http://eramuslim.com/berita/tha/8610184048-membongkar-jaringan-akkbb-3.htm

Membongkar Jaringan AKKBB (3)
Selasa, 10 Jun 08 19:11 WIB
Kirim teman
Kejadian
rusuh yang diakibatkan provokasi massa AKKBB terhadap para laskar Islam
siang itu (1/6) di Monas berlangsung cepat. Para korlap dari umat Islam
berusaha menenangkan massanya yang marah. Untunglah korban luka hanya
beberapa orang dan tidak ada yang parah. Namun oleh media massa cetak
maupun teve yang dikuasai jaringan liberal Islam dan juga non-Muslim,
peristiwa yang sebenarnya biasa saja ini diblow-up sedemikian
rupa bagaikan sebuah peristiwa genosida yang memakan korban ratusan
ribu nyawa. Penguasaan media massa, di sinilah titik lemah umat Islam
Indonesia.
Sehari setelah peristiwa, Kuasa Usaha Kedubes
Amerika Serikat John A Heffern menjenguk empat anggota AKKBB di RSPAD,
Jakarta. Dalam kunjungannnya, John menyalami dan berbincang dengan
mereka. Keempatnya adalah Manager Program Jurnal Perempuan Guntur Romli
(salah satu pentolan JIL), Direktur ICIP Syafii Anwar, dan dua anggota kelompok 
sesat Ahmadiyah yakni Dedi C Ahmad dan Taher.
Pada hari yang sama, dan ini yang mengejutkan,
Presiden SBY dengan amat cepat merespon peristiwa tersebut. Padahal
presiden yang satu ini dikenal sebagai seseorang yang lamban dan peragu
dalam mengambil sikap. Hanya sehari setelah kejadian, SBY menggelar
jumpa pers mendadak di Kantor Presiden, Jl Medan Merdeka Utara,
Jakarta. Sebelumnya, Juru Bicara Kepresidenan Andi Mallarangeng, adik
dari tokoh JIL Rizal Mallarangeng mengingatkan para jurnalis untuk
tidak memotong pernyataan presiden dalam medianya. “Karena ini
menyangkut isu yang sensitif, ” demikian Andi.
Secara lengkap, ini adalah pernyataan SBY soal bentrokkan di Monas: “Saya
sangat menyesalkan terjadinya kekerasan di Jakarta kemarin siang. Saya
mengecam keras pelaku-pelaku tindak kekerasan itu yang menyebabkan
sejumlah warga kita luka-luka.
Negara kita adalah negara hukum yang punya UUD,
UU dan peraturan yang berlaku, bukan negara kekerasan. Oleh karena itu
terkait insiden kekerasan kemarin, saya minta hukum ditegakkan.
Pelaku-pelakunya diproses secara hukum diberikan sanksi hukum yang
tepat.
Ini menunjukkan negara tidak boleh kalah dengan
perilaku-perilaku kekerasan. Negara harus menegakkan tatanan yang
berlaku untuk kepentingan seluruh rakyat Indonesia. 

Saya meminta masyarakat luas mengingat
akhir-akhir ini banyak kegiatan fisik di lapangan, sebagian adalah
unjuk rasa sebagian lagi bukan. Tapi di satu kota bersamaan sering
terjadi berbagai kegiatan fisik dengan tujuan, motif dan tema berbeda.
Saya harap semua pihak tetap tertib mengendalikan diri. Apa yang
disampaikan kepada kepolisian, itu dijalankan. Karena itu janjinya
kepada kepolisian sehingga pengamanan bisa dilakukan. 

Kalau ada masalah di antara komponen
masyarakat, solusinya bukan dengan kekerasan, tapi solusi damai. Sesuai
dengan semangat kita, UUD, UU dan peraturan yang berlaku.
Kepada kepolisian, saya meminta agar
meningkatkan kinerjanya. Tantangannya tidak ringan, permasalahannya
kompleks. Oleh karena itu kepolisian di seluruh tanah air khususnya
Jakarta dan kota besar lain, lebih cepat dan profesional agar semua
bisa ditangani dengan baik. 

Memang ada dinamika, ada kegiatan yang
tiba-tiba datang seperti kekerasan yang terjadi kemarin. Tapi
kepolisian tetap melakukan pencegahan.
Tegas! Jangan memberikan ruang untuk keluar
dari apa yang kita kehendaki. Kepada seluruh rakyat mari kita jaga
baik-baik negeri ini, kita jaga kehormatan bangsa di negeri sendiri dan
dunia internasional. 

Tindakan kekerasan kemarin yang dilakukan oleh
organisasi tertentu, orang-orang tertentu mencoreng nama baik negara
kita di negeri sendiri maupun dunia.
Jangan mencederai seluruh rakyat Indonesia
dengan gerakan-gerakan dan tindakan seperti itu. Demikian pernyataan
saya, terima kasih.” 

Sehari setelah SBY mengeluarkan Lalu
(3/6/2008), Kedubes AS mengeluarkan rilis yang disampaikan kepada
berbagai media massa Indonesia. Kedubes AS menyatakan jika tindak
kekerasan seperti yang terjadi di Monas menimpa massa AKKBB akan
memiliki dampak yang serius bagi kebebasan beragama dan berkumpul di
Indonesia dan akan menimbulkan masalah keamanan. Kedubes AS juga
prihatin terhadap para korban yang terluka dan pihaknya pun menyambut
baik sikap SBY agar para pelaku tindak kejahatan segera ditindak secara
hukum. Tidak sampai di sini, Kedubes AS pun mendesak pemerintah SBY
untuk terus menjunjung kebebasan beragama bagi para warga negaranya
sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik
Indonesia. 

Di sebagian besar media massa, cetak maupun
teve, peristiwa ini mendapat porsi pemberitaan yang sangat besar dengan
pemihakan yang sangat kentara. Yang sangat kasar dalam hal ini adalah
Metro TV. Dalam aneka acara, Metro TV menyebut Habib Rizieq hanya
dengan “Rizieq Shihab”, sedangkan Abdurrahman Wahid dengan sebutan Gus
Dur atau KH. Abdurrahman Wahid. Angle pemberitaan pun terasa sekali,
bahkan kasar, mencitra-burukkan FPI sebagai organisasi massa yang haus
darah, beringas bagaikan preman, dan wajib dibubarkan.
Apa yang dilakukan Metro TV sebenarnya
tidaklah aneh karena stasiun teve ini memang sejak lama telah
mengakomodir orang-orang dari kelompok liberal dan bukan rahasia umum
lagi jika banyak siarannya sangat Americanized. Bagi sebagian kalangan, stasiun 
teve ini adalah CNN-nya Indonesia.
Lantas, di manakah letak hubungannya dengan kepentingan Zionis-Yahudi, apakah 
itu bernama Zionis Amerika atau Zionis Israel? 

Jika kita jeli, maka AKKBB ini merupakan
sebuah aliansi cair dari dua kubu yakni kaum Liberal seperti JIL dan
juga kubu non-Muslim seperti KWI dan PGI. Bukan rahasia umum lagi jika
JIL merupakan perpanjangan tangan kepentingan Zionis di Indonesia untuk
menghancurkan Islam dari dalam. Keterangan tentang hal ini tidak perlu
dibahas lagi. Salah satunya silakan lihat situs www.libforall.com dan juga 
tulisan di eramuslim.com, rubrik Nasional dengan judul “Di
mana Habib Rizieq dan Abdurrahjan Wahid Sebelum Kasus Monas” (Ahad,
8/6) tentang Abdurrahman Wahid.
Arah dan strategi pemberitaan sebagian besar media
massa kita—cetak maupun teve—secara kasar memang terlihat tidak
profesional dan memihak kubu pro-Ahmadiyah. Hal ini sebenarnya
berangkat dari strategi Rand Corporation, sebuah lembaga think-tank
Amerika yang ingin menghancurkan Islam di Indonesia.
Dalam tulisan keempat akan dipaparkan isi dari strategi Rand Corporation yang 
ditulis oleh Cheryl Bernard. (bersambung/rizki)
 ===
Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS


Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252


Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari Telkomsel 
Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau 
http://syiarislam.wordpress.com



      

Kirim email ke