Sisi yang Tidak Diekspos Media Tentang FPI
Rabu, 11 Jun 08 07:54 WIB
Front Pembela Islam (FPI) sebenarnya sudah lama jadi incaran aliansi 
musuh Allah SWT yakni kelompok gabungan antara kelompok liberal, 
kelompok maksiat (prostitusi, perjudian, dan pornografi), kelompok 
kuffar, dan aparat serta pejabat yang selama ini mendulang uang 
haram dari perputaran bisnis haram tersebut. 

Abdurrahman Wahid saja, gembong kaum liberal dan sekutu Zionis, 
dengan sangat pede menyatakan jika dirinya sudah 15 tahun berjuang 
hendak membubarkan FPI. Itu berarti sejak tahun 1993. Padahal FPI 
baru berdiri tahun 1998. Walau demikian kita hendaknya maklum dengan 
pernyataannya yang ngawur ini karena memang orang yang sudah kena 
serangan stroke dua kali biasanya banyak syaraf yang sudah tidak 
terkoneksi dengan baik. Istilah komputernya sering hang, sehingga 
harus di-restart atau kalau tidak bisa juga ya di-off-kan saja.

Sejak berdiri pada tahun 1998, FPI memang getol memerangi tempat-
tempat maksiat. "Sudah banyak tokoh dan elemen Islam yang 
menyampaikan amar ma'ruf, maka kami memang mengkhususkan diri pada 
Nahyi Munkar. Tapi tentu dengan prosedur yang benar secara hukum 
formal, " demikian ujar Habib Rizieq.

Keberanian FPI ini dalam menggempur lokasi-lokasi kemaksiatan memang 
tidak main-main. Rumah-rumah pelacuran, rumah judi, termasuk kantor 
tempat raja media porno dunia "Playboy"di Jakarta, semua diganyang 
oleh laskar Islam yang satu ini. Bagi media massa, baik cetak, 
radio, maupun teve, tindakan FPI tersebut memang merupakan berita 
yang layak dijadikan tajuk utama. Sayangnya, media-media yang juga 
banyak disusupi kelompok liberal dan kelompok penyuka kemaksiatan 
ini yang diekspos adalah kekerasan FPI semata.

Padahal, kekerasan atau penyerbuan yang dilakukan FPI merupakan 
jalan terakhir yang terpaksa diambil FPI setelah melewati berlapis-
lapis prosedur, di antaranya mendesak kepolisian untuk berbuat. 

"Media massa hanya mengekspos hal itu, tapi tidak memuat apa yang 
kami lakukan sebelum itu, " ujar Habib Rizieq dalam sebuah pertemuan 
beberapa waktu lalu. 

Penyerbuan atau pengrusakkan merupakan langkah terakhir yang diambil 
FPI setelah melewati tahap-tahap sebelumnya. Habib Rizieq 
memaparkan, "Jika ada informasi yang menyebutkan di suatu tempat ada 
lokasi yang tidak beres, maka kami biasanya mengirim intelijen kami 
yang terdiri dari beberapa orang untuk menggali informasi yang 
valid. Jika benar itu tempat yang tidak beres, maka ada dua 
pengelompokkan yang FPI lihat. Jika tempat maksiat itu didukung 
warga sekitar dalam arti banyak warga sekitar yang mencari nafkah di 
sana dan menggantungkan hidupnya di sana, maka kami kirim ustadz 
untuk memberi pencerahan. Ini sisi amar ma'ruf FPI. Kami mendirikan 
pengajian dan sebagainya."

"Namun jika tempat maksiat itu ternyata meresahkan warga sekitar, 
dan banyak yang dilindungi oleh preman terorganisir atau malah ada 
oknum aparat yang ikut melindungi, maka kami biasanya melayangkan 
surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian agar polisi bisa 
bersifat pro-aktif. Jika sampai waktu yang kami minta belum ada 
tindakan apa pun juga dari kepolisian, kami melayangkan surat 
kembali mendesak agar aparat segera turun tangan. Ini kami lakukan 
sampai tiga kali. Namun jika aparat ternyata diam terus, tidak 
menunjukkan itikad baik untuk menyikat kemaksiatan, maka FPI pun 
segera mengirim surat pemberitahuan bahwa FPI akan mengirim 
laskarnya ke tempat tersebut untuk membantu tugas kepolisian. Ini 
semata-mata kami lakukan karena polisi tidak bertindak, " lanjut 
Habib.

"Kami membantu tugas kepolisian. Ini patut diberi tekanan. Karena 
polisi terlalu sibuk sehingga tempat maksiat tersebut tetap berjalan 
dengan aman dalam meracuni masyarakat, maka laskar kami yang turun. 
Selain memberi surat kepada polisi, kami pun melayangkan surat 
pemberitahuan berlapis-lapis kepada pengeloal tempat kemaksiatan 
itu, dan biasanya mereka membandel karena menganggap polisi saja 
tidak berani membereskannya, apalagi FPI. Tapi sekali lagi saya 
tekankan. FPI berjuang untuk menegakkan agama Allah, jadi kami tidak 
kenal takut terhadap segala kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan 
setan saja berani, masak kami yang berjaung di jalan Allah harus 
takut?" tegas Habib. 

"Sisi inilah yang jarang diekspos media massa sehingga masyarakat 
banyak tahunya kami ini organisasi anarkis. Padahal kami telah 
melakukan berlapis-lapis peringatan, bahkan berkoordinasi dengan 
kepolisian dan sebagainya, " tambah Habib.

Sebenarnya, media-media massa di negeri ini banyak yang mengetahui 
hal tersebut. Namun disebabkan mereka memang banyak yang 
berkepentingan agar FPI bubar, maka yang diberitakan adalah sisi 
kekerasan dari FPI. Padahal, FPI hanya membantu tugas kepolisian 
yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti "razia" di jalan-
jalan dan sebagainya. (rz)



Kirim email ke