Provokasi, Sekali Lagi Provokasi! [2]           
Rabu, 11 Juni 2008

Presiden menanggapi peristiwa Monas seakan kudeta. Kedubes AS pun
melibatkan diri. Padahal itu tawuran biasa yang selalu terjadi di
Indonesia. Ada apa? SKB sudah terbit. Tapi peristiwa ini adalah
"pelajaran!"
 
Oleh: Amran Nasution *
 

Prolog:

Beberapa saat usai kejadian bentrokan Monas, John Heffern, Kuasa Usaha
Kedutaan Besar (Kedubes) Amerika Serikat di Jakarta ikut-ikutan sibuk
mengunjungi korban dari AKKBB di Rumah Sakit Gatot Subroto. Keesokan
hari, Kedubes mengirimkan pernyataan resmi ke media massa mengutuk
aksi kekerasan Monas. Belum cukup. Pernyataan itu mengajari Pemerintah
Indonesia agar menjunjung kebebasan beragama bagi warganya sesuai UUD.
Itu jelas intervensi urusan dalam negeri Indonesia.

Bagaimana Amerika masih punya keberanian moral mengutuk kekerasan
Monas, sementara negaranya adalah imperium kekerasan yang sudah
membunuh 1 juta manusia di Iraq. Saat tulisan ini diturunkan,
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ikut-ikutan menyorot kasus Ahmadiyah.
Lantas, apa maksud dari dukungan moral itu?

Amerika Memang Jagonya

Campur tangan mereka yang begitu jauh tentu karena alasan lain. Itu
harus dirujuk kepada war on terror (perang melawan teror) yang
diproklamirkan Presiden George Bush setelah penyerangan Menara Kembar
WTC oleh kelompok teroris 11 September 2001.

Katanya itulah perang untuk menguber para teroris sampai ke mana pun.
Nyatanya sampai sekarang Usamah Bin Ladin dan Ayman Al-Zawahiri masih
tak bisa tertangkap. Sementara Afghanistan dan Iraq sudah remuk-redam.
Negeri kaya minyak Iraq, oleh perbuatan Amerika, kini menjadi negara
gagal (failed-state)

Dalam proklamasinya Bush mengatakan bahwa perang itu adalah crusade
atau Perang Salib, yaitu perang tentara Kristen melawan Islam 1000
tahun lalu untuk memperebutkan Jerusalem. Itulah nyatanya yang
dilakukan Presiden Bush.

Di Iraq, kelompok Suni diadunya dengan Syiah. Begitu pula di Libanon.
Arab Saudi ditakut-takuti dengan bahaya nuklir Iran. Orang Islam
dibaginya dua: good Muslim dan bad Muslim. Good Muslim, katanya, orang
Islam yang modern, menerima nilai demokrasi, terbuka dan moderat.
Sedang bad Muslim kolot, anti-demokrasi, fanatik, tak toleran, ingin
mendirikan negara Islam.

Pada kenyataannya good Muslim  adalah orang Islam yang mau
mendukungnya. Mereka menjadi bad Muslim kalau bersikap independen dari
pengaruhnya (Lihat Mahmood Mamdani dalam Good Muslim, Bad Muslim –
America, the Cold War, and the Roots of Terror. Three Leaves Press,
Doubleday, New York, 2005). Dalam konteks inilah campur tangan Kedubes
Amerika dalam mendukung AKKBB, bisa dilihat.

Ketua Umum FPI Habib Riziek Shihab atau pimpinan Laskar Islam Munarman
jelas masuk kategori bad Muslim. Habib Rizieq selalu memimpin
demonstrasi anti-Amerika. Munarman, bekas tokoh YLBHI itu, adalah
orang paling gigih berkampanye mengusir proyek NAMRU-2 dari Indonesia.

Kontrak NAMRU-2 sudah lama berakhir di Indonesia. Menteri Kesehatan
Siti Fadilah Supari menentangnya, tapi proyek Angkatan Laut Amerika
itu tetap bertahan karena di Istana banyak pendukungnya. Padahal
proyek itu tampaknya tak lain untuk kepentingan perang kuman Amerika
yang tak ada untungnya bagi Indonesia.

Sementara di kelompok AKKBB bergabung banyak good Muslim. Beberapa di
antara mereka adalah tokoh yang pada 1998 terlibat menerima dana 26
juta dollar dari badan bantuan pemerintah Amerika, US-AID, seperti
Adnan Buyung Nasution dan kawan-kawan (The New York Times, 20 Mei 1998).

Dengan sikap Kedubes Amerika dan Presiden SBY seperti itu, maka
penangkapan Habib Riziek dan kelompoknya dilakukan polisi amat
berlebihan. Inilah untuk pertama kali dalam sejarah Indonesia, 1500
polisi dikerahkan hanya untuk menangkap demonstran tawuran. Pagi itu,
kantor FPI di kawasan Petamburan dikepung seakan sarang teroris yang
memiliki senjata nuklir.

Semua itu rupanya diperlukan agar suasana terlihat mencekam. Agar FPI
terlihat jelek dan menakutkan di mata masyarakat. Apalagi sejak
peristiwa Monas organisasi Islam itu sudah dihancurkan oleh
pemberitaan gencar media massa. Ia dicitrakan sebagai organisasi
preman yang meresahkan agar bisa dibubarkan.

Andi Mallarangeng dan adiknya, Rizal Mallarangeng dari Freedom
Institute, tak segan tampil berdua di sebuah stasiun televisi hanya
untuk menyerang FPI dengan emosional. Singkat cerita, tujuannya untuk
membunuh karakter FPI. Di mata dua kakak-beradik ini tak ada kerjaan
FPI yang lain kecuali kekerasan.

Padahal FPI dan para tokohnya termasuk pihak awal turun ke Aceh ketika
tsunami menyerang. Mereka yang mengevakuasi mayat berserakan, bukan
Adnan Buyung Nasution atau Marsilam Simanjuntak. Mereka turun menolong
rakyat kebanjiran di Jakarta,  bukan Rizal Mallarangeng atau Asmara
Nababan. Pengajian mereka berlangsung rutin. Habib Rizieqsering
berkeliling Indonesia untuk berdakwah.

Tapi dalam hal provokasi Amerika jagonya. James Petras, Profesor
(emeritus) sosiologi di Binghamtom University, New York, Mei lalu,
menulis artikel menarik, Provocations as Pretexts for Imperial War:
>From Pearl Harbor to 9/11. Di situ ditelanjangi bagaimana pemerintah
Amerika memprovokasi rakyatnya dan masyarakat internasional dengan
dalih atau bukti palsu agar mereka mendukung perang.

Itu dilakukan Presiden Franklin Roossevelt dalam penyerangan Jepang
atas Hawai yang menjadi alasan Amerika terlibat dalam Perang Dunia II,
Presiden Truman untuk Perang Korea, Presiden Lyndon Johnson dalam
insiden Teluk Tonkin untuk melegitimasi Perang Vietnam, dan Presiden
Bush dengan senjata pemusnah massal untuk menyerang Iraq.

Dalam insiden Teluk Tonkin, misalnya, Menteri Pertahanan McNamara
melapor ke Kongres bahwa hari itu, 4 Agustus 1964, kapal perang
Amerika telah bentrok dengan patroli laut Vietnam Utara di Teluk
Tonkin. Insiden terjadi karena lambung kapal USS Maddox dirobek peluru
senapan mesin kaliber 14,5 mm yang ditembakkan kapal patroli Vietnam.
Rakyat Amerika terprovokasi dan marah. Tiga hari kemudian Kongres
memberi mandat kepada Presiden Johnson untuk berperang.

Padahal insiden Teluk Tonkin cuma karangan. Itu terbukti dari berbagai
dokumen yang belakangan bisa dibuka. Salah satunya, laporan National
Security Agency (NSA) dibuka tahun 2005, menyebutkan kapal patroli
Vietnam tak pernah bertemu USS Maddox, apalagi terlibat
tembak-tembakan. Foto robeknya lambung USS Maddox sebagai bukti,
betul-betul hasil rekayasa.

Begitu juga cara Presiden Bush mengelabui rakyat Amerika dan dunia
tentang senjata pemusnah massal di Iraq dan hubungan Saddam Hussein
dengan "teroris" Al-Qaiah Semua palsu dan rekayasa.

Seperti ditulis Profesor James Petras, provokasi menimbulkan kerugian
tak kepalang. Perang Vietnam menyebabkan 4 juta penduduk Vietnam dan
Indochina terbunuh. Jutaan lainnya terluka. Amerika sendiri: 54.000
serdadu tewas, setengah juta lainnya cedera. Tapi yang paling
menyakitkan, Amerika kalah perang. Tentaranya harus melarikan diri
dari Saigon pada 1975. Sungguh memalukan.

Begitu pula di Iraq. Perang menyebabkan lebih 4000 tentaranya
terbunuh, hampir 30.000 cedera, dan sebagian harus dirawat seumur
hidup karena gangguan mental. Profesor Joseph Stiglitz, pemenang Nobel
Ekonomi 2001, memperhitungkan perang Iraq menghabiskan dana 3 trilyun
dollar.

Perang itulah yang menyebabkan Amerika dibenci rakyat dunia – termasuk
Eropa. Ekonominya morat-marit dan kini dilanda krisis. Bertahun-tahun
neraca perdagangannya negatif lalu hidup dari menumpuk utang. Negeri
ini menjadi pengutang terbesar di dunia. Utang luar negerinya saja 9
trilyun dollar, terutama kepada China dan negara Timur Tengah.
Pengangguran melonjak, bulan ini sudah 4,5%.

Penyerbuan Iraq pula yang menyebabkan harga minyak bumi melonjak –
selain faktor naiknya permintaan. Soalnya, karena masalah keamanan
sampai sekarang pasokan minyak Iraq belum mencapai tingkat produksi
sebelum perang. Proyek Presiden Bush membuat biofuel  dari jagung
dengan subsidi besar sebagai alternatif minyak bumi mengakibatkan
harga pangan melonjak. Dunia terancam resesi.

Belakangan bermunculan banyak artikel dan buku yang meramalkan masa
kejayaan Amerika Serikat sudah berakhir, ditulis bukan orang
sembarang. Amerika tak akan lagi memimpin dunia. Di antaranya, Day of
Reckoning - How Hubris, Ideology, and Greed Are Tearing America Apart
(oleh Patrick J. Buchanan), The Post-American World (Fareed Zakaria),
The Squandering of America (Robert Kuttner),  Bad Money – Reckless
Finance, Failed Politics and the Global Crisis of American Capitalism
(Kevin Phillips), atau The Second World: Empires and Influence in the
New Global Order (Parag Khanna).
Meski demikian rupanya cara-cara provokasi dari negeri calon bangkrut
itu masih dicoba di Indonesia. Korbannya adalah FPI dan kawan-kawan.
Mereka menjadi Kiranjit Ahluwalia. [Habis/www.hidayatullah.com]

* Penulis Direktur Institute For Policy Studies

Kirim email ke