untuk Mas the saint now,
saya yakin setiap orang akan bergerak maju ke arah yang positif dan
lebih baik. Dan kita harus mampu menggunakan kaca mata terkini dalam
menilai seseorang --bukan menggunakan kaca mata di masa lampau. 

Ah.. saya pikir mas The Saint Now lebih canggih&lebih pinter daripada
aku. =)

untuk mba Lina Dahlan,
makasih atas tanggapan [tiap paragraf] atas tulisan saya dan sumbangan
pemikiran anda yang detil..

salam,
refanidea
http://refanidea.wordpress.com


--- In [email protected], "Thesaints Now" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Mbak Lina sekarang saya mulai menghormati pandangan Mbak. Mabak
sudah mulai
> banyak kemajuan dalam menyikapi perbedaan. Salut untuk Mbak
mudah-mudahan
> tetap istiqamah dalam keadilan.
> 
> Kalau menurut saya ahmadiyah boleh saja mengaku islam kan pake nama
muslim
> ahmadi atau ahmadiyya muslim jadi orang bisa mengenali mereka dengan
jelas.
> 
> Kalu ahmadiyah disuruh menyebut ahmadi muslim mereka sepertinya senang
> banget dan enggak akan ada lagi maslah yang muncul.
> 
> 
> On 6/13/08, Lina Dahlan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> >   Dear Mas Ifan,
> > Ini pribadi pendapat saya.
> > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>,
"Refanidea
> > Y." <ifan_bucks@>
> > wrote:
> > >
> > > Orang-orang Muda tentang Ahmadiyah
> > >
> > > Saya tidak mengerti pemikiran anak-anak muda Islam sekarang yang
> > > mengatakan bahwa Ahmadiyah sesat dan tidak berhak hidup di
> > Indonesia.> Entah apa yang tidak berhak hidup, ajarannnya atau
> > orangnya. Sejak> dulu sekali sebelum orang-orang muda Islam ini
> > lahir, Ahmadiyah telah> ada di Indonesia. Mungkin usia Ahmadiyah
> > sama dengan kakek-nenek> mereka. Apakah orang-orang muda Islam benar-
> > benar mengerti tentang> Ahmadiyah atau hanya ikut-ikutan berpendapat
> > begitu karena khawatir> bila tidak menyatakan sesat, maka akan
> > dianggap bukan termasuk aliran> Islam mainstream? Apa sih itu Islam
> > mainstream?
> >
> > Lina:
> > Setelah membaca beberapa buku karya Mirza Ghulam Ahmad, termasuk
> > Tazkirah (kumpulan wahyu Tuhan kepada MGA) dan beberapa tanggapan
> > atasnya dan membaca sejarah berdirinya Ahamdiyah sebagai suatu
> > gerakan di India, saya berpendapat ajaran Ahmadiyah (Qadian) adalah
> > sesat. Namun saya termasuk orang yang tidak menyetujui kekerasan
> > meskipun itu terhadap orang yang saya anggap sesat ajarannya.
> > Apalagi dalam kehidupan bernegara dimana kita harus mematuhi hukum
> > yang ada. Kalaupun Ahmadiers mau menganggap saya sesatpun welcome
> > saja buat saya. Itu sudah menjadi hal biasa dan wajar.
> > *****
> > >
> > > Saya pikir orang-orang muda Islam di Indonesia hanya latah.
> > Seharusnya> mereka berpikir lebih dalam, mencari tahu lebih banyak,
> > baru berpendapat.
> > >
> > > Sejak dulu Ahmadiyah hidup tenang dan tidak terusik kehidupan
> > > beragamanya. Lalu kenapa sekarang mereka terusik? Apakah Ahmadiyah
> > > berbeda antara dulu dan sekarang? Saya kira tidak. Kalau sama,
> > lantas> apa yang membuat mereka menjadi begitu terancam
> > eksistensinya oleh> orang-orang muda Islam yang teramat bersemangat?
> > Kita patut bertanya,> Ahmadiyah yang berubah atau sikap hidup dan
> > level kemanusiaan> orang-orang muda Islam yang mengalami degradasi?
> > Tidak mengertikah> mereka tentang nilai-nilai humanisme universal?
> >
> > Lina:
> > Dahulu, di jaman orba, rezim pak Harto tidak memberi angin
> > sedikitpun kepada gerakan2 spt Ahmadiyah [apalagi FPI] untuk tumbuh.
> > Meskipun belio tidak memberangus. Hanya dibuat impoten. Pak Jendral
> > itu berpendapat,"elo buat kacau di negara gw, gw berangus!"
> >
> > Sekarang ini, orang baru melek mata akan demokrasi. Pemerintahannya
> > tidak bersikap tegas atas perundangan dan hukum yang ada. Situasi
> > spt ini dipergunakan dgn baik oleh orang2 termasuk oleh Pemerintah
> > sendiri.
> > *******
> > >
> > > Saya pikir orang-orang muda yang merusak tempat ibadah, membakar
> > > rumah-rumah pengikut Ahmadiyah, dan main pukul itu sama sekali
> > tidak> mencerminkan Islam mainstream! Mereka itu hanya berbeda tipis
> > dengan> teroris. Mereka menebar teror pada saudara-saudaraku
> > Ahmadiyah.> Bedanya, mereka tidak pakai bahan eksplosif sejenis
> > mercon besar, C4> atau TNT.
> > >
> > > Di beberapa maling-list (milis) orang-orang muda Islam saling
> > berlomba> menyebar artikel tentang Ahmadiyah. Ada yang pro dan
> > kontra tentang> FPI, pro-kontra tentang Ahmadiyah, pro-kontra
> > tentang aliran> fundamental dan moderat. Konyol!
> >
> > Lina:
> > Saya tidak menganggap ini suatu yang konyol karena saya berusaha
> > mengambil hikmah dan pelajaran dari keduanya. Karena ini juga
> > merupakan fakta yang ada yang merupakan kemajuan jaman pada bidang
> > media. Bergantung bagaimana kita membacanya. Hanya saja saya
> > berharap hal2 ini tidak menguras energi terlalu banyak sehingga anak
> > muda tdk punya energi untuk berkarya yang positif lagi. Hmm ini
> > mungkin yang mas Ifan masuk dgn konyol ya?...:-)
> > >
> > > Mereka hanya ingin menunjukkan dirinya masuk dalam kategori atau
> > > kelompok tertentu dengan menyebar artikel yang menurut mereka
> > sesuai> dengan cara berpikirnya. Mereka hanya mampu menyodorkan
> > wacana dari> tokoh tertentu, dari ulama ini, ulama itu, sedang
> > dirinya sendiri> tidak punya dan tidak berani menuliskan sesuatu
> > yang menunjukkan> kemandirian sikap dan pendapatnya tentang
> > Ahmadiyah.
> >
> > Lina:
> > Pada akhirnya anak muda anak muda ini akan mempunyai pendapat
> > sendiri dari pengalamannya masing-masing, bukan? Biarkan saja. Namun
> > yang perlu dicegah adalah tindakan kekerasan dan pengurasan energi
> > utk hal2 yg tdk perlu.
> >
> > ******
> > >
> > > Kekhawatiran orang-orang muda Islam saat ini tentang Ahmadiyah
> > yaitu> jika keyakinan dan ajaran Ahmadiyah terus berkembang dan
> > semakin> besar. Itu bukan? Kenapa khawatir tentang Ahmadiyah yang
> > rekam> jejaknya tidak pernah menunjukkan singgungan, perselisihan,
> > dan> gangguan pada umat agama yang lain termasuk Islam mainstream.
> > > Saudara-saudara kita Ahmadiyah beraktifitas, bekerja, berwirausaha,
> > > melaksanakan sholat, berzakat, mendirikan SMU PIRI di Yogyakarta.
> > > Masjid yang mereka dirikan juga menjadi sarana ibadah umat Islam
> > yang> lain.
> >
> > Lina:
> > Memang ada ketakutan seperti itu, nampaknya. Sebetulnya memang tak
> > perlu. Namun, saya pernah baca di Republika bahwa kaun ahmadi ini
> > melakukan 'misionaris' yang tidak elegan alias dengan "pemaksaan
> > terselubung" dalam menarik awam agar menjadi ahmadiers. Ini yang
> > perlu diwaspadai krn akan memicu permasalahan dalam situasi rawan
> > spt ini.
> > >
> > > Kenapa kita begitu menaruh curiga bahwa pengakuan mereka tentang
> > Quran> dan Muhammad adalah ungkapan di bibir saja. Toh kalau mereka
> > tidak> mengakui Quran dan Muhammad --karena meyakini dan berpedoman
> > pada> diktat lain dan nabi terakhir yang lain-- mereka tetap warga
> > > Indonesia, bagian dari bangsa ini. Kalau penderita HIV/Aids yang
> > > jelas-jelas bisa menular saja tidak kita kucilkan, mengapa kita
> > tidak> adil pada saudara-saudara Ahmadiyah. Apakah mereka `penyakit'
> > menular> yang `membunuh' perlahan-lahan.
> >
> > Lina:
> > Kalau mereka curiga, itu karena mereka punya pengalaman sendiri.
> > Yang terlihat oleh mata kita adalah pengalaman pemimpin ahmadiyah
> > dengan Bakorpakem. Awalnya menyetujui, namun sesudah ditandatangani
> > kesepakatan Ahmadiyah melanggar kesepakatan itu. Apalagi yang tidak
> > dibuat kesepakatan. Mereka bisa bicara apa saja, dan dibelakangnya
> > mereka bisa melakukan yang berbeda toh?
> >
> > Terlepas dari Ahmadiyah (karena saya tidak menyamakan ahmadiyah dan
> > aids), Betulkah penderita HIV/Aids tidak dikucilkan?
> > >
> > > Saya sempat berpikir sebaliknya. Kalau saya tinggal di suatu
> > daerah di> mana status agama, suku, ras, atau ideologi saya adalah
> > bagian yang> minor, sementara bagian mayoritasnya tidak memberi saya
> > ruang untuk> hidup dengan rasa tenang dan aman, tentu saya akan
> > memilih eksodus,> pergi ke daerah lain yang menerima kehadiran saya
> > dengan baik.
> >
> > Lina:
> > Itu hak pribadi setiap orang dan itu berarti negara tidak bisa
> > menjamin rakyatnya merasa aman dan tenteram.
> > ******
> > >
> > > Mungkin saya kecewa dan sakit hati karena menjadi kaum minoritas
> > dan> karena alasan itu saya diusir dari tempat tinggal saya yang
> > dulu.> Mayoritas memang lebih sering dan mudah menang, menjadi
> > superior bagi> minoritas.
> >
> > Lina:
> > Kalo saol mayo dan mino, idealnya, Mayoritas (yang kuat) itu harus
> > bisa melindungi minoritas (yang lemah). Minoritas harus tau diri.
> >
> > *****
> > >
> > > Saya was-was kalau saudara saya yang Ahmadiyah tidak bisa hidup
> > tenang> dan nyaman di negeri sendiri karena kesewenang-wenangan kaum
> > > mayoritas. Saya jadi was-was kalau mayoritas Islam merasa was-was
> > juga> pada perkembangan dan penyebaran keyakinan Ahmadiyah. Akhirnya
> > > semuanya jadi was-was. Kita mau menjadi bangsa yang curiga dan
> > > was-was. Tapi kenapa baru sekarang was-was, sejak dulu Ahmadiyah
> > hidup> tenang dan tidak ada yang was-was pada Ahmadiyah. Ahmadiyah
> > sendiri> juga tidak was-was pada siapapun. Apakah orang-orang muda
> > Islam> mainstream sekarang lebih pandai dan mengerti soal agama,
> > lebih berani> menyatakan kebenaran, atau sedang ingin menunjukkan
> > tingginya keimanan> mereka lewat klaim-klaim tertentu.
> >
> > Lina:
> > Saya juga gak tau apa yang membuat mainstream sekarang meradang lagi
> > soal Ahmadiyah. Apakah betul pemerintah memulainya untuk menutupi
> > masalah BBM dan Korupsi2 lainnya? Ato memang pemerintah memerlukan
> > kisah2 semacam ini karena menjelang pemilu sehingga perlu ada
> > pembetukan image?. Tapi dua stream yang bertentangan memang
> > diperlukan...:-)). Gossipnya akan ada lagi "sinetron" yang akan di
> > buat yang bertemakan soal penggusuran rumah, seperti yang terjadi
> > pada perumahan2 di Meruya. Gak tau daerah mana yang akan dipilih...:-
> > ))
> >
> > >
> > > Jalan menuju iman bukanlah jalan instan, lebih-lebih melalui
> > > klaim-klaim dangkal seperti itu. Seharusnya kita memiliki nilai-
> > nilai
> > > humanisme universal, yaitu menghargai keragaman kultur, perbedaan
> > > ideologi, perbedaan pendapat, sebagai wujud kedermawanan sikap kita
> > > pada sesama manusia juga sebagai wujud tafakur dan syukur kita atas
> > > keberagaman yang diciptakan Tuhan sang Maha Kaya. Dan Islam tidak
> > > menolak nilai-nilai humanisme. Muhammad mengajarkan nilai-nilai
> > > humanisme melalui hal-hal konkret. Tapi mengapa pengikut Muhammad
> > ini> jadi kehilangan nilai-nilai itu sambil berteriak bahwa
> > Ahmadiyah tidak> layak eksis. Mungkin kalau Muhammad masih hidup
> > saat ini, beliau akan> marah melihat sikap yang tidak toleran ini.
> > Beliau juga malu karena> umat Islam Indonesia dipenuhi rasa curiga,
> > was-was, dan melarang> kebebasan berkeyakinan. Apakah Muhammad
> > mengajarkan cara pandang hidup> yang demikian wahai pengikut
> > Muhammad?
> >
> > Lina:
> > Masalahnya (yang sengaja dibuat, mungkin?), Kasus Ahmadiyah ini bagi
> > sebagian orang bukan sekedar PERBEDAAN PENDAPAT atau OPINI, tapi
> > sudah MENODAI.Perbedaan pendapat dan opini itu tidak berakibat
> > merobah identitas/akidah agama, namun kalau menodai itu sudah
> > merobah identitas, sehingga Ahmadiyah tidak berhak memakai identitas
> > Islam lagi krn sudah merubah.
> >
> > Akhir kata, yang menjadi permasalahan adalah Ahmadiyah Qadian. Tidak
> > pernah bermasalah dengan Ahmadiyah Lahore. Saya pribadi mengambil
> > sikap bila Ahmadiyah mengucapkan syahadatain sama seperti Islam
> > lainnya, maka mereka dalah Islam juga. Bila dalam hati, mereka
> > menganggap bahwa dalam syahadatain mereka itu adalah MGA, itu urusan
> > mereka dengan Allah SWT. Biarlah Allah SWT yang menghukum mereka
> > karena ini sudah urusan hati, dimana manusia tidak bisa menilainya.
> > Seperti Kusplus bilang,"Hati orang siapa tauu; mungkin dia baik
> > hanya dimuka, dibelakang dia menipu"
> >
> > Sekali lagi, saya juga mengecam kekerasan dalam hal ini. Dan saya
> > juga pengagum Nasrudin Hoja. Saya copas kan kisah belio yang
> > berhubungan dengan wacana yang sedang terjadi di negara ini;
> >
> > PERUSUH RAKYAT
> >
> > Kebetulan Nasrudin sedang ke kota raja. Tampaknya ada kesibukan luar
> > biasa di istana. Karena ingin tahu, Nasrudin mencoba mendekati pintu
> > istana. Tapi pengawal bersikap sangat waspada dan tidak ramah.
> >
> > "Menjauhlah engkau, hai mullah!" teriak pengawal. [Nasrudin dikenali
> > sebagai mullah karena pakaiannya]
> >
> > "Mengapa ?" tanya Nasrudin.
> >
> > "Raja sedang menerima tamu-tamu agung dari seluruh negeri. Saat ini
> > sedang berlangsung pembicaraan penting. Pergilah !"
> >
> > "Tapi mengapa rakyat harus menjauh ?"
> >
> > "Pembicaraan ini menyangkut nasib rakyat. Kami hanya menjaga agar
> > tidak ada perusuh yang masuk dan mengganggu. Sekarang, pergilah !"
> >
> > "Iya, aku pergi. Tapi pikirkan: bagaimana kalau perusuhnya sudah ada
> > di dalam sana ?" kata Nasrudin sambil beranjak dari tempatnya.
> >
> > Wassalam,
> >
> > 
> >
> 
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke