ya ente jgn subyektif, kalo cm menonton bilang kekerasan jgn didramatisasi, tp 
coba ente atau saudara ente benjol, gigi pada rontok gara2 segerombolan orang 
berjubah kelakuan demit, pasti ente marah.

jd jgn subyektif, disinilah peran negara hukum, menjamin semua org setara, gak 
boleh main hakim sendiri, apalagi menyakiti sesama.


----- Original Message ----
From: sipitung68 <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Thursday, June 5, 2008 14:29:32
Subject: [ppiindia] Kasus Monas Jangan Didramatisasi 


terlalu byk ntn sinetron, membuat akal menjadi beku. Semua hal
didramatsir, biasalah ajalah. Demo berakhir pentung-pentungan itu siy
biasa, lagipula ga ada yg tewas khan? toh ada polisi yg berwenang
menjaga. Serahkan saja kpd aparat penegak hukum, kan negara ini negara
hukum. 
Mungkin masyarakat kita memang belum dewasa dlm berdemokrasi, yah
semua khan butuh proses..sabar aja, bagi yg babak belur anggap aja itu
sbuah pengalaman.

Kasus Monas Jangan Didramatisasi 
Kamis, 05 Juni 2008

Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), Khairul Anam,
menyatakan kasus Monas tidak perlu didramatisasi. Ia meminta semua
pihak mengritisi AKKBB 

Hidayatullah. com--Ketua Umum Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU),
Khairul Anam, menyatakan kasus Monas sebaiknya tidak perlu
didramatisasi apalagi diwacanakan bakal terjadi konflik horizontal.

"Sekarang kan sudah ditangani polisi, ya sudah. Kita berharap hukum
ditegakkan, siapa yang melakukan kekerasan ditindak," kata Anam di
Jakarta, Rabu.

Front Pembela Islam (FPI), kata Anam, sudah menyerahkan diri dan ia
berharap pimpinan FPI Habib Rizieq Shihab berlapang dada dan mau
bertanggung jawab.

"Saya berharap FPI menjelaskan peristiwa itu apa adanya, mengapa
mereka sampai melakukan penyerangan, apa benar ada provokasi seperti
yang mereka sebutkan," katanya.

Terkait kasus Monas, kata Anam, semestinya tidak hanya melihat satu
sisi. Aksi Aliansi Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan
Berkeyakinan (AKKBB) juga perlu dikritisi.

"Kita tidak boleh melihat hanya satu sisi. AKKBB juga harus dikritisi.
Semua orang tahu di Indonesia bebas beragama dan menjalankan
keyakinan, tetapi mengapa mereka ramai-ramai ke Monas membawa-bawa
anak kecil. Apa maksudnya?" kata Anam.

Jika AKKBB menilai Ahmadiyah tidak bebas menjalankan agama dan
keyakinannya, kata Anam, itu salah besar karena kasus Ahmadiyah bukan
persoalan kebebasan beragama, melainkan penistaan terhadap salah satu
agama, yakni Islam.

"Kalau Ahmadiyah itu kasusnya penodaan agama. Mereka mengaku Islam
tetapi tidak mengakui Nabi Muhammad sebagai nabinya. Kalau maunya
begitu ya jangan mengaku-ngaku sebagai Islam," katanya.

Satu hal lagi, kata Anam, kabarnya polisi sudah melarang AKKBB
melakukan aksi pada Minggu (1/6) di Monas karena pada saat yang sama
FPI juga sedang menggelar aksi sehingga dikhawatirkan akan terjadi
bentrokan.

"Nyatanya AKKBB tetap melakukan demo di Monas," katanya.

Anam mengingatkan agar warga NU tidak provokasi terkait kasus Monas
dan melakukan tindakan-tindakan yang merugikan.

"Jangan terpancing. Ansor jangan mau diprovokasi karena kita nanti
justru menjadi tontonan. Serahkan saja pada yang berwajib," kata
penasihat Gerakan Pemuda Ansor Jatim tersebut.

Ditanya apakah PKNU setuju FPI dibubarkan sebagaimana yang dituntut
sejumlah kalangan, Anam menyatakan, hal itu sepenuhnya merupakan
urusan Pemerintah.

"Itu urusan Pemerintah. Tetapi tentunya Pemerintah juga harus
menyelesaikan akar persoalan yang membuat organisasi semacam FPI
muncul ke permukaan," katanya.[ant/ www.hidayatullah .com]

    

Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke