Pluralisme: Misinterpretasi Agama

M. Bahrullah S. . ([EMAIL PROTECTED]) *

Nampaknya, studi keagamaan memang digandrungi oleh cukup banyak
kalangan. Studi dan diskusi yang satu ini tidak hanya digeluti oleh
kalangan agamawan saja. Tokoh-tokoh antropologi dan sosiologi pun pada
awal-awal abad ke tujuh belas juga ikut-ikutan mendiskusikannya.
Barangkali tidak ada salahnya jika seorang sosiolog dan antropolog
juga melakukan studi keagamaan, toh aktivitas-aktivitas sosial, yang
menjadi objek utama kajiannya, juga tidak terpisahkan dari aktivitas
keagamaan.

Menjelang abad ke 20-hingga saat ini, dimana sains dan teknologi
adalah tipikal utamanya, kajian ini pun masih saja ramai dibicarakan
oleh sejumlah ilmuan, saintis dan cendekiawan. Tarik ulur pandangan
pun mulai terjadi ketika seminar tentang "mencari titik temu agama
dan sains" digelar. Entah, sudah berapa kali diskusi dan kajian
keagamaan itu diadakan. Jelasnya, sejarah agama, perkembangan agama,
peran agama, lintas agama, filsafat agama dan  segala hal yang
menyangkut keagamaan seakan-akan sudah tersedia lengkap dalam ratusan
atau bahkan ribuan buku dan majalah yang beredar di mana-mana layaknya
sebuah menu makanan yang sudah siap disajikan.

Namun demikian, kita terkadang sangat menyayangkan. Sebab, dari sekian
banyak karya tulis tentang keagamaan, ada saja keganjilan dan
kejanggalan dalam benak kita. Kita yang menjadi pembaca budimannya tak
ubahnya seseorang yang sedang memasuki sebuah plaza untuk memilih
busana, padahal plaza yang dikunjunginya serba produksi kualitas
ekspor. Seakan dia malah merasa kesulitan untuk pilah-pilih mana yang
lebih pas dan mana yang paling berkualitas karena semuanya memang
berkualitas.

Di sini tidak ada maksud untuk menyamakan agama dengan sebuah mode
pakaian. Sebab, agama memang tidak seperti busana yang bisa
ganti-pakai kapanpun sesuka penggunanya. Akan tetapi merupakan sebuah
ilustrasi tentang betapa perlunya untuk mempertegas ulang, betulkah
terdapat pluralitas agama yang sama-sama benar dan dapat dibenarkan
validitas kebenarannya, sehingga manusia dapat pilah-pilih agama
sesuka hatinya.

Memang, terlalu sulit rasanya untuk berkata "hanya ini atau itu yang
benar", karena banya orang berdalih "Ah, itu adalah klaim kebenaran".
Disamping tidak mudahnya memberikan difinisi yang pas terhadap agama
itu sendiri, mengingat untuk mendefinisikannya secara ilmiah,
mengharuskan adanya rumusan yang mampu menghimpun semua unsur agama
dan sekaligus mengeluarkan segala yang tidak termasuk unsurnya, papar
Dr. Quraish Shihab dalam bukunya "Membumikan Al-Qur'an".

Namun setidaknya, untuk menuju tahapan lebih lanjut, kita harus
membuat rumusan-rumusan sederhana untuk dapat menghimpun semua unsur
agama dan sekaligus untuk dapat membuang segala aspek yang tidak
termasuk kedalam unsurnya.

Ada beberapa hal yang menjadi catatan penting untuk dijadikan bahan
pembicaraan dalam upaya menganalisa seputar kajian keagamaan.

Petama, agama sangatlah identik dengan aqidah dan syari'ah. Aqidah
berarti sebuah kepercayaan (ideologi, keimanan) yang harus tertanam di
setiap nurani manusia selaku penganutnya; sementara syari'at adalah
sebuah ajaran yang harus diwujudkan dan diimplementasikan dalam bentuk
tindakan. Jadi, Aqidah dan syari'ah adalah klausul pokok agama yang
tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya. Keduanya merupakan suatu
akumulasi yang memiliki pertautan koheren yang tak terpisahkan dalam
agama.

Ketika kedua komponen itu dipisahkan, maka jelas akan memunculkan isme
"agama sangat terbatas pada hubungan antara makhluk dan Tuhan"  yang
dalam arti lainnya, agama tidak lebih dari sebuah ritual atau
seremonial belaka, sebagaiamana interpretasi tokoh-tokoh sekular dan
orientalis Barat. Dan, tatkala agama hanyalah diidentikkah dengan
kepercayaan (ideologi), jelas, hanya akan memperbanyak koleksi
tokoh-tokoh religius yang tidak agamis seperti Immanuel Kant atau
Descartes dan tokoh-tokoh fisikawan dan matematikawan lainnya.

Kedua, persepsi "Islam adalah agama terakhir" masih saja muncul dalam
beberapa perbincangan, padahal gambaran al-Qur'an tentang agama
nabi-nabi dan para utusan sangatlah gamblang. Al-Qur'an telah
mengilustrasikan bahwa semua nabi dan utusan, semenjak nabi Adam
hingga pemungkas para nabi dan utusan, Muhammad saw, memiliki agama
yang sama. Hal sedemikian rupa dapat ditemukan dalam beberapa ayat
al-Qur'an berikut;

"Jika kalian berpaling (dari peringatanku), aku tidak meminta upah
sedikitpun dari kalian. pahalaku tidak lain hanyalah dari Allah
semata, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang
Muslim dan Musa berkata:" Hai kaumku, jika kamu beriman kepada Allah,
maka bertawakkallah kepada-Nya saja, jika kamu benar-benar orang
Muslim" (QS Yunus: 72 dan 84),

Kisah Ibrahim dan Ya'qub ketika berpesan pada puteranya;

"Dan Ibran telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian
pula Ya'qub. (Ibrahim berkata): "Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah
telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam
memeluk agama Islam". (QS Al-Baqarah: 132),

Kisah Isa bersama murid-muridnya (hawariyun);

"Maka, tatkala Isa mengetahui keingkaran Bani Israil, ia berkata:
"Siapa yang akan menjadi penolongku?" Hawariyun menjawab: "Kamilah
penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah. Dan saksikanlah,
sesungguhnya kami adalah orang-orang Muslim" (QS Ali 'Imran: 52)

Hal senada juga terdapat dalam QS Al-Baqarah: 128, QS Al-A'raf: 126,
QS An-Naml ayat 44 dan QS Al-Ahqaf ayat 15.

Ilustrasi al-Qur'an dalam ayat-ayatnya di atas merupakan bukti valid
bahwa semua nabi dan utusan itu memiliki satu agama yang sama, yaitu
agama Islam dan satu esensi ideologi yang sama yaitu mengesakan Allah
(tauhidillah), mensucikan-Nya dari segala perbuatan dan sifat yang
tidak layak baginya, beriman pada Hari Akhir, Hari Penghitungan
(hisab), kemudian surga dan neraka.

Ketiga, secara otomatis, para nabi dan utusan itu tidak hanya mengajak
umatnya beredeologi semata, melainkan mereka, selain mengemban misi
aqidah, juga dilengkapi dengan syariah yang memiliki peranan penting
dalam kehidupan manusia. Kalaulah aqidah mengatur hubungan manusia
dengan Penciptanya, maka syariah adalah sebuah prinsip ajaran yang
bertujuan mengatur pola hidup seseorang maupun masyarakat umum.

Ketiga poin sederhana di atas dapat disimpulkan, bahwa tidak terdapat
keragaman (pluralitas) prinsip ideologi agama yang diajarkan oleh
seluruh nabi dan utusan. Sebab, semua nabi dan utusan itu hanya
memiliki satu agama yaitu Islam.

------

• Penulis adalah santri Sidogiri asal Bondowoso


Kirim email ke