Judulnya yang tepat adalah Kubu Pembela Kebebasan versus Teroris dalam Islam
On 6/16/08, A Nizami <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > http://eramuslim.com/berita/tha/8614055024-kubu-liberal-versus-islam-pasca-monas.htm > > Kubu Liberal Versus Islam, Pasca Monas > Sabtu, 14 Jun 08 06:04 WIB > Kirim teman > Tanggal > 9 Juni 2008 Surat Keputusan Bersama (SKB) antara Menteri Agama, Menteri > Dalam Negeri, dan Kejaksaan Agung yang ditunggu sejak pertengahan April > lalu akhirnya keluar. Namun, "Tidak ada pembubaran atau pembekuan > (Ahmadiyah, red.). Bila melanggar SKB, baru dibekukan, " ujar Jaksa > Agung Suparman Supandji (10/6/08). > Hal senada disampaikan Menteri Agama Maftuh > Basuni. Keputusan dalam SKB itu di antaranya berbunyi: Memberi > peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dan/atau anggota > pengurus Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), sepanjang mengaku beragama > Islam, untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang > menyimpang dari pokok-pokok ajaran Islam, yaitu penyebaran paham yang > mengakui adanya nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad saw. > Tanggapan Terhadap SKB > Pertama: kelompok Ahmadiyah dan Aliansi > Kebangsaan untuk Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) memandang > SKB tidak adil. Karenanya, mereka akan mengajukan judicial review (uji > materi) ke Mahkamah Konstitusi. Juru Bicara Ahmadiyah, Syamsir Ali, > menyayangkan keluarnya SKB. Dalam wawancara di TV One dia menuduh > Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai 'tidak ahli', 'musuh kami', dan > 'fatwa MUI merupakan biang dari kisruh terkait Ahmadiyah.' (TV One, > 10/6/2008). > Kedua: pihak yang menerima isi SKB dengan > catatan harus dilaksanakan secara konsisten. Ketua MUI Amidhan > (9/6/2008) menyatakan, "Saya mengimbau kepada umat untuk menerima SKB. > Namun, pelaksanaannya harus konsisten." Untuk itu, lanjutnya, negara > harus: (1) Mengontrol jamaah Ahmadiyah, termasuk pengurusnya, supaya > tidak menyebarkan ajaran sesat Ahmadiyah; (2) Menarik buku-buku yang > dikeluarkan Ahmadiyah dari peredaran; minimal ada 46 buku yang telah > diteliti MUI dan ternyata menyimpang dari Islam; (3) Menghentikan > program relay TV Ahmadiyah yang merupakan sarana penyebaran ajarannya; > (4) Menghentikan pengiriman dai yang dilakukan Ahmadiyah ke > daerah-daerah untuk mendakwahkan ajaran Ahmadiyah. > Ketiga: pihak yang menghargai keluarnya > SKB, namun tetap pada tuntutan pembubaran Ahmadiyah. Pihak ini > merupakan mayoritas umat Islam yang sejak awal menuntut pembubaran > Ahmadiyah. Pasalnya, SKB tersebut belum menyentuh substansi persoalan, > yaitu penodaan/penistaan agama Islam oleh Ahmadiyah¡½yang menetapkan > ada nabi setelah Nabi Muhammad saw. dan pengacak-acakan al-Quran. > Keyakinan demikian tidak dapat dipisahkan dari Ahmadiyah. Karenanya, > Ahmadiyah harus dibubarkan dan pengikutnya diminta bertobat dan kembali > ke ajaran Islam yang benar. > Ahmadiyah Harus Dibubarkan > Apakah SKB tersebut akan menyelesaikan masalah? > Semoga saja begitu. Namun, pihak Ahmadiyah dan AKKBB merasa tidak puas > dengan SKB dan akan meneruskan jalur hukum. Bahkan ketika Juru Bicara > Ahmadiyah Syamsir Ali ditanya, apakah akan menjalankan apa yang > tercantum dalam SKB, dia menjawab, "Kita lihat nanti." (TV One, > 10/6/2008). Ahmadiyah Jawa Tengah menyatakan akan mematuhi sebagian isi > SKB (RCTI, 10/6/2008). Tidak jelas bagian mana yang akan dipatuhi dan > mana yang tidak. > Umat Islam sesungguhnya tetap pada tuntutannya > semula, yakni menuntut pembubaran Ahmadiyah. Sekretaris Jenderal DPP > PPP, Irgan Chairul Mahfiz, menyatakan, "SKB perintah penghentian > (kegiatan) saja tidak memenuhi tuntutan umat Islam yang menganggap > ajaran tersebut telah berada di luar akidah Islam, " ujarnya > (Republika, 10/6/2008). > Eggi Sudjana dari Aliansi Damai Anti Penistaan > Islam (ADA API) mengatakan, "SKB merupakan bom waktu yang dibuat oleh > Pemerintah." (9/6/2008). > Amir Majelis Mujahidin Indonesia Abu Bakar > Ba'asyir menyatakan, "SKB 3 Menteri mengambang. Mestinya Ahmadiyah > dibubarkan." (RCTI, 10/6/2008). > Adapun Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia > menegaskan, "Sebagai sebuah proses, SKB penting diapresiasi. Namun, SKB > tidak menyentuh masalah subtansial, yakni pelarangan atas penistaan dan > penodaan Islam." (TV One, 9/6/2008). > Terkait masalah ini, penting direnungkan > pernyataan Ketua MUI KH Ma'ruf Amin, "MUI dan ormas Islam akan > mengevaluasi efektivitas SKB tersebut. Kalau SKB itu tidak efektif > menghentikan kegiatan keagamaan yang menyimpang, Ahmadiyah harus > dilarang dan dibubarkan." (Republika, 10/6/2008). > Pertarungan Islam vs Sekularisme Sekuler > Insiden Monas sesungguhnya adalah percikan dari > benturan antara arus sekuler dan Islam. Isu Ahmadiyah hanyalah case > (kasus) yang mendorong kelompok sekular liberal untuk bergerak > memberikan reaksi. Sebelumnya sudah ada beberapa kejadian terkait hal > ini. > > Pertama: pertentangan dalam isu Rancangan > Undang-Undang Pornografi Pornoaksi (RUU APP). Ketika umat Islam > mendukung disahkannya RUU APP menjadi undang-undang, kaum liberal > justru menentangnya. Hingga kini tidak jelas bagaimana nasib RUU APP > tersebut. > Kedua: terkait liberalisasi dalam ekonomi. > Pada tahun 2005 beberapa tokoh utama AKKBB masuk dalam daftar nama-nama > yang mendukung kenaikan bahan bakar minyak (BBM) lebih dari 100 persen > itu. Di tengah rakyat bersama organisasi-organisasi Islam menentang > kenaikan BBM dan liberalisasi Minyak dan gas, mereka justru > mendukungnya. > Ketiga: ketika MUI dalam Musyawarah > Nasional-nya mengharamkan sekularisme, pluralisme dan liberalisme, > ormas-ormas Islam mendukung fatwa tersebut. Sebaliknya, kaum sekular > menentangnya. > Keempat: Pada saat mayoritas umat Islam > menuntut pembubaran Ahmadiyah karena menyimpang dari Islam, kaum > sekular, dengan menggerakkan AKKBB, justru mendukung keberadaannya. > Sekalipun telah jelas bahwa masalah Ahmadiyah adalah masalah penodaan > dan penistaan agama Islam, tetap saja isu yang diusung adalah kebebasan > beragama. > Setelah terjadinya Insiden Monas, dengan > memanfaatkan media massa cetak dan elektronik, mereka melakukan > penyesatan opini bahwa telah terjadi penyerangan terhadap massa AKKBB > oleh massa FPI dan telah timbul korban di antaranya anak-anak, > perempuan, orang cacat dan kyai. Padahal faktanya tidak terjadi sama > sekali penyerangan terhadap anak-anak, perempuan dan orang cacat itu. > > Bahkan isu beralih seakan menjadi pertentangan > antara FPI dengan kaum Nahdliyin (NU). Untungnya, Ketua Umum PBNU KH > Hasyim Muzadi segera menyatakan bahwa NU tidak terlibat dalam Insiden > Monas itu sehingga pertentangan tidak berlanjut. > Anehnya, Insiden Monas telah mengundang reaksi > internasional. PBB sampai harus mengirim surat khusus untuk > mempertanyakan insiden tersebut. Kedutaan AS juga memberikan reaksi > khusus dengan mengunjungi korban dan membuat konferensi pers khusus. > Hal semacam ini tampaknya memang dikehendaki oleh kelompok liberal. > Bahkan boleh jadi, sebagaimana disinyalir beberapa kalangan, Insiden > Monas memang direkayasa pihak asing dengan memanfaat kelompok tersebut. > Jadi, apa yang tengah terjadi adalah pertarungan > antara Islam dengan sekularisme. Waspadai Arus Sekularisasi dan > Liberalisasi! Terbitnya SKB sendiri terkesan merupakan 'kompromi' > akibat pertarungan kaum sekular-liberal dengan umat Islam. > > Di satu sisi, umat Islam dengan serangkaian > demontrasinya begitu lantang menyerukan pembubaran Ahmadiyah. Di sisi > lain, kaum sekular-liberal¡½dengan dukungan media sekular dan > asing¡½terus-menerus memprovokasi umat Islam dan menekan Pemerintah > untuk tidak membubarkan Ahmadiyah. > Kerasnya kelompok sekular-liberal dan semakin > beraninya mereka menyuarakan liberalisasinya di Indonesia seharusnya > semakin menyadarkan umat Islam betapa semakin lama mereka bisa semakin > kuat jika dibiarkan. Pasalnya, mereka didukung penuh Barat. Bahkan > mereka sesungguhnya hanyalah alat Barat. Sebabnya, setelah Perang > Dingin berakhir, Barat memiliki pandangan dan kebijakan khusus terhadap > Islam. Islam dipandang musuh Barat berikutnya setelah runtuhnya > Komunisme. > Karena itulah, berbagai upaya dilakukan Barat > untuk 'menjinakkan' dan melemahkan Islam. Salah satu adalah dengan > melakukan liberalisasi Islam besar-besaran di Indonesia dan Dunia Islam > lainnya. David E. Kaplan menulis, AS telah menggelontorkan dana puluhan > juta dolar dalam rangka kampanye untuk mengubah masyarakat Muslim > sekaligus mengubah Islam itu sendiri. > > Menurut Kaplan, Gedung Putih telah menyetujui > strategi rahasia, yang untuk pertama kalinya AS memiliki kepentingan > nasional untuk mempengaruhi apa yang terjadi di dalam Islam. > Sekurangnya di 24 negara Muslim, AS secara diam-diam telah mendanai > radio Islam, acara-acara TV, kursus-kursus di sekolah Islam, > pusat-pusat kajian, workshop politik, dan program-program lain yang > mempromosikan Islam moderat (versi AS). (Terjemahan dari David E. > Kaplan, Hearts, Minds, and Dollars, www.usnews.com, 4-25-2005). > Sejumlah LSM juga dijadikan alat Barat untuk > menikam Islam dan kaum Muslim. Salah satu lembaga asing yang sangat > aktif dalam menyebarkan paham liberalisme dan pluralisme agama di > Indonesia adalah The Asia Foundation (TAF). The Asia Foundation > saat ini mendukung sekaligus mendanani lebih dari 30 LSM yang > mempromosikan nilai-nilai Islam 'liberal', di antaranya: > 1. Yayasan Desantara, > 2. Fahmina Institute, > 3. International Center for Islam Pluralism (ICIP), > 4. Indonesia Conference on Religion and Peace (ICRP), > 5. Institut Arus Informasi (ISAI), > 6. Jaringan Islam Liberal (JIL), > 7. Paramadina, > 8. Pusat Studi Wanita-UIN, > 9. Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LKiS), dan > 10. Wahid Institute. (Husaini, 2007) > Lebih dari itu, kebijakan untuk mengubah kurikulum > dan pemikiran Islam juga pernah diungkapkan oleh Menhan AS, Donald > Rumsfeld. "AS perlu menciptakan lembaga donor untuk mengubah kurikulum > pendidikan Islam yang radikal menjadi moderat (Republika, 3/12/2005). > Umat Harus Bersatu > Menghadapi menguatnya arus liberalisasi di > Indonesia akhir-akhir ini, yang puncaknya adalah pembelaan mati-matian > kelompok sekular-liberal terhadap Ahmadiyah hingga kemudian memicu > Insiden Monas, dalam sebuah wawancaranya, Juru Bicara Hizbut Tahrir. > > Indonesia Ustadz Ismail Yusanto mengingatkan > adanya pihak-pihak tertentu yang berusaha memecah-belah umat Islam > dengan memanfaatkan Insiden Monas ini. "Nah, umat Islam, ormas Islam > dan tokoh-tokohnya harus bersatu-padu, dan tidak boleh bercerai-berai, > " ujar Ustadz Ismail. (Hizbut-tahrir.or.id <http://hizbut-tahrir.or.id/>, > 9/6/2008). > Persatuan umat Islam, selain jelas diperlukan, > juga diwajibkan oleh syariah. Allah SWT berfirman: "Berpegang teguhlah > kalian pada tali (agama) Allah dan janganlah bercerai-berai" (QS Ali > Imran: 103). > Umat Islam tidak hanya dituntut bersatu memegang > teguh agama Allah, tetapi juga bersatu dalam menghadapi musuh-musuh > Islam dan kaum Muslim. Mereka adalah orang-orang kafir yang saat ini > gencar melakukan liberalisasi di tengah-tengah kaum Muslim di segala > bidang: agama, ekonomi, politik, pendidikan, sosial, kebudayaan dll. > Karena itu, umat Islam harus selalu waspada, karena Allah SWT telah > memperingatkan: "Kaum Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah rela > kepadamu (Muhammad) hingga kamu mengikuti agama/jalan hidup mereka" (QS > al-Baqarah: 120). > (Syahrizal Musa/rz) > === > Syiar Islam. Ayo belajar Islam melalui SMS > > Untuk berlangganan ketik: REG SI ke 3252 > > Untuk berhenti ketik: UNREG SI kirim ke 3252. Sementara hanya dari > Telkomsel > Informasi selengkapnya ada di http://www.media-islam.or.id atau > http://syiarislam.wordpress.com > > > [Non-text portions of this message have been removed]

