Inklusivisme vs Radikalisme  
Thursday, 12 June 2008  

Kekerasan atas nama agama masih saja mewarnai bangsa ini.Penyerangan 
FPI/KLI terhadap AKKBB adalah buktinya.Tidak sedikit korban 
terluka.Sungguh menjadi tragedi kelam dalam membangun toleransi 
beragama di Indonesia.

Tragedi itu menuai kritik tajam dari berbagai kalangan,yang berakibat 
derasnya tuntutan pembubaran FPI. Pada saat bersamaan dilaksanakan 
istighosah kubro di Pesantren Al- Ashriyyah Nurul Iman di Parung 
bersama empat puluh ribuan umat Islam dan ratusan kiai.Pada akhir 
acara,Habib Saggaf al-Mahdi mengajak ribuan umat Islam, santri,dan 
para kiai yang hadir untuk berikrar kesetiaan kepada Gus Dur serta 
kecintaan pada bangsa dan negara. 

Kontradiktif 

Dua kejadian tersebut kontras sekali. Peristiwa pertama 
mengindikasikan betapa kekerasan dan radikalisme agama tampak begitu 
nyata di ruang publik. Sementara peristiwa kedua menunjukkan betapa 
istigasah dan ikrar terhadap bangsa dan negara menjadi semacam 
kerinduan hadirnya Islam sebagai rahmatan lil alamin. Seusai 
istigasah, secara verbal Gus Dur mengutuk tragedi Monas.

Gus Dur menjadi tokoh pertama yang marah oleh aksi kekerasan 
itu.Kecaman keras Gus Dur itu tidak lepas dari dua aspek. 
Pertama,korban pemukulan adalah warga NU dan sebagian pengurus PKB. 
Secara ideologis dan kultural,Gus Dur adalah simbol nahdliyin. 
Sementara aspirasi politik warga nahdliyin adalah PKB, sehingga dapat 
digambarkan bahwa Gus Dur, NU, dan PKB merupakan tiga serangkai yang 
saling mengukuhkan. 

Sejarah keberadaan PKB tidak dapat dilepaskan dari jamaah NU.Dan,Gus 
Dur adalah pendiri PKB sekaligus pewaris khazanah 
pemikiranNU.Halitudimotivasiikatan batin yang terjalin dengan warga 
NU. Kedua, pemahaman holistis Gus Dur sebagai bapak bangsa dalam 
mengayomi keragaman kultural dan ideologi. Hal ini searah dengan 
semangat ke-Indonesia-an dan kebinekaan. 

Di pihak lain,sebagai kiai dan ulama, pandangan Gus Dur tentang Islam 
sangatlah mendalam. Kedalaman itu di antaranya muncul ke permukaan 
dalam bentuk Islam yang toleran, Islam yang dialogis dan 
antikekerasan. Sejak dulu, Gus Dur adalah tokoh yang konsisten 
memerangi bermacam bentuk radikalisme dan kekerasan atas nama agama. 

Dalam beragam momen orasinya, Gus Dur kerap menyodorkan fakta bahwa 
gelombang kekerasan dan radikalisme dalam faktanya menjadi ancaman 
yang serius terhadap kemajemukan bangsa. Sebuah fenomena kekerasan 
yang lahir dari rahim absolutisme akut menghendaki 
pemaksaan "kebenaran" kepada yang lain.

Sekelompok orang dan ormas yang mengatasnamakan Tuhan dan agama 
sebagai dalilnya, seolah ingin mem benarkan diri dan melakukan 
justifikasi sesat kepada yang lain, bahkan hingga menggunakan logika 
banalitas kekerasan. 

Faktor Gus Dur 

Kecaman Gus Dur ternyata memantik reaksi keras Ketua FPI Rizzieq 
Shihab, dengan cara melontarkan cacian kepada Gus Dur. Hal ini 
memancing puluhan ribu warga nahdliyin di daerah-daerah dengan 
merapatkan barisan untuk pembubaran FPI. Perlawanan warga NU terhadap 
radikalisme agama ini menunjukkan dua sisi pada domain sosiologis. 

Di satu sisi, hal itu menunjukkan betapa kekuatan yang dimiliki Gus 
Dur adalah kekuatan mondial dan substantif. Selain ikatan ideologis, 
ikatan kultural antara sang kiai dan warga NU menjadikan harmonisasi 
antara reaksi Gus Dur dan reaksi massal warga NU. Di sisi lainnya, 
fenomena ini menunjukkan betapa ikatan kultural merupakan modal 
sosial sangat signifikan bagi seorang figur pemimpin. 

Modal inilah yang menjadikan Gus Dur masih dielu-elukan kehadirannya 
oleh rakyat. Gus Dur menjadi representasi khazanah kekayaan 
intelektual dan paradigmatik di satu sisi dan pada saat yang sama 
sebagai representasi figur pembela demokrasi dan hakhak minoritas. 
Pada posisi ini, sungguh tepat jika Nahdlatul Ulama dan Gus Dur 
sebagai tokoh gerakan Islam lokal "bergegas" melakukan perlawanan 
terhadap gerakan radikalisme tersebut. 

Gus Dur telah mengambil peran meluruskan kembali tata cara ber-Islam 
dalam kondisi Indonesia saat ini. NU telah mampu menghadirkan sikap 
sosialnya dalam wilayah yang moderat (tawassut), keseimbangan 
(tawazun), toleran (tasamuh) dan tengah-tengah (i'tidal), 
berkebalikan dengan kekerasan (tathorruf) dan teror (irhab) adalah 
harapan seluruh umat islam dan bangsa Indonesia pada umumnya. 

Dalam menjaga keberlangsungan hidup berbangsa,Gus Dur telah mampu 
mereinterpretasikan Islam menuju gerakan rahmatan lil alamin. 
Meminjam istilah Fazlurrahman (1993), model keberagamaan yang harus 
ditempuh adalah proses yang dilalui lewat pairtnership antara Tuhan 
dan manusia dalam menulis sejarah (partnership of God and man in 
history). 

Model keberagamannya yang dibangun haruslah berdasarkan pada dialog 
antara agama dan peradaban yang sudah ada, sehingga eksistensinya 
tidak tercerabut dari identitas lokal ke-Indonesia-an tanpa adanya 
ketegangan sosial. 

Toleransi Gus Dur 

Islam adalah agama yang toleran. Demikian ungkap Gus Dur di acara 
halaqahkebangsaan di Pesantren Ciganjur beberapa waktu lalu. Gus Dur 
seolah ingin berpesan bahwa Islam harus menjadi teman bagi agama dan 
keyakinan lain. Dia harus rukun, hidup damai, dan mau berdialog dalam 
perbedaan. 

Gus Dur menginginkan sebuah pendewasaan kehidupan beragama yang 
mengedepankan semangat kejujuran. Menjadi fa'al urgen bagi agamawan 
untuk meneguhkan kembali semangat transendensi-humanis agama yang 
dianutnya di tengah masyarakat. Agama harus diamalkan sebagai 
perangkat penting dalam menegakkan kebajikan yang membawa 
kemaslahatan bagi manusia, bukan malah sebaliknya dengan 
menjadi "monster" bagi kehidupan manusia. 

Belajar dari Gus Dur,wajah agama yang tidak sejuk selama ini harus 
digantikan nilai persaudaraan dan kebangsaan. Umat beragama harus 
melakukan introspeksi diri dengan membenahi cara beragamanya untuk 
bersama- sama menciptakan ketenangan dan ketenteraman dalam segala 
aspek kehidupan. 

Guna tercapainya ekualitas antara normativitas agama dan realitasnya, 
cukup signifikan jika penafsiran agama harus sebagai pemecah masalah 
(problem solver),bukan malah sebagai kekuatan kelabu (dark force) 
dalamkehidupanmanusia.Langkahini mutlak dilakukan guna terwujudnya 
peran agama dalam dialektika kehidupan dengan tampilan pemeluknya 
yang santun,damai,serta tidak anarki. 

Lebih dari itu, agamawan harus menggali sumber-sumber dan riwayat 
hidup agamanya yang autentik,di mana mereka mampu menjadi agenagen 
perdamaian.Agama harus dijadikan sebagai kebijaksanaan dan daya yang 
mengusahakan kedamaian, bukan perang, kekerasan, permusuhan, 
teror,serta atribut dehumanisme lainnya.

Sebab,perdamaian dunia yang menjadi cita-cita seluruh umat manusia di 
jagat raya tentu membutuhkan kesadaran umat beragama yang memahami 
nilai-nilai dasarnya. Karena itu, radikalisme atas nama agama harus 
dihapuskan dari negara Pancasila ini.Tidak hanya melalui perjuangan 
ideologis maupun kultural, juga melalui pembangunan demokrasi 
danpolitik.JalanpolitikGusDuradalah pilihan pembenahan demokrasi 
melalui PKB. 

Jutaan masyarakat pun bisa menilai siapa dan bagaimana Gus Dur, 
hingga kecamannya menjadi amarah puluhan ribu demonstran di daerah-
daerah untuk pembubaran FPI.Bagi saya, inklusivisme beragama adalah 
sebuah pilihan.Bagaimana dengan Anda? (*) 

Ali Masykur Musa 
Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB 

 
 


Kirim email ke