Assalamu¢alaikum
ww. Salam
sejahtera. Om Swastyastu. Amitabha. 

Rekans YTH, perkenankan saya nimbrung nih. Dalam menyikapi polemik Ahmadiyah,
menurut pandangan saya seyogyanya dilakukan dengan cara-cara yang baik,
bijak dan menyejukkan, antara lain melalui dialog intens dan persuasi
yang santun, cerdas, dan terhormat (elegance). Apalagi mereka
(Saudara-saudara kita yang meyakini ajaran Ahmadiyah) tidaklah
melakukan provokasi atau tindak kekerasan kepada kita (umat Islam yang
lain). Sepanjang sejarah Republik ini toh para ulama sepuh tidak pernah
mempersoalkannya, kita hidup dengan rukun, sejuk, aman dan damai.
Seyogyanya MUI sebagai lembaga keulamaan tertinggi mengutamakan
pendekatan yang lebih bijaksana dan mencerahkan, bukan yang meresahkan
dan memicu tindakan2 anarkis. Lebih menyedihkan lagi ketika MUI meminta
umat Islam Indonesia mendukung FPI dengan alasan karena tindakan2nya
adalah untuk membela syariat Islam.

Coba kita simak hadits Kanjeng Nabi berikut: Seorang mukmin bukanlah pengumpat 
dan yang suka mengutuk,
yang keji dan yang ucapannya kotor. (HR. Bukhari). Lalu,ketika kepada Rasulullah
SAW disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik, beliau menjawab:
"Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku
diutus sebagai (pembawa) rahmat." (HR.
Bukhari dan Muslim). Bukankah kedua hadits ini juga bagian dari
syariat? Coba kita simak pula sebuah risalah di bawah ini (dari milis
tetangga) yang menguraikan tentang tindakan Kanjeng Nabi dalam
menghadapi kekejaman dan kekasaran kaum kafir dan musuh2 beliau:

Rasulullah adalah
orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki
segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang
sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat,
beliau bersabda, Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada
semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang
sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku.

Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya
berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya
dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji.

Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan
dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu
tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi
penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus
mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan
batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran
darah.

Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang
dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sanabeliau
berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang
dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk
menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya
berkata, Allah mengetahui apa yang telah terjadi
padamu dan orang-orang
ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati
perintahmu. Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat
itu kepada Rasulullah Saw.

Kata
malaikat itu, Wahai Rasulullah, kami siap untuk
menjalankan perintah
tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu
berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan
mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap
melaksanakannya.

Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih
sayangnya berkata,
Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap
dengan kehendak
Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan
beribadah kepada-Nya.

Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang
pernah menyiksanya,
Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan
kulakukan terhadapmu?
Mereka menangis dan berkata, Engkau adalah saudara yang mulia, putra
saudara yang mulia.
Nabi Saw. bersabda, Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang
dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian. (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu
Hibban, dan Syafi'i).

Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan
membawa semua
anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib
Ra. bertanya kepadanya,
Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu?
Ia menjawab, Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan
anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian.

Ali bertanya, Mengapa kamu lakukan itu? Ia menjawab, Jika Muhammad
menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi
potongan-potongan kecil.

Ali berkata, Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan
mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah
dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf,
¦.Demi Allah, sesungguhnya Allah telah
melebihkan kamu atas kami dan
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(QS. Yusuf
[12]: 91).

Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya,
lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah,
...Demi Allah, sesungguhnya Allah telah
melebihkan engkau atas kami dan
sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf
[12]: 91).

Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya
membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah
menjawab dengan menyitir firman-Nya,
Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan
Allah
mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang.
(QS. Yusuf [12]: 92).

Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi SAW., bahwa
beliau mendirikan shalat
malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi,
yaitu,
Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba
Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118).
 
Untuk kasus di Indonesia, tepatnya Jawa, contoh nyata tindakan
bijaksana dalam menyikapi masalah2 aqidah dan keagamaan adalah apa yang
diteladankan oleh WALI SONGO. Beliau2 menggunakan langkah-langkah
cerdas, lemah-lembut dan bijaksana, bukan dengan peperangan atau
tindakan bengis lainnya, yaitu melalui media dakwah berupa hiburan
(entertaintment) "pagelaran wayang" yang notabene cerita2nya adalah
adaptasi dari epos MAHABHARATA yang merupakan salah satu kitab suci
agama HINDU. Saya khawatir bila pemanfaatan media dakwah semacam ini di
jaman sekarang jangan2 oleh MUI akan dicap SYIRIK bin HARAM. Kita
sampai kini masih merasakan bagaimana ajaran2 Islam tersebut kemudian
terinternalisasi ke dalam budaya Jawa dan menjadi landasan nilai-nilai
luhur (akhlaqul-karimah) masyarakat Jawa. 

Contoh lainnya adalah
penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus bahkan masih menolerir agar
masyarakat tidak menyembelih sapi yang merupakan salah satu binatang
suci agama Hindu (sapi dianggap pengejawantahan LEMBU ANDINI,
tunggangan SYIWA or BETHORO GURU) dan hal ini masih berlaku sampai
terakhir saya mukim di Kudus (tahun 1972). Entah sekarang. Kita juga
masih menyaksikan bahwa menara (minaret) dan sebagian bangunan masjid
Kudus masih kuat dipengaruhi
oleh gaya arsitektur Hindu sehingga mirip bangunan CANDI. Saya jadi
miris, jangan2 di suatu saat nanti bangunan ini juga akan dianggap
HARAM dan diratakan dengan tanah. Astahgfirullah al'adzim.
Na'udzubillahi min dzalik.

Saya teringat salah satu ajaran WALI
SONGO dalam pewayangan: SURO-DIRO JOYO NING RAT LEBUR DENING
PANGASTUTI. Terjemahan bebasnya kira2 demikian: ANGKARA-MURKA/
KEBENGISAN/ KESESATAN YANG MERAJA-LELA DI MUKA BUMI PASTI AKAN
MUSNAH/LEBUR OLEH KEBAJIKAN/KELEMAH-LEMBUTAN.

Jadi,
mari kita menghadapi kedzaliman (apalagi mengajak kepada kebaikan)
dengan cara-cara yang baik dan terpuji sebagaimana diteladankan oleh Kanjeng 
Nabi, para sahabat dan para auliya (wali). Insya-Allah
lawan-lawan kita
(apalagi Ahmadiyah bukan "musuh" kita) dan masyarakat luas akan
tersentuh kalbunya dan berbalik mendukung pandangan kita.
Amin.

Salam takzim,
Sidqy L.P. Suyitno


      

[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke