Idealnya dengan wilayah laut yang demikian luas, Indonesia setidaknya memiliki
20 kapal selam.
--------------------
http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=article&sid=8344
DEPHAN BELUM TERIMA LAPORAN TENDER OVERHAUL KRI NENGGALA
Jakarta - Departemen Pertahanan (Dephan) hingga kini belum menerima laporan
tentang tender perbaikan menyeluruh (overhaul) kapal selama KRI Nenggala-402.
"Kita masih tunggu laporan dari Mabes TNI AL tentang perkembangan tender
perbaikan menyeluruh KRI Nenggala, saya kira masih sesuai jadwal tidak ada yang
molor," kata Dirjen Sarana Pertahanan (Ranahan) Departemen Pertahanan Marsekal
Muda Eris Herryanto menjawab ANTARA di Jakarta, Jumat.
Ditemui usai penyerahan pesawat CN235-220 MPAB di Pangkalan Halim
Perdanakusuma, ia mengatakan, keseluruhan proses perbaikan berat (overhaul) KRI
Nenggala terus berjalan sesuai jadwal termasuk proses tender.
"Kalau terjadi pengunduran jadwal saya tidak tahu, seluruh proses masih berada
di Mabes TNI AL," katanya.
Yang jelas, tambah Erys, siapa pun pemenang tender nantinya akan menjadi mitra
dalam pembuatan dua kapal selam berikutnya. "Jadi satu unit dibuat oleh mitra,
satu unit kapal selama di buat Indonesia dalam hal ini PTB PAL," ujarnya.
Erys mengemukakan, bongkar pasang ini juga merupakan proses untuk alih
teknologi dalam rangka pembuatan dua unit kapal selam sesuai Rencana
Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Departemen Pertahanan.
Sebelumnya Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Sumardjono
mengungkapkan, saat ini sudah ada lima perusahaan perkapalan yang ikut dalam
tender perbaikan besar (overhaul) kapal selam KRI Nanggala-402.
"Saat ini sudah ada lima perusahaan yang ikut, antara lain Daewoo dari Korea
Selatan, untuk tender overhaul KRI Nanggala," katanya.
Hasil tender kapal selam tipe 209 itu, tambah Sumardjono, akan segera
diserahkan kepada Departemen Pertahanan (Dephan) untuk diseleksi perusahaan
mana yang berhak untuk melakukan overhaul KRI Nanggala-402.
Kasal Sumardjono menegaskan, program overhaul dan pengadaan alat utama sistem
senjata (alutsista) dari mancanegara mensyaratkan transfer teknologi dan imbal
beli atau "counter trade" hingga pada akhirnya industri pertahanan nasional
bisa mandiri di masa datang.
Tentang keterlibatan PT PAL dalam overhaul KRI Nanggala, ia mengatakan PT PAL
akan mengirimkan sejumlah teknisinya untuk mengikuti proyek overhaul KRI
Nanggala hingga di masa datang para teknisi itu dapat mengaplikasikan ilmu yang
didapatnya di PT PAL hingga BUMN itu dapat melakukan perbaikan secara
menyeluruh.
"Dengan begitu, biaya yang kita keluarkan lebih murah dan ke depan PT PAL bisa
lebih mandiri bahkan dalam melakukan perbaikan besar kapal selam," ujar Kasal.
Mengenai batas waktu tender, Sumardjono menjelaskan akan selesai dalam waktu
dekat.
Sebelumnya, TNI AL telah membongkar-pasang kapal selam KRI Cakra-401 di Daewoo
Shipbuilding and Marine Engineering Co Ltd (DSME), sehingga KRI Cakra yang
perangkat teknologinya buatan 1970-an kini tampil lagi dengan teknologi
1990-an.
Saat ini, tercatat beberapa pihak yang tertarik dalam program perbaikan KRI
Nanggala- 402, seperti HDW Jerman dan Daewoo (Korea Selatan), serta Pakistan.
Korea Selatan punya peluang besar mendapatkan kontrak ini karena negeri itu
juga merupakan operator sembilan kapal Selam Tipe 209 Jerman, dan DSME telah
membuat delapan kapal selam kelas Changbogo yang kini dioperasikan oleh AL
Korea Selatan.
[Non-text portions of this message have been removed]