Arti  Edisi 002  Beredar Mulai Hari Ini

Majalah Arti  edisi 002 (12-26 Juni 2008) beredar mulai hari ini di
seluruh Indonesia, terutama pusat-pusat aktivitas seni, mulai galeri
hingga museum. Juga dapat ditemukan di outlet-outlet majalah dan
toko-toko buku.

Arti memosisikan diri sebagai referensi para kolektor benda seni,
kurator, seniman, mahasiswa seni, perguruan tinggi seni, galeri dan art
space, serta kalangan lain yang berminat pada seni. Dalam setiap edisi,
majalah Arti sedapat mungkin berusaha untuk memberi tafsir pada
perkembangan yang sedang berlangsung, juga pelbagai diskursus tentang
seni, selain  pancaragam berita seni.

Di luar aneka rupa menu seni, majalah Arti pun memberi tempat pada
tema-tema sosial yang memiliki irisan persoalan dengan dunia seni.
Tema-tema ini dituangkan dalam bentuk bonus lembaran features menarik di
setiap edisinya.

Majalah Arti terbit dwimingguan, dan beredar setiap Kamis minggu pertama
dan minggu ketiga. Majalah ini dicetak di atas kertas Art Paper Matte,
dengan jilid cukup tebal yang diberi Spot UV serta hamparan kertas dof.
Teks dan visual dijalankan secara berimbang, seperti komitmen para
pengelola untuk menghargai sekecil apapun karya jurnalisme dan grafis
yang dimuat.

Pada edisi kedua, Arti menyajikan berbagai tulisan bermutu mulai
analisa, resensi, esei seni hingga features.

Sastrawan F Dewi Ria Utari menulis tentang Laksmi Pamuntjak, seorang
perempuan yang menurutnya memiliki daya pukau tinggi. Laksmi tak hanya
indah secara ragawi, namun juga cerdas secara intelektual. Segala hal
yang terdapat pada diri Laksmi Pamuntjak merupakan perpaduan berbagai
unsur yang memikat. Ia cantik, memiliki selera bagus dalam menilai
hidangan, seorang pianis, dan lihai mencipta kata. Meski demikian, hidup
bagi Laksmi merupakan pilihan. Dari semua kepandaiannya tersebut, ia
memilih sastra.

Chandra Johan, perupa, kolomnis, sekaligus periset seni, mengetengahkan
komentar menarik seputar pameran Manifesto Seni yang baru saja
dilangsungkan di Galeri Nasional pada 21 Mei 2008 lalu. Menurut dia,
ribuan orang menonton pameran di gelanggang "Manifesto", tapi
tidak semua benar-benar melihat dan menyimak lukisan yang mereka tonton.
Umumnya orang ingin mendengar opini orang tentang lukisan, bukan soal
substansi karya atau landasan filosofis di balik gagasan visualnya, tapi
apakah karyanya "trendi" dan "seksi" untuk diinvestasi,
apakah karyanya "kontemporer" atau bukan.

Agus Sopian ikut melengkapinya dalam eseinya tentang perkiraan jarak
nasionalisme dan seni. Menurutnya, tak mudah menarik garis cepat di
antara elemen nasionalisme dan seni, lebih-lebih garis yang langsung
terhubung ke entitas Budi Utomo. Paralel dengan ini, perayaan 100 Tahun
Kebangkitan Nasional baru-baru ini, yang juga dirayakan oleh para
seniman, lebih pantas diartikan sebagai perayaan warga sipil seumumnya
-- suatu ritual yang berasal dari ekspansi birokrasi negara ke dalam
berbagai kehidupan, termasuk pengaturan kalender.

Pembaca yang memiliki minat khusus terhadap features, dapat menemukan
bonus sisipan 16 halaman yang memuat tiga feature terpilih, di antaranya
soal nasib Gedung Rumentang Siang yang diarak oleh esei Ahmad Nurhasim,
serta bangunan-bangunan bersejarah di sekitar Jatinegara yang ditulis
Silvia Galikano dalam "Rumah Jenderal."

Contact Person:

Pemasangan Iklan
Dina 021-9436-1341

Langganan
Ika 021-9543-0002

Jaringan Kerja dan Relasi
Erry 021-9802-2286



Kirim email ke