(Seharusnya) Beginilah Perempuan

Oleh: Hilyah Awlya'*)

"Allah mengeluarkan orang-orang beriman dari kegelapan menuju cahaya."
(QS al-Baqarah [2]: 257)

Ayat inilah yang menginspirasi R.A. Kartini dalam menulis
surat-suratnya pada kawan-kawannya di Eropa, yang kemudian dibukukan
oleh Abendanon dengan judul Door Duisternis Toot Licht. Sebab Kartini
dalam surat-suratnya banyak mengulang kata-kata door duisternis toot
licht, yang diindonesiakan oleh Armijn Pane menjadi Habis Gelap
Terbitlah Terang. Jika R.A. Kartini masih hidup, mungkin ia tidak
setuju diartikan demikian. Karena Prof Dr Hayati Soebadio--yang
notabene cucu R.A. Kartini--mengartikannya sebagai Dari Gelap Menuju
Cahaya.


Bila kita telaah lebih jauh, "minadh-dhulumâti ilan-nûr" adalah inti
dari munculnya ajaran Islam. Dari kalimat itu pulalah dasar perjuangan
Kartini untuk mengentaskan perempuan Jawa dari kebodohan dan
mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Karena pada masa
itu dalam tradisi Jawa laki-laki bersekolah setinggi-tingginya, sedang
perempuan hanya cukup pada jenjang pendidikan SR (setingkat SD).
Itupun hanya berlaku pada perempuan dari golongan ningrat, tidak bagi
perempuan awam. Berkat perjuangan Kartini dan tokoh-tokoh lain,
akhirnya perempuan Jawa dapat mengenyam pendidikan sebagaimana laki-laki.

 

Emansipasi Kartini Disalahartikan


Saat ini Kartini telah tiada. Di alam sana mungkin Kartini menangis
melihat perjuangannya mengentaskan kebodohan kaumnya di Jawa
disalahpahami dengan emansipasi yang kebablasan, hingga menuntut
kesetaraan sampai pada level pekerjaan domestik. Kaum perempuan
sekarang diprovokasi bahwa menjalankan pekerjaan domestik adalah
sebuah penindasan atau menjadi budak suami. Padahal dalam Islam sudah
jelas, perempuanlah yang membantu mengurus rumah dan lebih terhormat
harga dirinya jika tinggal di rumah. Berbeda dengan masa Jahiliah di
mana laki-laki mempekerjakan perempuan.

Namun ironisnya, di zaman sekarang masih ada adat daerah-daerah yang
mempekerjakan perempuan, sedang kaum laki-lakinya hanya
ongkang-ongkang kaki. Semestinya, laki-laki yang bekerja untuk
menafkahi orang-orang yang di rumah. Maka, bila ada perempuan menjadi
tulang punggung keluarga seperti menjadi sopir truk dan sebagainya,
sedang suaminya masih segar bugar, maka disinilah letak kesalahannya.
Laki-laki itulah yang melepas tanggung jawabnya. Padahal Rasulullah
saw bersabda:

كلكم راع و 
كلكم مسؤول عن 
رعيته 
والأمير راع 
والرجل راع 
على أهل بيته
والمرأة 
راعية على بيت 
زوجها وولده 
فكلكم راع 
وكلكم مسؤل عن 
رعيته

Kalian semua adalah pemimpin dan kalian akan dimintai
pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang pejabat adalah
pemimpin. Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Seorang
istri adalah pemimpin dalam rumah suami dan anak-anaknya. Dan kalian
semua adalah pemimpin, dan kalian akan dimintai pertanggungjawaban
atas yang dipimpinnya. (HR Bukhari dan Muslim)

Kaum perempuan masa kini kebablasan dalam pengaktualisasian diri. Di
antaranya dengan menginginkan keterwakilan 30 % perempuan di parlemen.
Padahal di negara maju, para feminisnya "sadar" dan mencoba kembali ke
fitrah. Di AS misalnya, saat ini 9-11 % perempuan duduk di parlemen,
sedang di Indonesia 12 %, maka ini sudah cukup bagus. Dan di negara
maju kaum ibu akan menurunkan aktivitasnya ketika menikah dan memiliki
anak, baru setelah anak beranjak dewasa ibu-ibu itu akan mulai bekerja
lagi. Sebagian perempuan Indonesia yang berkarier malah tidak demikian.

Pengaruh Westernisasi-lah yang pertama menghembuskan wacana emansipasi
yang salah kaprah. Namun ketika orang-orang Barat mulai menyadari
bahwa ada yang salah pada ideologinya, mereka memperbaiki diri mereka
sendiri, tanpa bertanggungjawab pada perempuan-perempuan Timur yang
terlanjur terpengaruh mudarat gembar-gembor emansipasi yang salah
kaprah itu.

Emansipasi seperti yang dicetuskan Kartini telah disalahartikan, ini
karena kedangkalan  atau penyembunyian pengetahuan mereka atas sosok
Kartini dan tokoh-tokoh yang mempengaruhi keimanan Kartini, seperti
Kiai Sholeh Darat, Demak. Mereka yang meneriakkan feminisme sejatinya
bernaung di bawah bayang-bayang Westernisasi, yang justru ditentang
oleh Kartini. Mereka mengolok-olok poligami, padahal Kartini ridha
terhadap poligami dalam kehidupan perkawinannya. Memang mulanya
Kartini tidak setuju, tapi setelah mengetahui hikmah di balik
poligami, Kartini mafhum. Kartini terus berusaha menyempurnakan
pemahaman keislamannya sembari terus memperjuangkan pendidikan bagi
perempuan. Namun sayang, dalam usaha mulia itu ia keburu wafat pada
usia 25 tahun. 


Perempuan dalam Islam  

  Islam sangat jelas tidak membedakan parempuan dan laki-laki dalam
keimanan, keislaman, ketakwaan, dan pendidikan. Allah SWT berfirman:

ان أكرمكم عند 
الله أتقىكم

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah SWT
ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. (QS al-Hujurat [49]: 13)

Allah juga berfirman:

ان المسلمين 
والمسلمات 
والموئمنين 
والموئمنات 
والقانتين 
والقانتات
والصادقين 
والصادقات 
والصابرين 
والصابرات 
والخاشعين 
والخاشعات 
والمتصدقين
والمتصدقات 
والصائمين 
والصائمات 
والحافظين 
فروجهم 
والحافظات 
والذاكرين
الله كثيرا 
والذاكرات 
أعد الله لهم 
مغفرة وأجرا 
عظيما

Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang Muslim, laki-laki dan
perempuan yang Mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam
ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan
perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki
dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa,
laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah,  Allah telah menyediakan
untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS al-Ahzab [33]: 35)

Mengenai pendidikan, Rasulullah saw bersabda:

طلب العلم 
فريضة على كل 
مسلم و مسلمة

Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim  dan Muslimah.

Adalah kerugian yang sangat besar bila perempuan di zaman ini belum
mendapat kemudahan untuk mendapat pendidikan. Pada kenyataannya,
banyak perempuan yang sudah berkeluarga hanya menyisakan dua kata
dalam hari-harinya: suami dan anak, tanpa mementingkan lagi
pendidikan. Padahal Rasulullah saw bersabda:

أطلبوا العلم 
من المهد الى 
اللحد

Tuntutlah ilmu sejak dalam buaian hingga masuk ke liang lahad.

 

Di sisi lain, banyak suami yang tampak lepas tangan terhadap
keberlangsungan pendidikan istrinya. Seharusnya, jika suami tak mampu
memberi pendidikan bagi istrinya, maka istri diberi akses agar dapat
mengenyam pendidikan yang lebih baik, melalui seminar-seminar ibu
rumah tangga, memanfaatkan internet, buku-buku, dan sebagainya.


Idealnya, tidak hanya para suami yang sibuk mengejar jenjang
pendidikan. Jika istri punya kehendak untuk belajar, semestinya suami
tidak keberatan. Bukankah Islam tidak mengajarkan pada umatnya (suami)
untuk menghalangi orang (istri) yang hendak belajar? Mungkinkah suami
gengsi jika kalah pintar dari istrinya? Seharusnya suami senang jika
memiliki istri yang pintar.

 
Oleh karena itu, istri harus kreatif menciptakan cara untuk terus
mencari ilmu. Istri pun harus tetap menyadari akan kodratnya bahwa ia
adalah perempuan yang harus taat pada suaminya dan mendidik anaknya,
karena madrasah pertama bagi anak adalah ibunya. Oleh karena itu,
sebagai bekal dalam mendidik anak, ibu harus berpendidikan baik. Bila
seorang ibu berpendidikan, selain akan bermanfaat besar bagi anaknya,
juga akan dapat saling melengkapi dengan suami. Alangkah indahnya
sebuah rumah tangga jika suami dan istri mengerti dan sadar untuk
tetap berjalan pada jalurnya yang benar.


Di zaman Rasulullah saw, Siti Khodijah perempuan pertama yang masuk
Islam. Ia pengusaha sukses yang membantu dakwah suaminya dengan
hartanya. Istri-istri Rasulullah saw menuntut ilmu langsung kepada
Rasulullah saw dan meriwayatkan Hadis dari beliau, di antaranya Siti
Aisyah dan Romlah binti Abu Sufyan.

Ketika Syifa' binti Ubaidillah masuk Islam, Rasulullah saw
memerintahnya untuk mengajari Siti Hafshah binti Umar pengetahuan
membaca, menulis, dan obat-obatan. Karena profesi Syifa' sebagai juru
rawat pada peperangan.

Rasulullah saw dapat membimbing istri-istrinya dan kaum perempuan pada
zamannya dengan begitu arif bijaksana, padahal pada masa itu ilmu
pengetahuan masih terbatas. Kini, ketika ilmu pengetahuan semakin
berkembang pesat, justru ada saja laki-laki yang pemikirannya masih di
bawah bayang-bayang adat istiadat Jahiliah, mereka tidak membuka pintu
dan membantu pendidikan bagi perempuan.

Sejatinya, Islam datang untuk melindungi kaum perempuan, mengangkat
martabatnya, serta menjadikan peran perempuan di tengah kehidupan
keluarga dan masyarakat lebih efektif dan berdayaguna. Perempuan
Muslimah harus bisa menjadi ibu teladan, memberi andil dalam mendidik
dan menyiapkan generasi unggul, dan dapat membangun keluarga sebagai
surga dunia.

*) Penulis adalah ibu rumah tangga


Kirim email ke