Insiden Monas Rekayasa Amerika!
  Oleh : Redaksi 10 Jun 2008 - 4:30 pm 
   

Satu hari setelah terjadinya Insiden Monas (01 Jun 2008), Kedubes AS di Jakarta 
langsung bereaksi, mengirimkan fax ke sejumlah media massa (02 Jun 2008). 
Isinya, mengutuk aksi kekerasan yang dilakukan oleh sebagian anggota FPI 
terhadap puluhan anggota masyarakat yang menghadiri undangan Aliansi Kebangsaan 
untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (detikcom 03 Jun 2008).

Menurut penilaian Soeripto, anggota Fraksi PKS di DPR, pernyataan Kedubes AS 
itu sebagai bentuk campur tangan AS dalam masalah dalam negeri (Republika 04 
Jun 2008).

Bagi yang paham, pernyataan sikap Kedubes AS tidak hanya ditafsirkan sebagai 
adanya intervensi, tetapi menunjukkan indikasi adanya keterlibatan AS di dalam 
insiden Monas. 

Artinya, pernyataan sikap itu merupakan bentuk tanggung jawab sang pemberi 
tugas terhadap anak buahnya yang terluka parah di lapangan Monas. Ini indikasi 
pertama.

Sebelum menyelenggarakan “aksi damai” tanggal 01 Juni 2008, aktivis AKKBB 
memasang iklan di beberapa media nasional, antara lain di Kompas edisi 30 Mei 
2008 halaman 18, dan sebelumnya di harian Media Indonesia 26 Mei 2008 halaman 
13.

Selain berisi ajakan untuk menghadiri apel akbar di Monas (Jakarta), 1 Juni 
2008 jam 13-16 WIB, iklan tersebut memuat sejumlah nama (hampir 300-an nama) 
yang sebagiannya dapat dikenali sering mondar-mandir ke Kedubes AS di Jakarta, 
bahkan sejak masa Orde Baru, terutama menjelang kejatuhan Soeharto. Bila pada 
masa Soeharto mereka-mereka ini membawa bendera berbau demokrasi, pada masa 
reformasi mereka sebelum akhirnya tergabung ke dalam AKKBB, nama-nama itu bisa 
kita temukan pada iklan anti RUU APP. Orangnya itu-itu juga. Ini indikasi kedua.

Indikasi ketiga, bisa ditemukan pada materi iklan yang halus namun provokatif, 
seolah-olah benar namun keliru secara mendasar. Selengkapnya sebagai berikut:

    MARI PERTAHANKAN INDONESIA KITA!
Indonesia menjamin tiap warga bebas beragama. Inilah hak asasi manusia yang 
dijamin oleh konstitusi. Ini juga inti dari asas Bhineka Tunggal Ika, yang 
menjadi sendi ke-Indonesia-an kita. Tapi belakangan ini ada sekelompok orang 
yang hendak menghapuskan hak asasi itu dan mengancam ke-bhineka-an. Mereka juga 
menyebarkan kebencian dan ketakutan di masyarakat. Bahkan mereka menggunakan 
kekerasan, seperti yang terjadi terhadap penganut Ahmadiyah yang sejak 1925 
hidup di Indonesia dan berdampingan damai dengan umat lain. Pada akhirnya 
mereka akan memaksakan rencana mereka untuk mengubah dasar negara Indonesia, 
Pancasila, mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan kita. 
Kami menyerukan, agar pemerintah, para wakil rakyat, dan para pemegang otoritas 
hukum, untuk tidak takut kepada tekanan yang membahayakan ke-Indonesia-an itu.

  Marilah kita jaga republik kita.

Marilah kita pertahankan hak-hak asasi kita.

Marilah kita kembalikan persatuan kita.

Jakarta, 10 Mei 2008

ALIANSI KEBANGSAAN untuk KEBEBASAN BERAGAMA dan BERKEYAKINAN


Klik Gambar untuk memperbesar 
  
Bagi yang terbiasa berkutat di bidang propaganda, materi iklan di atas, 
mengandung beberapa clue yang mengarah ke pihak ketiga. Sayang sekali 
penjelasan rinci berkenaan dengan clue tersebut tidak dapat diuraikan di sini.

Selain itu, pada materi iklan itu jelas mengandung berbagai kekeliruan yang 
mendasar. Pertama, Indonesia memang menjamin setiap warganya bebas menjalankan 
ajaran agamanya, namun bukan berarti setiap orang bebas membajak agama yang 
sudah ada. 

Kedua, persoalan Ahmadiyah adalah persoalan akidah umat Islam, bukan hak asasi 
manusia. Bila mau dikaitkan dengan hak asasi, maka justru umat Islam yang hak 
asasinya dilanggar, karena sebagai warga negara umat Islam berhak mendapatkan 
ajaran Islam yang murni, berhak menjaga agamanya dari rong-rongan pemalsu 
agama, termasuk dari kaum anti agama. Oleh AKKBB, dibelokkan menjadi 
“memaksakan rencana untuk mengubah dasar negara Indonesia, Pancasila, 
mengabaikan konstitusi, dan menghancurkan sendi kebersamaan…” Artinya, 
pengusung anti Ahmadiyah dikatakan mau makar. Ini jelas tuduhan keji, finah 
tanpa dasar. Ini provokasi!

Ketiga, Ahmadiyah Qadiyan (JAI) sudah berada di sini sejak 1925, sedangkan 
Ahmadiyah Lahore empat tahun kemudian (1929). Di tahun 1936 Bung Karno (calon 
presiden pertama RI) pernah menuliskan sikapnya terhadap Ahmadiyah. Ia 
menyatakan, dirinya bukan anggota Ahmadiah, dan mustahil ikut mendirikan cabang 
Ahmadiah atau menjadi propagandisnya. Pernyataan itu disampaikan Bung Karno 
sebagai reaksi atas sebuah tulisan yang mengatakan bahwa BK adalah anggota JAI 
dan turut mendirikan salah satu cabang JAI di Sulawesi.

Di tahun-tahun itu (1925, 1929 dan 1936) belum ada Indonesia, karena proklamasi 
kemerdekaan RI baru terjadi pada tahun 1945. Di alam kemerdekaan, presiden 
pertama Republik Indonesia pernah melarang Ahmadiyah. Menurut Ridwan Saidi, 
pada zaman Bung Karno ada beberapa gerakan yang dilarang termasuk Ahmadiyah.

Apa Kepentingan Amerika Serikat?
  
Sudah jelas, AS ingin Indonesia tetap utuh berupa NKRI yang sekuler, sehingga 
tetap bisa dihisap sumber daya alamnya. 
   
  Namun demikian, AS tidak mau Islam di Indonesia kuat dan bersatu-padu. 
Jangankan terhadap kelompok Islam yang mengusung penegakkan syari’ah, bahkan 
terhadap kelompok Islam yang mengusung bid’ah pun, AS enggan membiarkannya kuat 
dan utuh bersatu. 
   
  Kalau Islam pengusung bid’ah ini utuh bersatu dan kuat, bukan mustahil di 
dalam diri mereka akan tumbuh nasionalisme sempit (ashobiyah), sehingga 
mendorong mereka mendirikan negara tersendiri di ujung timur pulau Jawa, karena 
di sanalah “ibukota negara” pengusung bid’ah itu berada. Potensi disintegrasi 
ini dicegah dengan menciptakan koflik tak berkesudahan di dalam tubuh mereka.

Oleh karena itu, bisa dimengerti bila dari komunitas itu sering timbul 
perselisihan internal. Bikin partai, pengurus partainya ribut. Kelompok kyainya 
ribut, ada yang mendukung Ahmadiyah, ada yang menentang. Dulu di tahun 1960-an, 
sebagian komunitas pengusung bid’ah ini ada yang pro komunis, namun ada pula 
yang menolak. 
   
  Ketika komunisme sedang jaya-jayanya di pelatran politik nasional, di kawasan 
para pengusung bid’ah ini banyak yang ikut masuk komunis. Namun ketika komunis 
surut dan cenderung diberangus, dari kalangan mereka pulalah yang paling getol 
membunuhi pengikut komunis. Seperti jeruk makan jeruk. <<---- gw banget 
istilahnya -aiN.
   
  Di tahun 1980-an, ada sebagian dari masyarakat pendukung bid’ah ini yang 
mendesak keluar dari parpol tertentu, namun ada pula yang berkeras bertahan di 
parpol tersebut. Maka, mereka pun ribut di antara sesamanya.

Mengapa ormas pengusung bid’ah itu ribut terus? Karena antek AS yang kalau 
jalan harus dituntun itu, masih eksis dan menjiwai ormas itu. Meski pernah 
terbukti berzinah dan menghina Al-Qur’an, namun karena tipikal pendukungnya 
yang emosional dan taqlid buta itu, maka keberadaan sang antek terus tegak, 
kesalahannya sebesar apapun tak tampak, apalagi ditunjang kekuatan adidaya. 
(AS-aiN)

Musuh Peradaban
Ketika komunisme masih berjaya, terutama di kawasan Rusia dan Cina, maka AS dan 
umat Islam dunia menjadikannya sebagai musuh bersama. Ketika komunisme sudah 
tumbang, maka yang kemungkinan terjadi adalah pertempuran dua peradaban: antara 
Islam dan Barat (Kristen).

Untuk mencegah adanya benturan langsung di antara dua peradaban itu, maka perlu 
dibangun neo komunisme sebagai bumper. Bila komunisme lama adalah anti 
imperialisme dan anti kapitalisme, maka neo komunisme karena dilahirkan dari 
Barat yang kapitalis, jadinya komunis yang pro kapitalis dan pro imperialis. 
Neo komunisme ini tidak frontal terhadap Islam. 

Dalam rangka menciptakan bumper tadi, AS memanfaatkan potensi-potensi yang ada, 
bahkan menciptakan agen-agen yang berasal dari negara itu sendiri. Misalnya, 
memberi pendidikan gratis atau dengan beasiswa bagi pemuda-pemudi, 
sarjana-sarjana dari Indonesia untuk meraih gelar doktor di bidang keagamaan. 
Dari sini kita bisa temukan sosok seperti Harun Nasution, Mukti Ali, Daoed 
Joesoef, Syafii Maarif, Nurcholish Madjid, hingga generasinya Ulil bshar 
Abdalla.

Meski mereka mendalami Islam, namun karena gurunya adalah orang-orang kafir 
yang menjadikan Islam hanya sebagai ilmu, bukan syariat yang harus 
diimplementasikan, maka yang terjadi adalah orang-orang yang mengerti Islam 
namun orientasinya berbeda. Para lulusan Barat ini cenderung menyampaiksan 
Islam dengan tujuan membingungkan, memurtadkan, membuat orang ragu-ragu, atau 
bahkan menilai salah ajaran agamanya sendiri.

Dari mereka inilah lahir pemikiran-pemikiran yang berbobot kufur, dan kemudian 
dimanfaatkan oleh para generasi komunis muda untuk dijadikan landasan bahkan 
mesiu memerangi Islam. Generasi muda komunis ini tidak sungkan-sungkan masuk ke 
perguruan tinggi seperti UIN atau IAIN untuk tujuan yang sangat jelas. Maka 
tidak heran bila dari perguruan tinggi Islam seperti itu lahir jargon-jargon 
ateisme seperti “Kawasan Bebas Tuhan ” atau “Anjinghu Akbar” dan sebagainya.

Kiprah para generasi muda dan tua neo komunis ini bersinergi dengan para 
penganut sepilis tentunya amat sangat merepotkan umat Islam yang konsisten 
dengan perjuangan menegakkan syariat Islam. Karena repot menghadapi para neo 
komunis dan sepilis ini, maka konsentrasi dan energi umat Islam tidak fokus 
kepada upaya penegakkan syari’at Islam. Pada saat seperti inilah fungsi 
penganut neo komnis dan pengusung sepilis sebagai bumper yang mencegah 
terjadinya benturan peradaban antara Barat yang Kristen dengan Islam.

AS dan Barat pada umumnya, harus terus meghidupkan bumper-bumper tadi, sehingga 
Islam tidak leluasa menjadi kekuatan alternatif bagi peradaban dunia. 
Sosok-sosok seperti Syafii Maarif hingga Zuhairi Misrawi (sosok yang lebih muda 
dari Ulil) akan terus mendapat pasokan berarti hingga eksistensinya terjaga, 
sampai batas waktu yang tak tertentu.

Penganut neo komunis dan sepilis itu kini bergabung ke dalam AKKBB (Aliansi 
Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan). AKKBB sesungguhnya 
hanyalah sampul yang bagus untuk isi yang buruk. 
   
  Mereka menampilkan diri dengan bungkus kebangsaan, padahal menjalankan agenda 
asing yang anti Islam. Mereka tampil dengan bungkus kebebasan beragama, namun 
yang mereka musuhi justru umat beragama (Islam) yang konsisten dengan 
penegakkan syari’ah Islam. Mereka tampil dengan bungkus yang seolah-olah 
santun, namun terus memprovokasi, memfitnah, menuding-nuding dengan 
sebutan-sebutan yang menghinakan melalui berbagai tulisan dan pernyataannya 
(lihat berbagai tulisan di Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Pikiran Rakyat, 
dan berbagai situs seperti The Wahid Institute dan situs JIL).

Bila dari sejumlah hampir 300 nama yang tercantum di dalam iklan AKKBB di 
berbagai media massa itu diklasifikasikan, setidaknya dapat dibuat penggolongan 
sebagai berkut:

a. Ada yang tergolong sebagai pengikut dan pelaksana aktif perilaku seks bebas.
b. Ada yang tergolong penganut sepilis (sekularisme, pluralisme dan 
liberalisme).
c. Ada yang penganut neo komunisme dan anti agama.
d. Ada yang tergolong sebagai pendukung kesesatan.
e. Ada yang tergolong sebagai antek asing dengan berkedok kebangsaan dan hak 
asasi manusia.

Ketika terjadi insiden Monas 01 Juni 2008, menurut pembuktian FPI dan TPM (Tim 
Pembela Muslim), AKKBB memulai insiden dengan memprovokasi FPI dan Laskar Islam 
pimpinan Munarman dengan meledeknya sebagai laskar kafir. Bahkan ada yang 
memuntahkan peluru dari pistol yang dibawanya, sehingga massa FPI dan Laskar 
Islam bukannya takut malah berang dan balas menyerang secara fisik.

Dari tabiat AKKBB yang seperti itu, maka tak heran bila sebagian masyarakat 
mengartikan AKKBB sebagai Aliansi Keluarga Komunis Baru Bersenjata. Oleh karena 
itu, yang harus dibubarkan pemerintah adalah kelompok seperti ini, yang 
pura-pura santun namun terus memprovokasi dengan berbagai pernyataan dan 
tulisan, dalam rangka memancing pihak tertentu untuk melakukan kekerasan.

Irfan S. Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin 


       
---------------------------------
Get the name you always wanted with the new y7mail email address.

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke