silahkan bang fahmi!
wah ternyata ada jg member ppiindia yg menggunakan metodologi
kewarasan, selamat dah bang!


--- In [email protected], Fahmi Faqih <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ikut nimbrung nih.
> &nbsp;
> Saya kira, persoalannya bukanlah&nbsp;tentang Islam itu toleran
dengan keyakinan yang berbeda atau tidak. Soal perbedaan yang
macam-macam di tubuh Islam itu&nbsp;memang sudah sejak lama&nbsp;ada.
Namun&nbsp;meskipun&nbsp;berbeda, fundamennya&nbsp;tetap sama, yaitu
TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN NABI MUHAMMAD ADALAH UTUSANNYA. Jadi jika
kemudian hal yang elementer ini ada perbedaan, logikanya, mana mungkin
dong dinamakan Islam.
> &nbsp;
> Tapi kalau melihat sinetron monas yang menurut saya sukses
ditayangkan itu, isyu tentang Ahmadiyah hanya dijadikan sekadar alat
untuk kepentingan pengalihan lajunya demonstrasi menentang BBM, bukan
untuk menyelesaikan soal Ahmadiyah dengan sebenarnya. Sebab, seperti
banyak kita ketahui, saat ini pemerintahan Bush sedang terancam
ekonominya gara-gara bangkrut membiayai perang di Irak. Dan pemerintah
Indonesia yang presidennya konon punya "hutang jasa" kepada Amerika di
saat masih berkampanye dulu, mau tidak mau&nbsp;harus tahu diri, ikut
mensukseskan agenda Amerika itu, yaitu&nbsp;berperan dalam menaikkan
harga&nbsp;minyak di negeri sendiri. Padahal hampir semua tambang
minyak negeri ini sudah dikooptasi oleh negaranya Bush itu, dan ketika
dinaikkan lagi (dan ini yang ketigakalinya lho), maka makin
sengsaralah rakyat negeri ini.
> Selain itu, yang lebih celakanya lagi, konon, para intelektual kita
macam Goenawan Mohamad, Gus Dur, Adnan Buyung Nasution dll itu,
katanya ikut pula terlibat dalam pembuatan skenario sinetron monas
yang terjadi kemarin. Nah, kalau semua ini benar, maka nyaris mustahil
membayangkan negeri ini bisa bangkit dari keterpurukannya.
> 
> 
>       
> 
> [Non-text portions of this message have been removed]
>


Kirim email ke