Quote:
"..
Pemerintah berani memangkas subsidi pangan karena yakin harga komoditas
pangan
akan stabil tahun depan. Namun Direktur Eksekutif Institute for Development
of Economics
and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika menyangsikan asumsi ini. "Tahun
depan harga
pangan belum akan stabil. Kebijakan itu tidak tepat," kata Erani.

Ia menilai kebijakan tersebut akan mempersulit masyarakat yang kini
menikmati subsidi.
"Pemerintah harus punya argumen kuat," katanya. (Sanny Cicilia)
.."

Bos, yang saya baca dari artikel di bawah, ekonom INDEF tidak mendukung
keputusan
(sayaa enggan menyebut kebijakan) penguasa RI untuk menaikkan harga BBM..
Saya baru mau menyebut keputusan sebagai kebijakan kalau hal itu membela
kepentingan
dan kemampuan publik/rakyat RI..

Wassalam,

Irwan.K

2008/6/5 A Nizami <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Sangat disayangkan jika Ketua Bappenas, Paskah Suzetta, dan ekonom INDEF
> hanya bisa menyarankan kenaikan harga BBM. Padahal demo penolakan harga BBM
> belum selesai.
>
> Sementara di harian Poskota diberitakan seorang penyapu jalanan tewas
> kelaparan karena gajinya yang rp 750 ribu/bulan tidak cukup untuk dibagi
> dengan 3 anaknya dan satu istri. Dia hanya makan sekali sehari dan menahan
> lapar dengan minum air putih.
>
> Paskah Suzetta dan ekonom INDEF mungkn tidak tahu kalau UMR Jakarta hanya
> Rp 972 ribu/bulan. Jauh di bawah UMR New York yang US$ 7,15/jam atau Rp 11
> juta/bulan sehingga begitu ngotot ingin menyamakan harga minyak di Indonesia
> dengan di New York. Itu pun banyak buruh/pekerja tidak dapat menikmati upah
> setinggi UMR karena kondisi perusahaannya tidak memungkinkan.
>
> Akibat kenaikan harga BBM nelayan tidak bisa melaut. Listrik sering padam
> sehingga pabrik2 terancam gulung tikar. Menurut pengurus Apindo bisa sampai
> 7 jam seminggu. Jika mereka gagal memenuhi produksi ekspor rekanan mereka,
> maka tidak akan ada pembayaran dan order lagi. Karyawannya bisa diPHK.
>
> Jika Ketua Bappenas hanya bisa memikirkan kenaikan harga BBM dan tidak
> mampu memberi masukan bagaimana meningkatkan UMR pekerja, rakyat Indonesia
> akan merana.
> http://infoindonesia.wordpress.com
>
> 2009, Bappenas Sarankan BBM Naik Bertahap
> HARRY SUSILO
>
> Kamis, 5 Juni 2008 | 13:44 WIB
> JAKARTA,KAMIS - Tahun depan, perang urat saraf tentang kenaikan harga bahan
> bakar minyak (BBM) bersubsidi mungkin tidak akan sekeras sekarang. Badan
> Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) berniat merekomendasikan
> kenaikan harga BBM secara bertahap.
>
> Kenaikan BBM secara bertahap setiap bulan ini besarnya mulai dari 0,5
> persen hingga 2 persen. "Agar kenaikan harganya tidak terlalu terasa," kata
> Sekretaris Utama Bappenas Syahrial Loetan, kemarin (4/6).
>
> Seandainya setiap bulan pemerintah menaikkan harga BBM 1 persen, maka di
> akhir tahun pemerintah sudah bisa menaikkan harga BBM 12 persen. Kebijakan
> tersebut akan sangat berguna terutama bila harga minyak mentah dunia tetap
> menggila.
>
> Pemerintah tentu tidak mudah menaikkan harga BBM bersubsidi secara drastis
> tahun depan, seperti yang terjadi Mei lalu. Maklum, 2009 adalah tahun yang
> sensitif secara politik. "Makanya, tidak akan ada kenaikan harga BBM yang
> signifikan," kata Syarial.
>
> Dengan kebijakan ini, subsidi BBM dan listrik pada tahun depan masih bisa
> bertahan seperti skenario terbaru pemerintah tahun ini setelah menaikkan
> harga BBM bersubsidi 28,7 persen. Yaitu Rp 132,1 triliun untuk subsidi BBM,
> dan Rp 68,5 triliun untuk subsidi Listrik.
>
> Selain itu, pada tahun 2009, Bappenas akan menekankan skenario penerapan
> program kartu pintar atau smart card untuk mengendalikan konsumsi BBM
> bersubsidi. Ini adalah solusi untuk menghemat anggaran.
>
> Dengan program smart card, pemerintah akan bisa memangkas konsumsi premium
> dan solar bersubsidi. "Agar masyarakat tidak kaget, pengendalian ini juga
> dilakukan secara bertahap," terang Syahrial.
>
> Saat ini Bappenas masih menyusun pagu indikatif APBN 2009. Salah satu
> keputusan yang telah dihasilkan ialah memangkas dana subsidi untuk non BBM
> dan non listrik sebesar 42,48 persen. Pada APBNP 2008, subsidi ini nilainya
> mencapai Rp 47,2 triliun, tetapi pada APBN 2009, turun Rp 19,94 triliun
> sehingga menjadi Rp 27,26 triliun.
>
> Pemangkasan tersebut jelas akan menyentuh subsidi pangan seperti kedelai,
> terigu, minyak goreng. Jadi, para penjual tempe dan tahu tahun depan tidak
> bakal menerima subsidi pemerintah lagi.
>
> Pemerintah berani memangkas subsidi pangan karena yakin harga komoditas
> pangan akan stabil tahun depan. Namun Direktur Eksekutif Institute for
> Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika
> menyangsikan asumsi ini. "Tahun depan harga pangan belum akan stabil.
> Kebijakan itu tidak tepat," kata Erani.
>
> Ia menilai kebijakan tersebut akan mempersulit masyarakat yang kini
> menikmati subsidi. "Pemerintah harus punya argumen kuat," katanya. (Sanny
> Cicilia)
>
> Sumber : KONTAN
>
> http://www.kompas.com/read/xml/2008/06/05/13442071/2009.bappenas.sarankan.bbm.naik.bertahap
>
> Penyapu Jalan Tewas Kelaparan
> Rabu 4 Juni 2008, Jam: 8:18:00
> BOGOR (Pos Kota) – Harga kebutuhan pokok yang terus merangkak seiring
> kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) memunculkan beragam kisah pilu. Seorang
> penyapu jalan tewas di pinggir jalan Sukasari, Bogor Timur, Selasa (3/6)
> siang.
>
> Diduga, Adin, 46, petugas kebersihan pada Dinas Lingkungan Hidup dan
> Kebersihan (DLHK) Kota Bogor, itu meninggal dunia karena kelaparan. Ia hanya
> makan satu kali sehari karena harus berbagi dengan ketiga anaknya.
>
> Sebagaimana dituturkan Neglasari, 40, istri Adin, di RSUD PMI Bogor tempat
> jasad sang suami diotopsi, korban meninggal akibat menahan lapar sejak
> malam.
>
> Menurut Neglasari sejak kenaikan BBM yang dibarengi dengan melonjaknya
> harga kebutuhan pokok, ia dan suaminya kelabakan mengatur pendapatan bulanan
> yang hanya Rp750 ribu.
>
> Jumlah yang sangat minim ini harus diatur sehemat mungkin agar bisa
> menyisihkan dana untuk biaya sekolah dua dari tiga anaknya. "Biaya hidup
> dengan tiga anak sangat tidak mencukupi dengan gaji hanya Rp750 ribu
> sebulan," kata Neglasari saat berada di ruang forensik rumah sakit.
>
> CUMA MINUM AIR PUTIH
> Warga Kampung Cibitung RT 02/07, Desa Tenjolaya, Kabupaten Bogor, ini
> mengaku untuk bisa bertahan hingga gajian bulan berikutnya, terkadang mereka
> makan sehari sekali. Bahkan jika makanan yang tersedia tidak mencukupi untuk
> semua, ia dan suaminya terpaksa cuma minum air putih.
>
> "Dengan gaji suami, kami bisa bertahan hingga dua minggu lebih. Selebihnya,
> sudah morat-marit. Untuk bertahan agar anak-anak tidak kelaparan, kami makan
> sehari sekali. Kadang diselipkan dengan rebus singkong dan daunnya yang saya
> minta dari warga," paparnya.
>
> Kepergian sang suami, diakui ibu tiga anak ini, akibat sejak malam tidak
> makan. Menu yang seharusnya untuk sang suami, terpaksa dibagikan ke tiga
> anaknya yang mengaku sedang lapar.
>
> Bahkan sebelum berangkat kerja, korban sempat mengeluh sakit pada bagian
> perutnya.
>
> "Saya pikir sakit biasa. Rupanya sakit itu, pertanda lapar sejak malam,"
> ujar sang istri sambil menambahkan dirinya tidak sempat keluar minta
> singkong ke tetangga untuk makan suami karena waktu sudah malam.
> (yopi/ok)
> http://www.poskota.co.id/news_baca.asp?id=39156&ik=4
>


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke