wa'alaikum uraian yg bagus tp kurang lengkap, kisah di bawah lebih berhubungan/kontak dg orang awam yg akan didakwahi, mereka orang yg belum tahu makanya diberi tahu. Sedangkan pemimpin2 mereka, yaitu orang yg menghalangi2 orang lain kembali ke jalan Allah, orang yg menghasut, pasti diperangi dan dlm peperangan mereka dibunuh/ditawan, kecuali yg bertobat.
Khusus mengenai nabi PALSU, fenomena ini sebenarnya sdh terjadi sejak jaman Nabi. siapapun yg mendakwa dirinya nabi palsu maka mereka adalah pendusta, siapapun yg membenarkan nabi palsu tsb maka mereka adalah pendusta. Dalam kitabnya Al Sunan (Kitab Al Jihad, Bab Ar Rusul hadits no, 2380) Abu Daud meriwayatkan demikian : Dari Abdullah bin Mas'ud, Rasulullah Saw berkata pada dua utusan Musailamah, "Apa yang kalian katakan (tentang Musailamah)? Mereka menjawab, "Kami menerima pengakuannya (sebagai nabi)". Rasulullah Saw mengatakan pada mereka, "Kalau bukan karena utusan-utusan tidak boleh dibunuh, sungguh aku akan memenggal leher kalian berdua". Arti "memenggal leher kalian berdua" adalah terjemahan dari lafadz Arabnya, "la-dharabtu a'naaqa-kuma". Lafadz ini diceritakan juga oleh Ahmad (hadits no. 15420), Al Hakim (2: 155 no. 2632). Ahmad (hadits no. 15420) melaporkan melalui Abdullah bin Mas'ud dengan lafadz "la-qataltu-kumaa", "aku pasti membunuh kalian berdua". Versi hadits ini diceritakan kembali oleh kitab-kitab sejarah seperti Al Thabari (Tarikh Al Thabari, Juz 3 Bab Masir Khalid bin Walid) dan Ibnu Katsir (Al Bidayah wa Al Nihayah, Dar Ihya' Al Turats Al Arabi , tt, Juz 6, hal: 5). Riwayat-riwayat ini menampilkan ketegasan Rasulullah saw. terhadap orang yang mengakui kenabian Musailamah bahwa beliau akan membunuh atau memenggal leher mereka. Dua utusan ini tidak jadi dihukum karena posisi mereka sebagai utusan yang dijamin keamannya. Abu Daud (hadits no. 2381), Al Nasa'i (Al Sunan Al Kubra, 2: 205) dan Al Darimi (Kitab Al Siyar, hadits no. 2391) menceritakan kesaksian Haritsah bin Al Mudharib dan Ibn Mu'ayyiz yang mendapati sekelompok orang dipimpin Ibn Nuwahah di sebuah masjid perkampungan Bani Hanifah, ternyata masih beriman pada Musailamah. Setelah kejadian ini dilaporkan pada Ibn Mas'ud, beliau berkata pada Ibn Nuwahah (tokoh kelompok tersebut), "Aku mendengar Rasulullah saw. dulu bersabda "Kalau engkau bukan utusan, pasti aku akan penggal kamu", nah, sekarang ini engkau bukanlah seorang utusan". Maka Ibn Mas'ud menyuruh Quradhah bin Kaab untuk memenggal leher Ibn Nuwahah. Ibn Mas'ud berkata, "Siapa yang ingin melihat Ibn Nuwahah mati, maka lihatlah ia di pasar". Masjid mereka itupun akhirnya turut dirobohkan(ringkasan dari versi aslinya yang agak panjang). Riwayat ini, tak dapat disangkal lagi menjelaskan cara yang benar dalam menafsirkan hadits Rasulullah saw., bahwa para pengiman nabi palsu sebagaimana telah disepakati para ulama seharusnya dihukum mati. Penafsiran ini bukan hanya dijelaskan oleh Ibn Mas'ud yang menjadi saksi pertemuan Nabi saw. dengan utusan Musailamah, bahkan beliau mempraktikkan atau mencontohkan tuntunan Rasulullah saw. sendiri dengan menyuruh orang memenggal leher Ibn Nuwahah dan menghancurkan masjid mereka. Masalah AKIDAH, penegakkan hukum2 Allah, nabi SAW sangatlah tegas, bahkan beliau saw rela memotong tangan anaknya sendiri jika terbukti mencuri. sekian & terimakasih --- In [email protected], sidqy suyitno <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Assalamu¢alaikum > ww. Salam > sejahtera. Om Swastyastu. Amitabha. > > Rekans YTH, perkenankan saya nimbrung nih. Dalam menyikapi polemik Ahmadiyah, > menurut pandangan saya seyogyanya dilakukan dengan cara-cara yang baik, > bijak dan menyejukkan, antara lain melalui dialog intens dan persuasi > yang santun, cerdas, dan terhormat (elegance). Apalagi mereka > (Saudara-saudara kita yang meyakini ajaran Ahmadiyah) tidaklah > melakukan provokasi atau tindak kekerasan kepada kita (umat Islam yang > lain). Sepanjang sejarah Republik ini toh para ulama sepuh tidak pernah > mempersoalkannya, kita hidup dengan rukun, sejuk, aman dan damai. > Seyogyanya MUI sebagai lembaga keulamaan tertinggi mengutamakan > pendekatan yang lebih bijaksana dan mencerahkan, bukan yang meresahkan > dan memicu tindakan2 anarkis. Lebih menyedihkan lagi ketika MUI meminta > umat Islam Indonesia mendukung FPI dengan alasan karena tindakan2nya > adalah untuk membela syariat Islam. > > Coba kita simak hadits Kanjeng Nabi berikut: Seorang mukmin bukanlah pengumpat dan yang suka mengutuk, > yang keji dan yang ucapannya kotor. (HR. Bukhari). Lalu,ketika kepada Rasulullah > SAW disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik, beliau menjawab: > "Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku > diutus sebagai (pembawa) rahmat." (HR. > Bukhari dan Muslim). Bukankah kedua hadits ini juga bagian dari > syariat? Coba kita simak pula sebuah risalah di bawah ini (dari milis > tetangga) yang menguraikan tentang tindakan Kanjeng Nabi dalam > menghadapi kekejaman dan kekasaran kaum kafir dan musuh2 beliau: > > Rasulullah adalah > orang yang paling rendah hati, meskipun dia memiliki > segala kebajikan dan keutamaan orang-orang dahulu kala dan orang-orang > sekarang, dia seperti sebuah pohon yang berbuah. Menurut sebuah riwayat, > beliau bersabda, Aku diperintahkan untuk menunjukkan perhatian kepada > semua manusia, untuk bersikap baik hati kepada mereka. Tidak ada Nabi yang > sedemikian diperlakukan dengan sewenang-wenang oleh manusia selain aku. > > Kita tahu bahwa beliau dilukai kepalanya, ditanggalkan giginya, lututnya > berdarah karena lemparan batu, tubuhnya dilumuri kotoran, rumahnya > dilempari kotoran ternak. Beliau di hina, dan di siksa dengan keji. > > Saat beliau berdakwah di Thaif, tak ada yang didapatkannya kecuali hinaan > dan pengusiran yang keji. Ketika Rasulullah menyadari usaha dakwahnya itu > tidak berhasil, beliau memutuskan untuk meninggalkan Thaif. Tetapi > penduduk Thaif tidak membiarkan beliau keluar dengan aman, mereka terus > mengganggunya dengan melempari batu dan kata-kata penuh ejekan. Lemparan > batu yang mengenai Nabi demikian hebat, sehingga tubuh beliau berlumuran > darah. > > Dalam perjalanan pulang, Rasulullah Saw. menjumpai suatu tempat yang > dirasa aman dari gangguan orang-orang jahat tersebut. Di sanabeliau > berdoa begitu mengharukan dan menyayat hati. Demikian sedihnya doa yang > dipanjatkan Nabi, sehingga Allah mengutus malaikat Jibril untuk > menemuinya. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril memberi salam seraya > berkata, Allah mengetahui apa yang telah terjadi > padamu dan orang-orang > ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati > perintahmu. Sambil berkata demikian, Jibril memperlihatkan para malaikat > itu kepada Rasulullah Saw. > > Kata > malaikat itu, Wahai Rasulullah, kami siap untuk > menjalankan perintah > tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu > berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung ini akan > mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap > melaksanakannya. > > Mendengar tawaran malaikat itu, Rasulullah Saw. dengan sifat kasih > sayangnya berkata, > Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap > dengan kehendak > Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan > beribadah kepada-Nya. > > Ketika Makkah berhasil ditaklukkan, beliau berkata kepada orang-orang yang > pernah menyiksanya, > Bagaimanakah menurut kalian, apakah yang akan > kulakukan terhadapmu? > Mereka menangis dan berkata, Engkau adalah saudara yang mulia, putra > saudara yang mulia. > Nabi Saw. bersabda, Pergilah kalian! Kalian adalah orang-orang yang > dibebaskan. Semoga Allah mengampuni kalian. (HR. Thabari, Baihaqi, Ibnu > Hibban, dan Syafi'i). > > Abu Sufyan bin Harits, sepupu beliau, lari dengan > membawa semua > anak-anaknya karena pernah menyakiti Rasul Saw., maka Ali bin Abi Thalib > Ra. bertanya kepadanya, > Hai Abu Sufyan, hendak pergi kemanakah kamu? > Ia menjawab, Aku akan keluar ke padang sahara. Biarlah aku dan > anak-anakku mati karena lapar, haus, dan tidak berpakaian. > > Ali bertanya, Mengapa kamu lakukan itu? Ia menjawab, Jika Muhammad > menangkapku, niscaya dia akan mencincangku dengan pedang menjadi > potongan-potongan kecil. > > Ali berkata, Kembalilah kamu kepadanya dan ucapkan salam kepadanya dengan > mengakui kenabiannya dan katakanlah kepadanya sebagaimana yang pernah > dikatakan oleh saudara-saudara Yusuf kepada Yusuf, > ¦.Demi Allah, sesungguhnya Allah telah > melebihkan kamu atas kami dan > sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa).(QS. Yusuf > [12]: 91). > > Abu Sufyan pun kembali kepada Nabi Saw. dan berdiri di dekat kepalanya, > lalu mengucapkan salam kepada beliau seraya berkata, Wahai Rasulullah, > ...Demi Allah, sesungguhnya Allah telah > melebihkan engkau atas kami dan > sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa). (QS. Yusuf > [12]: 91). > > Rasulullah Saw. pun menengadahkan pandangannya, sedang air matanya > membasahi pipinya yang indah hingga membasahi jenggotnya. Rasulullah > menjawab dengan menyitir firman-Nya, > Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kamu. Mudah-mudahan > Allah > mengampuni (kamu) dan Dia adalah Maha Penyayang di antara para penyayang. > (QS. Yusuf [12]: 92). > > Abu Dzar Ra. meriwayatkan dari Nabi SAW., bahwa > beliau mendirikan shalat > malam, sambil menangis dengan membaca satu ayat yang diulang-ulangi, > yaitu, > Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba > Engkau juga. (QS. al-Maidah [5]: 118). > > Untuk kasus di Indonesia, tepatnya Jawa, contoh nyata tindakan > bijaksana dalam menyikapi masalah2 aqidah dan keagamaan adalah apa yang > diteladankan oleh WALI SONGO. Beliau2 menggunakan langkah-langkah > cerdas, lemah-lembut dan bijaksana, bukan dengan peperangan atau > tindakan bengis lainnya, yaitu melalui media dakwah berupa hiburan > (entertaintment) "pagelaran wayang" yang notabene cerita2nya adalah > adaptasi dari epos MAHABHARATA yang merupakan salah satu kitab suci > agama HINDU. Saya khawatir bila pemanfaatan media dakwah semacam ini di > jaman sekarang jangan2 oleh MUI akan dicap SYIRIK bin HARAM. Kita > sampai kini masih merasakan bagaimana ajaran2 Islam tersebut kemudian > terinternalisasi ke dalam budaya Jawa dan menjadi landasan nilai-nilai > luhur (akhlaqul-karimah) masyarakat Jawa. > > Contoh lainnya adalah > penyebaran Islam di Kudus, Sunan Kudus bahkan masih menolerir agar > masyarakat tidak menyembelih sapi yang merupakan salah satu binatang > suci agama Hindu (sapi dianggap pengejawantahan LEMBU ANDINI, > tunggangan SYIWA or BETHORO GURU) dan hal ini masih berlaku sampai > terakhir saya mukim di Kudus (tahun 1972). Entah sekarang. Kita juga > masih menyaksikan bahwa menara (minaret) dan sebagian bangunan masjid > Kudus masih kuat dipengaruhi > oleh gaya arsitektur Hindu sehingga mirip bangunan CANDI. Saya jadi > miris, jangan2 di suatu saat nanti bangunan ini juga akan dianggap > HARAM dan diratakan dengan tanah. Astahgfirullah al'adzim. > Na'udzubillahi min dzalik. > > Saya teringat salah satu ajaran WALI > SONGO dalam pewayangan: SURO-DIRO JOYO NING RAT LEBUR DENING > PANGASTUTI. Terjemahan bebasnya kira2 demikian: ANGKARA-MURKA/ > KEBENGISAN/ KESESATAN YANG MERAJA-LELA DI MUKA BUMI PASTI AKAN > MUSNAH/LEBUR OLEH KEBAJIKAN/KELEMAH-LEMBUTAN. > > Jadi, > mari kita menghadapi kedzaliman (apalagi mengajak kepada kebaikan) > dengan cara-cara yang baik dan terpuji sebagaimana diteladankan oleh Kanjeng Nabi, para sahabat dan para auliya (wali). Insya-Allah > lawan-lawan kita > (apalagi Ahmadiyah bukan "musuh" kita) dan masyarakat luas akan > tersentuh kalbunya dan berbalik mendukung pandangan kita. > Amin. > > Salam takzim, > Sidqy L.P. Suyitno > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] >

