---------- Forwarded message ----------
From: Darmawan <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Jun 9, 2008 1:52 PM
Subject: [mediacare] Wajah Islam yang kukenal, oleh Muslihah Razak
To: [EMAIL PROTECTED]

  Cerita Muslihah Razak di bawah ini harus menjadi bahan evaluasi bagi
pembesar negeri ini.
Muslihah Razak telah menjadi korban jualan agama yang tidak sesuai
dengan isinya (bandingkan orang beli obat yang isinya tidak sesuai
dengan yang digambarkan dalam kemasan. Dalam kemasan disebut obat
damai engga taunya isinya obat perang melawan kafir).
Dalam dunia perdaganan hal seperti itu disebut penipuan dan
pelakukan dapat dibawa ke meja hijau untuk mempertanggunjawabkan
perbuatannya menipu orang lain.
Selain membuka ke publik bahwa ada penipuan di mana yang diucapkan
si penjual agama tidak sesuai dengan isi juga perlu diusut bagaimana
sampai orang mudah dibohongi bahwa Muhammad yang pernah memimpin
perampokan, memimpin perang dan pernah punya istri hingga sebelas
orang dan istrinya-istrinya itu disetubuhinya secara bergiliran
setiap hari, bisa diterima sebagai orang baik yang punya sikap
lembut dan penuh kasih, anti kekerasan, pemaaf dan cinta damai.
Agar korban seperti Muslihah Razak tidak bertambah banyak para
pemimpin negeri ini perlu segera bertindak terutama mengambil
langkah agar generasi muda tidak lagi mengalami seperti apa yang
dialami Muslihah Razak.
Salam

Namaku Muslihah Razak, lahir dari keluarga kyai di sebuah desa yang
di Kabupaten Cirebon. Dari kecil aku sudah bersekolah di sekolah
agama. Pada sore harinya, aku juga ikut belajar kitab dan tata
bahasa Arab, juga sekolah malam hari yang khusus mengkaji kitab-
kitab kuning. Selesai Tsanawiyah aku langsung memasuki pesantren
selama 4 tahun, dan kemudian melanjutkan ke IAIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang kini sudah berganti nama menjadi UIN, dengan mengambil
Fakultas Syariah.
Aku bangga dengan keislamanku, dengan panutan suri tauladan Nabi
Muhammad. Beliau adalah seorang revolusioner, seorang yang lembut dan
penuh kasih. Ajarannya begitu luhur, mampu merangkul dan melindungi
semua kelompok apapun agamanya. Bagiku Muhammad bukan hanya sebuah
nama atau pribadi tapi dia adalah akidah yang hidup. Raganya sudah
meninggalkan kita tapi ajarannya akan hidup sepanjang jaman.
Muhammad adalah kita semua, cerminan sikap yang lembut dan penuh
kasih, anti kekerasan, pemaaf dan cinta damai. Aku bangga dengan
keislamanku sampai ada peristiwa yang begitu menamparku dan
membuatku merasa sangat terhina dan malu. Pada peringatan 63 tahun
Hari Kelahiran Pancasila, 1 Juni 2008 di Lapangan Monas yang lalu,
sekelompok orang dengan memakai kaos FPI berbendera hijau
bertuliskan La Ilaha Ilallah, menyerang kami sambil mengumandangkan
Allahu Akbar.
Tatapan mereka sangat beringas. Teriakan ibu-ibu, suara tangisan anak
kecil, jeritan perempuan-perempuan tidak membuat hati mereka luluh.
Tidak ada satupun dari kami yang melakukan perlawanan. Kami hanya
menghindar sampai terpojok didepan tugu yang di kanan kirinya ada
pembatas. Kami masih tetap diburu walaupun sudah terpojok.
Dari atas tugu mereka bahkan melempari kami dengan batu-batu besar
yang pasti sudah dipersiapkan sebelumnya, karena batu sebesar itu
tidak ada di taman Monas.
Mereka memakai pentungan dan bambu berpaku untuk memukul teman-teman
yang tidak bisa menaiki tembok pembatas taman. Teman-teman yang sudah
jatuh tersungkur pun, masih ditendang dan diinjak-injak.
Mereka menyerang siapa saja, tidak peduli orang Kristen, Hindu,
Budha, Konghucu. Ibu-ibu yang memakai pakaian muslim pun mereka
pukuli. Aku bahkan melihat ada anak kecil yang kepalanya dibenturkan
ke tembok.
Teman-teman kami banyak yang terluka. Tidak sedikit yang harus di
rawat di rumah sakit, karena gegar otak, kepalanya bocor, atau memar.
Luka fisik dapat kami obati, tapi luka batin begitu dalam.
Secara pribadi sebagai muslimah aku begitu shock melihat bangsaku
begitu beringas. Saat ini aku masih trauma mendengar kalimat Allahu
Akbar, tulisan syahadat, dan semua panji-panji Islam. Semua
nilai-nilai Islam yang kuyakini dari kecil seperti hancur berantakan.
Aku marah dan tidak rela FPI mewakili Islam. Islam yang mereka bawa
sama sekali tidak mencerminkan Islam yang lembut yang aku kenal.
Islam tidak perlu pembela seperti mereka yang tidak punya hati,
mereka yang tidak mampu mendengar jeritan dan tangisan saudara
sebangsanya sendiri.
Kata "maaf" terbersit dalam hatiku karena saat mereka meneriakkan
yel-yel Islam, aku sempat menjawab dalam hati, kalau kalian Islam
biarkan aku menjadi kafir karena aku tidak mau menjadi bagian dari
kalian.
Aku yakin lebih bangak muslim yang waras daripada mereka yang tidak
waras. Namun suara mereka terlalu keras karena hanya itu yang mereka
punya untuk menutupi kekerdilan hati mereka.
Karena itu, mari teman-temanku kita saling bergandengan tangan. Mari
kita membuat Nabi Muhammad terlahir setiap hari dengan perbuatan kita
yang mencerminkan ahlak beliau yang penuh kasih.
Kami yakin darah dan air mata teman-teman tidak sia-sia karena begitu
banyak mata melihat kebrutalan FPI. Tidak ada satupun ummat islam
yang mau kalian wakili, kecuali orang-orang yang hatinya keras
seperti batu.
Aku mencintai kalian semua teman-temanku di FPI. Aku yakin kalian
hanya kurang memahami. Tidak usahlah berbicara tentang agama yang
jelas-jelas melarang kekerasan. Tapi bicara dengan kemanusiaan pasti
kalian masih terketuk hatinya untuk tidak lagi menyakiti dan
melakukan tindakan anarkis.
Aku akan bergabung dengan kalian mencintai Nabi Muhammad sebagai
uswatun hasanah. Dan seperti Nabi Muhammad, mari kita menciptakan
perdamaian di manapun kaki kita berpijak.




[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke