Ada banyak cara untuk cari makan. Salah satunya "jualan agama". Apa yang
dilakukan Rizik Syihab, yang katanya sedang "membela" dan "menyelamatkan"
Islam, hanyalah retorika belaka. Ini dilakukan agar dagangannya bertambah laku.
Semakin banyak tempat maksiat yang digrebek, semakin banyak pula upeti yang
masuk. Di sini Rizik dan komplotannya sedang melakukan unjuk kekuatan, mirip
kucing yang sedang menakut-nakuti tikus. Lagi-lagi agama yang dijadikan topeng.
Cara kerjanya mirip preman kampung yang lagi cari makan. Sehingga tidak salah
jika Syafii Maarif, mantan ketua umum Muhamadiyah, menjuluki mereka "preman
berjubah". Lantas, kenapa selama ini polisi tidak bisa berbuat banyak
menghadapi "komplotan preman" yang satu ini? Ya, jelas saja karena mereka
sesungguhnya boneka pemerintah, sayap Islam radikal yang diciptakan militer.
nah, kalau mau berjuang dan membela Islam, gunakan dong cara2 santun, tidak
mencaci maki, menghina, menebar benih-benih kebencian dan permusuhan, apalagi
sampai menyakiti orang lain. Beginikan cara Rasulullah mendakwakan ajarannya?
Riziq sebaiknya belajar pada kiai2 NU di kampung2. Tiru bagaimana cara mereka
mendakwakan Islam melalui pendidikan pesantren, pengajian, dan pendampinga2 di
masyarakat. Sehingga Islam diterima oleh mereka dengan hati yang ikhlas,
lapang, tenteram, santun dan damai. Tidak seperti Riziq yang hanya pandai
MEMBANGUN TEMBOK KEBENCIAN DI TENGAH-TENGAH UMAT MANUSIA. Naudzu billah
mindzalik
dony_doang <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Sisi yang Tidak Diekspos Media Tentang FPI
Rabu, 11 Jun 08 07:54 WIB
Front Pembela Islam (FPI) sebenarnya sudah lama jadi incaran aliansi
musuh Allah SWT yakni kelompok gabungan antara kelompok liberal,
kelompok maksiat (prostitusi, perjudian, dan pornografi), kelompok
kuffar, dan aparat serta pejabat yang selama ini mendulang uang
haram dari perputaran bisnis haram tersebut.
Abdurrahman Wahid saja, gembong kaum liberal dan sekutu Zionis,
dengan sangat pede menyatakan jika dirinya sudah 15 tahun berjuang
hendak membubarkan FPI. Itu berarti sejak tahun 1993. Padahal FPI
baru berdiri tahun 1998. Walau demikian kita hendaknya maklum dengan
pernyataannya yang ngawur ini karena memang orang yang sudah kena
serangan stroke dua kali biasanya banyak syaraf yang sudah tidak
terkoneksi dengan baik. Istilah komputernya sering hang, sehingga
harus di-restart atau kalau tidak bisa juga ya di-off-kan saja.
Sejak berdiri pada tahun 1998, FPI memang getol memerangi tempat-
tempat maksiat. "Sudah banyak tokoh dan elemen Islam yang
menyampaikan amar ma'ruf, maka kami memang mengkhususkan diri pada
Nahyi Munkar. Tapi tentu dengan prosedur yang benar secara hukum
formal, " demikian ujar Habib Rizieq.
Keberanian FPI ini dalam menggempur lokasi-lokasi kemaksiatan memang
tidak main-main. Rumah-rumah pelacuran, rumah judi, termasuk kantor
tempat raja media porno dunia "Playboy"di Jakarta, semua diganyang
oleh laskar Islam yang satu ini. Bagi media massa, baik cetak,
radio, maupun teve, tindakan FPI tersebut memang merupakan berita
yang layak dijadikan tajuk utama. Sayangnya, media-media yang juga
banyak disusupi kelompok liberal dan kelompok penyuka kemaksiatan
ini yang diekspos adalah kekerasan FPI semata.
Padahal, kekerasan atau penyerbuan yang dilakukan FPI merupakan
jalan terakhir yang terpaksa diambil FPI setelah melewati berlapis-
lapis prosedur, di antaranya mendesak kepolisian untuk berbuat.
"Media massa hanya mengekspos hal itu, tapi tidak memuat apa yang
kami lakukan sebelum itu, " ujar Habib Rizieq dalam sebuah pertemuan
beberapa waktu lalu.
Penyerbuan atau pengrusakkan merupakan langkah terakhir yang diambil
FPI setelah melewati tahap-tahap sebelumnya. Habib Rizieq
memaparkan, "Jika ada informasi yang menyebutkan di suatu tempat ada
lokasi yang tidak beres, maka kami biasanya mengirim intelijen kami
yang terdiri dari beberapa orang untuk menggali informasi yang
valid. Jika benar itu tempat yang tidak beres, maka ada dua
pengelompokkan yang FPI lihat. Jika tempat maksiat itu didukung
warga sekitar dalam arti banyak warga sekitar yang mencari nafkah di
sana dan menggantungkan hidupnya di sana, maka kami kirim ustadz
untuk memberi pencerahan. Ini sisi amar ma'ruf FPI. Kami mendirikan
pengajian dan sebagainya."
"Namun jika tempat maksiat itu ternyata meresahkan warga sekitar,
dan banyak yang dilindungi oleh preman terorganisir atau malah ada
oknum aparat yang ikut melindungi, maka kami biasanya melayangkan
surat pemberitahuan kepada pihak kepolisian agar polisi bisa
bersifat pro-aktif. Jika sampai waktu yang kami minta belum ada
tindakan apa pun juga dari kepolisian, kami melayangkan surat
kembali mendesak agar aparat segera turun tangan. Ini kami lakukan
sampai tiga kali. Namun jika aparat ternyata diam terus, tidak
menunjukkan itikad baik untuk menyikat kemaksiatan, maka FPI pun
segera mengirim surat pemberitahuan bahwa FPI akan mengirim
laskarnya ke tempat tersebut untuk membantu tugas kepolisian. Ini
semata-mata kami lakukan karena polisi tidak bertindak, " lanjut
Habib.
"Kami membantu tugas kepolisian. Ini patut diberi tekanan. Karena
polisi terlalu sibuk sehingga tempat maksiat tersebut tetap berjalan
dengan aman dalam meracuni masyarakat, maka laskar kami yang turun.
Selain memberi surat kepada polisi, kami pun melayangkan surat
pemberitahuan berlapis-lapis kepada pengeloal tempat kemaksiatan
itu, dan biasanya mereka membandel karena menganggap polisi saja
tidak berani membereskannya, apalagi FPI. Tapi sekali lagi saya
tekankan. FPI berjuang untuk menegakkan agama Allah, jadi kami tidak
kenal takut terhadap segala kemaksiatan. Mereka yang berada di jalan
setan saja berani, masak kami yang berjaung di jalan Allah harus
takut?" tegas Habib.
"Sisi inilah yang jarang diekspos media massa sehingga masyarakat
banyak tahunya kami ini organisasi anarkis. Padahal kami telah
melakukan berlapis-lapis peringatan, bahkan berkoordinasi dengan
kepolisian dan sebagainya, " tambah Habib.
Sebenarnya, media-media massa di negeri ini banyak yang mengetahui
hal tersebut. Namun disebabkan mereka memang banyak yang
berkepentingan agar FPI bubar, maka yang diberitakan adalah sisi
kekerasan dari FPI. Padahal, FPI hanya membantu tugas kepolisian
yang terlalu sibuk dengan tugas-tugas rutin seperti "razia" di jalan-
jalan dan sebagainya. (rz)
[Non-text portions of this message have been removed]