Enggak usah debat agama dengan dia. Dia itu juga udah ngarti semua agama termasuk islam menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dia cuman mau ngeramein milis. Kita ikuti saja kemauannya.
On 6/16/08, Sidik Permana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Kalau Bang Pitung membaca artikel tersebut dengan seksama, tentu anda > akan temukan jawaban dari pertanyaan anda tersebut. Mungkin karena > anda terlalu sibuk, anda tidak bisa membaca dengan baik. Coba anda > buka q.s. al-baqarah:62; al-Maidah:69 dan al-Hajj:17; an-Nisa 123- > 124. > Bahwa Allah memang menjadikan umat manusia dengan berbagai macam > aturan dan jalan, coba baca q.s. al-Maidah:48 > "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan > yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya > satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap > pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. > Hanya kepada Allah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya > kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu." > > Salam, > Sidik > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "sipitung68" > <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > bang sidik, aye dah pernh baca ni tulisan! > > nah skrng aye test dah, klo ente bener2 muslim, ayat Alquran mane yg > > bilang amal2 penganut agama lain jg diterima ma Allah? hayoo..aye > > tanggepin jawara2 liberal, kroyokan jg bole hehe > > trus aye mau nanya ni, maksudnye 'perbedaan keyakinan memang sdh > > direncanakan oleh Allah' apa ni? > > aye lom ngarti ni, maklum aye khan orang kampung! > > buruan dah, mumpung aye lg nganggur ni > > > > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "Sidik > Permana" <sidikpam@> wrote: > > > > > > Rekan-rekan sekalian, manusia tidak akan mampu menyelesaikan > > > perselisihan tentang keyakinan. Karena itu, Allah lah yang kelak > akan > > > menyelesaikannya. Dan perbedaan keyakinan memang sudah > direncanakan > > > oleh Allah, sebagai ujian bagi kita semua. Tugas manusia seperti > juga > > > tercantum dalam kitab suci adalah berlomba-lomba dalam kebaikan, > > > terlepas dari agama yg dianut seseorang. Berikut adalah kutipan > tulisan > > > dari Kang Jalal, yg semoga dapat menjadi renungan bagi kita > semua. > > > > > > .......... > > > > > > Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim, anggota al-Ikhwan al- > Muslimun. > > > Kita mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat. Ia > berjuang > > > untuk menegakkan "negara tawhid", negara yang berdasarkan kalimat > La > > > ilaha Ilallah. Perjalanan hidupnya, riwayat perjuangannya, dan > kisah- > > > kisah kegagalannya mengantarkannya kepada sebuah refleksi yang > > > mendalam. Ia "mengunjungi kembali" pemikiran Islamnya. Di balik > terali > > > penjara, dalam ancaman penguasa (Muslim) yang tidak berperi > > > kemanusiaan, di tengah-tengah hiruk pikuk Kairo yang menyesakkan, > ia > > > menemukan epifani. Ia melihat dunia dengan cara yang baru. > Marilah kita > > > ikuti permenungannya: > > > Di negara-negara yang tidak memeluk Islam, masyarakatnya bekerja > dengan > > > gigih dan ikhlas. Mereka memiliki kejujuran dalam berkata, > > > profesionalisme, menepati janji dan akhlak-akhlak baik lainnya. > Mereka > > > juga menganggap kebohongan pejabat dalam memberikan keterangan > atas > > > satu perkara di depan pengadilan atau institusi negara merupakan > > > kejahatan besar yang tidak bisa diampuni kecuali dengan > pemecatan. > > > Contohnya adalah kasus yang menimpa Nixon yang menuduh musuh > politiknya > > > melakukan tindakan mata-mata. Begitu juga dengan Clinton yang > > > memiliki `hubungan khusus' dengan salah seorang pegawai gedung > putih. > > > Mereka menerima celaan, cacian dan denda yang tidak sedikit. > Sedangkan > > > sebagian besar pemimpin di negara-negara muslim selalu melakukan > > > kebohongan publik dan penyelewengan. Kerja mereka hanya menindas > dan > > > mengekang. Atas dasar alasan ini, maka masyarakat Eropa bisa jadi > lebih > > > dekat dengan Allah dan idealisme Islam dibanding banyak > masyarakat yang > > > mengaku sebagai pemeluk Islam. > > > Saya ingat masa ketika saya berada dalam tahanan di Tursina > bersama > > > orang-orang ikhwanul Muslimin pada tahun 1948. Ketika itu tempat > > > tahanan berada di tengah padang pasir yang di malam hari terang > dengan > > > berbagai cahaya lampu yang dipasang untuk mempermudah penjagaan. > > > Pemasangan lampu itu dilakukan oleh para tahanan yang memiliki > keahlian > > > dalam kelistrikan. Mereka juga menggunakan listrik untuk > memanaskan > > > air, mandi dan memasak. Saya berkata kepada mereka bahwa Thomas > Alfa > > > Edison akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang > kemudian > > > digunakan oleh manusia sebagai penerang. Mendengar ucapan saya, > mereka > > > menolak dengan keras, "Tidak, karena dia tidak beriman kepada > Allah dan > > > RasulNya." Mereka seolah menganggap bahwa Islam telah dikenal di > > > Amerika dan Rasulullah telah mengajak Edison kepada Islam. Oleh > karena > > > itu mereka menolak pendapat saya. > > > Saya membalas penolakan mereka dengan mengutip firman Allah, > > > "Katakanlah, `Andai kalian menguasai gudang-gudang rahmat > Tuhanku, > > > kalian pasti akan menahannya karena takut untukk berderma. > Sesungguhnya > > > manusia sangat kikir'." (QS.Al-Isra: 100) > > > Sudah saatnya bagi para dai Islam untuk mengetahui bahwa mereka > tidak > > > dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain > Islam. > > > Mereka tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk > > > neraka, karena kunci-kunci surga bukan di tangan mereka. Sikap > seperti > > > itu merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang > dituntut > > > dari para dai, setelah al-Quran mengatakan, "Wahai orang-orang > yang > > > beriman, diri kalian adalah tanggung jawab kalian. Orang yang > tersesat > > > tidak akan membahayakan kalian ketika kalian mendapat petunjuk," > (QS. > > > Al-Maidah:105) adalah menjadi `saksi atas manusia". Para dai > hanya > > > bertugas memperkenalkan Islam kepada mereka kemudian menyerahkan > > > segalanya kepada mereka. Urusan konversi agama tidak hanya > menyangkut > > > iman dan teori. Ini juga menyangkut hubungan sosial dan > konsekuensi- > > > konsekuensi selanjutnya. Hidayah hanya datang dari Allah, bukan > dari > > > seorang rasul[1]. > > > Gamal al-Banna berubah dari seorang eksklusif menjadi seorang > pluralis. > > > Secara sederhana, umat beragama yang eksklusif berpendapat bahwa > hanya > > > pemeluk agamanya saja yang selamat dan masuk surga. Di luar > lingkungan > > > agama kita, semuanya masuk neraka. Dalam bahasa Gamal al-Banna, > seorang > > > ekslusivis merasa "menguasai gudang-gudang rahmat Tuhan" dan > menahannya > > > hanya untuk kelompoknya saja. Rahmat Tuhan itu meliputi langit > dan > > > bumi, tetapi kasih sayang kaum ekslusivis terbatas pada rumahnya > > > sendiri. Mereka berkata: Yang masuk surga hanya orang Islam saja. > > > Sebagian lagi menyatakan: itu pun tidak semua orang Islam. Umat > Islam > > > akan pecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka, kecuali > golonganku. > > > Lebih lanjut, dalam golonganku, semuanya masuk neraka keuali > mereka > > > yang ikut kepada Ustaz Fulan saja. Maka rahmat Allah yang > meliputi > > > langit dan bumi sekarang diselipkan di sudut surau yang sempit. > > > Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka > > > berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang > sama > > > untuk memperoleh keselamatan dan masuk surga. Semua agama benar > > > berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its > > > particular culture. Mereka percaya rahmat Allah itu luas. "Al- > > > Khalqu `iyâli", firman Tuhan dalam hadis Qudsi. Semua makhluk itu > > > keluarga besar Tuhan. Mereka tidak mengerti mengapa ada manusia > yang > > > berani membatasi kasih sayang Tuhan. Mereka heran mengapa ada > orang > > > yang mengambil alih wewenang Tuhan. Al-Banna bertanya: > > > > > > "Keberanian yang luar biasa dalam merampas wewenang Allah! Apakah > > > mereka yang memegang kunci-kunci neraka? Apakah mereka yang > > > menenggelamkan manusia ke dalam neraka? Atas dasar apa mereka > membangun > > > kesimpulan itu? Bagaimana kesadaran mereka atas rahmat Allah yang > tidak > > > terbatas yang akan membalas satu kebaikan dengan tujuh ratus > lipat > > > kebaikan? Kasih sayang seorang ibu hanyalah satu dari seratus > kasih > > > sayang-Nya. Dia tidak akan menenggelamkan manusia ke dalam > neraka, > > > kecuali manusia-manusia pembangkang yang berbuat kerusakan dan > > > kezaliman di muka bumi ini."[2] > > > Pertanyaan Al-Banna adalah juga pertanyaanku sekian lama. > Jawabanku > > > sama seperti jawaban Al-Banna. Kasih sayang Tuhan jauh lebih luas > dari > > > kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Tetapi apakah itu punya > dasar > > > dalam Al-Quran? Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan > sebagian dari > > > dalil-dalil pluralisme dalam Al-Quran dan komentar para ahli > tafsir > > > berkenaan dengannya. Saya memilih dua buah tafsir saja. Pertama, > > > Tafsir , yang ditulis oleh Sayyid Husseyn Fadhlullah, tokoh > Hizbullah > > > Lebanon, mewakili mazhab Ahlul Bayt; kedua, Tafsir Al-Manar yang > > > ditulis oleh Sayyid Rasyid Ridha, tokoh pembaharu Islam yang > dikenal > > > sebagai fundamentalis, mewakili mazhab Ahlu al-Sunnah; > > > Ayat-ayat Pluralisme > > > Apakah orang-orang "kafir" non-Muslim- menerima pahala amal > salehnya? > > > Benar, menurut Al-Baqarah 62, yang diulang dengan redaksi yang > agak > > > berbeda pada Al-Maidah 69 dan Al-Hajj 17. > > > Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang > > > Nashrani, dan orang-orang Shabi-in[3], siapa saja di antara > mereka yang > > > benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal > saleh, > > > mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada > kekhawatiran > > > terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. > > > Sayyid Husseyn Fadhlullah dalam tafsirnya menjelaskan: > > > Makna ayat ini sangat jelas. Ayat ini menegaskan bahwa > keselamatan pada > > > hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama iniyang > berbeda- > > > beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan > akidah dan > > > kehidupan dengan satu syarat: memenuhi kaidah iman kepada Allah, > hari > > > akhir, dan amal saleh (garis bawah dari penulis). > > > Ayat-ayat itu memang sangat jelas untuk mendukung pluralisme. > Ayat-ayat > > > itu tidak menjelaskan semua kelompok agama benar, atau semua > kelompok > > > agama sama. Tidak! Ayat-ayat ini menegaskan bahwa semua golongan > agama > > > akan selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan > > > beramal saleh. Sebagian mufasir yang eksklusif mengakui makna > ayat-ayat > > > itu sebagaimana dijelaskan oleh Husseyn Fadhlullah, tetapi mereka > > > menganggap ayat-ayat itu dihapus (mansukh) oleh Ali Imran 85: > > > Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali > tidaklah > > > akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang- > orang yang > > > rugi. Mereka bersandar pada hadis yang lemah- dari Ibnu Abbas > (Lihat, > > > misalnya, Tafsir Thabari). > > > > > > Menurut Sayyid Husseyn Fadhlullah, makna ayat ini tidaklah > bertentangan > > > dengan ayat yang kita bicarakan. Karena itu, tidak ada ayat yang > > > dimansukh. Islam pada Ali Imran 85 adalah Islam yang "umum, yang > > > meliputi semua risalah langit, bukan Islam dalam arti istilah", > bukan > > > Islam dalam arti agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw. > Kesimpulan > > > itu diambil Fadhlullah dari konteks ayat itu. Pada Ali Imran 19, > Tuhan > > > berfirman: Sesungguhnya agama itu di sisi Allah adalah Islam. > Menurut > > > Al-Quran, semua agama itu Islam. Ini diperkuat dengan ayat-ayat > yang > > > lain: Ingatlah ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim); > Islamlah > > > kamu. Ibrahim berkata: Aku Islam kepada Tuhan Pemelihara semesta > Alam. > > > Dan ketika Ibrahim dan Ya'qub berwasiat dengannya kepada anak- > anaknya: > > > Wahai anak-anaku, sesungguhnya Allah telah memilih bagi kamu > agama, > > > maka janganlah kamu mati kecuali kamu menjadi orang-orang Islam > (Al- > > > Baqarah 131-132). > > > Seperti Fadhlullah, saya pun berpendapat bahwa Islam dalam Ali > Imran 85 > > > adalah "kepasrahan total" (untuk uraian yang lebih dalam tentang > > > makna "al-din" dan "al-islam" dapat dilihat pada buku Islam dan > > > Pluralisme karya Jalaluddin Rakhmat -peny). Lebih lanjut, > Fadhlullah > > > mengatakan bahwa Al-Baqarah 62 dimaksudkan untuk menegaskan unsur > asasi > > > yang mempersatukan semua agama dan menjadi syarat untuk > memperoleh > > > pahala Allah. Ia menyindir orang yang merasa akan selamat hanya > karena > > > nama atau penampilan lahiriah saja. Keselamatan adalah berpegang > teguh > > > pada keimanan kepada Allah dan amal saleh. Dalam Al-Quran orang- > orang > > > yang berpegang pada keselamatan karena nama disindir sebagai > bersandar > > > pada angan-angan: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan- > > > anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli > Kitab. > > > Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi > pembalasan > > > dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak > (pula) > > > penolong baginya selain dari Allah (Al-Nisa 123)[4]. > > > Ayat ini, Al-Nisa 123, juga disebut oleh Sayyid Rasyid Ridha[5] > ketika > > > menjelaskan Al-Baqarah 62: > > > Artinya: hukum Allah itu adil dan sama. Ia memperlakukan semua > pemeluk > > > agama dengan sunnah yang sama, tidak berpihak pada satu kelompok > dan > > > menzalimi kelompok yang lain. Ketetapan dari sunnah ini ialah > bahwa > > > bagi mereka pahala tertentu dengan janji Allah melalui lisan > Rasul > > > mereka. > > > Ayat ini menjelaskan sunnah Allah swt dalam meperlakukan umat- > umat baik > > > yang terdahulu maupun yang kemudian sesuai dengan ketentuan Allah > swt: > > > (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang > kosong dan > > > tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang > > > mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan > kejahatan > > > itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong > baginya > > > selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, > baik > > > ia laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka > mereka > > > itu masuk ke dalam sorga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit > pun. > > > (Al-Nisa 123-124). > > > Tidak ada masalah kalau tidak disyaratkan iman kepada Nabi saw. > Ayat > > > ini menjelaskan perlakuan Allah kepada setiap umat yang > mempercayai > > > Nabi dan wahyunya masing-masing, yang mengira bahwa kebahagiaan > pada > > > hari akhirat seakan-akan pasti akan tercapai hanya karena ia > Muslim, > > > Yahudi, Nashara, atau Shabiah, misalnya. Padahal Allah berfirman > bahwa > > > keselamatan bukan karena kelompok keagamaan (jinsiyyah diniyyah). > > > Keselamatan dicapai dengan iman yang benar yang menguasai jiwa > dan amal > > > yang memperbaiki manusia. Karena itu, tertolaklah anggapan bahwa > > > keputusan Allah bergantung pada angan-angan orang Islam dan angan- > angan > > > Ahli Kitab. Sudah ditetapkan bahwa keputusan Allah bergantung > pada amal > > > baik dan iman yang benar. > > > Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Al-Suddi. Ia > berkata: > > > Orang-orang Islam bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara. > Orang > > > Yahudi berkata kepada orang Islam: Kami lebih baik dari kalian. > Agama > > > kami sebelum agama kalian dan Kitab kami sebelum kitab kalian. > Nabi > > > kami sebelum Nabi kalian. Kami mengikuti agama Ibrahim. Tidak > akan > > > masuk surga kecuali orang Yahudi. Berkata juga orang Nashara > seperti > > > itu. Maka berkatalah orang Islam: Kitab kami sesudah kitab > kalian, Nabi > > > kami sesudah Nabi kalian, dan agama kami sesudah agama kalian. > Kalian > > > telah diperintahkan untuk mengikuti kami dan meninggalkan urusan > > > kalian. Kami lebih baik dari kalian.Kami berada pada agama > Ibrahim, > > > Ismail, dan Ishaq. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang > memeluk > > > agama kami. Allah menolak perkataan mereka dan berfirman: > Bukanlah > > > angan-angan kamu dan bukan juga angan-angan Ahli Kitab Seperti > itu > > > juga diriwayatkan dari Masruq dan Qatadah. Juga Al-Bukhari > meriwayatkan > > > dalam Al-Tarikh dari hadis Anas sampai kepada Nabi saw: Bukanlah > iman > > > dengan angan-angan, tetapi dengan apa yang terhunjam dalam hati > dan > > > dibenarkan oleh amal. > > > Ada orang yang dilalaikan oleh angan-angan akan mendapat ampunan > sampai > > > ia keluar meninggalkan dunia tanpa kebaikan padanya. Mereka > berkata: > > > Kami berbaik sangka kepada Allah. Mereka bohong. Kalau berbaik > sangka > > > kepada Allah pasti mereka beramal baik. Pelajaran yang berharga > dari > > > Allah adalah kecamannya kepada orang-orang yang terbuai dengan > punya > > > hubungan dengan agama walaupun secara lahiriah. Keterbuaian > (bahwa > > > orang akan selamat hanya karena menganut agama Islam jalal) > inilah > > > yang memalingkan mereka dari amal, sehingga merasa cukup dengan > > > menisbahkan dirinya pada kelompok agamanya. > > > Walhasil, menurut Ridha, orang yang merasa pasti akan selamat > hanya > > > karena dia Islam, Nasrani, atau Yahudi adalah orang yang terbuai > atau > > > tertipu (mughtarrin) dengan nama. Keselamatan, untuk mengulangi > lagi > > > yang sudah terlalu jelas, bergantung pada tiga syarat: keimanan > kepada > > > Allah, keimanan pada hari pembalasan, dan amal saleh. > > > Bantahan Kaum Eksklusivis > > > Ada tiga cara untuk membantah ayat yang membenarkan pluralisme > ini. > > > Pertama, mereka mengatakan bahwa ayat ini sudah dimansukh dengan > Ali > > > Imran 85 (Sudah dijawab Fadhlullah di atas). Kedua, ayat ini > hanya > > > berlaku untuk orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin sebelum > kedatangan > > > Nabi saw. Jadi orang Islam pada zaman Islam, orang Nashrani, > Yahudi, > > > dan Shabiin pada zamannya masing-masing akan memperoleh pahala > dari > > > amal salehnya. Zaman ini zaman Islam. Karena itu, selain Islam, > semua > > > agama kehilangan validitasnya, sebagaimana kedatangan uang > Republik > > > menyebabkan uang Belanda tidak berlaku. Argumentasi berdasarkan > analogi > > > ini tidak punya dalil yang memperkuatnya dalam Al-Quran dan > Sunnah. > > > Sebuah ayat yang bermakna umum tidak boleh diartikan khusus > kecuali > > > dengan keterangan yang kuat. > > > > > > Ketiga, mereka menafsirkan "beriman kepada Allah" sebagai beriman > > > kepada ajaran Islam, karena Allah adalah konsep khusus untuk > Islam. > > > Allah adalah Tuhan bagi orang islam. Kristus Tuhan bagi umat > Kristiani. > > > Wisnu Tuhan bagi orang Hindu. Dan sebagainya. Erat kaitannya > dengan > > > argumentasi ini adalah keimanan kepada hari akhir dan amal saleh. > Hari > > > akhir yang harus diimani adalah hari akhir menurut penjelasan > syariat > > > Islam. Amal saleh juga adalah amal yang berdasarkan syariat > Islam. > > > Dengan penafsiran seperti ini, kita melihat perubahan drastis > dari ayat > > > pluralis menjadi ayat eksklusivis. Secara terperinci ayat ini > > > berarti "Sesungguhnya orang-orang Islam, orang Yahudi, Nashrani > dan > > > Shabiin yang kemudian masuk Islam (dengan beriman kepada Tuhan > orang > > > Islam, dan aqidah Islam serta beramal sesuai dengan syariat > Islam) akan > > > memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka". > > > Lepas dari redundansi yang menggelikan dari segi bahasa, kita > akan > > > membuktikan bahwa menurut Al-Quran Allah itu adalah Tuhan yang > sama > > > seperti yang diimani oleh Ahli Kitab bahkan orang musyrik. > Simaklah > > > ayat-ayat Al-Quran di bawah ini: > > > Al-Quran 29:46 > > > Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan > cara > > > yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara > > > mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman pada (kitab-kitab) > yang > > > diturunkan kepada kami dan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhamu adalah > satu. > > > Dan kami hanya kepadanya berserah diri. > > > Al-Quran 29:61 > > > Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang > > > menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" > Tentu > > > mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat) > > > dipalingkan dari jalan yang benar. > > > Al-Quran 43:87 > > > Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang > > > menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka > bagaimanakah > > > mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah). > > > Mengapa Harus Ada Berbagai Agama? > > > Kalau semua agama itu valid, kenapa Tuhan repot-repot bikin agama > yang > > > bermacam-macam. Kenapa tidak dijadikanNya semua agama itu satu > saja? > > > Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Al-Quran menjawabnya > dengan > > > indah: > > > "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan > jalan > > > yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu > dijadikanNya satu > > > umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya > > > kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada > Allah > > > kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kepadamu apa yang > telah > > > kamu perselisihkan itu (Al-Maidah 48)." > > > Dari ayat ini kita menyimpulkan beberapa hal: > > > 1. Agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan > > > pandangan hidupnya (aqidah). Karena itu, pluralisme sama sekali > tidak > > > berati semua agama itu sama. Perbedaan sudah menjadi kenyataan. > > > 2. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang > tunggal. > > > Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua. > Ujiannnya > > > adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada > umat > > > manusia. Setiap agama disuruh bersaing dengan agama yang lain > dalam > > > memberikan kontribusi kepada kemanusiaan (al-khayrat). > > > 3. Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha, > Nashrani, > > > Yahudi kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan > untuk > > > menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Kita tidak > boleh > > > mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan > cara > > > apa pun, termasuk dengan fatwa. > > > > > > Wallahu `alam bi al-Shawab > > > > > > [1] Gamal al-Banna, al-Ta'addudiyah fi al-Mujtama' al-Islamiy. > > > Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Damas Lc, > Doktrin > > > Pluralisme dalam al-Quran. Bekasi: Penerbit Menara, 2006, hal. 38- > 40 > > > [2] Ibid, hal. 41 > > > [3] Shabiin, berdasarkan kitab-kitab tafsir, bisa menunjuk pada > > > berbagai agama selain Islam > > > [4] Sayyid Muhammad Huseyn Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an. > > > Beyrut: Dar al-Malak, 1998, hal. 70. > > > [5] Sayyid Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar. Beyrut: Dar al- > Ma'rifah, > > > tanpa tahun. 1:336-338. > > > > > > > > [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------------------ *************************************************************************** Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. http://groups.yahoo.com/group/ppiindia *************************************************************************** __________________________________________________________________________ Mohon Perhatian: 1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik) 2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari. 3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED] 5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED] 6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED] Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/

