Enggak usah debat agama dengan dia. Dia itu juga udah ngarti semua agama
termasuk islam menjamin kebebasan beragama dan berkeyakinan. Dia cuman mau
ngeramein milis. Kita ikuti saja kemauannya.

On 6/16/08, Sidik Permana <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Kalau Bang Pitung membaca artikel tersebut dengan seksama, tentu anda
> akan temukan jawaban dari pertanyaan anda tersebut. Mungkin karena
> anda terlalu sibuk, anda tidak bisa membaca dengan baik. Coba anda
> buka q.s. al-baqarah:62; al-Maidah:69 dan al-Hajj:17; an-Nisa 123-
> 124.
> Bahwa Allah memang menjadikan umat manusia dengan berbagai macam
> aturan dan jalan, coba baca q.s. al-Maidah:48
> "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan
> yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu dijadikanNya
> satu umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap
> pemberiannya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan.
> Hanya kepada Allah kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya
> kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu."
>
> Salam,
> Sidik
>
> --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "sipitung68"
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> >
> > bang sidik, aye dah pernh baca ni tulisan!
> > nah skrng aye test dah, klo ente bener2 muslim, ayat Alquran mane yg
> > bilang amal2 penganut agama lain jg diterima ma Allah? hayoo..aye
> > tanggepin jawara2 liberal, kroyokan jg bole hehe
> > trus aye mau nanya ni, maksudnye 'perbedaan keyakinan memang sdh
> > direncanakan oleh Allah' apa ni?
> > aye lom ngarti ni, maklum aye khan orang kampung!
> > buruan dah, mumpung aye lg nganggur ni
> >
> > --- In [email protected] <ppiindia%40yahoogroups.com>, "Sidik
> Permana" <sidikpam@> wrote:
> > >
> > > Rekan-rekan sekalian, manusia tidak akan mampu menyelesaikan
> > > perselisihan tentang keyakinan. Karena itu, Allah lah yang kelak
> akan
> > > menyelesaikannya. Dan perbedaan keyakinan memang sudah
> direncanakan
> > > oleh Allah, sebagai ujian bagi kita semua. Tugas manusia seperti
> juga
> > > tercantum dalam kitab suci adalah berlomba-lomba dalam kebaikan,
> > > terlepas dari agama yg dianut seseorang. Berikut adalah kutipan
> tulisan
> > > dari Kang Jalal, yg semoga dapat menjadi renungan bagi kita
> semua.
> > >
> > > ..........
> > >
> > > Gamal al-Banna adalah aktivis Muslim, anggota al-Ikhwan al-
> Muslimun.
> > > Kita mungkin menyebutnya fundamentalis dan anti-Barat. Ia
> berjuang
> > > untuk menegakkan "negara tawhid", negara yang berdasarkan kalimat
> La
> > > ilaha Ilallah. Perjalanan hidupnya, riwayat perjuangannya, dan
> kisah-
> > > kisah kegagalannya mengantarkannya kepada sebuah refleksi yang
> > > mendalam. Ia "mengunjungi kembali" pemikiran Islamnya. Di balik
> terali
> > > penjara, dalam ancaman penguasa (Muslim) yang tidak berperi
> > > kemanusiaan, di tengah-tengah hiruk pikuk Kairo yang menyesakkan,
> ia
> > > menemukan epifani. Ia melihat dunia dengan cara yang baru.
> Marilah kita
> > > ikuti permenungannya:
> > > Di negara-negara yang tidak memeluk Islam, masyarakatnya bekerja
> dengan
> > > gigih dan ikhlas. Mereka memiliki kejujuran dalam berkata,
> > > profesionalisme, menepati janji dan akhlak-akhlak baik lainnya.
> Mereka
> > > juga menganggap kebohongan pejabat dalam memberikan keterangan
> atas
> > > satu perkara di depan pengadilan atau institusi negara merupakan
> > > kejahatan besar yang tidak bisa diampuni kecuali dengan
> pemecatan.
> > > Contohnya adalah kasus yang menimpa Nixon yang menuduh musuh
> politiknya
> > > melakukan tindakan mata-mata. Begitu juga dengan Clinton yang
> > > memiliki `hubungan khusus' dengan salah seorang pegawai gedung
> putih.
> > > Mereka menerima celaan, cacian dan denda yang tidak sedikit.
> Sedangkan
> > > sebagian besar pemimpin di negara-negara muslim selalu melakukan
> > > kebohongan publik dan penyelewengan. Kerja mereka hanya menindas
> dan
> > > mengekang. Atas dasar alasan ini, maka masyarakat Eropa bisa jadi
> lebih
> > > dekat dengan Allah dan idealisme Islam dibanding banyak
> masyarakat yang
> > > mengaku sebagai pemeluk Islam.
> > > Saya ingat masa ketika saya berada dalam tahanan di Tursina
> bersama
> > > orang-orang ikhwanul Muslimin pada tahun 1948. Ketika itu tempat
> > > tahanan berada di tengah padang pasir yang di malam hari terang
> dengan
> > > berbagai cahaya lampu yang dipasang untuk mempermudah penjagaan.
> > > Pemasangan lampu itu dilakukan oleh para tahanan yang memiliki
> keahlian
> > > dalam kelistrikan. Mereka juga menggunakan listrik untuk
> memanaskan
> > > air, mandi dan memasak. Saya berkata kepada mereka bahwa Thomas
> Alfa
> > > Edison akan masuk surga karena telah menemukan lampu yang
> kemudian
> > > digunakan oleh manusia sebagai penerang. Mendengar ucapan saya,
> mereka
> > > menolak dengan keras, "Tidak, karena dia tidak beriman kepada
> Allah dan
> > > RasulNya." Mereka seolah menganggap bahwa Islam telah dikenal di
> > > Amerika dan Rasulullah telah mengajak Edison kepada Islam. Oleh
> karena
> > > itu mereka menolak pendapat saya.
> > > Saya membalas penolakan mereka dengan mengutip firman Allah,
> > > "Katakanlah, `Andai kalian menguasai gudang-gudang rahmat
> Tuhanku,
> > > kalian pasti akan menahannya karena takut untukk berderma.
> Sesungguhnya
> > > manusia sangat kikir'." (QS.Al-Isra: 100)
> > > Sudah saatnya bagi para dai Islam untuk mengetahui bahwa mereka
> tidak
> > > dituntut untuk mengislamkan orang-orang yang beragama selain
> Islam.
> > > Mereka tidak berhak mengklaim bahwa selain orang Islam akan masuk
> > > neraka, karena kunci-kunci surga bukan di tangan mereka. Sikap
> seperti
> > > itu merupakan pelanggaran keras terhadap wewenang Allah. Yang
> dituntut
> > > dari para dai, setelah al-Quran mengatakan, "Wahai orang-orang
> yang
> > > beriman, diri kalian adalah tanggung jawab kalian. Orang yang
> tersesat
> > > tidak akan membahayakan kalian ketika kalian mendapat petunjuk,"
> (QS.
> > > Al-Maidah:105) adalah menjadi `saksi atas manusia". Para dai
> hanya
> > > bertugas memperkenalkan Islam kepada mereka kemudian menyerahkan
> > > segalanya kepada mereka. Urusan konversi agama tidak hanya
> menyangkut
> > > iman dan teori. Ini juga menyangkut hubungan sosial dan
> konsekuensi-
> > > konsekuensi selanjutnya. Hidayah hanya datang dari Allah, bukan
> dari
> > > seorang rasul[1].
> > > Gamal al-Banna berubah dari seorang eksklusif menjadi seorang
> pluralis.
> > > Secara sederhana, umat beragama yang eksklusif berpendapat bahwa
> hanya
> > > pemeluk agamanya saja yang selamat dan masuk surga. Di luar
> lingkungan
> > > agama kita, semuanya masuk neraka. Dalam bahasa Gamal al-Banna,
> seorang
> > > ekslusivis merasa "menguasai gudang-gudang rahmat Tuhan" dan
> menahannya
> > > hanya untuk kelompoknya saja. Rahmat Tuhan itu meliputi langit
> dan
> > > bumi, tetapi kasih sayang kaum ekslusivis terbatas pada rumahnya
> > > sendiri. Mereka berkata: Yang masuk surga hanya orang Islam saja.
> > > Sebagian lagi menyatakan: itu pun tidak semua orang Islam. Umat
> Islam
> > > akan pecah menjadi 73 golongan. Semua masuk neraka, kecuali
> golonganku.
> > > Lebih lanjut, dalam golonganku, semuanya masuk neraka keuali
> mereka
> > > yang ikut kepada Ustaz Fulan saja. Maka rahmat Allah yang
> meliputi
> > > langit dan bumi sekarang diselipkan di sudut surau yang sempit.
> > > Bertentangan dengan kaum eksklusivis adalah kaum pluralis. Mereka
> > > berkeyakinan bahwa semua pemeluk agama mempunyai peluang yang
> sama
> > > untuk memperoleh keselamatan dan masuk surga. Semua agama benar
> > > berdasarkan kriteria masing-masing. Each one is valid within its
> > > particular culture. Mereka percaya rahmat Allah itu luas. "Al-
> > > Khalqu `iyâli", firman Tuhan dalam hadis Qudsi. Semua makhluk itu
> > > keluarga besar Tuhan. Mereka tidak mengerti mengapa ada manusia
> yang
> > > berani membatasi kasih sayang Tuhan. Mereka heran mengapa ada
> orang
> > > yang mengambil alih wewenang Tuhan. Al-Banna bertanya:
> > >
> > > "Keberanian yang luar biasa dalam merampas wewenang Allah! Apakah
> > > mereka yang memegang kunci-kunci neraka? Apakah mereka yang
> > > menenggelamkan manusia ke dalam neraka? Atas dasar apa mereka
> membangun
> > > kesimpulan itu? Bagaimana kesadaran mereka atas rahmat Allah yang
> tidak
> > > terbatas yang akan membalas satu kebaikan dengan tujuh ratus
> lipat
> > > kebaikan? Kasih sayang seorang ibu hanyalah satu dari seratus
> kasih
> > > sayang-Nya. Dia tidak akan menenggelamkan manusia ke dalam
> neraka,
> > > kecuali manusia-manusia pembangkang yang berbuat kerusakan dan
> > > kezaliman di muka bumi ini."[2]
> > > Pertanyaan Al-Banna adalah juga pertanyaanku sekian lama.
> Jawabanku
> > > sama seperti jawaban Al-Banna. Kasih sayang Tuhan jauh lebih luas
> dari
> > > kasih sayang ibu kepada anak-anaknya. Tetapi apakah itu punya
> dasar
> > > dalam Al-Quran? Dalam tulisan ini, saya ingin menunjukkan
> sebagian dari
> > > dalil-dalil pluralisme dalam Al-Quran dan komentar para ahli
> tafsir
> > > berkenaan dengannya. Saya memilih dua buah tafsir saja. Pertama,
> > > Tafsir , yang ditulis oleh Sayyid Husseyn Fadhlullah, tokoh
> Hizbullah
> > > Lebanon, mewakili mazhab Ahlul Bayt; kedua, Tafsir Al-Manar yang
> > > ditulis oleh Sayyid Rasyid Ridha, tokoh pembaharu Islam yang
> dikenal
> > > sebagai fundamentalis, mewakili mazhab Ahlu al-Sunnah;
> > > Ayat-ayat Pluralisme
> > > Apakah orang-orang "kafir" –non-Muslim- menerima pahala amal
> salehnya?
> > > Benar, menurut Al-Baqarah 62, yang diulang dengan redaksi yang
> agak
> > > berbeda pada Al-Maidah 69 dan Al-Hajj 17.
> > > Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang
> > > Nashrani, dan orang-orang Shabi-in[3], siapa saja di antara
> mereka yang
> > > benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian, dan beramal
> saleh,
> > > mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada
> kekhawatiran
> > > terhadap mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
> > > Sayyid Husseyn Fadhlullah dalam tafsirnya menjelaskan:
> > > Makna ayat ini sangat jelas. Ayat ini menegaskan bahwa
> keselamatan pada
> > > hari akhirat akan dicapai oleh semua kelompok agama iniyang
> berbeda-
> > > beda dalam pemikiran dan pandangan agamanya berkenaan dengan
> akidah dan
> > > kehidupan dengan satu syarat: memenuhi kaidah iman kepada Allah,
> hari
> > > akhir, dan amal saleh (garis bawah dari penulis).
> > > Ayat-ayat itu memang sangat jelas untuk mendukung pluralisme.
> Ayat-ayat
> > > itu tidak menjelaskan semua kelompok agama benar, atau semua
> kelompok
> > > agama sama. Tidak! Ayat-ayat ini menegaskan bahwa semua golongan
> agama
> > > akan selamat selama mereka beriman kepada Allah, hari akhir, dan
> > > beramal saleh. Sebagian mufasir yang eksklusif mengakui makna
> ayat-ayat
> > > itu sebagaimana dijelaskan oleh Husseyn Fadhlullah, tetapi mereka
> > > menganggap ayat-ayat itu dihapus (mansukh) oleh Ali Imran 85:
> > > Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali
> tidaklah
> > > akan diterima daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-
> orang yang
> > > rugi. Mereka bersandar pada hadis –yang lemah- dari Ibnu Abbas
> (Lihat,
> > > misalnya, Tafsir Thabari).
> > >
> > > Menurut Sayyid Husseyn Fadhlullah, makna ayat ini tidaklah
> bertentangan
> > > dengan ayat yang kita bicarakan. Karena itu, tidak ada ayat yang
> > > dimansukh. Islam pada Ali Imran 85 adalah Islam yang "umum, yang
> > > meliputi semua risalah langit, bukan Islam dalam arti istilah",
> bukan
> > > Islam dalam arti agama Islam yang dibawa Nabi Muhammad saw.
> Kesimpulan
> > > itu diambil Fadhlullah dari konteks ayat itu. Pada Ali Imran 19,
> Tuhan
> > > berfirman: Sesungguhnya agama itu di sisi Allah adalah Islam.
> Menurut
> > > Al-Quran, semua agama itu Islam. Ini diperkuat dengan ayat-ayat
> yang
> > > lain: Ingatlah ketika Tuhannya berkata kepadanya (Ibrahim);
> Islamlah
> > > kamu. Ibrahim berkata: Aku Islam kepada Tuhan Pemelihara semesta
> Alam.
> > > Dan ketika Ibrahim dan Ya'qub berwasiat dengannya kepada anak-
> anaknya:
> > > Wahai anak-anaku, sesungguhnya Allah telah memilih bagi kamu
> agama,
> > > maka janganlah kamu mati kecuali kamu menjadi orang-orang Islam
> (Al-
> > > Baqarah 131-132).
> > > Seperti Fadhlullah, saya pun berpendapat bahwa Islam dalam Ali
> Imran 85
> > > adalah "kepasrahan total" (untuk uraian yang lebih dalam tentang
> > > makna "al-din" dan "al-islam" dapat dilihat pada buku Islam dan
> > > Pluralisme karya Jalaluddin Rakhmat -peny). Lebih lanjut,
> Fadhlullah
> > > mengatakan bahwa Al-Baqarah 62 dimaksudkan untuk menegaskan unsur
> asasi
> > > yang mempersatukan semua agama dan menjadi syarat untuk
> memperoleh
> > > pahala Allah. Ia menyindir orang yang merasa akan selamat hanya
> karena
> > > nama atau penampilan lahiriah saja. Keselamatan adalah berpegang
> teguh
> > > pada keimanan kepada Allah dan amal saleh. Dalam Al-Quran orang-
> orang
> > > yang berpegang pada keselamatan karena nama disindir sebagai
> bersandar
> > > pada angan-angan: (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-
> > > anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli
> Kitab.
> > > Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi
> pembalasan
> > > dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak
> (pula)
> > > penolong baginya selain dari Allah (Al-Nisa 123)[4].
> > > Ayat ini, Al-Nisa 123, juga disebut oleh Sayyid Rasyid Ridha[5]
> ketika
> > > menjelaskan Al-Baqarah 62:
> > > Artinya: hukum Allah itu adil dan sama. Ia memperlakukan semua
> pemeluk
> > > agama dengan sunnah yang sama, tidak berpihak pada satu kelompok
> dan
> > > menzalimi kelompok yang lain. Ketetapan dari sunnah ini ialah
> bahwa
> > > bagi mereka pahala tertentu dengan janji Allah melalui lisan
> Rasul
> > > mereka.
> > > Ayat ini menjelaskan sunnah Allah swt dalam meperlakukan umat-
> umat baik
> > > yang terdahulu maupun yang kemudian sesuai dengan ketentuan Allah
> swt:
> > > (Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang
> kosong dan
> > > tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab. Barangsiapa yang
> > > mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan
> kejahatan
> > > itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong
> baginya
> > > selain dari Allah. Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh,
> baik
> > > ia laki-laki maupun perempuan sedang ia orang yang beriman, maka
> mereka
> > > itu masuk ke dalam sorga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit
> pun.
> > > (Al-Nisa 123-124).
> > > Tidak ada masalah kalau tidak disyaratkan iman kepada Nabi saw.
> Ayat
> > > ini menjelaskan perlakuan Allah kepada setiap umat yang
> mempercayai
> > > Nabi dan wahyunya masing-masing, yang mengira bahwa kebahagiaan
> pada
> > > hari akhirat seakan-akan pasti akan tercapai hanya karena ia
> Muslim,
> > > Yahudi, Nashara, atau Shabiah, misalnya. Padahal Allah berfirman
> bahwa
> > > keselamatan bukan karena kelompok keagamaan (jinsiyyah diniyyah).
> > > Keselamatan dicapai dengan iman yang benar yang menguasai jiwa
> dan amal
> > > yang memperbaiki manusia. Karena itu, tertolaklah anggapan bahwa
> > > keputusan Allah bergantung pada angan-angan orang Islam dan angan-
> angan
> > > Ahli Kitab. Sudah ditetapkan bahwa keputusan Allah bergantung
> pada amal
> > > baik dan iman yang benar.
> > > Dikeluarkan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim dari Al-Suddi. Ia
> berkata:
> > > Orang-orang Islam bertemu dengan orang-orang Yahudi dan Nashara.
> Orang
> > > Yahudi berkata kepada orang Islam: Kami lebih baik dari kalian.
> Agama
> > > kami sebelum agama kalian dan Kitab kami sebelum kitab kalian.
> Nabi
> > > kami sebelum Nabi kalian. Kami mengikuti agama Ibrahim. Tidak
> akan
> > > masuk surga kecuali orang Yahudi. Berkata juga orang Nashara
> seperti
> > > itu. Maka berkatalah orang Islam: Kitab kami sesudah kitab
> kalian, Nabi
> > > kami sesudah Nabi kalian, dan agama kami sesudah agama kalian.
> Kalian
> > > telah diperintahkan untuk mengikuti kami dan meninggalkan urusan
> > > kalian. Kami lebih baik dari kalian.Kami berada pada agama
> Ibrahim,
> > > Ismail, dan Ishaq. Tidak akan masuk surga kecuali orang yang
> memeluk
> > > agama kami. Allah menolak perkataan mereka dan berfirman:
> Bukanlah
> > > angan-angan kamu dan bukan juga angan-angan Ahli Kitab… Seperti
> itu
> > > juga diriwayatkan dari Masruq dan Qatadah. Juga Al-Bukhari
> meriwayatkan
> > > dalam Al-Tarikh dari hadis Anas sampai kepada Nabi saw: Bukanlah
> iman
> > > dengan angan-angan, tetapi dengan apa yang terhunjam dalam hati
> dan
> > > dibenarkan oleh amal.
> > > Ada orang yang dilalaikan oleh angan-angan akan mendapat ampunan
> sampai
> > > ia keluar meninggalkan dunia tanpa kebaikan padanya. Mereka
> berkata:
> > > Kami berbaik sangka kepada Allah. Mereka bohong. Kalau berbaik
> sangka
> > > kepada Allah pasti mereka beramal baik. Pelajaran yang berharga
> dari
> > > Allah adalah kecamannya kepada orang-orang yang terbuai dengan
> punya
> > > hubungan dengan agama walaupun secara lahiriah. Keterbuaian
> (bahwa
> > > orang akan selamat hanya karena menganut agama Islam –jalal)
> inilah
> > > yang memalingkan mereka dari amal, sehingga merasa cukup dengan
> > > menisbahkan dirinya pada kelompok agamanya.
> > > Walhasil, menurut Ridha, orang yang merasa pasti akan selamat
> hanya
> > > karena dia Islam, Nasrani, atau Yahudi adalah orang yang terbuai
> atau
> > > tertipu (mughtarrin) dengan nama. Keselamatan, untuk mengulangi
> lagi
> > > yang sudah terlalu jelas, bergantung pada tiga syarat: keimanan
> kepada
> > > Allah, keimanan pada hari pembalasan, dan amal saleh.
> > > Bantahan Kaum Eksklusivis
> > > Ada tiga cara untuk membantah ayat yang membenarkan pluralisme
> ini.
> > > Pertama, mereka mengatakan bahwa ayat ini sudah dimansukh dengan
> Ali
> > > Imran 85 (Sudah dijawab Fadhlullah di atas). Kedua, ayat ini
> hanya
> > > berlaku untuk orang Yahudi, Nashrani, dan Shabiin sebelum
> kedatangan
> > > Nabi saw. Jadi orang Islam pada zaman Islam, orang Nashrani,
> Yahudi,
> > > dan Shabiin pada zamannya masing-masing akan memperoleh pahala
> dari
> > > amal salehnya. Zaman ini zaman Islam. Karena itu, selain Islam,
> semua
> > > agama kehilangan validitasnya, sebagaimana kedatangan uang
> Republik
> > > menyebabkan uang Belanda tidak berlaku. Argumentasi berdasarkan
> analogi
> > > ini tidak punya dalil yang memperkuatnya dalam Al-Quran dan
> Sunnah.
> > > Sebuah ayat yang bermakna umum tidak boleh diartikan khusus
> kecuali
> > > dengan keterangan yang kuat.
> > >
> > > Ketiga, mereka menafsirkan "beriman kepada Allah" sebagai beriman
> > > kepada ajaran Islam, karena Allah adalah konsep khusus untuk
> Islam.
> > > Allah adalah Tuhan bagi orang islam. Kristus Tuhan bagi umat
> Kristiani.
> > > Wisnu Tuhan bagi orang Hindu. Dan sebagainya. Erat kaitannya
> dengan
> > > argumentasi ini adalah keimanan kepada hari akhir dan amal saleh.
> Hari
> > > akhir yang harus diimani adalah hari akhir menurut penjelasan
> syariat
> > > Islam. Amal saleh juga adalah amal yang berdasarkan syariat
> Islam.
> > > Dengan penafsiran seperti ini, kita melihat perubahan drastis
> dari ayat
> > > pluralis menjadi ayat eksklusivis. Secara terperinci ayat ini
> > > berarti "Sesungguhnya orang-orang Islam, orang Yahudi, Nashrani
> dan
> > > Shabiin yang kemudian masuk Islam (dengan beriman kepada Tuhan
> orang
> > > Islam, dan aqidah Islam serta beramal sesuai dengan syariat
> Islam) akan
> > > memperoleh pahala di sisi Tuhan mereka".
> > > Lepas dari redundansi yang menggelikan dari segi bahasa, kita
> akan
> > > membuktikan bahwa menurut Al-Quran Allah itu adalah Tuhan yang
> sama
> > > seperti yang diimani oleh Ahli Kitab bahkan orang musyrik.
> Simaklah
> > > ayat-ayat Al-Quran di bawah ini:
> > > Al-Quran 29:46
> > > Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan
> cara
> > > yang paling baik, kecuali dengan orang-orang yang zalim di antara
> > > mereka, dan katakanlah: "Kami telah beriman pada (kitab-kitab)
> yang
> > > diturunkan kepada kami dan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhamu adalah
> satu.
> > > Dan kami hanya kepadanya berserah diri.
> > > Al-Quran 29:61
> > > Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang
> > > menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?"
> Tentu
> > > mereka akan menjawab: "Allah", maka betapakah mereka (dapat)
> > > dipalingkan dari jalan yang benar.
> > > Al-Quran 43:87
> > > Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "Siapakah yang
> > > menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: "Allah". Maka
> bagaimanakah
> > > mereka dapat dipalingkan (dari menyembah Allah).
> > > Mengapa Harus Ada Berbagai Agama?
> > > Kalau semua agama itu valid, kenapa Tuhan repot-repot bikin agama
> yang
> > > bermacam-macam. Kenapa tidak dijadikanNya semua agama itu satu
> saja?
> > > Apa tujuan penciptaan berbagai agama itu? Al-Quran menjawabnya
> dengan
> > > indah:
> > > "Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan
> jalan
> > > yang terang. Sekiranya Allah menghendaki niscaya kamu
> dijadikanNya satu
> > > umat saja, tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberiannya
> > > kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada
> Allah
> > > kembali kamu semuanya. Lalu diberitahukannya kepadamu apa yang
> telah
> > > kamu perselisihkan itu (Al-Maidah 48)."
> > > Dari ayat ini kita menyimpulkan beberapa hal:
> > > 1. Agama itu berbeda-beda dari segi aturan hidupnya (syariat) dan
> > > pandangan hidupnya (aqidah). Karena itu, pluralisme sama sekali
> tidak
> > > berati semua agama itu sama. Perbedaan sudah menjadi kenyataan.
> > > 2. Tuhan tidak menghendaki kamu semua menganut agama yang
> tunggal.
> > > Keragaman agama itu dimaksudkan untuk menguji kita semua.
> Ujiannnya
> > > adalah seberapa banyak kita memberikan kontribusi kebaikan kepada
> umat
> > > manusia. Setiap agama disuruh bersaing dengan agama yang lain
> dalam
> > > memberikan kontribusi kepada kemanusiaan (al-khayrat).
> > > 3. Semua agama itu kembali kepada Allah. Islam, Hindu, Budha,
> Nashrani,
> > > Yahudi kembalinya kepada Allah. Adalah tugas dan wewenang Tuhan
> untuk
> > > menyelesaikan perbedaan di antara berbagai agama. Kita tidak
> boleh
> > > mengambil alih Tuhan untuk menyelesaikan perbedaan agama dengan
> cara
> > > apa pun, termasuk dengan fatwa.
> > >
> > > Wallahu `alam bi al-Shawab
> > >
> > > [1] Gamal al-Banna, al-Ta'addudiyah fi al-Mujtama' al-Islamiy.
> > > Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Damas Lc,
> Doktrin
> > > Pluralisme dalam al-Quran. Bekasi: Penerbit Menara, 2006, hal. 38-
> 40
> > > [2] Ibid, hal. 41
> > > [3] Shabiin, berdasarkan kitab-kitab tafsir, bisa menunjuk pada
> > > berbagai agama selain Islam
> > > [4] Sayyid Muhammad Huseyn Fadhlullah, Tafsir Min Wahy al-Qur'an.
> > > Beyrut: Dar al-Malak, 1998, hal. 70.
> > > [5] Sayyid Rasyid Ridha, Tafsir al-Manar. Beyrut: Dar al-
> Ma'rifah,
> > > tanpa tahun. 1:336-338.
> > >
> >
>
> 
>


[Non-text portions of this message have been removed]


------------------------------------

***************************************************************************
Berdikusi dg Santun & Elegan, dg Semangat Persahabatan. Menuju Indonesia yg 
Lebih Baik, in Commonality & Shared Destiny. 
http://groups.yahoo.com/group/ppiindia
***************************************************************************
__________________________________________________________________________
Mohon Perhatian:

1. Harap tdk. memposting/reply yg menyinggung SARA (kecuali sbg otokritik)
2. Pesan yg akan direply harap dihapus, kecuali yg akan dikomentari.
3. Reading only, http://ppi-india.blogspot.com 
4. Satu email perhari: [EMAIL PROTECTED]
5. No-email/web only: [EMAIL PROTECTED]
6. kembali menerima email: [EMAIL PROTECTED]
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/ppiindia/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/

Kirim email ke