Menunggu Kehancuran Barat (Sebuah Analisa Historis Futurulogis) Oleh : Imdad Fahmi Azizi
Menurut Endang Saifuddin Anshari, kebudayaan adalah hasil karya cipta dengan kekuatan jiwa dan raganya. Sebagian sarjana berpendapat bahwa istilah peradaban (dari akar kata "adab") adalah unsur atau bagian-bagian yang halus dari kebudayaan, seperti sopan santun, tatakrama, budi pekerti, dan sebagainya. Di samping pengertian ini, peradaban diartikan pula sebagai sosok bangunan kebudayaan yang sudah mencapai taraf kemajuan yang tinggi dan kompleks yang ditandai oleh seni arsitektur yang bergaya megah, taraf perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih. Dengan demikian, ciri utama yang sangat dominan dalam taraf peradaban yang sudah maju adalah kecanggihan dalam segala corak dan menifestasinya, termasuk kecanggihan berpikir. Pemikiran yang maju dan canggih dalam suatu bangsa yang dituangkan dalam buku-buku yang dihasilkan akan menggambarkan secara jelas tingkat perkembangan kemajuan kebudayaan dan peradaban bangsa tersebut. Potret Sejarah Peradaban Dunia Berdasarkan bukti empiris yang dikumpulkan dari berbagai penggalian di Iraq (Mesopotamia), ditemukan bahwa peradaban lahir di sana sebagai hasil dari sebuah revolusi urban yang terjadi sekitar tahun 4.000 SM yang telah didahului oleh sebuah pemukiman atau perkampungan desa dalam skala besar dan sebuah pengembangan teknologi irigasi pada tahun 6.000 SM. Menjelang akhir millenium ke-4 SM, masyarakat Mesopotamia telah mencapai sebuah tingkat kompleksitas yang menuntun kita untuk mengakuinya sebagai peradaban urban pertama di dunia. Orang-orang Mesopotamia adalah orang yang kali pertama menciptakan tulisan. Urbanisasi dan kesusastraan timbul sebagai dua faktor terpenting dalam kemunduran peradaban Mesopotamia. Dengan demikian, menurut Nurcholis Madjid, lembah Mesopotamia merupakan tempat "buaian" peradaban manusia. Oleh karena itu, orang-orang Sumeria merupakan yang kali pertama menikmati buah peradaban di muka bumi ini di abad millenium ke-4 SM. Menurut Sir Leonard Wolley, Ur adalah ibu kota kekaisaran Sumeria dengan batas wilayahnya yang luas sampai pada Susan ke timur dan Lebanon ke barat. Bahkan, masyarakat Ur telah terstruktur dengan rapi, yang terdiri dari tiga kelas, yaitu Amelo (terdiri dari kaum priyayi), Mushkino (kelas menengah), dan Ardu (kelas untuk kaum budak). Ibrahim berada pada kelas Amelo, yaitu kelas yang memiliki hak istimewa. Kemudian estalase peradaban berada di Mesir sampai dengan tahun 1540 SM, yaitu pada masa Thothemas I yang oleh sejarawan Abdullah Yusuf ditetapkan sebagai Firaun yang melakukan konfrontasi dengan Musa. Baru pada abad ke-11 SM, terjadi penyerbuan ke daratan Yunani Kuno oleh suku Doria hingga pada abad ke-6 SM peradaban dunia berpusat di Yunani (Athena) setelah lahirnya para filosof Miletos. Corak kenegaraan tersusun dengan sangat rapi, polis sebagai pusat kendali pemerintahan, walaupun pengaruh mitologi atas logos masih sangat berperan ditengah-tengah masyarakat pada waktu itu. Konstalasi politik yang terjadi di antara kekuasaan-kekuasaan besar di Dunia Kuno, Mesir, Asysyiria, Babylonia, Persia dan Syiria, akhirnya berada di bawah kekaisaraan Romawi pada tahun 63 SM. Meletuslah perang Romawi-Yahudi pada tahun 66-70 M yang kemudian orang-orang Romawi menguasai Yerussalem. Pada masa Nabi Muhammad e, keangkuhan bangsa Romawi terhenti tatkala mereka tidak berani menghadapi pasukan Muslimin pada perang Tabuk. Dalam kesempatan itu, beberapa koloni Romawi dari negeri Tabuk, Jarba, hingga Azrah, takluk dengan melakukan perdamaian serta membayar jizyah setiap tahun. Baru kemudian pada abad ke-8 hingga permulaan abad ke-13 Masehi, umat Islam mencapai puncak menara kebesaran dan kejayaan di bidang kebudayaan dan peradaban. Pada masa-masa itubaik Daulah Islam di Timur (Daulah Abbasiyah, 750-1256 M) yang berpusat di Baghdad, maupun Daulah Islam di Barat (Daulah Umayyah, 756-1031 M) yang berpusat di Cordovakeduanya memperlihatkan berbagai gebyar kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Philip K. Hitti melukiskan kedua kota itu dengan ungkapan: "Cordova Mutiara Dunia" dan "Kemegahan yang bernama Baghdad". Daulah Abbasiyah runtuh pada tahun 1258 setelah tentara Mongol merebut kekuasaan di Dunia Islam. Demikian pula di Cordova, setelah Daulah Umayyah tercerai berai dengan munculnya kerajaan-kerajaan kecil, pada tahun 1142 tunduk ke sebuah kerajaan di Afrika, hingga akhirnya membuat bangsa Spanyol bersatu dan membuat raja Umayyah yang tersisa di Granada, Abu Abdullah, meninggalkan negeri itu pada tahun 1492. Inilah titik awal masa kemunduran politik dan peradaban Islam, sehingga melahirkan gerakan kebangkitan kembali (renaissance) Yunani pada abad ke-14 di Eropa. Reformasi digalakkan pada abad 16 yang kemudian muncul Rasionalisme pada abad 17. kemajuan pesat ini mencapai klimaks pada masa pencerahan (aufklarung) pada abad 18 M. sampai sekarang. Islam Akan Datang? Tampang kurun peradaban modern dewasa ini dalam beberapa segi dapat dibandingkan dengan kebudayaan Arab Jahili pra-Islam. Kebudayaan jahili telah runtuh karena tidak bertumpu pada nilai-nilai moral dan sendi agama yang kukuh. "Kebusukan peradaban," sebagaimana digambarkan oleh Lewis Mumford mengenai sosok peradaban sekarang ini sebenarnya sudah terjadi pada masa peradaban Arab Jahili. Apa yang dikenal dengan permissive society atau permissive culture (budaya serba boleh) dalam alam peradaban modern sekarang ini sebetulnya juga (telah) ada dalam kultur dan peradaban masyarakat Arab Jahili. Dengan demikian, sejarah telah terulang kembali, siklus peradaban kembali terjadi: peradaban Barat sebenarnya mengulang kembali peradaban Arab Jahili. Hakikat peradaban modern sekarang ini adalah peradaban serba benda, peradaban sekuler, lebih menekankan kepada kepantingan duniawi, hingga manusia mengalami kekosongan dan bahkan kekacauan moral. Di tengah-tengah berbagai ramalan akan berakhirnya peradaban Barat modern dan munculnya peradaban baru di tempat lain, para filosof sejarah telah lama meramalkan corak peradaban yang akan muncul menggantikan peradaban Barat masa kini. Menurut ramalan Danilevsky, Spengler, Toynbee, Schubart, Berdyaev dan Sorokin, peradaban yang bakal datang itu adalah peradaban yang bercorak "keagamaan yang ideal" (religiously ideational). Dalam pengamatan Northop, sosok peradaban yang akan datang adalah peradaban yang berbasis pada "persenyawaan yang selaras dari estetika-teoritika" (integral as harmonius of the aesthetic-theoritic). Atau, peradaban yang bertumpu pada "kesukarelaan etika dan rasional" (valuntaristically ethical and rational), sebagaimana yang diramalkan oleh Albert Schweitzer. Sedang Fulton J. Sheen menamakan sosok peradaban itu sebagai peradaban yang berorientasi pada prinsip "keagamaan dan ketuhanan yang murni" (purely religious and theistic). Maka, benar apa yang dikatakan Toynbee, bahwa pengharapan kita untuk menolong peradaban dunia hanya tinggal kepada Islam. sebagaimana pengamatan sastrawan Inggris, Goerge Bernard Shaw bahwa agama di masa depan bagi orang-orang yang berpendidikan, berilmu, berbudaya dan berkebudayaan, adalah Islam. Wa Allahu al-Musta'ân. *) Penulis adalah mahasiswa Fakultas Syariah Institut Agama Islam (IAI) Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Tulisan ini dimuat di Buletin Sidogiri edisi 30

