Jurnal Sairara:
Kepada Saudara Taufiq Ismail
11 . PENGUMUMAN YANG TERLALU DINI DIUMUMKAN?
"Saya ingatkan hadirin bahwa ideologi ini telah menceburkan bangsa dalam dua
perang saudara yang berdarah-darah. Ideologi ini ternyata lancung keujian,
gagal total di seluruh dunia tak terbukti mampu memecahkan masalah politik,
ekonomi, sosial dan budaya tiga perempat abad lamanya. Selama 74 tahun
(1917-1991) Marxisme-Leninisme terbukti buas-ganas-barbar-haus darah, dan
membantai 120 juta manusia di 76 negara (Courtois: 2000)," tulis Saudara Taufiq
pada alineA kelima respons bagian pertamanya.
Kalau pengamatanku benar terhadap gerakan komunis dan gerakan kiri di
berbagai negeri berbagai benua, dengan catatan tanpa pretensi bahwa data yang
kumiliki pun jauh dari lengkap, maka yang nampak padaku bahwa orang-orang dari
gerakan ini memang tidak bebas dari kesalahan. Bahkan samapai melakukan
kesalahan yang mengalirkan darah dan menelan nyawa yang tidak kecil jumlahnya,
termasuk di kalangan barisan mereka sendiri. Tapi mereka juga sebagai
orang-orang yang serius dengan mimpi mereka untuk menjadikan bumi sebagai
tempat kehidupan manusia yang manusiawi, mencoba terus-menerus memperbaiki,
mengkoreksi kesalahan-kesalahan melalui kritik dan otokritik yang tak
kepalang. Mereka bukan orang-orang yang mandeg.
Keadaan inilah yang kubaca di Tiongkok, misalnya dengan koreksi terhadap
Revolusi Besar Kebudayaan Proletar yang kemudian melahirkan gerakan reformasi
untuk melaksanakan empat modernisasi. Ini jugalah kukira hakekat usaha
gerakan Perestroika Gorbachev di Uni Soviet dahulu, atau yang berlangsung di
Viêt Nam sekarang setelah era Le Duan.
Koreksi-koreksi kongkret begini berangkat dari kesetiaan pada mimpi di atas.
Koreksi ini pulalah yang terbaca dari pernyataan Hugo Chavez dari Venezuela
ketika menasehatkan kepada FARC [Kekuatan Bersenjata Revolusioner Columbia],
yang sangat dekat dengan dirinya, untuk meletakkan senjata dan menempuh jalan
baru [lihat: Harian La Croix, Paris, 10 Juni 2008].
Dalam pesannya yang mengagetkan banyak orang, kepada FARC yang Marxis itu,
Hugo Chavez antara lain mengatakan bahwa "Di Amerika Latin, gerakan gerilya
bersenjata sekarang ini bukanlah merupakan agenda harian lagi, dan hal ini
harus disampaikan kepada FARC", ujar Hugo Chavez ketika berbicara di depan
radio-televisi Dominican dalam acara "Allô Président". Pesan ini secara
terarah disampaikan kepada Alfonso Cano yang menggantikan Manuel Marulanda yang
baru-baru saja meninggal dunia [Lihat: Harian La Croix , Paris, 10 Juni 2008] .
Perkembangan serupa juga telah dan sedang diterapkan oleh kelompok Maois
Nepal yang sekarang turut menguasai negeri dan berperan dalam mengubah Nepal
dari Kerajaan menjadi Republik.
Kalau kita melihat perkembangan di Eropa, mulai dari Eropa Utara, terutama
negeri-negeri Skandinavia, lalu turun ke Selatan hingga sampai ke Jerman,
Belanda, Inggris, Perancis, Italia, Portugis dan Spanyol, kita akan melihat
perkembangan-perkembangan konsepsional dan praktek di kalangan barisan
Sosial-Demokrat pun terjadi.
Di Perancis, misalnya dalam rangka persiapan Kongres Partai Sosialis [PS] di
Reims tahun ini, paling tidak dua konsep yang sedang ditawarkan. Pertama
konsep dari Betrand Delanoë, walikota Paris sekarang; kedua dari Segolène
Royal, kandidat presiden dari PS dalam pemilihan presiden Perancis pada Mei
2007 lalu, yang bersaing menghadapi Nicolas Sarkozy. Delanoë menawarkan konsep
"liberal sosialis" sedangkan Segolène menyodorkan konsep "demokrasi
partisipatif". Dibandingkan dengan masa-masa silam, konsep di kalangan PS ini
memperlihatkan perkembangan luar biasa. Yang ingin kukatakan dengan contoh ini
adalah bahwa PS seperti partai-partai kanan pun berkembang dan terus
berkembang. Partai neo-nazi seperti Front Nasional pun berkembang.Demikian
juga Partai Komunis Perancis. Masing-masing berkembang dan berobah agar teori
dan praktek mereka bisa tanggap zaman dan apresiatif. Tanpa kemampuan sifat
tanggap zaman dan apresiatif, mustahil partai-partai mana pun akan bertahan
dan memperoleh tempat di hati rakyat. Secara teori, aku Marxisme meniscayakan
kaum Marxis untuk senantiasa mampu tanggap zaman dan apresiatif. Kemerosotan
partai-partai Marxis,barangkali lebih memperlihatkan ketidak mampuan membaca
dan menanggap zaman secara apresiatif, dan barangkali tidak terletak pada
filosofinya.
Jika demikian, apakah mengatakan Marxisme sebagai "lancung keujian" bukannya
sebuah pernyataan atau pengumuman yang terlalu dini?Apalagi jika Marxisme itu
bukanlah sebuah dogma tapi metode melihat masalah dan menganalisa. Walau pun
adalah hak masing-masing untuk mengajukan pendapat setuju atau tidak dengan
filosofi ini.
Sebagai acuan, sekaligus sebagai contoh barangkali wawacara Prachandra --
pimpinan Partai Komunis Nepal -- dengan Yumiuri Simbun di bawah ini masih ada
relevansinya. Mudah-mudahan:
MAOIS ABAD 21
Wawancara Prachanda dengan Harian Jepang
Kazuo Nagata, koresponden Yumiuri Shimbun
Katmandu Partai Komunis Nepal [Maois] memenangkan
jumlah kursi terbesar sebuah dewan yang merancang
undang-undang dasar setelah keberhasilannya dalam
pemilu April yang lalu. Berikut adalah wawancara
Yomiuri Shimbun dengan pimpinan partai Prachanda, 53
tahun, berlangsung di kediamannya di Katmandu pada
Jumat lalu.
Yomiuri Shimbun: Apa yang terjadi dengan raja
[tersingkir]? Secepat apa dia harus hengkang dari
istana? Apakah dia dapat diterima untuk tinggal di
Nepal?
Prachanda: Keadaan keseluruhan cukup jelas. Tampaknya
dia telah setuju dengan keputusan Dewan Konstituante.
Bila anda menghargai kehendak rakyat, saya pikir dia
seharusnya tetap tinggal di sini. Sepatutnya dia tidak
pergi ke pengasingan. Dia selayaknya berdagang dan
membantu negerinya. Kami lebih senang dia tetap
tinggal di sini. Dia dapat membentuk partai politik
dan dapat ikut bersaing dalam pemilu. Tidak akan ada
rintangan.
Apakah anda bermaksud menjadi perdana menteri atau
presiden?
Sebelum pemilu kami dengan jelas telah menyebutkan di
dalam sebuah manifes bahwa, kami akan menjadi presiden
pertama dari sistem republik yang baru ini kelak.
Rakyat telah memberi suara yang menguntungkan
kedudukan kami. Tetapi, perdebatan intensip kini
sedang berlangsung di kalangan partai politik dan hal
itu masih belum ditetapkan. Karena kami tidak memiliki
suara mayoritas, maka dalam keadaan seperti itu adalah
penting untuk membuat konsensus. Seharusnya hal itu
mengerucut dalam bentuk konsensus dan kami akan
memutuskan siapa yang menjadi presiden. Dalam seminggu
ini hal itu akan jelas.
Sebuah pemerintahan baru dalam seminggu?
Saya pikir begitu.
Apa yang akan terjadi dengan perdana menteri sekarang,
Girija Prasad Koirala, ketika [Partai] Konggres Nepal
menjadi bagian dari koalisi bersama para Maois?
Begitu pemilu usai kami menanyakan sebagian terbesar
partai politik untuk membentuk sebuah koalisi. Tidak
hanya Konggres Nepal. Sejauh berkaitan dengan peran
Koirala, kami telah mengusulkan agar dia menjadi
pimpinan aliansi. Seperti Sonia Gandhi [koalisi yang
sedang memimpin India saat ini].
Sepenting apa hubungan dengan Jepang bagi Nepal?
Dalam kurun sejarah moderen Nepal, hubungan dengan
Jepang selalu penting adanya. Kerjasama dan bantuan
rakyat Jepang serta pemerintahnya selalu mengandung
arti penting strategik. Pada saat ini, kami sedang
memusatkan perhatian untuk pembangunan kembali ekonomi
dalam rangka membangun kembali negeri ini. Jepang
dapat memainkan peran vital dalam pembangunan negeri
ini, terutama di bidang perekonomian.
Sedikit banyak revolusi politik telah diselesaikan
setelah pemilu Dewan Konstituante dan didirikannya
republik federal. Sekarang kami ingin memusatkan pada
revolusi ekonomi dan adalah sangat sulit untuk
memperoleh kedamaian tahan lama tanpa pembangunan
secara cepat. Perdamaian dan pembangunan saling
berpautan. Jepang akan menjadi mitra penting kami.
Telah terjalin hubungan teramat erat antara keluarga
kerajaan Jepang dan Nepal, namun kini satu di antara
mereka telah enyah. Anda pikir hal itu akan berdampak
pada hubungan dua negara termaksud? Apakah anda
berniat mengunjungi Jepang dalam waktu dekat?
Saya senang memilih berkunjung ke Jepang. Setelah
perang, Jepang telah meraih pembangunan secara
menakjubkan. Saya ingin belajar khususnya dari
pembangunan ekonomi Jepang. Itu merupakan satu di
antara model dan inspirasi untuk membangun kembali
negeri kami. Saya pikir hubungan antara Jepang dan
Nepal bukan lah merupakan hubungan di antara dua
keluarga kerajaan semata, tetapi lebih merupakan
persoalan antara kedua pemerintahan dan rakyatnya.
Pada waktu mendatang hubungan kita akan lebih dekat
dan kerjasama pun akan lebih banyak.
Adalah mengesankan mendengar anda berbicara tentang
pembangunan ekonomi hanya beberapa tahun setelah
bersembunyi di bawah tanah melakukan pertempuran dalam
perang gerilya. Mengesankan juga melihat anda
menggeser perhatian pokok dari militer ke berbagai
alat politik selama anda berjuang melawan kerajaan.
Dari mana datangnya keluwesan seperti itu?
Yaaaa [sembari tertawa]. Kami bukan lah jenis
pemberontak dan pemikir kolot. Kami bukan lah komunis
bercorak sektaris, dogmatik, totaliter atau
sejenisnya. Delapan tahun yang lampau, kami telah
memutuskan secara aklamasi bahwa, kami akan memasuki
perkembangan demokrasi abad XXI, bahkan termasuk dalam
sosialisme, seharusnya terdapat persaingan multi
partai. Ini adalah sesuatu yang baru dalam gerakan
komunis internasional. Dengan cara buruk, [Raja
Gyanendra] memberi sumbangan atas didirikannya
republik demokratik. Bila dia tidak mengambil
tindakan-tindakan bodoh melawan rakyat
.
Para Maois telah menangguhkan, namun tidak lah secara
resmi menghentikan, perjuangan militer sebagai sebuah
cara mencapai sasaran partai. Apakah anda siap
melakukannya kini?
Dalam perkiraan kami, setelah pemilu ini, rakyat telah
memutuskan sesuatu demi perdamaian dan perubahan. Saya
tak berpikiran adanya semacam kebutuhan lagi memiki
satuan tentara yang berjuang. Saya tak berpikiran akan
ada semacam kebutuhan untuk menggunakan senjata lagi.
Namun, hal itu tidak berarti bahwa tak akan ada orang
yang seharusnya mengangkat senjata berlawan terhadap
penindasan pemerintah atau sejenis itu. Saya tidak
dapat meramalkannya.
Anda kira Amerika segera akan menghilangkan nama para
Maois dari daptar kelompok teroris?
Baru-baru ini saya terlibat dalam sebuah perbincangan
di ruang ini dengan pihak Amerika Serikat [Deputi
Asisten Menlu, Evan Feigenbaum]. Saya pikir AS akan
mengubah sikap dan kebijakannya. Mereka sedang mencoba
untuk memahami dinamika nyata negeri kami. Secara
lambat dan bertahap, mereka sedang menempuh
langkah-langkah yang lebih pragmatik. Dalam
perbincangan dengan pihak wakil pembantu menlu AS itu,
saya mencium mereka akan mengambil sikap yang lebih
luwes. Dia secara kategorik mengatakan, Kami akan
bekerjasama dengan pemerintah anda. Ini merupakan
sesuatu yang mendorong. Kami berkeinginan memiliki
hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat.
Ketua Mao tentunya berasal dari Tiongkok sedangkan
anda adalah seorang Maois juga. Apa hubungan di antara
kedua Maois ini?
Saya pikir kami semua memiliki corak khusus sehubungan
dengan garis politik dan idiologi, gaya kerja, serta
berbagai pengertian. Meski semua Maois memiliki
kesamaan ciri minimum perihal beberapa pokok soal
dasar filsafat dan idiologi, namun dalam strategi dan
taktik mereka semuanya merdeka. Menerapkan Marxisme
dan Leninisme menurut cara nyata sesuai dengan keadaan
nyata adalah sesuatu yang umum. Namun, bagaimana
menerapkannya dalam keadaan nyata merupakan sesuatu
yang berbeda dari satu negeri ke negeri lainnya.
[3 Juni 2008]
Sumber: http://democracyandclassstruggle.blogspot.com/
Diindonesiakan oleh team datainfocom.
****
Adanya perobahan-perobahan demikian, seperti dikatakan oleh Hugo Chavez ,
apalagi jika di kalangan kaum kiri Indonesia dan semua pihak, lebih-lebih dari
perobahaan dari penyelenggara Negara, terdapat perkembangan pemikiran dan
sikap, kukira, perobahan-perobahan demikian akan menyediakan syarat sangat
menguntungkan guna menggalang rekonsiliasi. Rekonsialiasi baik dari atas, mau
pun dari bawah. Rekonsiliasi yang berdiri dan berjalan di atas dua kaki.
Apakah ini sebuah mimpi terlalu dini pula di tengah waktu yang berlari kenang
tanpa memperdulikan kita sehingga tiga dasawarsa lewat di hadapan kita tanpa
terasa. Anak-anak yang dahulu bocah sekarang sudah membangun rumah dan keluarga
mereka sendiri. Di hadapan perjalanan waktu begini, lagi-lagi dan kembali aku
teringat akan baris-baris puisi Mao Zedong:
"rebut waktu pagi-senja
seribu tahun terlalu lama"
atau:
"pengorbanan pahit membulatkan tekad yang kuasa
menempa surya dan candra bercahya di cakrawala baru"
[Alihbahasa oleh Magusig O Bungai]
Aku mengarahkan pandang ke "cakrawala baru" itu, cakrawala baru yang bernama
langit tanahairku: Indonesia. Apakah mimpi ini pun termasuk sejenis
pengumuman yang terlalu dini diumumkan? Apakah langit itu hanyalah langit
imajiner? Tapi mimpi dan imajinasi tidak pernah kurasakan berkelebihan di bumi
kehidupan. ***
Paris, Mei 2008
----------------------
JJ. Kusni, pekerja biasa pada Koperasi Restoran Indonesia di Paris.
[Bersambung.....]
---------------------------------
Search. browse and book your hotels and flights through Yahoo! Travel
[Non-text portions of this message have been removed]