tahun depan, perang urat saraf tentang kenaikan harga bahan 
bakar minyak (BBM) bersubsidi mungkin tidak akan sekeras sekarang. Badan 
Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) berniat merekomendasikan kenaikan 
harga BBM secara bertahap.

Kenaikan BBM secara bertahap setiap bulan ini besarnya mulai dari 0,5 persen 
hingga 2 persen. "Agar kenaikan harganya tidak terlalu terasa," kata Sekretaris 
Utama Bappenas Syahrial Loetan, kemarin (4/6).

Seandainya setiap bulan pemerintah menaikkan harga BBM 1 persen, maka di akhir 
tahun pemerintah sudah bisa menaikkan harga BBM 12 persen. Kebijakan tersebut 
akan sangat berguna terutama bila harga minyak mentah dunia tetap menggila.

Pemerintah tentu tidak mudah menaikkan harga BBM bersubsidi secara drastis 
tahun depan, seperti yang terjadi Mei lalu. Maklum, 2009 adalah tahun yang 
sensitif secara politik. "Makanya, tidak akan ada kenaikan harga BBM yang 
signifikan," kata Syarial.

Dengan kebijakan ini, subsidi BBM dan listrik pada tahun depan masih bisa 
bertahan seperti skenario terbaru pemerintah tahun ini setelah menaikkan harga 
BBM bersubsidi 28,7 persen. Yaitu Rp 132,1 triliun untuk subsidi BBM, dan Rp 
68,5 triliun untuk subsidi Listrik.

Selain itu, pada tahun 2009, Bappenas akan menekankan skenario penerapan 
program kartu pintar atau smart card untuk mengendalikan konsumsi BBM 
bersubsidi. Ini adalah solusi untuk menghemat anggaran.

Dengan program smart card, pemerintah akan bisa memangkas konsumsi premium dan 
solar bersubsidi. "Agar masyarakat tidak kaget, pengendalian ini juga dilakukan 
secara bertahap," terang Syahrial.

Saat ini Bappenas masih menyusun pagu indikatif APBN 2009. Salah satu keputusan 
yang telah dihasilkan ialah memangkas dana subsidi untuk non BBM dan non 
listrik sebesar 42,48 persen. Pada APBNP 2008, subsidi ini nilainya mencapai Rp 
47,2 triliun, tetapi pada APBN 2009, turun Rp 19,94 triliun sehingga menjadi Rp 
27,26 triliun.

Pemangkasan tersebut jelas akan menyentuh subsidi pangan seperti kedelai, 
terigu, minyak goreng. Jadi, para penjual tempe dan tahu tahun depan tidak 
bakal menerima subsidi pemerintah lagi.

Pemerintah berani memangkas subsidi pangan karena yakin harga komoditas pangan 
akan stabil tahun depan. Namun Direktur Eksekutif Institute for Development of 
Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika menyangsikan asumsi ini. 
"Tahun depan harga pangan belum akan stabil. Kebijakan itu tidak tepat," kata 
Erani.

Ia menilai kebijakan tersebut akan mempersulit masyarakat yang kini menikmati 
subsidi. "Pemerintah harus punya argumen kuat," katanya. (Sanny Cicilia)


Sumber : KONTAN
http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/05/13442071/2009.bappenas.sarankan.bbm.naik.bertahap


 Penyapu Jalan Tewas Kelaparan          
Rabu 4 Juni 2008, Jam: 8:18:00  
BOGOR (Pos Kota) – Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring kenaikan 
Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang penyapu jalan 
tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6) siang.

Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan 
(DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya makan satu 
kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.


Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat 
jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak malam.

Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya harga 
kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan yang 
hanya Rp750 ribu.

Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa menyisihkan 
dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. “Biaya hidup dengan tiga anak 
sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu sebulan,” kata Neglasari 
saat berada di ruang forensik rumah sakit.

CUMA MINUM AIR PUTIH
Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini mengaku 
untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka makan 
sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk semua, 
ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.

“Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya, 
sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan 
sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya 
minta dari warga,” paparnya.

Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak makan. 
Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga anaknya yang 
mengaku sedang lapar.

Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian 
perutnya.

“Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam,” ujar 
sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta singkong ke 
tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam.
(yopi/ok)
http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=39156&ik=4
===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS

Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252

Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com


      

Kirim email ke