oleh karena itu mas, umat muslim yg msh sayang & peduli  dg nabinya
dan peduli dg agamanya wajib membela diri. Sebenarnya orang-orang yg
membela ahmadiyah ini hanya segelintir, krn didukung DANA dan MEDIA
seolah-olah mereka BESAR & BANYAK. Saatnya muslim melawan, melalui
tulisan2, artikel2, gunakan cara-cara yg santun, krn ISLAM mengajarkan
cara-cara demikian. Jika mereka menggunakan kekerasan yah malah
kebenaran, knp ga dari dulu siy?! hehe..
Lucu memang..agamanya diinjak-injak, nabinya dihina, difitnah tp tdk
melakukan aksi apapun, cuma diem aja, tp mendengar tokoh pujaannya
dihina malah ngamux, aneh bukan? 
memangnya tokoh pujaannya tsb bisa memberikan SYAFAAT di akhirat nanti?!
ya ampyun...

--- In [email protected], iwan hermawan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> 
> Kenapa sejak kasus monas, semua ormas dari semua elemen berdoyong2
melakukan suiping,,?kenpa sebelumnya mereka tidak berani melakukan
itu,kalo memang tidak suka sama FPI..?apakah mereka ingin cari
popularitas saja.?Menurut saya mereka semua salah kaprah..? dgn kasus
monas itu dan media masa juga terlalu berat sebelah,dgn menonjolkan
berita pemukukan saja tanpa mau mencari tau sumber dan sebab kenapa
FPI menyerang?.Sudah jelas awalnya juga FPI mendemo kenaikan BBM.Gak
mungkin FPI menyerang tanpa sebab.FPI selama ini sudah bersabar
menunggu keputusan pemerintah mengenai ahmadiah.Harusnya ormas2 itu
tidak melakukan suiping pembubaran FPI,itu sama saja anarkisnya.Mereka
tidak mengerti kalo sedang di adudomba kali yaaa.Seharusnya mereka
ikut mendukung menyuarakan pembubaran ahmadiah karna sudah menodai
agama mereka(islam).herannnnn dech
> &nbsp;
> wasalam 
> Iwan
> oo.com&gt; wrote:
> 
> From: mediacare [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [ppiindia] Re: Strategi Rand Corp Adu Domba Umat Islam?
(Insiden Monas)
> To: [email protected], [EMAIL PROTECTED], "Syiar
Islam" [EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED], "AJI
INDONESIA" [EMAIL PROTECTED], "news Trans TV"
[EMAIL PROTECTED], "kampus tiga"
[EMAIL PROTECTED], "HMI Kahmi Pro Network"
[EMAIL PROTECTED], "Etalase Indonesia"
[EMAIL PROTECTED], "Forum Kompas"
[EMAIL PROTECTED], "jurnalisme"
[EMAIL PROTECTED], "Kincir Angin"
[EMAIL PROTECTED], "Komnas HAM 2"
[EMAIL PROTECTED], [EMAIL PROTECTED]
> Date: Friday, June 6, 2008, 10:49 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Ini sungguh lelucon yang tidak lucu. Umat Islam itu bukan domba, kok
diadu?
> 
> Kenapa tidak sekalian pakai istilah adu onta saja?
> 
> Dan kenyataannya, tanpa diadu pun antar umat Islam sudah dari
sononya suka berantem satu sama lain sekadar memperebutkan tempat
duduk agar lebih dekat dengan kursinya Allah.
> 
> 
> wass,
> 
> radityo
> 
> 
> Satrio Arismunandar &lt;satrioarismunandar@ yahoo.com&gt; wrote:
> Kiriman dari teman..
> 
> ------------ ---------
> 
> (CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS ,RESOURCES, AND STRATEGIES; Cheryl
Benard)
> 
> Adanya politik adu domba di balik insiden Monas semakin menguat.
Pernyataan Ketua Umum PBNU
> Hasyim Muzadi mengingatkan pihak-pihak tertentu untuk tidak melibatkan
> NU menyusul insiden Monas 1 Juni. "NU akan memberikan sanksi kepada
> siapa pun yang melakukan provokasi," tegasnya.
> 
> Hasyim menyesalkan penggunaan dan pelibatan nama NU dan kelompok NU
dalam masalah ini. "Karena
> relevansinya tidak ada antara NU dan Monas, NU dan FPI. Tapi, kenapa
> lalu ditulis korban itu adalah orang NU?" ujar Ketua PBNU Hasyim Muzadi
> dalam pernyataan tertulis pada detikcom, Selasa (3/6/2008).
> 
> KH
> Hasyim Muzadi juga mengingatkan pelibatan orang-orang NU yang
> menjadikan NU sebagai pihak yang juga terlibat dalam bentrok fisik itu.
> "Ini tidak boleh terjadi dan harus dicegah. Bentrok fisik sangat
> merugikan. Kita ingin menyelesaikan masalah Monas, bukan memperluas
> masalah itu," tegasnya.
> 
> Upaya
> mengadu domba antara NU dan ormas Islam lain seperti FPI memang sangat
> terasa. Tampak dari reaksi warga NU diberbagai daerah yang mendatangi
> markas FPI. Konflik horizontal pun dikhawatirkan meluas di
> daerah-daerah.
> 
> Tidak
> hanya itu , perluasan insiden Monas juga tampak dari upaya membangun
> opini seakan-akan lasyar Islam menyerang kelompok memperingati hari
kesaktian Pancasila.
> Serangan ini dianggap ancaman terhadap Pancasila, ideologi negara, dan
> pada gilirannya dianggap merupakan ancaman terhadap negara.
> 
> Upaya
> adu domba yang konflik horisontal ini tidak bisa dilepaskan dari
> grand-strategi negara-negara Imperialis untuk menghancurkan umat Islam
> dan kekuatan Islam. Untuk itu, negara-negara Imperialis seperti AS
> memanfaatkan LSM-LSM komprador yang menjadi kaki tangannya untuk
> memprovokasi konflik.
> 
> Campur tangan asing tampak dari kecaman kedubes AS terhadap insiden
Monas. Kedubes
> AS di Indonesia mengeluarkan siaran pers yang mengutuk aksi kekerasan
> oleh FPI. AS menilai, aksi itu berdampak serius bagi kebebasan beragama
> dan dapat menimbulkan masalah keamanan. Namun, pernyataan Kedubes AS
> itu dinilai anggota Fraksi PKS di DPR, Soeripto, sebagai bentuk campur
> tangan AS dalam masalah dalam negeri. "Itu tidak etis. Bahasa
kasarnya intervensi. Seakan-akan pemerintah kita yang lemah," katanya. 
> 
> Grands
> strategi ini bisa terlihat dengan jelas dari rekomendasi Rand
> Corporation yang merupakan think-thank neo-conservative AS yang banyak
> mendukung kebijakan Gedung Putih. Dalam rekomendasi Cheryl Benard dari
> Rand Corporation yang berjudul CIVIL DEMOCRATIC SILAM , PARTERS
> ,RESOURCES, AND STRATEGIES) secara detik diungkap upaya untuk memecah
> belah umat Islam. 
> 
> STRATEGI : PECAH BELAH KELOMPOK ISLAM 
> 
> Langkah
> pertama melakukan klasifikasi terhadap umat Islam berdasarkan
> kecendrungan dan sikap politik mereka terhadap Barat dan nilai-nilai
Demokrasi.
> 
> Pertama : Kelompok Fundamentalis
> : menolak nilai-nilai demokrasi dan kebudayaan Barat kontemporer.
> Mereka menginginkan sebuah negara otoriter yang puritan yang akan dapat
> menerapkan Hukum Islam yang ekstrem dan moralitas. Mereka bersedia
> memakai penemuan dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka.
> 
> Kedua : Kelompok Tradisionalis: ingin suatu masyarakat yang
konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.
> 
> Ketiga : Kelompok Modernis : ingin
> Dunia Islam menjadi bagian modernitas global. Mereka ingin memodernkan
> dan mereformasi Islam dan menyesuaikannya dengan zaman.
> 
> Keempat : Kelompok Sekularis
> : ingin Dunia Islam untuk dapat menerima pemisahan antara agama dan
> negaradengan cara seperti yang dilakukan negara-negara demokrasi
> industri Barat, dengan agama dibatasi pada lingkup pribadi.
> 
> STRATEGI BELAH BAMBU DAN ADU DOMBA
> 
> Setelah
> membagi-bagi umat Islam atas empat kelompok itu, langkah berikutnya
> yang penting yang direkomendasi Rand Corporation adalah politik belah
> bambu. Mendukung satu pihak dan menjatuhkan pihak lain, berikutnya
> membentrokkan antar kelompok tersebut. Upaya itu tampak jelas dari
> upaya membentrokkan antara NU yang dikenal tradisionalis dengan ormas
> Islam yang Barat sering disebut Fundamentalis seperti FPI, HTI, atau
> MMI dsb.
> 
> Hal ini dirancang sangat detil. Berikut langkah-langkahnya : 
> 
> Pertama : Support the modernists first (mendukung kelompok Modernis) 
> 
> · 
> Menerbitkan dan mengedarkan karya-karya mereka dengan biaya yang
disubsidi. 
> 
> · 
> Mendorong mereka untuk menulis bagi audiens massa dan bagi kaum muda. 
> 
> · 
> Memperkenalkan pandangan-pandangan mereka dalam kurikulum pendidikan
Islam. 
> 
> · 
> Memberikan mereka suatu platform publik 
> 
> · 
> Menyediakan
> bagi mereka opini dan penilaian pada pertanyaan-pertanya an yang
> fundamental dari interpretasi agama bagi audiensi massa dalam
> persaingan mereka dengan kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang
> memiliki Web sites, dengan menerbitkan dan menyebarkan
> pandangan-pandangan mereka dari rumah-rumah, sekolah-sekolah,
> lembaga-lembaga, dan sarana yang lainnya. 
> 
> · 
> Memposisikan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan
"counterculture" bagi kaum muda Islam yang tidak puas. 
> 
> · 
> Memfasilitasi
> dan mendorong kesadaran akan sejarah pra-Islam dan non-Islam dan
> budayannya, di media dan di kurikulum dari negara-negara yang relevan. 
> 
> · 
> Membantu dalam membangun organisasi-organisa si sipil yang
independent, untuk 
> 
> · 
> Mempromosikan
> kebudayaan sipil (civic culture) dan memberikan ruang bagi rakyat biasa
> untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses politik dan
> mengutarakan pandangan-pandangan mereka.
> 
> Kedua, Support the traditionalists against the fundamentalists:
Mendukung kaum tradisionalis dalam menentang kaum fundamentalis.
Langkah-langkah yang dilakukan antara lain : 
> 
> · 
> Menerbitkan
> kritik-kritik kaum tradisionalis atas kekerasan dan ekstrimisme yang
> dilakukan kaum fundamentalis; mendorong perbedaan antara kaum
> tradisionalis dan fundamentalis. 
> 
> · 
> Mencegah aliansi antara kaum tradisionalis dan kaum fundamentalis. 
> 
> · 
> Mendorong kerja sama antara kaum modernis dan kaum tradisionalis
yang lebih dekat dengan 
> 
> · 
> Kaum modernis. 
> 
> · 
> Jika memungkinkan, didik kaum tradisionalis untuk mempersiapkan diri
mereka 
> 
> · 
> untuk mampu melakukan debat dengan kaum fundamentalis. Kaum
fundamentalis 
> 
> · 
> secara
> retorika seringkali lebih superior, sementara kaum tradisionalis
> melakukan praktek politik „Islam pinggiran" yang kabur . Di
> tempat-tempat seperti di Asia Tengah, mereka mungkin perlu untuk
> dididik dan dilatih dalam Islam ortodoks untuk mampu mempertahankan
pandangan mereka. 
> 
> · 
> Menambah kehadiran dan profil kaum modernis pada lembaga-lembaga
tradisionalis. 
> 
> · 
> Melakukan
> diskriminasi antara sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda.
> Mendorong orang-orang dengan ketertarikan yang lebih besar atas
> modernisme, seperti pada Mazhab Hanafi, lawan yang lainnya. Mendorong
> mereka untuk membuat isu opini-opini agama dan mempopulerkan hal itu
> untuk memperlemah otoritas dari penguasa yang terinspirasi oleh paham
> Wahhabi yang terbelakang. Hal ini berkaitan dengan pendanaan. Uang
> dari Wahhabi diberikan untuk mendukung Mazhab Hambali yang konservatif.
> Hal ini juga berkaitan dengan pengetahuan. Bagian dari Dunia Islam yang
> lebih terbelakang tidak sadar akan kemajuan penerapan dan tafsir dari
> Hukum Islam. 
> 
> · 
> Mendorong popularitas dan penerimaan atas Sufisme
> 
> Ketiga, Confront and oppose the fundamentalists: Mengkonfrontir dan
menentang kaum fundamentalis. Langkah-langkahnya antara lain : 
> 
> · 
> Menentang tafsir mereka atas Islam dan menunjukkan ketidak akuratannya. 
> 
> · 
> Mengungkap keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan
aktivitas-aktiviats illegal. 
> 
> · 
> Mengumumkan konsekuensi dari tindakan kekerasan yang mereka lakukan. 
> 
> · 
> Menunjukkan
> ketidak mampuan mereka untuk memerintah, untuk mendapatkan perkembangan
> positif atas negara-negara mereka dan komunitas-komunitas mereka. 
> 
> · 
> Mengamanatkan
> pesan-pesan ini kepada kaum muda, masyarakat tradisionalis yang alim,
> kepada minoritas kaum muslimin di Barat, dan kepada wanita. 
> 
> · 
> Mencegah
> menunjukkan rasa hormat dan pujian akan perbuatan kekerasan dari kaum
> Fundamentalis, ekstrimis dan teroris. Kucilkan mereka sebagai
> pengganggu dan pengecut, bukan sebagai pahlawan. 
> 
> · 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
> ------------ --------- --------- ------
> 
> ************ ********* ********* ********* ********* *********
********* *********
> Berdikusi dg Santun &amp; Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju
Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality &amp; Shared Destiny.
http://groups. yahoo.com/ group/ppiindia
> ************ ********* ********* ********* ********* *********
********* *********
> ____________ _________ _________ _________ _________ _________ _
> Mohon Perhatian:
> 
> 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg
otokritik)
> 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
> 3. Reading only, http://ppi-india. blogspot. com 
> 4. Satu email perhari: ppiindia-digest@ yahoogroups. com
> 5. No-email/web only: ppiindia-nomail@ yahoogroups. com
> 6. kembali menerima email: ppiindia-normal@ yahoogroups. com
> Yahoo! Groups Links
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
> 
>  
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke